Dituduh Cinta karena kesalahan. Rama membuktikan kalau cintanya bukan kesalahan, murni rasa dari mata turun ke hati. Usaha mendapatkan cintanya seolah didukung oleh jagat raya meski berawal dari kesalahpahaman.
“Nggak masalah nikah karena digrebek, yang penting sah.”
“Siapa kamu, berani mencintai seorang Bimantara.”
“Di dunia ini, Rama jodohnya Gita.”
Kisah cinta Rama Purwangga dan Gita Putri Bimantara, jadilah saksi seberapa darurat cinta mereka.
Spin off Bosku Perawan Tua dan Diam-diam Cinta
=== Mohon dengan sangat agar tidak baca dengan melompat bab dan ikuti sampai akhir ya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtyas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3. Posesif
Bab 2
Manusia boleh berencana, tapi Tuhan yang menentukan. Rama harus merasakan itu, ia dan ibunya sudah siap dengan rencana tindakan pengangkatan kantung empedu besok sore. Nyatanya takdir berkata lain. Menjelang subuh, kondisi bapak semakin drop. Komplikasi yang diderita membuat pria itu menghembuskan nafas terakhir.
Peran kepala keluarga akhirnya berpindah pada pundak Rama. Hidup ibunya, usaha keluarga dan nasib para pekerja.
“Sabar, bro,” ucap Beni jenazah Dedi sudah dikebumikan.
Beni, Sapri dan Asoka menemani ke pemakaman. Lisa ikut serta, tapi menunggu di kediaman orangtua Rama.
“Kuat Ram, ada ibu yang harus kamu jaga,” seru Asoka dan Rama mengangguk lalu mengusap wajahnya.
Meninggalkan pemakaman bersama ketiga sahabatnya paling akhir, Ibu sudah duluan bersama kerabat yang lain. Sampai rumah, Lisa sudah menyambut di beranda. Wajahnya masih sembab, Ayahnya Rama dan mendiang ibunya kakak beradik. Tentu saja ia merasa kehilangan juga.
Rama mencuci tangan dan kaki serta membasuh wajah yang kotor terkena tanah merah. Langsung duduk di sofa beranda rumahnya.
“Ram, kamu yang kuat ya.” Lisa memeluk lengan Rama bahkan menyandarkan kepalanya.
“Harusnya gue yang lebih sedih, kenapa malah elo. Nggak kasihan sama baby?”
“Ya gimana dong, aku nggak bisa berhenti nangis.”
“Semenjak hamil, emang lebih cengeng sih,” seru Asoka setelah ikut cuci kaki dan tangan karena ikut turun saat menurunkan jenazah.
Beni masih berada di dekat pagar karena merokok dan berbincang bersama Sapri.
“Sa,” panggil Ibu Mira di tengah Pintu.
“Iya tante.”
“Kamu istirahat gih, makan dulu ya.”
Lisa beranjak menghampiri Mira lalu melakukan hal yang sama pada Rama, memeluk wanita itu.
“Tante yang harusnya istirahat, yuk aku antar ke kamar. Udah makan belum?”
Rama menghela nafas, masih mendengar Ibunya dan Lisa berbincang sambil beranjak ke dalam.
“Dok, Lisa ajak pulang. Kasihan, di sini pasti dia capek mana nangis mulu.”
“Iya, bentar lagi.”
Sapri yang tadi ke belakang sudah kembali membawa nampan dengan beberapa gelas kopi serta sepiring kue. Dia tahu Rama sejak tadi belum makan.
Menjelang sore, kediaman itu mulai sepi. Asoka cs sudah pulang sejak tadi, kerabat pun sama. Hanya bersisa keluarga dekat dan pekerja serta tetangga yang sibuk di dapur.
“Bang,” panggil Aceng menghampiri Rama yang berada di samping rumah menatap kolam di mana ikan mas berenang dengan riang.
“Hm.”
“Mau laporan dari kemarin-kemarin, tapi nggak enak karena abang lagi sibuk kerja, ditambah Babeh Dedi di rumah sakit.”
“Masalah apa?” tanya Rama. Aceng adalah yang bertanggung jawab di bangunan kosan, bersama seorang pekerja lainnya.
“Ada aduan dari penghuni kos.”
Rama pun menoleh, Aceng mendapatkan perhatiannya. “Maksudnya gimana?”
“Kamar di lantai dua, si Bela. Dikeluhkan sama tetangga kiri dan kanannya. Pokoknya yang 1 lantai sama Bela. Katanya berisik, kadang sampai tengah malam. Saya udah pernah tegur, nggak boleh ada yang menginap. Emang temennya pulang, tapi udah malam. Kemarin udah saya kirim lagi di grup aturan di kosan sama selebaran saya bagikan ke tiap kamar. Mau diusir apa gimana bang?”
Rama menghela nafasnya mendengar penjelasan Aceng.
“Kalau belum melanggar norma dan masih keluhan kecil begitu, ya nggak bisa seenaknya diusir Ceng. Lo tegur dulu deh. Kecuali kita ada bukti yang lebih berat, ya mau nggak mau kita usir.”
“Iya deh, bang. Eh, iya, si eneng itu kemarin datang ke kosan lagi bang.”
“Eneng mana?” tanya Rama heran sambil mengernyitkan dahi.
“Temennya Bela. Namanya Gita.”
“Hah, cinta?”
“Halah, budeg.”
***
Gita menghampiri Mamanya di sofa ruang keluarga, mencium pipi wanita itu sambil sesekali terbatuk.
“Gimana kuliah hari ini? Kok batuk? Kamu makan apa sayang, alergi kamu kayaknya nih.”
“Aman mah, kurang minum aja kali. Kalau di kelas kadang malas,” sahut Gita. Tidak mungkin dia bilang kalau ia sekarang perokok pasif selama bergaul dengan Bela cs.
“Kecapekan kamu. Besok-besok kalau ada kerja kelompok di sini aja, ajak teman kamu. Kalau di luar kita nggak tahu kondisi udaranya gimana, belum tentu steril juga.”
Gita hanya mengangguk lalu bersandar pada sofa fokus dengan ponselnya.
“Obat asma kamu masih ada ? Obat alergi sudah diminum?”
“Sudah mah, sudah.”
Arya keluar dari ruang kerjanya ikut bergabung dan duduk di samping Sarah. “Sudah pulang?” tanya Arya pada Gita.
“Udah pah.”
“Gita batuk mas, ajak cek up lagi deh.”
“Aku nggak pa-pa mah,” ucap Gita dengan raut wajah bete karena perlakuan Sarah terlalu berlebihan menurutnya. Kadang ia ingin diperlakukan seperti yang lain, lebih bebas dan dianggap dewasa agar bisa mandiri. Bukan seperti ini.
Akhir-akhir ini Arya terlalu fokus dengan kondisi Sarah, agak mengabaikan Gita. “Serius, nggak pa-pa?”
“Serius pah, paling kecapekan doang. Istirahat juga sembuh,” sahut Gita masih fokus dengan ponsel.
...Pretty Angels...
Bela menambahkan Anda
Bela : Welcome Gita. Kita lagi ngomongin acara malam minggu. Lo yakin nggak bisa ikut?
Leni : Ikutlah Git. Jangan jadi anak rumahan, gaul gitu loh
Sesil : Biar nggak gaptek
Rani : BIar jadi bintangnya clubbers 🤭
Bela : Foto (pakaian mini dan sexy)
Gue nanti pake ini
Sesil : Demi apa Bel? Serius?
Bela : Serius Lah. Kan gue mau Arlan melirik gue terus guenya jual mahal
Rani : Sekalian goda Abang Rama gak?
Bela : Untuk Bang Rama, gue rela lucuti semua
Leni : Sint1ng si Bela
Gita tersenyum saat ia ditambahkan ke dalam grup bersama Bela Cs, lalu menggeleng pelan melihat foto pakaian yang akan dipakai oleh Bela. Penasaran pula dengan Rama yang dipuji oleh Bela.
“Seganteng apa sih," gumam Gita.
“Siapa yang ganteng?” tanya Sarah.
Gita menoleh, Arya dan Sarah sedang menatap ke arahnya.
“Itu barusan yang tayang di iklan,” sahut Gita lalu beranjak membawa ranselnya. “Aku ke kamarnya. Mau rebahan.”
“Ganti baju dulu sayang, vitaminnya jangan lupa diminum.”
“Iya, bu dokter,”balas Gita saat menaiki undakan tangga. “Mama minum obat, jangan marah-marah terus. Nanti harus diopname kayak kemarin.”
“Gita,” tegur Arya.
“Mas, sudah.”
Sampai di kamar, Gita meletakan ranselnya sembarangan. Melepas sepatu serta cardigan, langsung berbaring di sofa kamarnya.
“Apa-apa nggak boleh. Harus begini, harus begitu. Orang udah ke mars, aku baru keluar rumah. Gimana bisa kayak yang lain, bisa bebas kemana aja, punya pacar. Ini kemana aja harus dianter, bentar-bentar ditelpon udah di mana,” keluh Gita lalu menghubungi seseorang.
“Halo, kak. Bilang mama jangan posesif gitu dong, aku kan udah besar bukan anak kecil lagi."
dah tau pake nanya 🤭
orang tua kalian juga kalau tau kelakuan kalian begitu pasti kecewa 😔
denger arlan orang baik mah pasangannya sama orang baik, nah situ maniak cewe dapetnya juga tar yang sama kaya kamu 😏
Kalian yang jomblo & dokter vampire duda tambah ngiri aja ya, jangan sampe nganan itu lampu shein hatinya, ngiri aja 😜
ndak jujur az kalo ketangkep basah ma Camer???
hadew....