Bagi orang lain, ia adalah definisi kemandirian yang sempurna. Namun, di balik punggungnya yang tegap, tersimpan luka yang tak pernah dipeluk siapa pun.
Ia tumbuh dalam rumah yang penuh, tetapi merasa seperti yatim piatu di tengah hiruk-pikuknya. Sejak kecil, ia dipaksa menelan rindu pada orang tua yang merantau, hanya untuk kembali dan mendapati dirinya sebagai orang asing yang selalu salah. Tanpa pembelaan, tanpa kasih sayang, ia belajar satu hal: satu-satunya orang yang bisa ia andalkan adalah dirinya sendiri.
Namun, sampai kapan seseorang bisa terus menjadi "langit" yang kokoh tanpa pernah runtuh? Ketika semua keinginan harus dipenuhi sendiri dan setiap air mata harus disembunyikan, ia mulai kehilangan jejak akan perasaannya sendiri.
Di rumah yang seharusnya menjadi pelabuhan, ia justru tenggelam dalam kesepian yang paling sunyi. Mampukah ia menemukan jalan pulang ke dirinya sendiri, ataukah ia akan terus menopang langit itu sampai hancur berkeping-keping?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
Restoran di lantai atas itu sangat tenang, hanya ada denting piano lembut dan desau angin malam yang masuk melalui jendela besar yang menghadap langsung ke Samudera Hindia. Di meja pojok yang sudah dipesan khusus, Pradipta duduk dengan tenang, menatap Alana yang baru saja tiba dengan napas yang masih sedikit memburu.
Suasana makan malam yang awalnya kaku menjadi semakin berat saat pelayan selesai menyajikan hidangan pembuka. Pradipta meletakkan garpunya, lalu menopang dagu dengan kedua tangan yang tertaut, matanya yang tajam menatap lurus ke dalam manik mata Alana yang berusaha menghindar.
"Alana," panggil Pradipta, suaranya kini tidak lagi otoriter, melainkan sarat akan rasa ingin tahu yang dalam. "Sejujurnya, aku sudah lama memperhatikanmu. Bukan sebagai asisten manajerku, tapi sebagai seorang wanita."
Alana terdiam, tangannya yang memegang sendok membeku di udara.
"Kenapa matamu selalu terlihat tenggelam, Alana?" tanya Pradipta pelan, seolah takut suaranya akan memecahkan sesuatu yang rapuh di depan dia. "Dan wajahmu... kamu selalu memasang topeng dingin itu. Seolah-olah jika kamu tersenyum sedikit saja, dunia akan runtuh. Kamu seperti sedang menyimpan luka yang sangat banyak, yang tidak pernah kamu izinkan siapapun untuk menyentuhnya."
Pertanyaan itu menghujam tepat di ulu hati Alana. Ia segera meletakkan sendoknya, mencoba mencari kekuatan untuk membantah, namun suaranya seolah tertahan di tenggorokan. Ia memilih untuk bungkam, menunduk dalam-dalam menatap pantulan dirinya di piring porselen yang putih bersih.
Dalam diamnya, ingatan Alana justru melesat kembali ke rumah masa kecilnya yang dingin. Bukan hanya lemari kayu itu, tapi wajah Ayah dan Ibunya yang selalu menuntut.
Ia ingat bagaimana setiap kali ia membawa pulang piala atau nilai sempurna, Ibunya tidak pernah bertanya apakah ia lelah. Ibunya hanya akan bertanya, "Kapan kamu bisa mulai menghasilkan uang untuk biaya sekolah Rian?" atau "Jangan sombong, prestasi itu tidak akan bisa membeli beras."
Bahkan setelah ia sukses menjadi asisten manajer, telepon dari rumah tidak pernah berisi kata rindu. Hanya ada deretan angka-angka: cicilan motor yang menunggak, biaya kuliahnya Rian yang selalu dikeluh-keluhkan, hingga keinginan Rian untuk membeli mobil baru. Bagi mereka, Alana bukan lagi seorang putri, melainkan sebuah mesin ATM yang harus terus berputar tanpa henti. Jika ia berhenti, ia dianggap anak durhaka. Jika ia lelah, ia dianggap cengeng.
Rasa sesak itu kembali datang, lebih hebat dari sebelumnya. Alana meremas serbet di pangkuannya hingga buku-buku jarinya memutih.
"Pak Pradipta," suara Alana akhirnya keluar, serak dan penuh getaran yang coba ia sembunyikan. "Beberapa hal di dunia ini memang lebih baik dibiarkan tetap dingin. Luka... tidak akan sembuh hanya dengan dibicarakan di atas meja makan yang mewah seperti ini."
Pradipta melihat bagaimana bibir Alana sedikit bergetar. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini tidak hanya sedang terluka, tapi sedang hancur di balik gaun navy-nya yang cantik.
Pradipta menghela napas panjang, tatapannya tidak lepas dari kepalan tangan Alana yang memutih di bawah meja. Ia meraih gelas kristal berisi air putih, menyesapnya sedikit, lalu meletakkannya kembali dengan bunyi denting pelan yang seolah menegaskan otoritasnya yang berbeda malam ini.
"Pertama-tama," ujar Pradipta, suaranya rendah dan sarat akan peringatan yang lembut. "Berhenti memanggilku 'Pak'. Kita sedang tidak berada di ruang rapat atau di tengah debu proyek Uluwatu."
Alana mendongak, matanya yang sedikit berkaca-kaca menatap Pradipta dengan bingung. "Tapi, Pak—"
"Dipta," potong pria itu dengan cepat. "Panggil aku Dipta. Di luar jam kerja, aku ingin menjadi orang yang bisa kau percayai, bukan sekadar orang yang memberimu perintah."
Alana merasa lidahnya kelu. Memanggil CEO-nya dengan nama kecil terasa seperti melanggar hukum tak tertulis yang selama ini ia patuhi demi menjaga jarak aman. Baginya, nama "Pak Pradipta" adalah perisai. Jika ia melepaskan sebutan itu, maka dinding pertahanan yang ia bangun dengan susah payah akan runtuh sepenuhnya.
"Saya tidak bisa, Pak... maksud saya, itu tidak sopan," bantah Alana pelan, suaranya nyaris hilang ditelan denting piano.
Pradipta memajukan tubuhnya, memperkecil jarak di antara mereka hingga Alana bisa melihat pantulan kegelisahannya sendiri di mata pria itu. "Sopan santunmu tidak akan menyembuhkan luka itu, Alana. Kamu terus berlindung di balik formalitas karena kamu takut jika kamu terlalu dekat, seseorang akan melihat betapa hancurnya kamu di dalam sana."
Ia mengulurkan tangan, jemarinya nyaris menyentuh jemari Alana yang masih meremas serbet, namun ia mengurungkan niatnya agar tidak membuat wanita itu semakin terpojok.
"Kamu bukan mesin, Alana. Kamu bukan ATM berjalan untuk siapapun, termasuk keluargamu," lanjut Pradipta, seolah ia bisa membaca setiap beban pikiran yang baru saja melintas di benak Alana tentang cicilan dan tuntutan keluarganya . "Berhenti memikul dunia di pundakmu sendirian. Malam ini saja, lepaskan seragam asisten manajer itu. Panggil aku Dipta, dan biarkan aku melihat siapa Alana yang sebenarnya di balik topeng dingin ini."
Alana tertegun. Kata-kata Pradipta—atau Dipta—terasa seperti air hangat yang mencoba mencairkan kebekuan hatinya. Namun, rasa "tidak enak" dan bayangan wajah kecewa ibunya jika ia gagal menjadi "anak yang berguna" masih menghantui pikirannya.