NovelToon NovelToon
SELESAI MENJADI SABAR

SELESAI MENJADI SABAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Slice of Life / Penyesalan Suami / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Keluarga / Suami Tak Berguna
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: Sefna Wati

Lima tahun Hana mengabdi sebagai istri dan menantu yang sempurna, meski hanya dianggap sebagai pelayan tak berbayar. Ia rela makan sisa rendang di ujung meja dan menelan hinaan setiap hari demi keutuhan rumah tangga.
Namun, saat Hana menemukan Aris—suaminya—sengaja menyembunyikan uang puluhan juta sementara putra mereka terancam putus sekolah karena SPP menunggak, Hana sadar: kesabarannya telah habis.
Hana pergi membawa ijazah akuntansi yang selama ini berdebu di gudang. Dari seorang ibu rumah tangga yang tertindas, ia bertransformasi menjadi akuntan tangguh di bawah bimbingan Adrian, CEO dingin yang membantunya mengungkap borok finansial keluarga Aris.
Hana tidak membalas dengan amarah, ia membalas dengan cara yang paling menyakitkan: menjadi jauh lebih sukses dan menghancurkan harga diri Aris di meja hukum. Ternyata, berhenti menjadi sabar adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14: Retakan di Tengah Badai

Udara di ruang rapat lantai tiga puluh lima Wiratama Tower terasa seperti oksigen yang menipis. Di hadapan Hana, tiga pria berkebangsaan asing dari firma audit internasional Price & Global duduk dengan wajah tanpa ekspresi. Mereka tidak peduli pada drama domestik Hana atau sejarah kelam Aris; mereka hanya peduli pada presisi data dan aliran setiap rupiah yang tercatat dalam buku besar proyek Grand Emerald.

Hana telah terjaga selama empat puluh delapan jam terakhir. Lingkaran hitam di bawah matanya tidak bisa lagi disembunyikan oleh polesan bedak tipis. Ia terus membolak-balik ribuan lembar dokumen digital dan fisik, memastikan tidak ada satu pun celah yang bisa digunakan Garda Group untuk menjatuhkan kredibilitasnya.

"Ibu Hana, kami menemukan ada ketidaksamaan pada nilai aset vendor keramik di laporan bulan lalu. Bisa Anda jelaskan mengapa nilainya turun drastis setelah audit internal Anda?" tanya salah satu auditor dengan nada menyelidik.

Hana berdehem, tenggorokannya terasa kering dan panas. "Itu karena nilai sebelumnya adalah nilai yang sudah digelembungkan oleh oknum internal untuk menutupi selisih dana. Saya mengembalikannya ke nilai pasar yang sebenarnya agar perusahaan tidak merugi lebih jauh."

Saat ia hendak berdiri untuk mengambil folder pendukung, kepalanya mendadak berdenyut hebat. Pandangannya mengabur sejenak, dan ia harus berpegangan pada pinggiran meja agar tidak jatuh. Adrian, yang sejak tadi duduk di sudut ruangan memantau jalannya audit, segera berdiri.

"Kita istirahat satu jam," ucap Adrian tegas, memotong jalannya diskusi.

"Tapi Mr. Adrian, kita masih punya banyak poin yang—"

"Satu jam," ulang Adrian dengan nada yang tidak menerima bantahan. Ia berjalan mendekati Hana, melihat wajah wanita itu yang sudah pucat pasi. "Kamu pulang sekarang, Hana. Istirahat."

"Tidak bisa, Mr. Adrian. Besok adalah keputusan akhir. Jika saya tidak di sini, mereka akan berpikir saya melarikan diri dari tanggung jawab," bisik Hana, mencoba menguatkan suaranya.

"Ini perintah atasan, bukan saran. Sopir saya akan mengantarmu," tegas Adrian.

Hana sampai di apartemennya dengan langkah gontai. Begitu sampai di kamar, ia langsung ambruk di atas tempat tidur tanpa sempat mengganti pakaiannya. Tubuhnya menggigil meski AC sudah dimatikan. Tekanan mental selama berbulan-bulan, drama pengadilan, penyitaan rumah Aris, hingga serangan media akhirnya mencapai titik jenuh. Tubuhnya menyerah.

Sore harinya, bel apartemennya berbunyi. Hana mencoba bangun, namun kepalanya terasa berat seperti ditindih sebongkah batu. Dengan susah payah, ia menyeret kakinya untuk membuka pintu.

Di sana berdiri Adrian. Ia tidak lagi mengenakan jas, hanya kemeja putih dengan lengan yang digulung, membawa kantong plastik berisi obat dan makanan hangat.

"Mr. Adrian? Kenapa Anda..."

"Pengasuh Gilang bilang kamu tidak mau makan sejak pulang tadi. Jangan membuat saya kehilangan Manajer Keuangan terbaik saya hanya karena penyakit tifus," ucap Adrian sambil masuk tanpa menunggu undangan.

Adrian meletakkan makanan di meja makan, lalu menatap Hana yang masih tampak gemetar. Untuk pertama kalinya, Hana melihat sisi lain dari pria yang dikenal berdarah dingin ini. Adrian menyiapkan kompres, membantunya duduk, dan memastikan Hana meminum obatnya. Tidak ada suasana romantis yang berlebihan, yang ada hanyalah perhatian tulus antar manusia yang saling menghargai.

"Kenapa Anda begitu baik pada saya?" tanya Hana pelan saat rasa hangat dari bubur mulai mengisi perutnya.

Adrian terdiam sejenak, menatap keluar jendela apartemen ke arah lampu-lampu kota. "Karena saya tahu bagaimana rasanya berjuang sendirian melawan dunia yang ingin melihatmu jatuh. Bedanya, kamu melakukannya dengan martabat. Saya tidak ingin martabat itu hancur hanya karena kamu lupa cara merawat dirimu sendiri."

Namun, di saat Hana sedang berjuang memulihkan fisiknya, di kantor Wiratama Tower, sebuah pengkhianatan sedang mencapai puncaknya.

Sandra, yang merasa posisinya semakin terancam dan dendamnya pada Hana semakin membara, masuk ke ruangan arsip menggunakan kartu akses cadangan yang ia curi dari meja admin. Ia tahu bahwa besok pagi, auditor akan meminta berkas asli kuitansi dari vendor utama yang bisa membuktikan bahwa Hana tidak memanipulasi data.

Dengan tangan gemetar karena benci, Sandra mengambil tumpukan berkas penting tersebut. Ia tidak menghancurkannya—karena itu akan terlalu mudah dilacak. Ia justru menukar beberapa lembar kuitansi asli dengan kuitansi palsu yang sudah disiapkan oleh Pak Hendra. Kuitansi palsu itu mencantumkan angka yang akan membuat Hana terlihat seolah-olah dia memang mengambil keuntungan pribadi dari selisih dana tersebut.

"Mari kita lihat, apakah Mr. Adrian masih akan membelamu setelah melihat ini, Hana," desis Sandra dengan senyum licik.

Keesokan paginya, Hana kembali ke kantor. Meskipun wajahnya masih sedikit pucat, ia merasa jauh lebih segar. Pertemuan final dengan auditor internasional dimulai pukul sembilan pagi.

"Ibu Hana, silakan tunjukkan berkas kuitansi asli dari Mega Perkasa untuk periode Juni," pinta kepala auditor.

Hana membuka folder tersebut dengan penuh percaya diri. Namun, saat ia melihat lembaran di dalamnya, jantungnya seolah berhenti berdetak. Angka yang tertera di sana bukan angka yang ia catat. Itu adalah angka yang berbeda, angka yang membuat seluruh laporannya terlihat seperti sebuah kebohongan besar.

Hana menatap Adrian. Adrian menyadari ada yang salah dari raut wajah Hana. Auditor mulai saling berbisik, sementara di sudut ruangan, Sandra berdiri dengan wajah tenang yang dibuat-buat, namun matanya memancarkan kemenangan.

"Ibu Hana? Ada masalah?" tanya auditor dengan nada curiga.

Hana terdiam. Tangannya memegang kertas itu dengan erat. Ia tahu jika ia menyodorkan kertas ini, kariernya berakhir. Namun jika ia tidak menyodorkannya, ia akan dianggap menyembunyikan bukti. Ia teringat kembali pada setiap angka yang ia periksa di apartemennya. Ia tahu kuitansi ini palsu.

"Kertas ini bukan yang saya siapkan semalam," ucap Hana dengan suara yang bergetar namun tegas. Ia menatap lurus ke arah Sandra. "Seseorang telah masuk ke ruang arsip dan menukar dokumen ini."

Ruangan itu mendadak gaduh. Tuduhan Hana sangat serius.

"Itu tuduhan yang berat, Ibu Hana. Apa Anda punya bukti?" tanya auditor.

Di saat itulah, Adrian berdiri. Ia berjalan menuju meja rapat dan meletakkan sebuah flashdisk di depan para auditor.

"Saya selalu memasang kamera tersembunyi tambahan di ruang arsip setiap kali ada audit besar berlangsung. CCTV gedung mungkin bisa dimanipulasi, tapi kamera pribadi saya tidak," suara Adrian terdengar sangat dingin, sedingin es yang siap membekukan siapa pun pelakunya.

Wajah Sandra yang tadinya penuh kemenangan, seketika berubah menjadi pucat pasi. Ia mencoba mundur menuju pintu, namun dua petugas keamanan sudah berdiri di sana.

Hana menarik napas lega. Ia menatap Adrian, dan pria itu memberinya sebuah anggukan kecil. Di tengah badai sabotase dan fitnah, Hana menyadari bahwa ia tidak lagi berjuang sendirian. Ia telah menemukan tempat di mana integritasnya dihargai lebih dari apa pun.

1
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
terlambat sudah penyesalan mu Aris mau gimana pun kamu memohon agar Hana mau kembali tetep aja hasilnya nihil karna Hana sekarang bukan Hana yang dulu lagi
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok gak Aris gak emak nya sama² ngeyel sih udah tau nanti kena ulti sama Hana eh masih aja mau gangguin Hana 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
baguslah akhirnya sekarang Hana bisa hidup tenang dan terbebas dari hama² ini
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
pelajaran nya disini tu jangan pernah meremehkan orang dari penampilan nya,berawal dari Hana yang diperlakukan seperti babu sekarang malah lebih bersinar dari orang² yang dulu memerintah nya
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kapokkk modyar aee kau Aris bisa² habis sudah semua harta haram mu itu 😂😂
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
sok²an meremehkan ni si Aris jangan kira karna Hana dulu diperlakukan seperti babu bukan berarti fungsi kepintaran di otak nya udah gak kerja yaa 😏
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
karma mu Aris bahkan anak mu aja gak Sudi lagi sama kamu lagian bisa² nya dia beli keramik baru tapi anak nya aja nunggak SPP 😒
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
kok si Aris makin gak ngotak ya emang gak punya tangan ya buat mijet doang masak Hana Mulu yang gerak 😑
❤️⃟WᵃfTɑ˪ˡʈʜΑ𝐇⃟⃝ᵧꕥ
emang sih semua orang itu punya batas kesabaran gak semua orang itu tahan disakiti berkali kali apa lagi sama keluarga nya sendiri
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!