NovelToon NovelToon
Rumah Yang Mengingat Namaku

Rumah Yang Mengingat Namaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan / Rumahhantu / Hantu / TKP
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author:

Raisa terpaksa tinggal sendirian di rumah tua warisan neneknya di sebuah kampung terpencil. Sejak malam pertama, rumah itu seperti mengenalinya—terlalu mengenalinya. Setiap pukul 02.17, ada langkah berhenti di depan pintu kamarnya. Ada bau tanah basah yang muncul tanpa hujan. Dan ada sandal merah kecil yang selalu kembali, meski sudah dibuang berkali-kali. Orang kampung berbisik bahwa dulu pernah ada anak bernama sama persis dengannya—anak yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu. Semakin Raisa mencari kebenaran, semakin rumah itu menunjukkan sisi aslinya: sentuhan dingin di tengah malam, luka yang muncul tanpa sebab, dan suara anak kecil yang memanggil namanya dari balik dinding. Jika masa lalu belum selesai, siapa yang sebenarnya sedang tinggal di rumah itu—Raisa, atau “dia”?

Janji di Bawah Pohon Mangga

Sejak tulisan itu muncul di dinding kamarku, aku mulai tidur dengan lampu menyala.

Bukan lampu kamar—tapi semua lampu di rumah.

Ruang tamu, dapur, bahkan teras depan. Tagihan listrik mungkin akan membengkak, tapi aku tidak peduli. Gelap membuat rumah ini seperti makhluk hidup yang bisa bergerak sesuka hatinya.

Malam pertama setelah kejadian boneka itu, aku mencoba menelepon Ayah.

Tidak diangkat.

Kutelepon lagi. Tidak diangkat juga.

Aku menatap layar ponsel lama sekali, berharap ada pesan masuk. Tapi yang muncul justru notifikasi aneh: jam digital di layar kunciku berubah sendiri menjadi 02.17, padahal baru pukul sembilan malam.

Aku melempar ponsel ke kasur.

“Ini cuma error,” gumamku meyakinkan diri. “Cuma error.”

Tapi di rumah ini, tidak ada yang benar-benar cuma.

Besoknya di sekolah, wajahku pasti kelihatan seperti orang sakit. Dini langsung tahu ada yang tidak beres begitu aku duduk.

“Lo pulang semalam?”

Aku mengangguk pelan.

Dia mendesah panjang. “Harusnya jangan dulu, Sa.”

Aku ingin cerita semuanya, tapi tenggorokanku seperti tersumbat. Akhirnya hanya kuperlihatkan foto dinding kamarku—tulisan lumpur itu.

Wajah Dini langsung memucat.

“Ini bukan main-main lagi,” katanya. “Lo harus ketemu seseorang.”

“Siapa?”

“Pak Karso. Orang tua di ujung kampung. Banyak yang bilang dia ngerti hal-hal beginian.”

Aku tidak langsung menjawab. Sebagian diriku ingin menolak, tapi bagian lain—yang lebih besar—sudah terlalu capek pura-pura berani.

Sore itu kami pergi berdua naik motor Dini.

Rumah Pak Karso jauh dari jalan besar, melewati pematang sawah dan kebun pisang. Rumahnya panggung dari kayu tua, baunya campuran kemenyan dan kopi pahit.

Begitu melihatku, beliau langsung mengernyit.

“Kamu anak yang tinggal di rumah Bu Sari, ya?”

Aku mengangguk.

Beliau tidak bertanya apa-apa lagi. Hanya memintaku duduk, lalu mengambil segelas air putih dan menaruhnya di depanku.

“Minum dulu. Biar yang nempel agak menjauh.”

Kalimat itu membuat tanganku dingin.

Setelah aku minum, beliau baru bicara pelan.

“Rumah itu bukan sekadar rumah, Nduk. Dulu tanahnya bekas tempat ‘disimpan’ sesuatu. Keluargamu tahu, tapi pura-pura lupa.”

“Disimpan apa, Pak?”

Pak Karso menatap keluar jendela, ke arah matahari yang mulai turun.

“Ada anak yang tidak pernah dipulangkan dengan benar. Namanya sama sepertimu. Sejak itu, rumah mencari pengganti.”

Kata pengganti membuat perutku mual.

“Terus saya harus gimana?”

Beliau menggeleng pelan.

“Jangan sendirian terlalu lama di sana. Dan… jangan jawab kalau ada yang memanggil namamu di malam hari.”

Aku langsung teringat bisikan di telepon itu.

Sebelum pulang, beliau memberiku seutas gelang dari benang hitam dan putih.

“Ini bukan buat ngusir,” katanya. “Cuma buat mengingatkan: kamu masih punya tubuh.”

Aku tidak mengerti maksudnya, tapi tetap kupakai.

Malamnya, rumah terasa lebih sunyi dari biasanya.

Aku menaruh kursi di depan pintu kamar seperti biasa, menyalakan lampu, lalu mencoba membaca buku supaya tidak terlalu tegang.

Tapi sekitar jam sebelas, listrik mendadak mati.

Gelap langsung menelan semuanya.

“Jangan sekarang… jangan sekarang,” bisikku panik sambil meraba-raba mencari senter.

Belum sempat kutemukan, suara itu datang lagi.

Langkah dari arah dapur.

Kali ini lebih jelas, lebih berat—seperti bukan anak kecil.

Aku ingat pesan Pak Karso: jangan menjawab kalau dipanggil.

Langkah itu berhenti di depan kamarku.

Lalu terdengar suara perempuan.

Pelan, lembut, mirip suara ibuku.

“Raisa… buka pintunya, Nak.”

Dadaku langsung sesak.

Itu bukan suara Ibu.

Ibu sudah meninggal.

Aku menggigit bibir menahan tangis.

“Raisa… Ibu kangen.”

Tanganku hampir bergerak membuka kursi pengganjal. Hampir. Kalau saja gelang dari Pak Karso tidak tiba-tiba terasa panas di pergelangan.

Aku tersadar.

“Pergi!” teriakku. “Kamu bukan Ibuku!”

Hening.

Lalu pintu kamarku digedor keras sekali sampai kursinya tergeser beberapa senti.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Aku menutup telinga sambil menangis tanpa suara.

Di sela gedoran itu, ada tawa anak kecil—tawa yang sama seperti di kamar belakang.

Lampu tiba-tiba menyala lagi.

Dan semua suara langsung hilang.

Seolah tidak pernah ada apa-apa.

Paginya, aku menemukan bekas memar di lenganku. Lima titik gelap seperti bekas jari mencengkeram.

Aku tidak ingat siapa yang menyentuhku.

Di depan pintu kamar, kursi pengganjal tergeletak jauh, padahal semalam aku yakin tidak membukanya.

Di lantai ada jejak lumpur lagi.

Jejak itu bukan dari luar menuju dalam.

Tapi dari kamarku menuju dapur.

Seperti ada yang keluar dari tempatku tidur.

Aku muntah di kamar mandi.

Siang itu Dini datang membawa tas kecil.

“Gue nginep di sini beberapa hari,” katanya tanpa basa-basi.

“Emak gue juga setuju. Lo nggak boleh sendirian terus.”

Aku hampir menangis saking leganya.

Kami membersihkan rumah bareng-bareng supaya terasa lebih hidup. Dini memutar musik keras-keras, membuka semua jendela, bahkan menaruh bunga di meja.

Untuk pertama kalinya, rumah itu terasa sedikit normal.

Sampai sore menjelang magrib.

Kami sedang duduk di ruang tengah ketika dari luar terdengar suara anak-anak bermain. Padahal halaman rumahku selalu sepi.

Dini melongok lewat jendela.

“Sa… di bawah pohon mangga ada anak kecil.”

Aku ikut melihat.

Benar. Ada seorang anak perempuan berdiri membelakangi kami. Rambutnya dikepang dua, bajunya putih kusam.

Persis seperti di foto yang kutemukan.

“Jangan keluar,” bisik Dini.

Tapi anak itu perlahan menoleh.

Wajahnya… wajahku sendiri waktu kecil.

Dia tersenyum, lalu melambaikan tangan ke arahku.

Di belakangnya, tanah di dekat akar mangga tampak seperti baru digali.

Anak itu membuka mulut dan berkata tanpa suara, tapi aku bisa membaca gerak bibirnya:

“Janji ya, Kak… jangan pergi lagi.”

Detik itu juga, pintu depan rumahku terbuka sendiri.

Angin membawa bau tanah basah masuk ke ruang tamu.

Dan jam dinding berdentang pelan—padahal bukan waktunya berbunyi.

Jarumnya menunjuk:

02.17

1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦 S͠ᴜʟʟy☠ᵏᵋᶜᶟ
Rahasia apa di rumah tua itu ,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!