Black--- Seorang pria misterius yang menjadi pelindung bumi. Di balik pakaian hitam dan topeng hitam nya, tidak ada yang tau wajah nya. Kecuali satu--- Sang kekasih hati-- Evelyn Savana Alexa.
Sampai sebuah kasus tiba - tiba muncul yang memaksa Black harus turun tangan untuk menyelesaikan nya.. Kasus tentang kematian misterius yang tidak bisa di pecahkan oleh pihak detektif kepolisian terpaksa harus melibatkan Black.
Namun.. Apa yang terjadi jika pelaku dari kasus tersebut tiba - tiba memanggilnya. " Ayah!"
Rahasia apakah yang ada di balik kasus kematian para korban. Dan Siapakah sosok pelaku misterius itu? Apakah dia kawan atau lawan?
----------
Update Senin & Kamis... Setiap Update 3 Bab.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ROGUES POINEX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ledakan Di Mall
Di dalam megahnya aula pusat perbelanjaan itu, waktu seolah berjalan lambat dengan harmoni yang menenangkan--- alunan musik instrumental mengalun lembut di antara tawa tipis para pengunjung dan derap langkah kaki di atas lantai marmer yang mengilap.
Para pembeli tampak asyik memilah barang di balik etalase kaca yang berkilau, sementara aroma kopi yang harum menyeruak dari kafe-kafe terbuka, menciptakan atmosfer kenyamanan yang sempurna.
Namun, kedamaian itu hancur berkeping-keping dalam satu kedipan mata saat sebuah dentuman dahsyat yang memekakkan telinga merobek udara, mengguncang fondasi bangunan hingga ke akarnya.
Seketika, kaca-kaca besar hancur berantakan menjadi jutaan serpihan tajam yang menghujani lantai, diikuti oleh kobaran api yang menjilat cepat dari titik ledakan, mengubah etalase mewah menjadi puing-puing hitam yang membara.
Kepanikan massal meledak seketika--- jeritan histeris menggantikan musik latar, dan bau hangus yang menyengat segera memenuhi rongga dada saat asap hitam pekat mulai bergulung-gulung memenuhi langit-langit Mal yang tinggi.
Orang-orang berlarian tanpa arah dalam kekacauan yang mencekam, saling berdesakan menuju pintu keluar sambil menghindari runtuhan plafon dan kobaran api yang terus merambat liar ke toko-toko di sekitarnya.
Di tengah hiruk-pikuk itu, bayangan api yang menari di dinding dan suara alarm kebakaran yang memekik menciptakan pemandangan apokaliptik, mengubah tempat yang tadinya merupakan simbol kemewahan dan kegembiraan menjadi labirin maut yang penuh dengan teror dan asap yang menyesakkan.
"APA ITU?! APA YANG Terjadi!!"
"BOM! ADA BOM DI ATAS! LARI!!!"
"KEBAKARAN! KEBAKARAN DARI LANTAI ATAS! AAA!!!"
Sky berdiri mematung di tengah pusaran kekacauan--- napasnya tercekat saat melihat lautan manusia yang tadinya tenang seketika berubah menjadi gelombang histeria yang saling sikut demi menyelamatkan diri.
Rasa dingin yang mencekam mulai merayap di balik tengkuknya, memicu denyut nadi yang berpacu liar saat bayangan Evelyn melintas di pikirannya. Tanpa memedulikan tangis seorang anak kecil yang terpisah dari orang tuanya tepat di samping kakinya.
Sky memutar arah dengan mata liar mencari sosok Evelyn di balik kabut asap, membiarkan naluri bertahannya kalah telak oleh rasa takut kehilangan wanita itu di tengah neraka yang kian membesar.
Sky memutar arah dengan napas yang memburu, menerjang kabut asap yang mulai memerihkan mata. Ia berlari bagai kesetanan, mendobrak setiap pintu toilet satu per satu, mengabaikan panas yang mulai menjilat kulit, sementara di balik punggungnya, suara reruntuhan dan jeritan minta tolong menciptakan simfoni kematian yang tak kunjung usai
"Evelyn! Kau di dalam?!" Sky mencari si setiap toilet.
Di sisi lain bangunan yang kian mencekam, Elvira berdiri mematung di tengah kekacauan, namun bukannya ketakutan, jemarinya justru mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. Tatapannya tajam menembus kobaran api dengan kilat kemarahan yang membara.
Baginya, bau mesiu dan asap ini bukanlah sebuah kecelakaan tragis atau kelalaian teknis--- ini adalah serangan terencana. Elvira tahu persis bahwa api ini adalah pesan berdarah yang sengaja dikirimkan untuk menargetkan seseorang, dan ia sangat mengenal siapa dalang di balik neraka buatan ini.
"Sial! Aku tidak akan membuat mu berhasil kali ini! "
Namun, tepat saat Elvira hendak menerjang asap untuk menyelamatkan seseorang, sebuah tangan kasar tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya dengan kuat.
Dia berbalik dan mendapati Sky yang terengah-engah dengan wajah penuh kelegaan yang salah alamat, sebuah kesalahan fatal di tengah kekacauan karena Sky mengira telah menemukan Evelyn, tanpa menyadari bahwa ia baru saja menghentikan satu-satunya orang yang tahu kebenaran di balik tragedi ini.
"Hei! Tunggu!"
Tanpa memberi kesempatan bagi Elvira untuk menjelaskan atau memberontak, Sky langsung menarik tangan Elvira, seketika itu juga, kekuatan sihir besar meledak dari kakinya, membungkus mereka berdua dalam pusaran angin kencang yang melesat keluar menembus dinding Mal bak kilat, meninggalkan kekacauan di belakang mereka.
"Syukurlah, kau baik - baik saja Evelyn!" Kata Sky sambil memeluk erat Elvira. "Tapi.. Sejak kapan pakaian mu berubah."
"Aku--"
"Kau bisa jelaskan nanti.. Tapi aku harus menyelamatkan mereka semua dulu."
Tanpa sepatah kata pun, ia membiarkan bayangan kegelapan menyelimuti tubuhnya, bertransformasi dalam sekejap mata menjadi Black—sosok pahlawan pelindung bumi yang kehadirannya selalu membawa secercah harapan di tengah keputusasaan.
Dengan satu hentakan kuat, ia melesat masuk kembali ke dalam gedung yang membara, meninggalkan Elvira yang masih berdiri mematung di area parkir dengan wajah memerah karena kesal.
Elvira hanya bisa menggerutu tak percaya, menyeka sisa debu di pakaiannya sambil menatap punggung Black yang menghilang ditelan asap, merasa jengkel karena ditinggalkan begitu saja di tengah kekacauan, sementara pria itu lebih memilih menjadi pahlawan daripada mendengarkan nya.
"Bagus! Kau pergi sebelum mendengarkan ku.. Apa yang harus aku lakukan pada pria itu.. Dia bahkan tidak bisa membedakan aku dan kekasih nya!" Gerutu Elvira setengah kesal tapi juga khawatir.
Namun, jauh di sudut gelap bangunan yang mulai runtuh itu, suasana jauh lebih mencekam-- di dalam salah satu kamar mandi yang terkunci rapat dari luar, Evelyn terjebak dalam keputusasaan yang nyata.
Dengan sisa tenaga yang ada, ia terus menggedor-gedor pintu yang tak kunjung terbuka, sementara asap hitam mulai merayap masuk melalui celah pintu, mencekik napasnya dan mengubah ruangan sempit itu menjadi perangkap maut yang dingin di tengah neraka yang kian membara.
"Aku mohon siapa pun tolong aku.. Sky!" Mata Evelyn mulai mengembun. Dia melupakan hal terpenting.. Sebuah alat yang seharusnya dia gunakan saat dalam bahaya--- namun dia tidak membawanya karena dia pikir Sky sudah ada di samping nya.
Sambil memegangi perutnya yang kram karena kontraksi akibat kepanikan, Evelyn terus menggedor pintu dengan sisa tenaga yang ada, hingga rasa putus asa akhirnya melumpuhkan pertahanannya. Namun, tepat saat ia merasa akan kehilangan kesadaran, suara dentuman keras menggema—pintu itu ditarik paksa dari luar hingga hancur berantakan.
Evelyn mendongak dengan pandangan kabur, menatap siluet pria tinggi nan tampan yang berdiri tegak di tengah kepulan asap. Dengan secarik senyum yang terkembang di bibirnya yang pucat, Evelyn membisikkan doa syukur dalam hati, meyakini sepenuhnya bahwa pria yang datang menyelamatkannya adalah Sky—atau sang pahlawan, Black. Ia tidak menyadari bahwa di balik wajah rupawan yang memberikan rasa aman semu itu, tersembunyi sebuah identitas misterius yang jauh dari apa yang ia bayangkan.
"Kali ini.. Aku tidak akan gagal!" Ucap pria itu, dia membawa Evelyn ke dalam pelukan nya.
Evelyn hanya bisa pasrah saat tubuhnya ditarik ke dalam dekapan hangat yang protektif, sebelum keduanya lenyap bak ditelan bumi dalam sekejap mata, meninggalkan ruangan yang mulai dilahap api tersebut.
Angin malam seketika menyapu kulit Evelyn, menggantikan hawa panas yang menyesakkan dari dalam mal yang kini tengah sekarat dilalap si jago merah. Dalam sekejap mata yang membingungkan, dunia di sekitarnya berubah--- kebisingan alarm gedung berganti menjadi deru api yang melahap beton di kejauhan.
Di hadapannya, berdiri sosok pria misterius yang baru saja menariknya dari ambang maut. Tanpa sempat berpikir logis atau menyeka abu yang mengotori wajahnya, Evelyn langsung menghambur, melingkarkan lengannya erat-erat ke tubuh pria itu seolah takut ia akan menguap bersama asap. Isaknya pecah di dada pria itu, karena baginya, pahatan wajah yang ia lihat di balik keremangan cahaya api adalah milik Sky—kekasihnya, sang penyelamat dunia yang dikenal sebagai Black.
Namun, kehangatan itu seketika menguap, digantikan oleh hawa dingin yang menusuk tulang saat sebuah suara rendah namun jernih menyapa gendang telinganya dengan satu kata yang menghancurkan seluruh logikanya: "Ibunda."
Tubuh Evelyn mematung, jantungnya seakan berhenti berdetak---- pelukan itu mendadak terasa asing, karena pria yang sangat mirip dengan kekasihnya itu menatapnya dengan binar mata yang bukan milik seorang kekasih, melainkan seorang anak
Sebelum kesadaran Evelyn sempat memproses kegilaan tersebut, sebuah gelombang sihir halus merayap masuk ke sukmanya, mematikan paksa kesadarannya hingga dunia di sekelilingnya menggelap total dalam dekapan sang pria misterius.
Tak jauh dari sana, Elvira berdiri mematung di balik bayang-bayang--- matanya menatap sendu pada sosok Evelyn yang terkulai lemas di pelukan kakak laki-lakinya, membawa beban rindu yang begitu dalam dan rahasia yang masih terkunci rapat oleh kebencian.
•
•
•
BERSAMBUNG