NovelToon NovelToon
MONSTER DI DUNIA MURIM

MONSTER DI DUNIA MURIM

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Sistem
Popularitas:948
Nilai: 5
Nama Author: FantasiKuyy

Dulu aku adalah sampah di Sekte Awan Azure, sampai sistem 'Night Crawler' merobek kemanusiaanku dan menggantinya dengan insting predator. Sekarang, aku bisa bertransformasi menjadi monster dan melahap kultivasi siapa pun yang berani menghalangi jalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Aku tidak pernah menyangka bahwa kematian rasanya sebising ini. Di dalam rongga dadaku yang kini kosong, tidak ada lagi detak jantung yang biasa menenangkan kegelisahanku. Sebagai gantinya, Inti Teratai Perak pemberian He Ran berputar dengan suara dengungan mekanis yang halus namun bertenaga. Rasanya seperti ada badai salju yang sedang berusaha dijinakkan di pusat keberadaanku.

Aku berdiri tegak, menatap pemandangan gila di depanku. Ibuku—atau makhluk apa pun yang sekarang memakai kulitnya—baru saja melahap jantung biologisku. Ia tampak puas, sementara Tetua Agung Han Gwang terlihat seperti orang yang baru saja melihat seluruh rencananya terbakar habis.

"Siapa kau?" tanya Tetua Agung dengan suara yang bergetar hebat ke arah pria berjubah abu-abu itu.

Pria misterius itu melangkah maju. Sabit besarnya terseret di tanah, menciptakan suara gesekan logam yang memekakkan telinga. Ia mengangkat jantung mekanis berwarna ungu di tangannya tinggi-tinggi. Cahaya ungu itu berdenyut liar, seolah-olah ia sedang mencoba menyahut dengungan Teratai Perak di dadaku.

"Aku adalah sisa-sisa yang kalian buang ke dalam Patahan Asura demi sebuah kesempurnaan palsu," sahut pria itu sembari melemparkan tatapan tajam yang seolah bisa membelah batu.

Aku merasakan Inti Teratai Perak di dadaku bereaksi. Panasnya mulai menjalar ke ujung-ujung jariku. Tanpa perintah, sayap perak di punggungku merentang lebar, memantulkan cahaya matahari pagi dengan kilau yang sangat tajam. Aku bukan lagi sekadar eksperimen yang gagal. Aku adalah anomali yang tidak bisa mereka prediksi.

"Han Wol, jangan dengarkan dia!" seru Jang Mi dari atas reruntuhan sembari mengacungkan sabit ungunya.

Aku menoleh ke arah wanita yang telah mencuri sistemku itu. Senyumnya yang tadi penuh kemenangan kini sudah luntur, digantikan oleh kecemasan yang nyata. Ia bisa merasakan bahwa meskipun ia memiliki sistem 'Night Crawler', otoritas yang aku miliki sekarang berada pada tingkatan yang jauh berbeda.

"Kau berisik sekali untuk ukuran seorang pencuri," cetusku sembari melesat menuju arahnya.

Kecepatanku sekarang tidak masuk akal. Aku tidak berlari, aku merasa seperti sedang membelah ruang. Dalam sekejap, aku sudah berdiri tepat di hadapan Jang Mi. Ia mencoba mengayunkan sabitnya, namun gerakannya terlihat begitu lambat di mataku. Aku menangkap bilah sabit itu dengan tangan kosong, membiarkan energi perak dari dadaku merambat dan mematikan fungsi mekanis senjata tersebut.

"Bagaimana mungkin? Sistem tidak memberikan peringatan apa pun!" pekik Jang Mi dengan wajah pucat pasi.

"Mungkin karena sistemmu tahu siapa pemilik aslinya," balasku sembari meremukkan bilah sabitnya hingga menjadi serpihan kecil.

Aku melempar tubuhnya ke arah Tetua Agung. Aku tidak punya waktu untuk mengurus serangga kecil sepertinya. Fokusku kini teralih pada pria berjubah abu-abu dan makhluk yang memakai wajah ibuku. Mereka adalah kunci dari semua kekacauan ini.

Pria misterius itu menatapku, lalu ia menyeringai kecil. "Vanguard Tanpa Jantung. Kau benar-benar berhasil melewati batas itu, Han Wol."

"Berhenti bicara teka-teki. Katakan padaku, apa yang kau inginkan?" tanyaku dengan nada bicara yang rendah dan menekan.

"Aku menginginkan apa yang seharusnya dihancurkan sejak lama," jawabnya sembari mengarahkan jantung ungu itu ke arah ibuku.

Seketika, makhluk yang memakai kulit ibuku itu menjerit nyaring. Jantung biologisku yang baru saja ia telan tampak berpendar ungu di dalam perutnya. Ia meronta, mencengkeram kepalanya sendiri seolah-olah sedang mengalami kesakitan yang luar biasa.

Tetua Agung Han Gwang mencoba merangkak mundur, menyadari bahwa situasi ini sudah berada di luar kendali 'ilmu hitam' yang ia banggakan. "Ini tidak mungkin! Protokol asimilasi seharusnya sudah selesai!"

Aku merasakan getaran hebat dari bawah pijakan kakiku. Seluruh halaman klan Han mulai retak kembali, namun kali ini bukan karena serangan fisik, melainkan karena resonansi energi yang keluar dari jantung ungu pria itu.

"Han Wol, ambil jantung itu!" teriak He Ran yang masih bersandar pada pilar hancur.

Aku tidak ragu. Aku memacu Inti Teratai Perakku hingga mencapai batas maksimal. Cahaya perak meledak dari dadaku, membentuk pelindung yang sanggup menembus tekanan energi ungu di sekitar pria tersebut. Aku melompat, mengarahkan cakarku tepat ke arah jantung mekanis yang dipegangnya.

Pria itu tidak menghindar. Ia justru membiarkanku mendekat. Tepat saat ujung jariku hampir menyentuh permukaan jantung ungu yang berdenyut itu, ia membisikkan sesuatu yang membuat seluruh sarafku menegang.

"Selamat datang di tahap sinkronisasi yang sebenarnya, Pemilik Asli."

Tiba-tiba, jantung ungu itu pecah berkeping-keping dan menyatu ke dalam luka di dadaku, bergabung secara paksa dengan Inti Teratai Perak. Rasa panas dan dingin beradu di dalam tubuhku, menciptakan sensasi seolah-olah seluruh tulangku sedang dilelehkan dan dibentuk kembali menjadi sesuatu yang bukan lagi berasal dari dunia ini.

Aku jatuh berlutut, menahan rasa sakit yang sanggup meruntuhkan gunung. Di tengah kabut ungu dan perak yang menyelimutiku, aku melihat bayangan ibuku yang asli berdiri di kejauhan, tersenyum dengan air mata yang membasahi pipinya yang pucat.

"Han Wol, kau sudah sampai," bisiknya lembut di dalam pikiranku.

Aku mendongak, menatap ke arah langit yang kini terbelah oleh cahaya ungu raksasa. Aku tahu, apa yang akan terjadi selanjutnya bukan lagi sekadar urusan klan Han, melainkan awal dari bencana yang sudah lama tertidur di Patahan Asura.

Turbulensi energi di tubuhku perlahan mulai stabil, namun kekuatannya terasa ribuan kali lipat lebih padat dari sebelumnya. Aku bangkit berdiri dengan gerakan yang sangat halus. Setiap kali aku menginjak tanah, permukaan batu di bawah kakiku hancur menjadi debu halus akibat luapan energi yang belum sepenuhnya jinak.

"Ini adalah teknik terlarang Klan Han yang sebenarnya, bukan begitu?" tanyaku sembari menoleh ke arah Tetua Agung dengan tatapan dingin.

Tetua Agung Han Gwang hanya bisa ternganga melihat wujudku yang sekarang. Seluruh kulitku kini memiliki guratan perak yang berpendar redup, menyatu dengan sayap logam yang tampak tajam seperti belasan pedang yang disusun rapi. Ia tidak tahu bahwa ini adalah sistem Vanguard, ia hanya mengira aku telah membangkitkan garis keturunan monster yang selama ini ia cari.

"Kau... kau adalah Dewa Perang yang sempurna," gumam Tetua Agung dengan suara yang serak dan penuh kegilaan.

"Aku bukan dewa kalian, aku adalah mimpi buruk yang kalian ciptakan sendiri," sahutku sembari melayangkan satu pukulan ke arah udara kosong di depanku.

Tekanan udara yang dihasilkan oleh pukulanku menciptakan gelombang kejut yang meratakan sisa bangunan di alun-alun. Han Gwang terlempar ke belakang, sementara Jang Mi bersembunyi di balik puing-puing dengan tubuh yang gemetar hebat. Rahasia sistem ini akan tetap terkubur bersamaku, karena bagi mereka, aku hanyalah monster yang lahir dari eksperimen gagal mereka.

Pria berjubah abu-abu itu tiba-tiba meledak menjadi kepulan asap hitam yang pekat. Suaranya bergema untuk terakhir kalinya sebelum ia menghilang sepenuhnya dari pandanganku.

"Jaga jantung itu dengan baik, Han Wol, karena perang yang sesungguhnya baru saja dimulai," ujar pria itu dengan nada bicara yang penuh rahasia.

Aku terengah-engah, merasakan kekuatan yang luar biasa ini mulai menyatu dengan kesadaranku. He Ran merangkak mendekatiku dengan wajah yang dipenuhi kekaguman sekaligus rasa takut. Ia menatap rongga dadaku yang kini sudah tertutup rapat oleh kulit baru yang keras seperti baja perak.

"Han Wol, kau baik-baik saja?" tanya He Ran sembari menyentuh bahuku dengan tangan yang gemetar.

Aku hanya mengangguk pelan, meskipun aku tahu bahwa hidupku tidak akan pernah sama lagi setelah detik ini. Aku menoleh ke arah ibuku yang kini sudah tidak lagi meronta, melainkan jatuh pingsan di tengah alun-alun. Entitas Night Crawler di dalam dirinya seolah-olah lumpuh setelah aku menyerap Jantung Ungu tersebut.

Namun, di tengah kesunyian itu, aku melihat sebuah retakan besar di langit mulai terbuka semakin lebar. Sesuatu yang sangat besar dan sangat kuno sedang mencoba merangkak keluar dari dimensi Patahan Asura. Aku mengepalkan tangan, menyadari bahwa kemenanganku atas Klan Han hanyalah hidangan pembuka sebelum hidangan utama yang sesungguhnya tiba.

1
johanes ronald
ceritanya agak bingung, kl rantai hitamnya diserap, trs wkt penjaga masuk, apa gak liat rantainya sdh gak ada?
johanes ronald
hidup jang mi ulat sekali ya?
johanes ronald
bingung + excited mo smp dimna ceritanya berakhir
johanes ronald
politiknya bnyk skali
KanzaCyr_ 🐼🌻
❤️🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!