NovelToon NovelToon
Ambil Saja Suamiku, Kak

Ambil Saja Suamiku, Kak

Status: tamat
Genre:Dokter / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami / Selingkuh / Romantis / Crazy Rich/Konglomerat / Tamat
Popularitas:4.5M
Nilai: 4.8
Nama Author: Puji170

Riana pikir kakaknya Liliana tidak akan pernah menyukai suaminya, Septian. Namun, kecurigaan demi kecurigaan membawanya pada fakta bahwa sang kakak mencintai Septian.

Tak ingin berebut cinta karena Septian sendiri sudah lama memendam Rasa pada Liliana dengan cara menikahinya. Riana akhirnya merelakan 5 tahun pernikahan dan pergi menjadi relawan di sorong.

"Kenapa aku harus berebut cinta yang tak mungkin menjadi milikku? Bagaimanapun aku bukan burung dalam sangkar, aku berhak bahagia." —Riana

Bagaimana kisah selanjutnya, akankah Riana menemukan cinta sejati diatas luka pernikahan yang ingin ia kubur?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Riana sudah mengumpulkan keberaniannya untuk bertanya pada sang kakak tentang apa yang baru saja ia lihat. Sayangnya, tepat setelah kalimat itu terlontar, sambungan telepon terputus begitu saja.

Ia menatap layar ponselnya dengan dada berdebar, lalu buru-buru mengalihkan pandangan ke arah butik tempat ia melihat suami dan kakaknya tadi. Namun, bayangan keduanya sudah lenyap, hilang di antara keramaian mal.

“Ke mana mereka?” bisiknya lirih pada diri sendiri. Rasa penyesalan langsung menghantam, kenapa tadi ia tak segera mengabadikan momen itu, dan sekarang kesempatan sudah terlewat begitu saja.

“Apa aku salah lihat?” Riana menggelengkan kepala keras-keras, mencoba menepis keraguan. Suaranya lirih, nyaris tak terdengar. “Tidak… aku lihat dengan sangat jelas. Itu Kak Lili… sama Mas Septian.”

Saat Riana masih tenggelam dalam kebingungan, sebuah tepukan ringan di pundaknya membuatnya tersentak.

“Riana, apa yang kamu lakukan di sini? Aku cari kamu dari tadi,” suara Liliana terdengar lelah namun datar.

Riana membalikkan badan dengan jantung berdebar. Matanya menyapu sosok kakaknya dari atas sampai bawah. Tidak ada belanjaan di tangannya, hanya wajah pucat dengan gurat kelelahan yang jelas terlihat.

“Riana,” panggil Liliana lagi sambil menggoyangkan tangan di depan wajah adiknya yang masih terpaku.

“Hah? Eh… Kak,” Riana berusaha menguasai diri. “Apa toilet benar-benar antri? Terus… tadi kenapa ponselmu langsung mati?”

Liliana menghela napas sebentar, lalu tersenyum tipis. “Maaf ya… tadi kebetulan aku langsung masuk ke bilik, jadi sinyalnya jelek. Suaramu juga nggak jelas, makanya aku matikan.” Ia kemudian menoleh ke arah kereta dorong, matanya berbinar. “Wah… kamu sudah belikan semua keperluan Lira? Ya ampun… Riana, terima kasih banyak.”

Riana memaksakan senyum, tapi matanya tak bisa berbohong. Ada sesuatu yang terasa janggal. Kata-kata Liliana terdengar masuk akal, tapi bayangan yang ia lihat tadi jelas-jelas bukan halusinasi.

“Kenapa Kak Lili kelihatan capek banget?” Riana akhirnya bertanya, mencoba menggali.

Liliana terdiam sepersekian detik, lalu tertawa kecil sambil merapikan rambutnya. “Ya biasalah, namanya antri lama, bikin pegal. Kamu ini, kenapa nanya aneh-aneh sih?”

Riana menunduk, berpura-pura sibuk membereskan kantong belanja. Dalam hati, ia justru semakin yakin ada yang disembunyikan. Kalau benar cuma ke toilet, kenapa wajahnya setegang itu?

“Ya sudah, ayo kita pulang,” ucap Liliana cepat, seolah ingin mengakhiri pembicaraan. Ia meraih gagang kereta dorong Lira, tapi Riana menahan dengan tangannya.

“Kak…” suara Riana bergetar, matanya menatap lekat ke wajah kakaknya. “Kamu beneran cuma dari toilet, kan?”

Liliana menarik napas panjang, lalu menatap adiknya dengan sorot mata yang sulit ditebak. Ada sekelebat ketidaksukaan di sana, namun segera ia balut dengan senyum tipis.

“Tentu saja tidak. Tadi aku jalan-jalan sama suamimu.”

Riana terperanjat. “Apa?”

Liliana langsung terkekeh, menepuk pelan lengan Riana. “Hahaha… itu kan yang kamu pikirkan, ya? Haduh, Ri… kamu kebanyakan nonton film deh. Mana mungkin aku jalan-jalan sama Septian terus ninggalin kamu sama Lira.”

Ia menunduk sebentar, jemarinya menyentuh lembut kepala Lira di dalam kereta dorong. Suaranya melembut, “Kamu tahu kan, Lira itu hidupku. Aku nggak mungkin macam-macam.”

Riana masih terdiam, mencoba mencerna kata-kata kakaknya. Liliana buru-buru menambahkan dengan nada menghibur, “Sudahlah, jangan kesal lagi. Kakak beliin baju di butik itu, anggap sebagai tanda terimakasih karena sudah jagain Lira. Oke?"

Riana mengangguk sambil tersenyum tipis, mencoba menelan bulat-bulat kata-kata kakaknya. Namun entah kenapa, hatinya masih menolak percaya meski logikanya memaksa untuk diam.

***

Waktu yang dijanjikan Septian akhirnya tiba. Meski tubuhnya letih setelah seharian berkeliling mal dan mengurus rumah, Riana tetap menepati janji. Ia mengenakan gaun yang sudah dipilihkan Liliana, hati berdebar tak menentu. Ada rasa tak sabar ingin tahu kejutan apa yang disiapkan sang suami, meski di sisi lain hatinya menyiapkan diri pada kemungkinan terburuk, bahwa semua ini tidak akan berakhir bahagia.

“Wow, kamu cantik sekali, Riana. Pasti Septian bakal klepek-klepek lihat kamu,” puji Liliana sambil tersenyum puas setelah selesai merias wajah adiknya.

Riana menunduk malu. Jemarinya menggenggam ujung gaun, matanya menatap pantulan dirinya di cermin. “Apa ini nggak berlebihan, Kak?” tanyanya ragu.

Saat ini Riana mengenakan gaun selutut berwarna krem lembut dengan detail renda sederhana, dipadukan dengan riasan tipis yang menonjolkan kesan natural. Rambutnya digerai dengan sedikit ikal di ujung, membuat wajahnya terlihat lebih lembut.

“Berlebihan gimana? Justru pas. Kamu harus tampil cantik malam ini. Sekali-sekali Septian harus sadar kalau punya istri seanggun kamu,” ucap Liliana sambil menepuk bahu adiknya.

Riana tersenyum tipis, ucapan itu terasa menenangkan, harusnya ia tidak perlu menaruh curiga berlebihan pada sang kakak. Lagipula kasih sayang Liliana padanya gak pernah berubah dari dulu. Jika memang malam ini Septian membuatnya kecewa lagi, tidak apa-apa ia menyerah, karma akan datang pada Septian, bagaimanapun cinta lelaki itu tidak akan pernah terbalas.

"Terimakasih, Kak. Kalau gitu aku jalan dulu, ini hampir telat," pamit Riana yang langsung diberikan anggukan kepala Liliana.

Hanya butuh setengah jam Riana samapai ditempat itu. Restoran X tampak megah dengan cahaya lampu temaram dan dentingan musik klasik yang mengalun pelan. Riana melangkah masuk, langkahnya tertata hati-hati.

Pelayan menyambut ramah, "Reservasi atas nama siapa Bu?"

"Septian Prawira," jawab Riana.

"Oh, Ibu Riana Calista Putri?" Melihat Riana mengangguk pelayan itu menuntunnya ke meja yang telah dipesan atas nama Septian.

Sebuah meja dengan lilin dan bunga segar sudah tertata indah. Riana menarik kursi perlahan dan duduk. Degup jantungnya berpacu dengan jarum jam.

"Mas Septian, kamu benar-benar membuatku terkejut," ucapnya mengagumi selera Septian untuk memberikan kejutan padanya. Karena Septian belum datang ia menunggu.

Sepuluh menit berlalu. Segelas air putih sudah ia habiskan.

Dua puluh menit berlalu. Pelayan beberapa kali datang menawarkan menu, tapi ia menolak, berharap Septian yang memesan.

Tiga puluh menit… Riana mulai menggenggam erat tas kecilnya. Jemarinya bergetar, bibirnya menahan senyum getir. Mungkin dia terjebak macet, mungkin ada urusan kantor mendadak. Ia mencoba menenangkan diri dan meyakinkan untuk berbagai kemungkinan.

Satu jam.

Sepasang suami istri di meja sebelah sudah menghabiskan hidangan utama mereka, tertawa bersama, sementara Riana masih menunggu sendirian. Matanya mulai panas, tapi ia menunduk, tak ingin air mata jatuh di tempat umum.

Pelayan mendekat dengan raut simpati. “Maaf, Bu, apakah suaminya masih menyusul? Atau ingin pesan sesuatu dulu?”

Riana tersenyum kaku. “Tidak usah… saya tunggu sebentar lagi.” Suaranya hampir tak terdengar.

Ponselnya ia genggam erat. Ia membuka layar berkali-kali, berharap ada pesan masuk. Tapi layar itu tetap kosong, tidak ada kabar, tidak ada penjelasan.

"Maaf Bu, restoran hampir tutup. Ibu yakin gak mau menelpon suaminya dulu, mungkin kami bisa menunggu karena Pak Septian sudah jadi member VIP," tanya pelayan itu.

Riana menggeleng, membuat pelayan itu menarik napas berat seolah ingin berkata kasian. Namun, suara Riana terdengar, "Jika aku adalah semestanya, tidak perlu merengek hanya untuk mendapatkan kabar. Jika aku semestanya dia akan menepati janjinya."

Akhirnya, Riana berdiri. Kursi berderit pelan saat ia dorong ke belakang. Lilin di meja masih menyala karena diganti berulang kali, seolah mengejek—meskipun harapan itu ada tapi ia tidak akan pernah mendapatkannya.

Ia pun berjalan keluar meninggalkan restoran, dalam perjalanan ia berbisik lirih pada dirinya sendiri, “Selamat menikmati kejutan, Riana. Kejutan yang bahkan tak pernah datang.”

Malam itu, di trotoar depan restoran yang mulai sepi, Riana membiarkan setetes air mata jatuh. Rasanya hampa, getir, dan menusuk hingga ke tulang.

"Mas Septian, ini terakhir kalinya aku meneteskan air mataku untukmu."

1
Weni Kasandra
bagus ceritanya
ummilia1180
Mungkin author mesti kaji dulu antara talak 1-2 atau 3 itu seperti apa… biar ceritanya jadi tdk memebuat salah persepsi tentang Talak.
Marina Tarigan
belum ada momongan ya mungkin Riana tdk bisa hamil karena 5tjm pernikahannya dulu jugs tdk punya anak
Marina Tarigan
tadi kan dito disitu sm anis kemana mereka film synitron kali ya gitu aktingnya baguslah Riana jadi janda ya dan Rahayu dipenggal 3 potong baru pas thour
Marina Tarigan
baru tahu rasa Riana tadipun alif sdh melarangmu ke gudang obat sendiri tapi kamu nekat jumpai Sinta di gudang hazjlnya kau disandara di gudang seperti anji g kamu selalu ngikuti perasaan bukan logika terima akibatnya semoga mafia semua sdh tahu ttk kelemahan penyandra
Marina Tarigan
kevemburuan sosial ya mungkin awalnya pdndekatan team dr 2 itu belum melihst situasi daerah setuhnya lastri merasa tersisih tapi kenapa kepala desa ikut melawan dan ikut berperan ke hal buruk dan menyandra seorang dr demi kepentingan pribadi kan masyarakatnya kan senang dan tertolong mengenai kesehatan berarti team kurang pendekatan pd perangkat kota sorong deh
Marina Tarigan
kuserahkan suamiku kepadamu kak judunya akhirny dr 2 hebat dari kota kalah telak oleh perawat desa dan dukun kampung aneh bis ajaib aturannya judulnya main dokter2an
Marina Tarigan
orang terdekatmu sekarang Riana adalh mafia kalau sinta dan penduduk sorong berusaha mengganggu kalaian jgn takut tapi sifT lemah lembutmu harus kamu ubah utk lebib berani dan keras karena kalian para dr yg ingin membantu masayakat ada orang txk suka atas keberhasilan karian utk membantu masyarakat sorong mknya ikuti perkataan dr Alif suamimu
Marina Tarigan
tak usah disembunyikan apa yg sdg terjadi kehancuran itu Septian yv mulai dia mengacau dipernikahan kalian dan sali g menembak dan septian mau membu uh Rian dan Alif sekalian tapi lili ust dirinya jd tameng kalau tak ada lili pDti kalian duaw nya tertem ak oleh Septen
Marina Tarigan
salah taksir Septian kamu mau menghancurka Alif dan Riana kamu salah lawan nih akibatnya sekarat kan dan ditahan di ruang bawah tanah lawanmu sangat berbahaya
Marina Tarigan
baguslah sempat minta maaf kamu pasti dimaafkan Riana berhati lembut slmt jln saudara
Marina Tarigan
suntik septian dgn pelemah syaraf biar mampus kek mafia saja anak buah Dito Arsen. Alif gimana Septian kema.puan egoismu ketemu lawanmu semua kesalahanmu dan egomu diluar nalar
Marina Tarigan
tdk apa2 kok kalau alif dkk kalah kan nisa Riana nikah lagi sm Tian yg sekarang takut kehilangan Riana kan itu maksud sesunghuhnya menghanvurkan orang 2 yg tulus dan baik dunia memang aneh kebaikan selalu xihancurkan oleh keserakahan kebiadapan
Marina Tarigan
manusia yg selalu lembut kpd siapun biasanya dgn perlakuan baik nya kpd orang lain tdk pernah terpikir olehnya bahwa yg menghancurkannya orang yg dekat dengannya seperti mantan suaminya septian dan liliana kakak kandung sendiri yg menghancurkannya itulah sifat Riana sifatnya tulus lebih suka mengalah dp melawan akibatnya tertindas terus Sinta suka sm dr Alif
Marina Tarigan
lagi monyet beraksi tdk tahu diri orang sdh tahu tunggu kehancuranmu
Marina Tarigan
lanjuy penghianat semua yg terlibat bersama iblis kematian
Marina Tarigan
kasihan juga septiam lihat kehancurannya tapi apakah pernikahan itu dilakukan sesuka hati membentak menghina menyakiti kamu susah dapat pasangan yg tahan menghadapi kamu Riana 5 thn ia bertahan dhn segala keegoisanmu ia ttp setia walaupun kamu dan ibumu setisp saat menghina sbgi pembantu di rmhmu dan juga 5 thn pernikahan kamu ydk mau tidur satu ranjang kecuali itk mememuhi hasratmu saja terus kamu tinggalkan semdirian kamu hanya buat pemuas nafsu mu pernikahan apa itu penghinaanmu cukup besar semedo kamu dulu di kaki gunung sana supaya kamu sadar arti pernikihaan Tisn kamu sangat kasar sebgi suami ikhlaskan saja Riana pd orang yg menghargai wanita
Marina Tarigan
Septian kan psikopat tdk normal biasa kan sifat begitu kalau nomal mana ads laki2 terang2an didepan istrinya berbuat Z I N A A itu sifat hewan kali bukan sifat manusia bermartabat
Marina Tarigan
liliana monyet mau bercocok tanam dgn adik ipar menghalalkan segala cara tdk thu malu lahir dari perut setan tdk tahu malu penghianat sekarang dibuang suami sementara hilang anak entah kemana jd pelakor tak pernah nyaman lili kehancuran jadinya monyet
Marina Tarigan
anakmu lira akan stres seumur hidup dipisahkan secara paksa darimu jalang tdk tahu malu adik iparmu sendiri kamu embat tp gagal kan kebenaran akan terkuak sgt sakit menerimanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!