Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Di sekolah, jam istirahat pertama biasanya menjadi waktu paling riuh. Anak-anak berhamburan ke kantin, sebagian lagi berkumpul di depan pagar, membeli jajanan dari gerobak yang berderet di luar.
Mahendra berdiri di antara mereka. Perutnya sejak pagi terasa kosong. Bekal yang disiapkan Melati tadi ia tinggalkan begitu saja di meja makan. Kotaknya bahkan tak disentuh. Ada rasa puas kecil saat melihat punggung perempuan itu menjauh tanpa memaksa.
Ia tidak mau menerima apa pun darinya.
“Ayo, Ndra,” ujar salah satu temannya. “Ada cilok baru. Rasanya enak banget."
Mahendra mengangguk tanpa berpikir panjang.
Di depan sekolah, asap tipis mengepul dari wajan kecil. Saus merah kental disiram sembarangan, warnanya mencolok. Tangannya menerima tusuk demi tusuk tanpa ragu. Pedas, asin, gurih cukup untuk mengisi perut yang kosong dan menutup rasa kesal yang tak jelas arahnya.
Ia makan cepat. Terlalu cepat.
Belum sempat bel masuk kedua berbunyi, rasa tidak nyaman mulai muncul. Awalnya hanya perut yang terasa begah. Ia mengira itu biasa. Ia tetap masuk kelas, duduk di bangkunya, membuka buku.
Namun beberapa menit kemudian, keringat dingin mulai muncul di pelipisnya.
Mahendra menggeser tubuhnya gelisah. Perutnya melilit. Bukan lapar, tapi nyeri yang datang tiba-tiba, menusuk dari dalam. Ia menggigit bibir, menahan. Tidak mau terlihat lemah.
“Ndra, kamu kenapa?” bisik temannya.
“Gak apa-apa,” jawabnya cepat.
Tapi tubuhnya tidak bisa bohong.
Suara di kelas mulai terdengar jauh. Kepalanya pusing. Tangannya dingin. Ketika rasa mual naik ke tenggorokan, ia akhirnya mengangkat tangan.
“Bu… izin ke toilet.”
Langkahnya tergesa menyusuri lorong. Begitu sampai, ia membungkuk di depan wastafel, napasnya tersengal. Perutnya kembali melilit, lebih kuat dari sebelumnya. Ia menutup mata, menahan perih yang membuat dahi berkerut.
Di sela-sela rasa sakit itu, bayangan kotak bekal di meja makan pagi tadi melintas begitu saja.
Nasi hangat. Lauk yang tertutup rapi. Tangan Melati yang bergerak cepat di dapur.
Ia menggeleng, menepisnya.
“Enggak, bukan urusanku,” gumamnya pelan, lebih seperti meyakinkan diri sendiri.
Tapi tubuhnya terus memberontak. Bel masuk berbunyi. Mahendra masih duduk terdiam di toilet sekolah, perutnya sakit, tenggorokannya pahit, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia merasa benar-benar tidak baik-baik saja.
☘️☘️☘️☘️☘️
Telepon itu berdering di sela rapat singkat yang sedang diikuti Cokro. Layarnya menyala menampilkan nomor tak dikenal, tapi ada keterangan kecil di bawahnya.
Sekolah Mahendra.
Cokro langsung berdiri.
“Maaf,” katanya singkat pada rekan kerjanya, lalu melangkah ke luar ruangan.
“Selamat siang, Pak Cokro,” suara perempuan terdengar dari seberang. Tenang, profesional. “Saya Bu Ratna, wali kelas Mahendra.”
Ada jeda sepersekian detik di dada Cokro.
“Kenapa dengan anak saya?” tanyanya, nadanya refleks tegang.
“Mahendra mengeluh sakit perut cukup hebat sejak jam istirahat pertama. Kami sudah bawa ke UKS, tapi kondisinya belum membaik. Sepertinya akibat makanan.”
Cokro mengerutkan kening.
“Makanan?”
“Iya, Pak. Dari keterangan Mahendra, ia belum sarapan dan membeli jajanan di luar sekolah.”
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang ia duga.
"Belum sarapan."
Bayangan pagi tadi melintas singkat meja makan, hidangan yang tertata, suara Melati yang pelan menyapa. Lalu kotak bekal yang… ia lihat tadi pagi. Utuh.
“Kami sarankan Mahendra dijemput dan dibawa ke dokter,” lanjut Bu Ratna. “Dia tampak sangat menahan sakit.”
“Baik,” jawab Cokro cepat. “Saya ke sana sekarang.”
Telepon terputus.
Cokro berdiri mematung beberapa detik di lorong kantor. Rahangnya mengeras, bukan marah pada anaknya—tapi pada sesuatu yang lebih rumit.
Ia mengambil kunci mobil dengan gerakan cepat. Di dalam mobil, mesin menyala. Tapi sebelum pedal gas diinjak, tangannya berhenti di setir.
Belum sarapan.
Bukan karena tidak ada makanan, ataupun tidak disiapkan, namun anaknya sendiri yang menolak kebaikan itu.
Cokro menghembuskan napas pelan, panjang. Ada rasa tidak nyaman merayap di dadanya, rasa yang ia tolak sejak pagi.
Ia teringat suara Melati semalam. “Aku cuma… nggak mau anak-anak merasa sendirian.”
Cokro menekan setir lebih kuat. “Kenapa jadi begini…” gumamnya lirih, entah pada keadaan, entah pada dirinya sendiri.
Mobil melaju cepat menuju sekolah, membawa seorang ayah yang mulai sadar:
benteng yang ia bangun mungkin tidak hanya melindungi anak-anaknya, tapi juga mulai melukai mereka.
☘️☘️☘️☘️
Mobil berhenti di halaman rumah menjelang sore. Mesin dimatikan, tapi Cokro tidak langsung turun. Di kursi belakang, Mahendra tertidur setengah sadar, wajahnya pucat, keningnya berkerut meski mata terpejam.
Perutnya masih sakit.
Cokro menghela napas pelan, lalu turun dan menggendong anak itu masuk. Tidak ada suara selain langkah kakinya dan pintu yang tertutup perlahan.
Melati yang sedang melipat pakaian di ruang tengah refleks berdiri.
“Mahendra kenapa?” tanyanya cepat, nada suaranya spontan, tanpa pikir panjang.
Cokro meliriknya singkat. “Sakit perut.”
Ia berjalan melewati Melati, menuju kamar Mahendra.
Melati mengikuti beberapa langkah, lalu berhenti di ambang pintu.
“Sudah ke dokter?”
“Masih ringan,” jawab Cokro datar. “Tapi cukup bikin sekolah nelpon.”
Kalimat itu bukan tuduhan, tapi rasanya seperti peringatan.
Cokro membaringkan Mahendra, merapikan selimutnya. Anak itu meringis kecil dalam tidurnya.
“Dia belum sarapan,” ucap Cokro tiba-tiba, tanpa menoleh.
Melati terdiam.
“Dan bekalnya… nggak dimakan.”
Melati menelan ludah. “Aku sudah siapkan.”
“Aku tahu.”
Nada itu pelan. Terlalu pelan.
Melati berdiri lebih tegak. “Aku nggak memaksa dia makan.”
“Justru itu,” sahut Cokro. “Kamu terlalu membiarkan.”
Kalimat itu membuat dada Melati menegang.
“Maksud Mas?”
Cokro akhirnya menoleh. Tatapannya tidak marah, tapi lelah.
“Dia anakku. Kalau dia menolak, kamu seharusnya berhenti.”
Melati menarik napas, mencoba tetap tenang. “Mas, aku bukan memaksa… tapi aku juga bukan orang asing yang lewat di rumah ini.”
“Di matanya, iya,” jawab Cokro cepat.
Sunyi jatuh di antara mereka. Melati menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya kembali. Suaranya tetap lembut, tapi ada ketegasan yang baru.
“Kalau begitu, jangan salahkan aku saat tubuhnya akhirnya bereaksi.”
Cokro mengernyit.
“Aku masak, aku siapkan bekal, aku jaga waktu makannya,” lanjut Melati pelan. “Kalau semua itu harus kuhentikan hanya karena dia menolak keberadaanku… lalu untuk apa aku ada di sini?”
Cokro terdiam.
Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena kalimat itu terlalu tepat mengenai sesuatu yang selama ini ia hindari.
“Jangan jadikan sakitnya anakku sebagai argumen,” katanya akhirnya.
Melati mengangguk pelan. “Aku tidak menjadikannya alasan. Aku hanya menyampaikan batasanku.”
Batasan.
Kata itu menggantung di udara, berat dan asing.
Mahendra bergerak kecil di ranjang, meringis, lalu tenang kembali. Keduanya otomatis menoleh ke arah anak itu.
Melati melangkah mendekat, menepuk kening Mahendra dengan lembut. Tidak berlebihan. Tidak memaksa. Hanya cukup.
Cokro memperhatikan dari dekat.
“Kalau Mas ingin aku mundur satu langkah lagi,” ucap Melati lirih tanpa menatapnya, “aku bisa. Tapi jangan minta aku peduli setengah-setengah.”
Cokro memejamkan mata sejenak.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, ia merasa tidak sedang melindungi anak-anaknya dari orang lain melainkan dari dirinya sendiri.
Ia membuka mata.
“Kamu… terlalu cepat masuk,” katanya pelan.
Melati menoleh. “Dan Mas terlalu lama menutup pintu.”
Tak ada teriakan.
Tak ada amarah.
Hanya dua orang dewasa yang sama-sama terluka, berdiri di sisi anak yang sama dengan cara mencintai yang belum pernah mereka sepakati.
Bersambung ....