melda, seorang wanita muda yang di hantui kematian tragis kakak nya bernama wulan. dan bertekad membalas dendam kepada agung perdana Kusuma putra konglomerat dan pewaris Kusuma grup yang telah menghamili dan menolak bertanggung jawab hingga membuat wulan depresi dan mengakhiri hidupnya. namun ditengah rencana balas dendam yang matang. melda justru terjebak dalam pusaran perasaan yang menguji batas antara cinta dan dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ches$¥, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kabar yang mengejutkan
Festival itu menjadi titik balik bagi bisnis Wulan dan titik beku yang semakin menebal bagi Agung.
Setelah kerja sama disepakati, semuanya bergerak cepat. Agung memperluas jaringan distribusi, menekan biaya produksi, menaikkan harga secara strategis. Ia tidak lagi datang sebagai lelaki yang pernah mencintai Wulan, melainkan sebagai pemilik modal terbesar yang menentukan arah.
Setiap rapat berlangsung formal.
“Target kuartal depan harus naik dua puluh persen,” ucapnya suatu malam di kantor kecil belakang kedai yang kini direnovasi modern.
Wulan mengangguk pelan. Ia melihat perubahan pada tempat itu ,lebih terang, lebih elegan, lebih “layak jual” tetapi entah mengapa terasa kehilangan sesuatu yang tak kasatmata.
Agung berdiri, merapikan jasnya. “Bisnis ini punya potensi besar. Jangan dibatasi oleh sentimentalitas.”
Kata itu terdengar lagi,
Seakan semua yang dulu mereka miliki hanyalah kelemahan yang harus dihapus.
Hari-hari berlalu cepat. Kedai semakin ramai. Media sosial penuh pujian. Cabang kedua mulai direncanakan.
Wulan tetap bekerja seperti biasa. Ia memasak, mengatur staf, menerima pelanggan. Tubuhnya tetap ramping, geraknya lincah. Tidak ada perubahan mencolok. Tidak ada mual, tidak ada ngidam aneh, tidak ada keterlambatan yang ia curigai karena siklusnya memang sering tak teratur saat stres.
Ia merasa sehat.
Hanya sedikit lelah, pikirnya. Itu wajar.
Hingga suatu sore yang padat, saat antrean pelanggan memanjang dan dapur terasa lebih panas dari biasanya, pandangannya tiba-tiba menggelap.
Suara Melda terdengar jauh. “Kak? Kak Wulan?”
Lantai terasa dingin sebelum semuanya hilang.
Ketika Wulan membuka mata, ia sudah berada di klinik kecil dekat pasar. Bau antiseptik samar memenuhi ruangan. Cahaya putih lampu terasa terlalu terang.
Melda duduk di samping ranjang dengan wajah panik.
“Kak, kamu bikin aku takut! Tiba-tiba pingsan begitu!” ujar melda
Wulan mencoba duduk, tapi kepalanya masih berat. “Cuma capek…” jawab wulan
Seorang dokter perempuan masuk dengan berkas di tangan. Wajahnya tenang, tapi ada sesuatu yang berbeda dalam sorot matanya.
“Kami sudah melakukan beberapa pemeriksaan,” ucap dokter itu lembut. “Dan ada hal yang perlu Anda ketahui?.”
Wulan menatapnya, jantungnya mulai berdegup tak beraturan.
“Selamat. Anda hamil.” ujar dokter tersebut.
Waktu terasa berhenti,
“Hamil…?” suara wulannyaris tak terdengar.
Dokter mengangguk. dan menjawab “Sekitar tiga bulan.”?!
Tiga bulan?! ucap wulan dengan kaget.
Melda menatap kakaknya, kebingungan. “Hamil? Tapi… kok nggak kelihatan?” tanya wulan
Dokter tersenyum kecil. “Tubuh setiap orang berbeda. Bentuk tubuh Anda memang ramping dan proporsional, jadi perubahan belum terlalu tampak. Apalagi jika aktivitas padat, gejalanya bisa tidak terasa jelas.”
Melda masih terpaku, mencoba mencerna apa yang di bicarakan dokter dan kakak nya
Namun Wulan sudah tidak lagi mendengar apa pun.
Tiga bulan berarti… sebelum jarak dan kesibukan memisahkan mereka sepenuhnya. Sebelum Agung benar-benar menjadi sosok dingin yang kini berdiri di hadapannya sebagai investor.
Anak ini…
Darah daging Agung???!! ucap wulan dalam hati.
Malam itu, Wulan pulang dengan langkah pelan. Melda terus bertanya-tanya, tapi Wulan hanya menjawab singkat bahwa ia hanya kurang istirahat dan harus mengurangi beban kerja.
Hasil pemeriksaan ia simpan sendiri di tas.
Di kamar kecilnya, ia duduk di tepi ranjang, memegang perutnya yang masih rata.
Tidak ada yang berubah dari luar.
Tapi di dalam dirinya, kehidupan lain tumbuh.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Bukan karena takut.
Bukan karena menyesal.
Melainkan karena kenyataan bahwa anak ini akan lahir di antara dua dunia yang bertolak belakang.
Ia membayangkan wajah Agung saat ini begitu dingin, terukur, penuh logika bisnis. Apakah lelaki itu masih memiliki ruang untuk sesuatu yang tak bisa dihitung dengan angka?
Wulan menggeleng pelan.
Belum.
Belum sekarang.
Kehamilan ini… untuk sementara… hanya miliknya.
Sementara itu, Agung semakin tenggelam dalam dunia yang ia pilih.
Ekspansi cabang kedua hampir selesai. Ia mengatur semuanya dengan presisi. Setiap detail diawasi. Setiap pengeluaran diperhitungkan.
Ia jarang tersenyum.
Jarang berbicara di luar urusan bisnis.
Jika melihat Wulan, ia menjaga jarak profesional. Tidak ada lagi tatapan lama yang hangat. Tidak ada sentuhan tak sengaja.
Ia membangun dinding lebih tinggi dari sebelumnya.
Orang tuanya semakin bangga. Media mulai menyebutnya sebagai pengusaha muda paling menjanjikan. Dunia mengakui ketegasannya.
Dan Agung menikmati itu.
Jika cinta membuatnya lemah, maka kekuasaan membuatnya kebal.
Beberapa minggu setelah pingsan itu, Wulan mulai merasakan perubahan kecil pada dirinya, bukan mual berlebihan, bukan rasa sakit hebat. Hanya kelelahan yang lebih cepat datang dan perasaan emosional yang kadang tak terjelaskan.
Ia tetap bekerja,
Tetap tersenyum.
Tetap berdiri di depan Agung saat rapat evaluasi bulanan.
“Penjualan stabil,” lapor Wulan dengan suara tenang.
Agung mengangguk. “Bagus. Kita bisa mulai rencana masuk pusat perbelanjaan elit bulan depan.”
Wulan menatapnya sejenak.
Ia ingin berkata sesuatu.
Ingin melihat apakah ada celah dalam dinding es itu??
Namun tatapan Agung terlalu jauh. Terlalu fokus pada target.
Akhirnya ia hanya berkata, “Baik.”
Malam hari, ketika kedai sudah tutup, Wulan berdiri sendirian di dapur.
Tangannya perlahan menyentuh perutnya.
“Tahan ya…” bisiknya pelan.
Ia tidak tahu bagaimana masa depan akan berjalan. Tidak tahu apakah suatu hari ia harus memberitahu Agung? . Tidak tahu bagaimana keluarga besar Agung akan bereaksi jika tahu ada cucu yang tumbuh tanpa restu kasta.
Yang ia tahu hanyalah satu,
Anak ini tidak bersalah.
Anak ini bukan angka.
Bukan proyek.
Bukan strategi.
Ia adalah cinta yang pernah ada meski kini tertutup oleh dingin dan ambisi.
Di sisi lain kota, Agung berdiri di balkon rumah mewahnya.
Lampu-lampu kota menyala seperti biasa. Angin berhembus dingin.
Ia merasa semuanya terkendali.
Bisnis berkembang.
Reputasi meningkat.
Nama keluarga semakin kuat.
Namun tanpa ia sadari, di suatu kamar sederhana tak jauh dari sana, sebuah kehidupan yang membawa namanya sedang tumbuh perlahan.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada ambisi yang bergerak tanpa sepengetahuannya.
Dunia masih terasa dingin bagi Agung.
Ia belum tahu bahwa takdir sedang menyiapkan perubahan yang tak bisa ia ukur dengan grafik atau kontrak.
dinding yang ia bangun mungkin tidak akan cukup kuat untuk menahannya.
Dan suatu hari ketika kebenaran itu terungkap. akankah ia memilih dunia yang begitu dingin tanpa kehangatan cinta?
atau runtuh dengan suatu yang tak bisa ia beli oleh uang?
beberapa mnggu kemudian sebuah amplop tanpa nama dikirim ke kantor agung isi nya hanya hasil USG hitam putih dan secarik kertas bertuliskan " tidak semua warisan berbentuk perusahaan'.
agung menatap gambar kecil itu lama sekali, dan bertanya siapa yng mengirim nya? dan mengapa sekarang?!
Dan ia perhatikan lagi, lalu di sudut foto tertulis "tiga bulan lalu".
tepat saat ia membangun dinding paling tinggi dalam hidupnya
Suka aku sama kaliamat nya kk kaya puisi apalagi kalo bacanya pake Nada.