Senja selalu identik dengan keindahan, tetapi bagi mereka yang pernah kehilangan, senja justru menjadi pengingat akan luka yang belum sembuh.
Seorang lelaki yang tumbuh tanpa orang tua dan seorang perempuan yang patah oleh cinta, dipertemukan di kota kecil yang sepi, tepat di bawah langit jingga yang sama. Keduanya sama-sama membawa masa lalu yang belum selesai, trauma yang tidak pernah benar-benar hilang.
Dalam pertemuan yang sederhana, tumbuh perasaan yang pelan—bukan untuk saling menyelamatkan, melainkan untuk saling menemani di tengah rasa hampa.
Sisi Tergelap Senja adalah kisah tentang cinta yang lahir dari luka, tentang kehilangan yang tidak selalu bisa disembuhkan, dan tentang dua manusia yang belajar menerima bahwa tidak semua yang indah berarti bahagia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sifatori, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Belajar Minta Tolong
Ada satu hal yang selalu Senja hindari sejak dulu:
minta tolong.
Bukan karena tidak butuh.
Tapi karena ia terbiasa menganggap butuh bantuan sebagai tanda gagal.
Ia lebih nyaman bilang, “nggak apa-apa,”
daripada harus menjelaskan bahwa sebenarnya ia sedang tidak baik-baik saja.
Ia lebih sering memikul sendiri,
meskipun bahunya sudah gemetar.
Dan entah sejak kapan, itu terasa normal.
Hari itu, Senja mendapat pesan dari dosennya.
“Senja, kamu belum mengumpulkan revisi. Bisa kita bicara setelah kelas?”
Pesan itu membuat perutnya mengencang.
Biasanya, ia akan panik.
Biasanya, ia akan menyalahkan diri sendiri.
Biasanya, ia akan mencari alasan untuk menghindar.
Tapi kali ini, ada perasaan lain yang muncul lebih dulu: lelah.
Bukan lelah fisik.
Tapi lelah berpura-pura sanggup.
Di kelas, ia duduk lebih gelisah dari biasanya.
Pikirannya tidak fokus ke materi.
Yang ada hanya satu kalimat berputar di kepalanya:
“Aku nggak sanggup sendirian.”
Dan untuk pertama kalinya, kalimat itu tidak terdengar seperti kelemahan.
Terdengar seperti fakta.
Setelah kelas selesai, ia benar-benar menghampiri dosennya.
Tangannya dingin.
Suaranya sempat gemetar.
“Pak… saya minta maaf soal tugas itu.”
Dosen itu menatapnya, bukan dengan marah, tapi dengan ekspresi netral.
“Kamu kesulitan di mana?”
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi Senja terdiam lama sebelum menjawab.
Karena selama ini, tidak ada yang benar-benar menanyakan itu dengan sungguh-sungguh.
“Saya… kesulitan fokus,” jawabnya jujur.
“Saya ngerjain, tapi kepala saya sering kosong. Kadang saya duduk lama, tapi nggak ada yang masuk.”
Ia menunggu dimarahi.
Menunggu dianggap malas.
Menunggu dinilai tidak kompeten.
Tapi dosennya hanya mengangguk pelan.
“Itu sering terjadi. Apalagi kalau lagi ada masalah pribadi.”
Senja terkejut.
Ia tidak menyangka responnya akan sesederhana itu.
“Kamu mau kita atur ulang tenggatnya?” lanjut dosen itu.
Senja menelan ludah.
“Iya, Pak… kalau boleh.”
“Boleh. Tapi kamu juga harus jujur ke diri sendiri. Jangan dipaksa sampai habis.”
Kalimat itu membuat dada Senja terasa hangat sekaligus perih.
Untuk pertama kalinya, ia tidak harus menjelaskan segalanya.
Ia hanya perlu mengakui bahwa ia tidak baik-baik saja.
Dan dunia tidak runtuh karenanya.
Di luar kelas, Senja duduk di tangga sendirian.
Napasnya terasa lebih ringan.
Ia membuka ponsel, lalu mengetik ke Kay.
“Aku baru bilang ke dosen kalau aku kesulitan.”
Balasan datang cepat.
“Dan?”
“Aku nggak dimarahin. Malah dibantu.”
Kay membalas dengan satu kalimat:
“Tuh kan. Dunia nggak selalu sekejam yang ada di kepala kita.”
Senja tersenyum tipis.
Ia sadar, selama ini yang paling keras menghakiminya adalah dirinya sendiri.
Sore itu, ia bertemu Nara di kantin.
“Kamu kelihatan beda,” kata Nara.
“Kenapa?”
“Kayak… lebih lega.”
Senja berpikir sebentar.
“Mungkin karena hari ini aku minta tolong tanpa merasa bersalah.”
Nara menaikkan alis. “Itu prestasi besar buat kamu.”
“Iya ya?”
“Iya. Kamu tuh tipe yang kalau tenggelam, malah belajar napas di dalam air, bukan teriak minta bantuan.”
Senja tertawa kecil.
“Deskripsi yang nyebelin tapi akurat.”
Nara menatapnya lebih lembut.
“Kamu nggak harus kuat sendirian terus, Sen.”
Kalimat itu terasa familiar.
Tapi hari ini, Senja benar-benar mendengarnya.
Malamnya, Senja duduk di kamar dengan lampu mati.
Hanya cahaya dari layar ponsel yang menerangi wajahnya.
Ia menulis lagi di catatannya:
“Aku selalu pikir minta tolong berarti lemah.
Ternyata, mungkin justru sebaliknya.
Minta tolong berarti aku cukup peduli pada diriku sendiri
untuk tidak membiarkan diriku tenggelam sendirian.”
Ia berhenti menulis.
Menatap langit-langit.
Selama ini, ia tidak benar-benar ingin mati.
Ia hanya ingin berhenti merasa sendirian.
Dan mungkin, pelan-pelan, ia mulai menemukan caranya:
bukan dengan menjadi lebih kuat,
tapi dengan menjadi lebih jujur.
Jujur bahwa ia capek.
Jujur bahwa ia bingung.
Jujur bahwa ia tidak selalu sanggup.
Dan untuk pertama kalinya,
kejujuran itu tidak membuatnya kehilangan siapa pun.
Justru membuatnya merasa
sedikit lebih hidup.