Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33 - DUA KEHIDUPAN
Minggu malam, Sinta mengirim instruksi.
Tidak panjang, hanya tiga poin singkat yang ditulis seperti seseorang yang terbiasa memberikan arahan dengan efisien.
[Senin pagi jam sembilan kurang seperempat. Keluar lewat pintu belakang ke gang kecil di sebelah rumah tetangga dua pintu dari kamu. Di ujung gang ada warung rokok. Tunggu di sana. Aku kirim orang.]
Lily membaca tiga kali, menyimpan pesan, lalu menghapusnya dari ponsel.
Bukan karena tidak percaya sepenuhnya, tapi karena kebiasaan yang sudah terbentuk dari empat minggu terakhir. Informasi yang sudah masuk ke kepala tidak perlu tersimpan di tempat yang bisa diperiksa orang lain.
Malam itu Lily tidur lebih awal dari biasanya. Bukan karena tenang, tapi karena dia sudah belajar bahwa tubuh yang tidak diistirahatkan adalah beban tambahan di hari yang sudah penuh beban lain.
Senin pagi berjalan seperti Senin-Senin lain di rumah itu.
Lily bangun jam lima, ke dapur, menyiapkan sarapan. Bibi Rah ada di posisinya. Tante Sari turun jam tujuh. Ayahnya jam tujuh lebih. Nindi tidak turun.
Tidak ada yang berbeda dari luar.
Tapi jam delapan lewat tiga puluh, Lily naik ke kamarnya dengan alasan mengambil celemek baru. Alasan yang tidak ada yang pertanyakan karena tidak pernah ada yang memperhatikan kapan Lily berganti celemek.
Di kamarnya, dia mengganti baju dengan yang lebih rapi. Bukan formal, tapi bukan juga baju kerja dapur. Kemeja yang sudah lama tidak dia pakai tapi masih layak. Rambut yang biasanya dikucir asal dia rapikan dengan lebih teliti.
Dia memasukkan beberapa lembar dokumen ke dalam tas jinjing kecil. Salinan surat ahli waris yang sudah diverifikasi notaris, KTP, dan satu lembar yang berisi nama perusahaan dan alamat tempat wawancara. Tas itu dia taruh di bawah kasur.
Lalu dia turun kembali ke dapur dengan celemek baru di tangan.
Jam delapan lima puluh, Lily bilang ke Bibi Rah bahwa dia perlu ke warung beli minyak goreng yang hampir habis.
Bibi Rah mengangguk tanpa melihat ke arahnya. Tangannya di piring yang sedang dicuci. Tapi waktu Lily lewat di dekatnya, jari-jari Bibi Rah bergerak sedikit. Jenis gerakan kecil yang sudah jadi bagian dari bahasa mereka... aku tahu. Hati-hati.
Lily keluar lewat pintu belakang.
Gang kecil di sebelah rumah tetangga dua pintu adalah gang yang sudah ada sejak Lily kecil. Dia pernah main di sana waktu masih sembilan atau sepuluh tahun, sebelum Tante Sari datang dan sebelum bermain di luar jadi sesuatu yang tidak ada waktunya lagi. Jalannya sempit, cukup untuk satu orang dewasa lewat, dengan dinding rumah di kedua sisi dan tanaman-tanaman yang tumbuh tidak terencana dari pot-pot yang tidak ada yang merawat.
Warung rokok di ujung gang, kios kecil dengan bapak tua di baliknya yang sudah buka dari jam enam dan kelihatannya tidak terlalu tertarik dengan apa yang terjadi di sekitarnya.
Lily berdiri di samping kios. Pura-pura melihat ke ponselnya.
Tiga menit kemudian, motor matic berhenti di depannya. Pengemudinya perempuan, usia tiga puluhan, helm yang menutup wajah hampir sepenuhnya.
"Lily?"
"Iya."
"Naik."
Tidak ada perkenalan lebih lanjut. Lily naik.
Motor itu membawa Lily ke arah yang memutar. Bukan rute langsung ke pusat kota, tapi lewat jalan-jalan kecil yang Lily tidak sepenuhnya hafal. Dua kali motor berhenti di persimpangan lebih lama dari lampu merah membutuhkan, dan Lily perhatikan pengemudi itu melihat ke kaca spion lebih dari sekali.
Mengecek apakah ada yang mengikuti.
Dua puluh menit kemudian mereka berhenti di depan gedung ruko yang tidak Lily kenal, bukan gedung PT Cakrawala Mandiri yang dia cari. Ini gedung yang berbeda.
"Sinta ada di lantai dua," kata pengemudi itu. Lalu pergi.
Lily berdiri di depan gedung itu selama tiga detik, menghitung napas sekali, lalu masuk.
Lantai dua... ruang kecil yang kelihatannya disewa untuk pertemuan, bukan kantor permanen. Meja, empat kursi, satu jendela yang menghadap ke dinding gedung sebelah.
Sinta Wardhani sudah duduk di sana.
Perempuan itu usianya sekitar empat puluhan, rambut hitam yang pendek, dipotong rapi, wajahnya tidak cantik dengan cara yang mencolok tapi ada ketajaman di sana yang terasa seperti kecerdasan yang sudah lama dilatih. Bajunya sederhana. Tidak ada yang berlebihan dari tampilannya kecuali cara matanya memproses Lily yang masuk ke ruangan itu... cepat, terlatih, seperti komputer yang sedang memindai dan mengkategorikan.
"Lily." Bukan pertanyaan.
"Sinta." Juga bukan pertanyaan.
Mereka duduk berhadapan.
"Kamu sudah dapat file yang aku kirim," kata Sinta.
"Sudah."
"Dan kamu masih mau bicara denganku meski ada nama-nama di sana yang membuatmu tidak yakin ke siapa bisa percaya."
"Justru karena itu aku mau bicara denganmu," kata Lily. "Karena kamu satu-satunya yang bisa mengkonfirmasi mana yang benar."
Sinta menatapnya sebentar. Ada sesuatu di ekspresinya yang bergerak. Bukan respect yang ditampilkan, tapi lebih seperti penyesuaian ekspektasi yang terjadi tanpa dia mau tampilkan.
"Kamu mau tanya soal huruf H."
"Iya."
"H bukan Hendra Paramita," kata Sinta langsung. "H adalah Hendrawati. Notaris itu."
Lily menarik napas yang lebih panjang dari biasanya.
"Dari kapan?"
"Dari lama. Sebelum kamu lahir, Bu Hendrawati sudah pernah menangani beberapa dokumen untuk Reinaldo. Bukan selalu ilegal, tapi ada di wilayah abu-abu. Waktu dia mencoba keluar dari hubungan itu belakangan, Reinaldo punya cukup untuk membuatnya tidak bisa pergi sepenuhnya."
"Jadi waktu dia datang ke aku..."
"Dia tulus ingin membantu," kata Sinta. "Itu yang lebih rumit. Dia genuinely sudah lelah dengan situasinya. Tapi pada waktu yang sama, setiap langkahnya masih dipantau Reinaldo. Dia tidak sepenuhnya bebas bahkan waktu dia pikir dia bebas."
Lily menyerap itu.
"Dan Hendra?"
"Bersih. Dari yang aku tahu, tidak ada koneksi antara dia dan Reinaldo selain bahwa Reinaldo tahu namanya dan tahu posisinya dalam hidupmu."
Mereka bicara selama empat puluh menit.
Sinta tidak menceritakan semuanya. Ada hal-hal yang dia tahan, dan Lily tahu itu tapi tidak memaksanya. Tapi dari yang dia ceritakan, ada dua hal yang paling penting.
Pertama: Sinta punya akses ke satu dokumen internal yang belum pernah keluar dari lingkaran Reinaldo. Dokumen yang mencatat aliran dana ke dokter dan beberapa pihak lain yang terlibat dalam penanganan kematian Mama. Bukan bukti langsung, tapi cukup untuk membuka investigasi formal kalau diterima oleh pihak yang tepat.
Kedua: Sinta mau memberikan dokumen itu. Dengan satu syarat.
"Aku butuh jaminan bahwa kalau ini semua selesai... namaku bersih. Bukan diampuni, bukan dilindungi dari semua konsekuensi. Tapi aku tidak mau jadi kambing hitam yang menanggung semua kesalahan sementara Reinaldo keluar dengan kerusakan minimal."
"Itu tergantung pada apa yang kamu berikan dan seberapa berguna itu untuk membuktikan kasus," kata Lily. "Aku tidak bisa menjanjikan sesuatu yang bukan urusanku untuk dijanjikan."
"Aku tahu." Sinta menatapnya. "Makanya aku bicara ke kamu, bukan ke pengacaramu. Karena aku butuh tahu apakah kamu orangnya, apakah kamu bisa jadi orang yang menghidupkan perjanjian seperti ini dengan integritas, bukan hanya dengan tanda tangan."
Lily menatap balik.
"Aku tidak bisa membuat keputusan ini sendiri hari ini," kata Lily. "Tapi aku akan bicara dengan Pak Syarif. Dan aku akan kembali dengan jawaban dalam tiga hari."
Sinta mengangguk. "Tiga hari."
Motor yang sama mengantarkan Lily kembali ke dekat gang kecil jam sepuluh lewat lima.
Lily jalan kaki ke warung terdekat, membeli minyak goreng yang tadi jadi alibinya, dan pulang lewat pintu belakang dengan tas jinjing di tangan dan kepala yang penuh.
Di dapur, Bibi Rah ada di posisinya. Tidak bertanya.
Lily meletakkan minyak goreng di counter.
Ponselnya bergetar.
Bukan dari Sinta. Bukan dari Hendra.
Dari nomor yang tidak tersimpan, nomor yang belum pernah menghubunginya sebelumnya. Pesan singkat, tidak ada perkenalan.
[Wawancaramu jam dua belas siang ini. Bukan jam sepuluh. Jadwal berubah. Konfirmasi kehadiran.]
Lily menatap pesan itu.
Wawancara di PT Cakrawala Mandiri, yang dia lamar Jumat lalu. Jadwal di email undangan bilang jam sepuluh.
Sekarang ada yang memberitahu jadwal berubah ke jam dua belas, dari nomor yang bukan nomor perusahaan itu.
Lily mengetik balas ke nomor perusahaan yang ada di email undangannya, bukan ke nomor ini.
[Selamat pagi, mau konfirmasi jadwal wawancara hari ini. Di email tertulis jam sepuluh, apakah ada perubahan?]
Balasan dari perusahaan datang dalam lima menit. [Selamat pagi Nona Lily. Jadwal tetap jam sepuluh. Kami menunggu kehadiran Anda.]
Lily meletakkan ponselnya.
Seseorang mencoba menunda kedatangannya ke wawancara itu. Atau mencoba mengatur agar dia tiba di sana di waktu yang berbeda, waktu yang mungkin sudah dipersiapkan sesuatu yang lain.
Siapa yang tahu dia ada wawancara hari ini?
Tidak ada, dia tidak memberitahu siapa pun.
Kecuali kalau ada yang membaca emailnya.
Bersambung ke Bab 34...