NovelToon NovelToon
Harga Diri Seorang Istri

Harga Diri Seorang Istri

Status: tamat
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romansa / Tamat
Popularitas:2.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: Bunda SB

Indira pikir dia satu-satunya. Tapi ternyata, dia hanya salah satunya.

Bagi Indira, Rangga adalah segalanya. Sikap lembutnya, perhatiannya, dan pengertiannya, membuat Indira luluh hingga mau melakukan apa saja untuk Rangga.

Bahkan, Indira secara diam-diam membantu perusahaan Rangga yang hampir bangkrut kembali berjaya di udara.

Tapi sayangnya, air susu dibalas dengan air tuba. Rangga diam-diam malah menikahi cinta pertamanya.

Indira sakit hati. Dia tidak menerima pengkhianatan ini. Indira akan membalasnya satu persatu. Akan dia buat Rangga menyesal. Karena Indira putri Zamora, bukan wanita biasa yang bisa dia permainkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan yang Mengejutkan

Bandara Soekarno-Hatta dipenuhi oleh hiruk pikuk pagi hari, penumpang yang bergegas, pengumuman penerbangan yang bergema, dan suara koper yang berderak di lantai marmer. Rangga berdiri di area kedatangan Terminal 3, matanya tertuju pada pintu keluar penumpang internasional.

Ia terlihat lelah, kantung mata yang menghitam dan kemeja yang sedikit kusut. Dua hari terakhir adalah mimpi buruk yang belum berakhir. Rapat marathon dengan dewan direksi. Panggilan telepon dengan klien yang mulai ragu. Email-email penolakan dari calon investor. Dan yang paling menyiksa, ketidaktahuan tentang siapa sebenarnya yang menghancurkan perusahaannya.

Tapi pagi ini, ia harus menghadapi masalah lain, Ayunda.

Pintu otomatis terbuka, dan Ayunda muncul dengan koper besar di sampingnya. Ia mengenakan dress casual berwarna pink, rambut diikat ekor kuda tinggi, kacamata hitam bertengger di hidungnya. Wajahnya terlihat lelah dan kesal, bibir yang mengerucut, dagu yang terangkat tinggi, ekspresi seorang wanita yang sangat tidak senang.

Rangga melangkah mendekat. "Ayunda."

Ayunda berhenti, menatap suaminya dari balik kacamata hitamnya. Tidak ada senyuman. Tidak ada pelukan hangat seperti yang biasa ia berikan.

"Halo," sapanya datar.

"Ayo, aku bantu kopernya," Rangga meraih gagang koper, tapi Ayunda menariknya kembali.

"Aku bisa sendiri."

"Sayang, jangan seperti ini..."

"Seperti apa?" Ayunda melepas kacamatanya, menatap Rangga dengan mata yang sedikit memerah, tanda ia menangis di pesawat. "Seperti istri yang ditinggalkan sendirian di hari kedua pernikahan? Oh maaf, aku memang seperti itu sekarang."

Rangga menghela napas panjang. "Ayo kita bicara di mobil. Di sini terlalu ramai."

Ayunda menatapnya sejenak, lalu mengangguk kaku. Mereka berjalan menuju parkiran dalam keheningan yang tidak nyaman, keheningan yang tidak seharusnya ada antara pasangan pengantin baru.

Mobil Rangga terparkir di lantai tiga area parkir. Begitu masuk, Rangga menyalakan AC dan duduk diam sejenak sebelum berbicara.

"Ayunda," ia mulai dengan nada lembut, "aku minta maaf."

Ayunda menatap ke depan, tidak menatap suaminya. "Untuk yang mana? Untuk meninggalkan aku? Untuk membentakku di telepon? Atau untuk membuatku merasa bodoh karena percaya pernikahan kita akan berbeda?"

"Untuk semuanya," jawab Rangga tulus. "Aku tahu aku salah. Aku tahu aku mengecewakan kamu. Tapi kamu harus mengerti, perusahaan ku sedang dalam krisis besar. Aku..."

"Aku tahu," potong Ayunda, kali ini menoleh menatap Rangga. "Aku tahu tentang pembatalan proyek. Aku tahu tentang kerugian miliaran. Aku baca beritanya."

"Kalau kamu tahu, kenapa kamu masih marah?"

"Karena kamu tidak jujur padaku!" Ayunda mulai meninggi suaranya. "Kamu bilang 'ada urusan mendadak' dan langsung pergi. Kamu tidak jelaskan apa-apa. Kamu tidak bilang seberapa serius masalahnya. Kamu hanya... pergi. Seperti aku tidak penting."

Rangga menatap setir mobilnya, tidak tahu harus berkata apa. Karena memang itulah yang ia rasakan saat itu, Ayunda tidak sepenting krisis perusahaan.

"Maafkan aku," ulang Rangga. "Aku janji akan lebih baik. Aku janji akan lebih komunikatif. Aku janji..."

"Cukup dengan janji," potong Ayunda lelah. "Aku tidak mau dengar janji lagi, Rangga. Aku mau tindakan nyata."

"Oke," Rangga mengangguk cepat. "Apapun yang kamu mau. Aku akan buktikan."

Ayunda diam sejenak, seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia berbicara pelan tapi tegas.

"Aku mau tinggal di rumahmu."

Rangga mengernyit. "Rumah ku? Kamu sudah tinggal di..."

"Rumah yang kamu tinggali dengan Indira," klarifikasi Ayunda.

Warna dari wajah Rangga menghilang. "Apa?"

"Kamu dengar aku," Ayunda menatapnya dengan tatapan yang menantang. "Aku mau tinggal di sana. Bersama kamu. Dan Indira."

"Ayunda, itu tidak mungkin..."

"Kenapa tidak mungkin?" Ayunda memotong. "Kamu sudah menikah denganku. Kamu sudah sah jadi suamiku. Kenapa aku harus sembunyi-sembunyi di apartemen sementara istri pertamamu masih nyaman di rumah besar yang seharusnya juga jadi hakku?"

"Karena itu tidak sopan!" Rangga mulai panik. "Karena itu akan menyakiti Indira! Karena..."

"Menyakiti Indira?" Ayunda tertawa sarkastik. "Rangga, kamu sudah menikah dengan wanita lain sementara masih punya istri sah. Kamu sudah menyakitinya dengan cara terburuk. Apa bedanya kalau aku tinggal di sana?"

"Beda!" Rangga bersikeras. "Sangat beda! Satu hal adalah perselingkuhan yang dia mungkin bisa maafkan suatu hari, tapi membawa selingkuhan tinggal di rumahnya sendiri? Itu penghinaan yang tidak bisa dimaafkan!"

"Tapi Indira sudah tahu tentang pernikahan kita," Ayunda berargumen. "Dia bahkan datang ke resepsi kita. Dia lihat kita menikah. Dan kamu lihat dia tenang waktu itu, kan? Tidak marah. Tidak mengamuk. Dia bahkan memberikan ucapan selamat dengan sopan."

Rangga terdiam, mengingat momen itu. Memang benar, Indira terlihat sangat tenang. Terlalu tenang, sekarang ia pikir-pikir. Seperti seseorang yang sudah tidak peduli lagi.

"Kalau dia tidak mempermasalahkan pernikahan kita," lanjut Ayunda, "kenapa dia akan mempermasalahkan aku tinggal di sana? Toh dia sudah tahu semuanya. Malah lebih baik seperti ini, terbuka, jujur, tidak ada yang sembunyi-sembunyi."

"Ayunda, kamu tidak mengerti..."

"Aku mengerti dengan sempurna," potong Ayunda. Matanya mulai berkaca-kaca. "Aku mengerti kalau kamu masih peduli dengan perasaan Indira lebih dari perasaanku. Aku mengerti kalau aku masih nomor dua. Aku mengerti kalau aku harus puas dengan apartemen kecil sementara istri pertamamu tinggal dengan nyaman di rumah mewah."

"Bukan seperti itu..."

"Lalu seperti apa?" Ayunda mulai menangis. "Rangga, aku sudah korbankan segalanya untukmu. Aku terima dicap sebagai perebut suami orang. Aku terima dihina di depan semua tamu di resepsi kita. Aku terima ditinggalkan sendirian di Bali. Dan sekarang kamu tidak mau mengabulkan satu permintaan sederhana ini?"

"Ini bukan permintaan sederhana, Ayunda..."

"Bagi ku ini sederhana!" Ayunda menatap Rangga dengan mata penuh air mata. "Ini tentang kamu memilih. Aku atau dia. Kalau kamu benar-benar mencintaiku, kalau kamu benar-benar mau berkomitmen dengan pernikahan kita, kamu akan bawa aku pulang ke rumahmu. Rumah yang seharusnya juga jadi rumahku sekarang."

Rangga merasakan kepala nya berdenyut. Ini tidak masuk akal. Ini akan jadi bencana. Indira tidak mungkin menerima ini dengan tenang. Wanita secerdas apapun, setenang apapun, pasti akan murka kalau suaminya membawa selingkuhan tinggal di rumahnya.

Tapi di sisi lain, Ayunda benar. Indira sudah tahu segalanya. Dia tidak marah atau setidaknya tidak menunjukkan amarah di depan umum.

"Dira itu wanita yang pengertian," Rangga berbicara, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Ayunda. "Selama pernikahan, dia tidak pernah marah besar. Tidak pernah membuat drama. Dia selalu sabar, selalu mengerti, selalu... mengalah."

"Nah, itu!" Ayunda mengusap air matanya. "Kalau dia memang seperti itu, pasti dia tidak akan mempermasalahkan ini. Malah mungkin dia sudah siap untuk pisah. Tinggal kita formalkan saja."

Rangga memikirkan kata-kata Ayunda. Mungkin memang benar. Mungkin ini cara terbaik untuk membuat Indira benar-benar menerima pernikahan keduanya dengan Ayunda.

"Aku tidak mau tinggal sendiri lagi, Sayang," Ayunda melanjutkan dengan suara yang lebih lembut, lebih memohon. "Aku baru menikah. Aku mau tinggal dengan suamiku. Aku mau bangun tidur di sampingmu. Aku mau sarapan bersama. Aku mau merasakan jadi istri yang sebenarnya, bukan istri yang harus sembunyi di apartemen seperti selingkuhan."

Kata-kata itu menohok Rangga. Karena memang itulah yang terjadi, Ayunda masih diperlakukan seperti selingkuhan, bukan istri sah. Dan itu tidak adil untuknya.

"Baiklah," akhirnya Rangga menyerah. "Baiklah. Kamu bisa tinggal di sana."

Wajah Ayunda langsung cerah. "Serius?"

"Serius," Rangga mengangguk, meski hatinya tidak yakin. "Tapi dengan satu syarat. Kita harus jelaskan situasinya ke Indira dengan baik-baik. Kita tidak bisa tiba-tiba masuk dengan kopermu dan bilang kamu akan tinggal di sana."

"Tentu," Ayunda mengangguk cepat. "Aku akan sopan. Aku janji. Aku tidak akan buat masalah."

Rangga tidak terlalu yakin dengan janji itu, tapi ia sudah terlalu lelah untuk berdebat lagi. Ia menyalakan mesin mobil, mengeluarkannya dari area parkir.

Dalam perjalanan pulang, Ayunda mulai ceria, bercerita tentang penerbangan, mengeluh tentang makanan pesawat, merencanakan bagaimana ia akan atur kamar mereka. Rangga mendengar setengah hati, pikirannya melayang ke Indira.

Bagaimana reaksinya nanti? Apakah dia akan tetap tenang seperti di resepsi? Atau ini akan jadi pemicu yang membuat amarahnya meledak?

Entah kenapa, Rangga merasa ada yang tidak beres. Indira yang datang ke Bali itu terlalu tenang, terlalu terkontrol, terlalu... berbeda. Itu bukan Indira yang ia kenal. Itu seperti orang lain dengan wajah Indira.

Tapi mungkin memang itulah yang terjadi ketika seseorang sudah tidak peduli lagi. Mereka jadi tenang karena tidak ada lagi yang bisa melukai mereka.

"Rangga? Kamu dengar aku?" suara Ayunda menariknya kembali ke realitas.

"Hmm? Maaf, apa tadi?"

"Aku bilang, aku mau kamar yang menghadap taman. Kamarmu dengan Indira kan yang itu?"

"Iya," jawab Rangga.

"Bagus," Ayunda tersenyum puas. "Aku suka pemandangan taman."

Rangga tidak menjawab. Ia hanya fokus menyetir, mencoba mengabaikan perasaan tidak enak yang terus menggerogoti perutnya.

1
WJ
waduuuh...pelakor ini semakin mayak ya/Bye-Bye/
ig: Marica_Author
tetap semangat Indira
ig: Marica_Author
jahat banget suaminya 😭😭😭😭
Alra
lah gantung
Lucyana H
alesan cuma karena keturunan,ternyata yg salah nanti Rangga ga bisa punya keturunan
Lucyana H
rasain tuh si Rangga,itu pilihanmu di ular kadut,Ayunda Lo mau jadiin si Indira pembantu hello siapa Lo...akhirnya pelan pelan Rangga bakal nyesel udah milih si ular kadut Ayunda,makan tuh penderitaan lo
Lucyana H
rasanya gw pengen tonjok aja tuh mukanya si Rangga,bikin emosi jiwa,
Lucyana H
lancang Lo Ayunda ..cuma istri kedua aja sok ngatur bgt,ga waras ..Lo tuh perempuan gimana klo Lo jd Indira ..thor semoga karma segera DTG,perebut laki orang
Muhammad Arifin
Iki pelakor bodoh....
gak punya apa2 tp berani melawan 😒😒😒
Marina Tarigan
Rangga Kiara hilang ya
Marina Tarigan
aneh juga ya anak kembar 3 kok gak di operasi sih kek kucing beranak saja
Bunda SB: jangan salah kak, di tempat aku ada yang lahiran kembar 3 normal
total 1 replies
Marina Tarigan
ngomong terus
Marina Tarigan
karena kamu terlampau buvin sm istrimu mknya kamu terus disiksa dari ngidam sampai lahiran
Marina Tarigan
ngidamnya sangat kasar sekali semoga anaknya perangainya bsik jgn sampai brutal kek monyet tdk punya akhlak
Marina Tarigan
anakmu itu keturunan setan itu perilakunya dari ibunya kayak setan pisah tidur dulu kamupun sbgai laki2 gatal terus
Marina Tarigan
semoga kiara orang baik mungkin kalian berjodoh oleh sang Pencipta tapu tolong thour ingatan kiara dan siapa dia sampai mau dibunuh orang
Marina Tarigan
ya mungkin itu jodohmu Rangga tapi perbaiki dulu hidup kalian berdua siapa Kiara itu perkuat ibadahmu
Marina Tarigan
semoga Kiara gadis baik entah anak siapa
Marina Tarigan
kalau tampan aktornya Indira mau tidur sm aktor cina itu i. si Rani itu tdk punya ahklak sdh suami orang pulang dgn capek kerja seharian tdk perduli semoga sampai kiamat kamu tdk dpt jodoh wanita tdk punya etiks dua2nya
Marina Tarigan
istri biadap besok suamimu suruh bercinta didepan kantormu besetubuh dgn lembu dan monyet baru sempurna ngidam biadapmu itu setan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!