NovelToon NovelToon
Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Menjadi Tawanan Mafia Sangar, Anunya Ambyar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kriminal dan Bidadari / Komedi / Action / Cinta Seiring Waktu / Disfungsi Ereksi / Enemy to Lovers
Popularitas:33.9k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Sandrina mendapatkan tiket liburan keliling Eropa. Ketika berada di negara Italia, dia terpisah dari rombongannya. Saat berada di sebuah gang sepi, dia melihat pembunuhan yang dilakukan oleh Alecio dan anak buahnya

Demi menyelamatkan nyawanya Sandrina pura-pura buta dan tuli. Namun, kebohongannya itu segera ketahuan oleh Patrick, kaki tangan Alecio. Dia pun menjadi tahanan kelompok mafia, "Serigala Hitam".

Saat dalam perjalanan ke markas, Alecio dan anak buahnya mendapatkan serangan mendadak dari arah yang tak diketahui. Ban mobil yang ditumpangi oleh Alecio dan Sandrina kena peluru, sehingga mereka harus pindah ke mobil yang lain. Siapa sangka mereka berdua terkena tembakan. Bukan peluru timah atau obat bius, tetapi obat perangsang.

"Kamu adalah budakku! Jadi, sudah sepatutnya seorang budak menurut kepada tuannya." -Alecio-

"Ya Allah, ampuni dosaku. Lebih baik cabut nyawanya Alecio agar aku terhindar dari zina." -Sandrina-

"Bukannya Tuan Alecio impoten? Kenapa jadi Birahi?" -Max

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Malam benar-benar terasa berbeda di bangunan sayap kiri. Setelah perdebatan kecil mereka di gedung utama dengan Alecio, Sandrina akhirnya kembali ke kamarnya dengan langkah mantap. Ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam, lalu bersandar sebentar dengan napas panjang.

“Kenapa sih pria itu selalu membuat hidupku ribet,” gumam gadis itu pelan.

Sandrina mengganti pakaiannya dengan piyama longgar, lalu menunaikan salat Isya dengan khusyuk. Setelah itu, ia duduk sebentar di atas ranjang, menatap jendela tua yang memperlihatkan cahaya bulan pucat.

Hatinya masih bergetar samar ketika mengingat cara Alecio mengatakan, “Aku akan selalu mencarimu.”

Sandrina menggeleng cepat. “Jangan GR, Sandrina.”

Tak lama kemudian, kelelahan mengalahkan pikirannya. Sandrina berbaring, menarik selimut sampai ke dada, dan perlahan terlelap.

Gadis itu tidak tahu, tepat di kamar sebelahnya, seseorang berdiri kaku menatap jendela tua yang berderit tertiup angin malam. Alecio.

Pria itu melepas jasnya dengan ekspresi tak terbaca. Kamar tua yang ia tempati jelas jauh dari standar ruang pribadinya di gedung utama. Dindingnya berbau kayu lapuk, perapian sudah lama tidak dipakai, dan kasurnya bahkan sedikit tipis. Namun, ia tetap memilih tinggal di sana.

Bukan karena nyaman karena ia tidak ingin Sandrina menghilang lagi.

Kehadiran Alecio di sayap kiri membuat suasana bangunan itu gempar secara diam-diam. Rosa berdiri bersama dua pelayan tua lainnya di ujung koridor, berbisik dengan wajah tegang sekaligus penasaran.

“Dia benar-benar tidur di sini?” tanya salah satu pelayan dengan mata membulat.

Rosa mengangguk pelan. “Dengan tangannya sendiri ia membawa tas kecil. Bahkan tidak menyuruh siapa pun.”

“Santa Maria…” pelayan lain berdesis pelan. “Seumur hidup saya di kastil ini, Tuan Alecio tidak pernah mau menginjakkan kaki untuk bermalam di sayap kiri.”

Rosa memandang ke arah kamar Sandrina yang tertutup rapat. “Gadis itu bukan sembarang wanita.”

Mereka semua tahu masa kecil Alecio tidak indah. Mereka tahu bagaimana ibunya meninggal dalam tragedi yang menyisakan luka dalam. Mereka tahu bagaimana sejak remaja pria itu membangun dinding tinggi antara dirinya dan dunia luar, terutama wanita.

Marcela memang dihormati dan dipercaya, tetapi hanya dalam urusan kastil. Tidak pernah ada kedekatan personal. Tidak pernah ada sentuhan hangat.

Namun, sekarang pria yang selalu dingin itu rela tidur di kamar tua yang lembap hanya demi mengawasi satu gadis Asia yang cerewet. Dan demi memastikan satu gadis tidak menghilang lagi.

Salah satu pelayan berbisik penuh keyakinan, “Dia pasti kekasihnya.”

Rosa tersenyum samar. “Kalau belum, mungkin sebentar lagi.”

Gianni tersenyum kecil, tatapannya lembut. “Gadis itu membawa cahaya ke tempat yang selama ini gelap.”

“Seumur hidup saya di kastil ini, saya tidak pernah melihat Tuan Alecio gelisah karena seorang wanita,” bisik pelayan lain.

Gianni menghela napas panjang. “Mungkin akhirnya hatinya mencair juga.”

“Mudah-mudahan,” gumam Rosa lembut. “Sudah terlalu lama dia hidup sendirian dengan luka itu.”

Mereka masih berbisik-bisik sampai suara langkah berat Alecio terdengar dari dalam kamar sebelah. Ketiganya langsung bubar dengan pura-pura sibuk, meski mata mereka tetap berbinar penuh rasa ingin tahu.

Di dalam kamarnya Sandrina sudah terlelap. Wajahnya yang khas Asia tampak lembut dalam cahaya bulan yang menyelinap lewat tirai tipis. Rambutnya tergerai di atas bantal, napasnya teratur, dan ekspresinya jauh lebih damai dibanding siang tadi.

Dini hari, ketika jam dinding tua berdentang pelan menandai pukul dua. Panel kecil di balik lemari kayu Sandrina bergerak tanpa suara. Pintu rahasia itu terbuka perlahan.

Alecio masuk, langkahnya pelan, nyaris tanpa suara. Ia berdiri di sisi ranjang dan untuk sesaat hanya memandang. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Alecio sudah melihat banyak wanita dalam hidupnya, entah itu di pesta, di dunia bisnis, dalam pertemuan formal. Tetapi tidak pernah ada yang membuat dadanya terasa sesak seperti ini hanya karena memandang wajah yang sedang tertidur.

Sandrina tampak begitu kecil dan rapuh. Begitu jauh dari sikap beraninya saat siang hari.

Alecio mengulurkan tangan, ragu sepersekian detik, lalu menyibakkan helai rambut yang menutupi pipinya. Sentuhan itu ringan, hampir tak terasa. Tatapannya turun ke bibir Sandrina.

Bibir yang selalu sibuk berdebat dengannya. Bibir yang tadi sore berteriak memanggil namanya di lorong gelap. Bibir yang entah sejak kapan, membuatnya kecanduan.

Alecio menahan napas. Jantungnya berdetak lebih cepat daripada saat menghadapi negosiasi bisnis jutaan euro. Ia berdiri di sisi ranjang, menatap wajah itu dalam diam.

Betapa kontrasnya Sandrina saat terjaga dan saat tertidur. Saat bangun, ia seperti badai kecil berisik, berani, tak mau kalah. Namun saat terlelap, ia tampak begitu lembut.

Alecio menelan ludah. Ia tahu seharusnya tidak berada di sana. Namun, ada dorongan yang tak bisa ia jelaskan, bukan sekadar keinginan fisik, melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih mengganggu.

Tangan Alecio perlahan terangkat. Ujung jarinya nyaris menyentuh pipi Sandrina, namun berhenti beberapa sentimeter sebelum kulit itu. Ia menunduk. Dan kali ini, bibirnya benar-benar menyentuh bibir Sandrina dengan lembut dan singkat.

Seperti mencuri setitik hangat dari malam. Alecio menarik diri sebentar, menatap wajah yang tetap tertidur itu. Sandrina tidak bergerak, napasnya tetap teratur.

Alecio menunduk lagi. Ciuman kedua lebih lama. Tidak kasar, tidak juga memaksa. Namun lebih dalam dan lebih terasa. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya merasakan kelembutan itu beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Detak jantungnya mulai tidak terkendali.

Pria itu menarik napas berat. “Ini salah,” gumamnya pelan.

Namun, Alecio kembali menyentuh bibir itu untuk ketiga kalinya. Kali ini lebih pelan, lebih hati-hati, seolah takut membangunkannya, tetapi juga tak mampu sepenuhnya menahan diri.

Tubuh Alecio mulai merespons. Ketegangan merambat perlahan ke inti tubuhnya, membuat napasnya berubah lebih berat. Kesadaran itu membuatnya tersentak. Ia mundur cepat. Rahangnya mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.

Jika Akecio tinggal satu menit lagi, ia takut batas yang selama ini ia jaga akan runtuh. Ia menatap Sandrina sekali lagi, gadis yang tidak tahu apa pun, yang tetap menjaga dirinya bahkan dalam tidur.

Rasa hormat tiba-tiba menampar kesadarannya lebih keras daripada hasrat.

“Aku tidak akan menyentuhmu tanpa hak,” bisik Alecio lirih.

Dengan napas yang belum sepenuhnya stabil, Alecio berbalik dan kembali ke pintu rahasia. Panel tertutup tanpa suara. Di kamar sebelah, ia bersandar pada dinding, menutup mata, berusaha menenangkan gejolak dalam dirinya.

Bangunan sayap kiri kembali sunyi.

Sandrina tetap terlelap, tidak mengetahui apa pun.

Dan Alecio, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, merasa bahwa pertempuran paling berat bukanlah melawan musuh di luar sana, melainkan melawan dirinya sendiri.

***

Baca juga karya aku yang lainnya.

1
Nar Sih
sdh bisa di pasti kan nih alecio bnr ,,udah jatuh cinta
Cindy
lanjut
Sugiharti Rusli
dan apakah cinta Alecio bisa terbalas dengan tingginya tembok yang akan menghalangi mereka bersatu dalam ikatan
Sugiharti Rusli
apa nanti Alecio akan memenuhi janjinya mengurus dokumen Sandrina dan membiarkan dia pulang ke Indonesia,,,
Sugiharti Rusli
terkadang pertengkaran bukan jadi sesuatu yang meresahkan, tapi sesuatu yang bahkan dirindukab di kala salah satu jauh atau sakit,,,
Sugiharti Rusli
meski Sandrina awalnya adalah gadis biasa yang tersesat di sarang mafia, dan Alecio yang sudah lama ga pernah kenal kata cinta sama perempuan manapun bisa saling tertarik sekarang,,,
Sugiharti Rusli
memang yah istilah Jawa, 'witing tresno soko kulino' itu memang benar adanya yah
❀ℕ𝕒𝕕𝕚𝕝𝕒 ℕ𝕚𝕤𝕒❀
kenapa Alecio tidak coba untuk ikut sandrina pulang ke indo
Lilis Yuanita
👍
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya bakalan nikah yah 🤭
ken darsihk
Fix lah kalean jadian ajaaa , dan di resmikan di Indonesia 👏👏👏
Naufal Affiq
nikah aja sama alicio sandrina,biar kau bisa mudik,sebentar lagi kita lebaran lho
🌸Santi Suki🌸: 🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
ken darsihk
Alecio kebanyakan drama inti nya ya Alecio ngajak maried Sandrina 😂😂😂
Sugiharti Rusli
padahal kan bisa saja kalo si Alecio mau, si Sandrina diantarkan ke kedutaan Indonesia di Italia,,,
Sugiharti Rusli
dan alasan tentang dokumen si Sandrina yang hilang juga bisa dia manfaatkan dengan sangat baik sih yah,,,
Sugiharti Rusli
dan yang belum Sandrina ketahui adalah kenyataan kalo seorang Alecio bisa jatuh cinta padanya karena tingkahnya yang unik dan cerewetnya😝😝😝
Sugiharti Rusli
bahkan mana ada dalam pikirannya kalo dia jadi tawanan seorang mafia di negara asing yah😅😅😅
Sugiharti Rusli
memang ajaib sih yah apa yang terjadi sama si Sandrina sekarang😅😅😅
gaby
Kasih lah mudik si Sandrina, tp kawal sampai tujuan. Lamar di dpn ortunya. Emang sampai kapan Alecio sanggup menahan sesak di dada & di celana stiap berdekatan dgn Sandrina. Segera halalkan biar lega dr rasa sesak itu😄😄
Aditya hp/ bunda Lia
kesempatan dalam kesempatan 🤭
bukan kesempitan yah di ajak nikah ntar pas sandrina mau banyak lagi alasan ini itu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!