NovelToon NovelToon
GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

GAURI, PENGANTIN PILIHAN DEVAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Anak Yatim Piatu / Teen School/College / Romantis / Cintamanis / Idola sekolah
Popularitas:497.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mae_jer

Devan kaget saat tiba-tiba seseorang masuk seenaknya ke dalam mobilnya, bahkan dengan berani duduk di pangkuannya. Ia bertekad untuk mengusir gadis itu, tapi... gadis itu tampak tidak normal. Lebih parah lagi, ciuman pertamanya malah di ambil oleh gadis aneh itu.

"Aku akan menikahi Gauri."

~ Devan Valtor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mae_jer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hanya kasihan?

Devan mengencangkan pegangan di bahu Gauri ketika gadis itu mulai menggeliat, napasnya tersengal karena emosi yang naik secara mendadak. Wajahnya yang tadi penuh cream berubah tegang, matanya memerah, hampir seperti akan menangis tapi ditahan dengan keras.

"Gauri mau roti itu! Mau! Mau!"

Suara Gauri pecah, menggema di kebun yang sepi. Ia meraih udara, mencoba memanjat tubuh Devan demi mendapatkan kantong plastik itu. Gerakannya cepat, liar, tidak terkontrol. Seperti anak kecil yang ketakutan kehilangan sesuatu yang penting.

Devan menarik napas panjang.

"Tidak."

Satu kata itu saja sudah cukup membuat tantrum Gauri meledak. Gadis itu memukul dada Devan, menendang tanah, berusaha mendorong pria itu sampai hampir jatuh. Tubuhnya kecil, tapi kekuatannya, saat sedang panic mode, tidak bisa diremehkan.

"Kasiiiih! Itu punya Gauriii!"

"Tidak, Gauri."

Devan tetap berdiri tegap. Tatapannya tegas, tapi nadanya lembut.

"Itu kotor. Nanti kamu sakit."

Namun bukannya tenang, Gauri malah makin histeris. Ia mencoba menarik tangan Devan, meraih kantong itu seperti hidupnya bergantung di sana. Dan ketika Devan mengambil keputusan …

Ia membuka kantong plastik itu.

Dan membuang semua roti dari tempat sampah itu ke tanah, lalu mendorongnya lebih jauh dengan kaki, hingga jatuh ke semak.

"Nggaak!"

Jeritan Gauri melengking, memukul udara. Gadis itu benar-benar meledak. Ia langsung menyerang Devan, bukan dengan niat menyakiti, tapi dengan kecemasan kacau yang membuatnya kehilangan kendali. Tangannya memukul dada Devan, meraih baju, bahkan mencakar-cakar. Devan menahan semuanya.

Ia tidak bergerak satu langkah pun. Begitu Gauri hendak menubruk lagi, Devan menangkapnya. Dengan cepat dan mantap, ia meraih pinggang Gauri dan menarik gadis itu ke dalam pelukannya, mengunci gerakan tanpa menyakiti.

"Gauri, cukup … cukup …"

Suara Devan rendah, dalam, dan hangat.

Gadis itu menggeliat keras, menendang, gemetar.

"Le-paaas! Roti Gauri! Gauri masih mau! Mauuu!"

"Tidak, Gauri."

Devan memeluk lebih erat. Pelukannya bukan pelukan pengendalian. Tapi pelukan menolong gadis yang rapuh. Gauri menangis. Bukan tangis yang keras, tapi tangis frustrasi yang terdengar sakit, tercekik.

Devan menutup mata sejenak. Napasnya terasa berat. Entah kenapa melihat Gauri seperti itu menusuk bagian terdalam dirinya. Apa karena Gauri masih sangat muda dan harus menderita sakit seperti ini?

Ia menunduk, mulutnya dekat dengan telinga Gauri.

"Denger kakak …"

Gauri masih berusaha meronta.

Devan mengusap punggungnya, lembut sekali, jauh dari sosok killer yang dikenal satu sekolah.

"Kakak janji …"

Sapuan tangannya ritmis, seperti menenangkan anak kecil yang ketakutan.

"Kita beli roti yang lebih enak. Yang bersih. Yang manis. Berapa pun Gauri mau."

Serangan Gauri melemah. Gerakannya turun dari liar … menjadi tersengal … lalu tersedu.

“Kita ke toko roti yang jual cream puff yang Gauri pasti suka. Jauh lebih enak dari itu."

Suara Gauri pecah.

"B-beneran…?"

"Hmm."

Devan mengangguk sambil terus mengusap kepala gadis itu.

"Tapi Gauri harus tenang dulu. Kakak di sini. Kakak nggak akan ambil apa pun dari Gauri."

Tangis Gauri meluruh perlahan, tubuhnya mulai melemas. Sampai akhirnya gadis itu menyandarkan kepala di dada Devan, wajah masih belepotan cream, rambut acak-acakan, tapi emosinya pelan-pelan surut.

Devan melonggarkan pelukan sedikit. Ia memegang pipi Gauri dengan ibu jari, membersihkan sisa cream yang masih menempel.

"Kita bersihin kamu dulu, ya?"

Suaranya terlalu halus untuk ukuran pria killer. Wajah dinginnya melunak seperti es yang mencair perlahan.

Gauri mengangguk kecil, matanya merah, hidungnya memerah seperti habis menangis lama. Tapi ia mengangguk lagi, kali ini lebih mantap.

"Gauri… ikut kakak.

"Ikut …"

Gauri memeluk lengan Devan, menempel manja seakan tantrum tadi tidak pernah terjadi. Devan berdiri, menarik gadis itu berdiri juga. Ia menggenggam tangan Gauri agar tidak kabur atau tersandung. Dengan langkah terukur, ia membawanya keluar dari kebun menuju gedung sekolah bagian timur.

Toilet yang jarang dipakai guru atau murid ada di sana. Tempat sunyi. Tempat aman. Saat mereka tiba, Devan mendorong pintu perlahan, memastikan tidak ada orang.

"Masuk, Gauri."

Gauri mengangguk dan masuk seperti anak kecil yang dibawa orang tuanya. Devan mengambil tisu basah dari saku jaketnya, lalu membungkuk sedikit.

"Lihat kakak."

Gauri mendongak patuh. Devan membersihkan pipinya dengan sabar, lalu dagu, lalu sudut bibir. Ia bahkan mengusap sisa cream di leher gadis itu dengan hati-hati agar tidak membuatnya kaget.

"Rambutnya juga."

Devan meraih ujung rambut Gauri yang terkena cream, membersihkannya perlahan.

Gerakannya lambat, lembut, seperti memegang kaca paling rapuh di dunia.

Gauri tidak bergerak. Ia hanya menatap wajah Devan dari dekat, tatapannya polos, besar, seperti anak kucing yang menemukan tempat aman.

"Kakak ganteng …" suara Gauri pelan.

"Gauri mau pegang tangan kakak terus."

Devan terdiam setengah detik.

Lalu mengangguk. Senyum kecil muncul di wajah Gauri. Ia memeluk lengan Devan erat, bahkan saat pria itu masih sibuk mengusap rambutnya.

Setelah semuanya bersih, Devan menyimpan tisu, mengikat rambut Gauri dengan ikat rambut yang ia temukan di sakunya, entah milik siapa, lalu menepuk kepala gadis itu pelan.

"Sudah cantik."

Gauri tersipu kecil, pipinya merah.

"Sekarang kita beli roti?"

Devan mengangguk.

"Tapi kamu harus gandeng kakak terus, mengerti?"

Gauri menggenggam tangannya lebih erat.

"Gauri nggak mau lepas."

Dan untuk pertama kalinya… Devan tidak menepis. Tidak menghindar. Tidak menjaga jarak dari Gauri. Ia justru menguatkan genggaman itu.

Aneh…

Sangat aneh…

Bagaimana bisa seseorang yang killer-nya luar biasa, bicara dan memperlakukan seseorang selembut ini. Dan hati Devan entah kenapa terasa hangat. Tidak seperti pertama kali ia bertemu dengan gadis ini. Mungkin karena Gauri memiliki keterbelakangan mental, dan alasan di balik gadis itu seperti ini sangatlah menyedihkan. Jadi Devan merasa kasihan padanya.

Hanya kasihan?

Entahlah. Itulah yang Devan yakini sekarang.

1
Anonim
Devan pamit Agam mau menemui ibunya.

Agam baguslah mengingatkan pada Devan untuk tidak terlalu terbawa emosi. Walaupun salah, Risa itu ibu kandung Devan.

Agam menelepon Gino supaya ke rumah Risa, mengikuti Devan. Agam takut Devan tidak bisa mengendalikan diri.

Devan sudah berhadapan dengan mamanya. Risa ingin memeluk Devan, namun tangannya langsung di tepis Devan.

Waduh mamanya tidak tahu menahu tentang Devan dan Gauri, malah salah bicara ini.

Devan membentak mamanya, marah sekali istrinya di bilang gila.

Perdebatan antara anak dan ibu kandung berakhir Devan menampar mamanya, sebagai peringatan terakhir katanya.

Diana. Apakah Devan juga akan bikin perhitungan dengan Diana.

Gino datang - sedikit bicaranya. Semoga Risa bisa mengerti.
Ita rahmawati
wajar sih ditabok orang bener² ngeselin sih emaknya 🤣
Desyi Alawiyah
Hadeh, rasain tuh Risa... enak ditampar putramu sendiri?

Sekarang giliran Diana nih, menghadapi kemarahan Devan... Aku harap sih si Diana dibuat jera, biar kapok ngga gangguin Gauri lagi...

Orang seperti Gauri malah harusnya dijagain, diberi kasih sayang.. Tapi, kok ini malah dijahatin.

Sumpah, aku gedeg banget sama Diana 😆 Lanjut kak Author, semangat 🙏☺
Hanima
👍👍
Haryati Atik Atik
Hajar itu si Diana Devan sampai mampus bila perlu perempuan yg penuh ambisi krna terobsesi dgn mu jd bisa menggunakan segala cara termasuk menghasut ibu mu yg jalang itu
Desyi Alawiyah
Sebaik itu papahnya Devan ke kamu, Risa... Tapi kamu tega mengkhianatinya..

Istri macam apa kau ini? 🤧
astr.id_est 🌻
mampus kau ibu jahanan g tau malu tukang selengki.. emang enak di tampar anak sendiri.. tunggu giliran kau diana, tamat lah riwayat mu wanita gila..
westi
🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
RiriChiew🌺
skrg giliran Diana yg habis ditangan Devan /Applaud/
RiriChiew🌺
uhhh Devan disatu sisi kamu jadi suami idaman , tpi berbuat sperti itu pda ibumu ttp GK kubenerkan . tpi mungkin Krena pernah terluka dan sakit hati begitulah
RiriChiew🌺: iyaa bener kk, kalau sampe gak berubah dan susah nerima gauri ya dijamin hilang respect Devan udh mah pernh disakiti skrg gak dukung apa GK makin jauh anak ny
total 2 replies
Septi
hah kena kau Diana.. siap-siap di tendang Devan
strawberry 🍓
ibuuuu oooooh ibuuu . ko kamu gatau maluuuuu , udah selingkuh , ninggalin anak , eeeeh nongol lagi . situ waraaasass ???🤣🤣
Anna
oooppss.. nama Diana disebut..
wah.. wah.. wah..
mbak Diana, siap2 ya...
Momz Haikal Sandhika
lanjut cari diana... hajar diana juga, dia biang kerok nya
~HartiWyn_Dee_
baguss Devan kasih peringatan biar inget seumur hidupnya jangan karena merasa Devan anakmu terus ngatur kehidupannya wahai Risa?!!! sekarang tinggal si Diana yg ga tau malu itu selanjutnya Dev pecat tanpa hormat dan pastikan di blacklist di semua tempat sekolah maupun di perusahaan buat kapok
Naufal Affiq
bagus devan,hajar terus,habis itu jumpai diana,kuliti dia,selalu ikut campur tentang urusan keluargamu
Santi Nuryanti
emg pengacau risa ni..sehrsny risa cr tau dl gauri itu siapa.malah dgern omongan dianaa pula.ambl hsti devan bkn dg cr bgtu,y klo sprti itu devan mkin menjauh
vj'z tri
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 Diana sekarang giliran mu ....nama mu sudah di sebut
kymlove...
terlalu lambat menangani diana jadilah si anjing gila ini terus saja membuat masalah...!!
Dewi kunti
tuduhan tanpa bukti ya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!