Masuk ke lingkaran istana, Sekar justru disambut teror mental, racun kecubung, hingga fitnah ilmu hitam.
Berbekal teknologi Ruang Spasial, ia membalas telak: mengubah ulat sutra menjadi emas dan membungkam angkuh bangsawan dengan sains.
Namun, musuh tidak tinggal diam. Wabah mematikan menyerang Pangeran Arya, memaksanya bertaruh nyawa. Di saat kritis, hantaman terakhir justru datang dari ayah kandungnya sendiri: Gugatan hukum di Pengadilan Agama demi memeras harta sebagai syarat restu nikah.
Di antara ambisi GKR Dhaning, nyawa kekasih, dan keserakahan keluarga, Gadis desa ini siap mengguncang pilar istana Yogyakarta.
⚠️ PENTING:
🚫 PEMBACA BARU: STOP! Wajib baca SERI 1 dulu agar paham alurnya.
🔥 PEMBACA SETIA: Level musuh naik drastis! Dari nenek dan bibi julid ke politisi keraton. Siapkan hati untuk "Face-Slapping" yang jauh lebih brutal!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pemerkosaan Tanah Menggunakan Senjata Kimia
Matahari di Gunung Kidul tidak sekadar bersinar; ia menggigit.
Pukul sepuluh pagi, panas sudah menyentuh angka 34 derajat Celcius.
Pantulan cahaya dari batuan kapur putih yang mendominasi lanskap membuat silau siapa saja yang tidak mengenakan kacamata hitam.
Udaranya kering, berdebu, dan membawa aroma tanah gersang yang seolah memohon setetes air.
Namun, di tengah hamparan putih yang menyakitkan mata itu, terdapat sebuah anomali.
Sebuah oase hijau zamrud.
Sebuah truk pick-up tua berwarna hitam merayap pelan mendaki jalanan berbatu yang terjal.
Di balik kemudi, Pak Man mencengkeram setir dengan buku-buku jari yang memutih.
Keringat dingin sebesar biji jagung terus menetes dari pelipisnya, bukan karena AC mobil yang mati, melainkan karena rasa bersalah yang mencekik lehernya.
"Pak Man, AC-nya dimatikan saja tidak apa-apa. Mesinnya kasihan kalau menanjak sambil nyalakan kompresor," suara tenang Sekar terdengar dari kursi penumpang.
Pak Man tersentak kaget, seolah baru saja dibangunkan dari mimpi buruk.
"Eh... Inggih, Non. Ngapunten. Saya... saya agak kurang fokus."
Sekar menoleh, menatap profil samping sopir setianya itu.
Mata analitisnya menangkap tremor halus di tangan Pak Man dan pupil mata yang sedikit tidak stabil.
Gejala hipoglikemia? Atau dehidrasi? batin Sekar mendiagnosis.
"Nanti sampai di gubuk atas, Bapak minum cairan elektrolit ya. Saya bawa di tas. Bapak terlihat pucat," ujar Sekar lembut.
Hati Pak Man mencelos. Non Sekar sebaik ini, dan aku baru saja menjualnya ke serigala, jerit batinnya.
Namun, bayangan wajah anaknya yang babak belur memaksanya tetap diam.
"Siap, Non," jawabnya parau.
Mobil berbelok memasuki gerbang lahan Sektor 4.
Pemandangan di depan mereka sungguh menakjubkan.
Berbeda dengan lahan warga sekitar yang hanya ditumbuhi jati kurus atau singkong yang merana, lahan seluas dua hektar ini dipenuhi barisan pohon Kelengkeng Diamond River yang tumbuh dengan vigoritas atau kekuatan tumbuh yang tidak masuk akal.
Daun-daunnya hijau pekat, tebal, dan mengkilap karena lapisan lilin kutikula yang sehat.
Tajuknya rimbun memayungi tanah di bawahnya, menciptakan iklim mikro yang sejuk.
Dan yang paling gila: ratusan dompol bunga kuning kecokelatan mulai bermunculan di setiap ujung ranting.
Di tengah musim kemarau panjang.
Di atas tanah kapur.
Tiga ratus meter dari lokasi Sekar, di balik bukit kapur yang lebih tinggi.
Dua orang pria tiarap di antara semak belukar kering.
Mereka mengenakan pakaian kamuflase gurun, lengkap dengan topi rimba.
Dito, asisten Rangga, menyeka keringat yang membanjiri lehernya.
Dia mengarahkan teropong binokular rangefinder canggih ke arah kebun Sekar.
"Gila..." desis Dito. "Bos Rangga tidak bohong. Lihat itu, Dok. Hijau royo-royo seperti lapangan golf di tengah gurun."
Di sebelahnya, seorang pria paruh baya dengan kacamata tebal dan wajah kaku ikut mengintip melalui lensa kamera DSLR berlensa tele panjang.
Dia adalah Dr. Herman, ahli agronomi dan konsultan pertanian senior yang sering disewa perusahaan kelapa sawit untuk memanipulasi data AMDAL.
"Tidak mungkin," gumam Dr. Herman, nadanya penuh ketidakpercayaan profesional. "Coba geser ke sektor utara."
Dito menurut. "Ada apa, Dok?"
"Lihat tanah di sekitarnya. Itu Karst murni. Kalsium karbonat tinggi. pH tanah di sini bisa di atas 8. Tanah basa seperti itu biasanya mengikat zat besi dan fosfor. Tanaman buah seharusnya mengalami klorosis—daun menguning karena kekurangan nutrisi."
Dr. Herman menurunkan kameranya, menatap Dito dengan wajah serius.
"Tapi pohon-pohon itu... daunnya hijau tua. Itu kadar klorofil yang tidak normal. Turgiditas selnya juga maksimal, padahal tidak ada irigasi tetes yang terlihat."
Dito tidak paham istilah ilmiah itu. "Intinya apa, Dok? Dia pakai dukun?"
Dr. Herman mendengus sinis, arogansi akademisnya terusik.
"Sains tidak mengenal dukun, Mas Dito. Kalau ada hasil yang terlalu bagus untuk menjadi kenyataan, biasanya itu curang."
Dr. Herman kembali membidikkan kameranya.
Kali ini dia mengambil foto close-up saat Sekar turun dari mobil dan memeriksa batang pohon.
"Saya menduga dia melakukan rekayasa lingkungan secara radikal," analisis Dr. Herman tajam.
"Rekayasa seperti apa?"
"Tanah kapur itu keropos, air langsung lolos ke bawah. Agar pohon bisa sesehat itu, dia pasti menyuntikkan Hydrogel Polymer sintetis dalam jumlah masif ke dalam tanah untuk menahan air. Itu plastik penyerap air, Mas."
Mata Dito berbinar. "Itu bahaya?"
"Kalau dipakai sedikit untuk tanaman hias pot, tidak apa-apa. Tapi untuk skala hektar di area resapan air tanah?" Dr. Herman tersenyum licik. "Residu polimernya bisa mencemari akuifer air tanah warga. Itu bisa dikategorikan limbah B3 jika jenisnya poliakrilamida yang tidak terurai."
Dito tersenyum lebar. Ini amunisi yang diminta Rangga.
"Ada lagi, Dok?"
"Steroid," tambah Dr. Herman sambil memotret Sekar yang sedang memegang dompol bunga.
"Lihat pembungaan serempak itu? Di luar musim? Dia pasti membanjiri tanah dengan Paklobutrazol atau hormon giberelin sintetik dosis tinggi. Itu memaksa tanaman berbuah sampai mati. Buahnya nanti akan penuh residu kimia. Karsinogenik. Penyebab kanker."
Klik.
Klik.
Klik.
Kamera Dr. Herman terus merekam setiap gerakan Sekar.
"Kesimpulannya, Dok?"
"Ini bukan pertanian organik seperti klaimnya," pungkas Dr. Herman dengan nada final seorang hakim. "Ini adalah pemerkosaan tanah menggunakan senjata kimia. Dia meracuni tanah Gunung Kidul demi keuntungan cepat."
Dito tertawa pelan. "Bos Rangga akan senang mendengar ini. 'Gadis Desa Penjahat Lingkungan'. Judul yang bagus untuk koran besok."
Di bawah sana, Sekar tidak menyadari lensa tele yang sedang membidiknya.
Dia berjalan menyusuri lorong antar pohon, tangannya menyentuh kulit batang kelengkeng yang kasar.
Sistem perakaran sudah beradaptasi sempurna, batin Sekar melakukan scanning visual.
Dia berjongkok, mengambil segenggam tanah di bawah tajuk pohon.
Tanah itu tidak lagi putih berkapur, tapi mulai berubah warna menjadi cokelat gelap dan gembur.
Sekar tersenyum tipis. Ini bukan sihir. Ini adalah hasil kerja keras mikroba.
"Rhizobacteria dari Ruang Spasial benar-benar monster," gumamnya pelan dalam hati. "Mereka memproduksi asam organik yang menetralkan pH kapur, sekaligus melarutkan fosfat yang terikat kalsium. Simbiosis mutualisme yang cantik."
Sekar tidak menggunakan hormon steroid jahat seperti tuduhan para pengamat di atas bukit.
Dia menggunakan prinsip Bio-Remediasi.
Dia menanam "kehidupan" ke dalam tanah mati.
"Pak Man," panggil Sekar tanpa menoleh.
Pak Man yang sedang berdiri kaku di dekat mobil langsung sigap. "Dalem, Non?"
"Tolong ambilkan gunting pangkas. Ada beberapa tunas air yang harus dibuang supaya nutrisinya fokus ke buah," perintah Sekar.
"Inggih, Non."
Saat Pak Man berjalan mengambil gunting, ponsel di saku celananya bergetar.
Satu pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Kerja bagus. Transfer sisa 25 juta sudah masuk. Hapus pesan ini.
Kaki Pak Man lemas seketika.
Dia nyaris tersandung akar pohon.
Uang itu sudah di tangan. Anaknya selamat.
Tapi saat dia melihat punggung Sekar yang sedang sibuk merawat pohon dengan penuh kasih sayang layaknya seorang ibu, rasa mual di perut Pak Man semakin menjadi-jadi.
Dia baru saja menjual lokasi "anak-anak" Sekar kepada pemburu.
"Kenapa, Pak?" Sekar berbalik karena mendengar suara langkah kaki yang terseret.
"Ti... tidak apa-apa, Non. Kesandung batu," dusta Pak Man cepat.
Dia menyerahkan gunting pangkas dengan tangan gemetar.
Sekar menerima gunting itu.
Tatapannya menajam sejenak ke arah bukit kapur di kejauhan.
Instingnya, warisan dari ribuan jam di ruang Spasialnya, memberi sinyal bahaya.
Rasanya seperti ada mata mikroskop yang sedang mengamatinya.
"Perasaan saya saja..." bisik Sekar, mencoba mengabaikan intuisi itu.
Dia kembali fokus memangkas ranting.
Di atas bukit, Dito menutup teropongnya.
"Cukup, Dok. Kita sudah punya foto lokasi, kondisi tanaman yang tidak wajar, dan koordinat GPS. Nanti malam, saat truk 'pupuk rahasia' itu datang, kita akan punya bukti pamungkas."
Dr. Herman mengangguk puas. "Kita akan buktikan bahwa keajaiban itu bohong. Tidak ada yang bisa menaklukkan kapur Gunung Kidul tanpa melanggar hukum alam."
Mereka merayap mundur, meninggalkan bukit itu dengan senyum kemenangan, membawa serta data yang akan dipelintir menjadi belati untuk menikam punggung Sekar.
lope lope lope ❤️❤️❤️⚘️⚘️⚘️
borongan
kena banget jebakan sekar buat rangga😄