NovelToon NovelToon
Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Kronik Dewa Asura: Jalur Penentang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Langit ingin aku mati, tapi aku menolak untuk berlutut!"
Di Benua Awan Merah, kekuatan adalah satu-satunya hukum. Ye Chen, Tuan Muda Klan Ye yang jenius, kehilangan segalanya dalam satu malam. Keluarganya dibantai oleh Sekte Pedang Darah, Dantian-nya dihancurkan, dan harga dirinya diinjak-injak.
Tiga tahun lamanya, ia hidup lebih rendah dari anjing sebagai budak penambang Nomor 734 di Lembah Kabut Hitam. Tanpa masa depan, tanpa harapan.
Namun, takdir berubah ketika sebuah reruntuhan gua tambang mengungkap benda terlarang dari era purba: Mutiara Penelan Surga. Benda pusaka yang mampu melahap segala bentuk energi—batu roh, senjata pusaka, darah iblis, hingga esensi kehidupan musuh—dan mengubahnya menjadi kekuatan murni.Dengan Sutra Hati Asura di tangannya dan kebencian membara di hatinya, Ye Chen bangkit dari neraka. Dia bukan lagi budak. Dia adalah sang Penakluk.
Satu per satu, mereka yang menghinanya akan membayar dengan darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Labirin Akar Roh dan Api Jantung Ungu

Tangga batu spiral itu seolah tak berujung, meliuk turun menembus kegelapan perut bumi. Udara di sini terasa berat, lembap, dan berbau tanah basah yang sudah terkurung selama berabad-abad.

Ye Chen berjalan di depan, langkah kakinya hati-hati. Di belakangnya, Guru Su melangkah dengan santai, aroma bunga persik dari tubuhnya sedikit menyamarkan bau apek lorong itu.

"Gelap sekali," keluh Guru Su. "Kau tidak punya obor, Tuan Muda Asura?"

"Mataku bisa melihat dalam gelap," jawab Ye Chen datar. "Dan namaku Ye Chen di sini. Simpan sebutan 'Asura' itu."

Guru Su terkekeh pelan. "Baiklah, Murid Ye. Tapi mata biasaku yang indah ini butuh sedikit cahaya."

Phat!

Guru Su menjentikkan jarinya.

Seketika, bola api berwarna ungu seukuran kepalan tangan muncul melayang di atas telapak tangannya. Api itu tidak memancarkan panas, melainkan hawa dingin yang aneh. Cahayanya menyinari dinding lorong dengan rona ungu mistis.

Ye Chen melirik api itu. "Api Alkimia?"

"Benar. Ini Api Jantung Ungu (Purple Heart Fire). Api Tingkat Bumi. Salah satu dari sedikit api yang bisa membakar jiwa dan materi sekaligus," jelas Guru Su dengan nada bangga. "Jangan terlalu dekat, atau alismu yang tebal itu akan rontok."

Ye Chen tidak menjawab, tapi kewaspadaannya meningkat. Seorang kultivator Pembentukan Inti dengan Api Tingkat Bumi... wanita ini jauh lebih berbahaya dari penampilannya yang menggoda.

Setelah sepuluh menit menuruni tangga, mereka tiba di dasar.

Di hadapan mereka, terbentang sebuah gua raksasa alami. Namun, gua itu tidak kosong.

Seluruh ruangannya dipenuhi oleh Akar Raksasa yang saling membelit, membentuk labirin yang rumit dan hidup. Akar-akar itu berdenyut pelan, memancarkan cahaya hijau redup seperti pembuluh darah bumi.

"Labirin Akar Roh," bisik Guru Su, wajahnya menjadi serius. "Ini adalah sistem pertahanan alami Pagoda Bintang. Akar-akar ini menyerap Qi dari Urat Naga di bawah tanah untuk memberi tenaga pada formasi akademi."

"Dan mereka juga memakan penyusup," tambah Ye Chen, menunjuk ke sebuah kerangka manusia yang terjerat di salah satu akar. Tulang-belulangnya sudah menghitam, semua esensinya telah disedot habis.

"Kita harus melewati ini untuk sampai ke titik pusat di bawah Pagoda," kata Ye Chen. Dia mengeluarkan peta kulit binatangnya. Titik cahaya itu berkedip stabil, menunjuk lurus ke tengah labirin.

"Hati-hati," peringat Guru Su. "Akar ini peka terhadap fluktuasi Qi. Jika kau menggunakan Qi secara berlebihan, mereka akan bangun dan menyerang."

"Tanpa Qi?" Ye Chen menyeringai. "Itu keahlianku."

Ye Chen melangkah masuk ke dalam labirin akar itu. Guru Su mengikutinya, meredupkan api ungunya hingga sekecil lilin agar tidak memprovokasi akar-akar tersebut.

Sreeet... Sreeet...

Suara gesekan terdengar di sekitar mereka. Akar-akar setebal paha manusia itu mulai bergerak perlahan, seperti ular yang terbangun dari hibernasi.

Ye Chen menahan napasnya. Dia berjalan dengan Langkah Kilat Hantu, tapi tanpa menggunakan ledakan Qi, hanya mengandalkan teknik kaki fisik.

Tiba-tiba, sebuah akar dari atap gua meluncur turun, mengincar leher Guru Su.

"Awas!"

Ye Chen berputar. Dia tidak mencabut pedangnya. Dia mencengkeram rantai kalung di lehernya, menarik liontin pedang kecil itu keluar, dan mengayunkannya seperti cambuk meteor.

WUUUNG!

Liontin seberat 500 kilogram itu menghantam akar tersebut.

SPLAT!

Akar itu hancur berantakan, getah hijau muncrat ke dinding.

"Kekuatan fisik murni..." mata Guru Su berbinar di balik topeng tipisnya. "Kau benar-benar monster kecil. Membawa Besi Meteor Hitam sebagai kalung? Lehermu terbuat dari apa?"

"Besi," jawab Ye Chen singkat.

Namun, serangan itu memicu reaksi berantai.

GROOOAAA!

Seluruh labirin bergetar. Ribuan akar di sekeliling mereka mulai menggeliat liar. Dinding-dinding akar itu bergeser, menutup jalan di belakang mereka.

"Mereka bangun!" seru Guru Su. "Lupakan sembunyi-sembunyi! Lari!"

Ye Chen dan Guru Su melesat maju.

Puluhan akar tajam berduri melesat dari dinding, lantai, dan langit-langit.

Ye Chen berada di depan, menjadi ujung tombak. Dia memutar rantai kalungnya dengan kecepatan tinggi, menciptakan perisai putaran besi hitam.

BLARR! BLARR! BLARR!

Setiap akar yang mencoba menyentuhnya hancur lebur. Tidak ada teknik pedang indah, hanya kekerasan brutal. Ye Chen menghancurkan jalan melalui dinding-dinding akar itu.

Sementara itu, Guru Su menjaga bagian belakang.

Setiap kali ada akar yang lolos dari Ye Chen, Guru Su menjentikkan jarinya.

Wush!

Bola api ungu melesat, membakar akar-akar itu menjadi abu. Api Jantung Ungu miliknya sangat efektif melawan elemen kayu. Akar-akar itu menjerit (secara harfiah mengeluarkan suara melengking) saat terbakar, dan mundur ketakutan.

"Ke kiri! Ada celah energi di sana!" teriak Guru Su, matanya bersinar ungu saat menggunakan teknik Mata Roh.

Ye Chen menurut. Dia berbelok tajam, menghantam dinding akar di kiri hingga jebol, dan mereka berguling masuk ke sebuah ruangan batu kuno yang tersembunyi di jantung labirin.

Ruangan itu sunyi. Akar-akar di luar berhenti mengejar, seolah takut masuk ke area ini.

Ye Chen berdiri, menepuk debu dari jubahnya. Dia melihat sekeliling.

Ruangan itu berbentuk bulat. Di tengahnya, terdapat sebuah kolam air kecil yang memancarkan uap spiritual yang sangat padat. Di tengah kolam itu, tumbuh sebatang bunga teratai hitam yang kelopaknya tertutup rapat.

Dan di pinggir kolam, duduk sebuah kerangka manusia dengan jubah emas yang sudah lapuk.

"Pusat Formasi," kata Ye Chen. Peta di tangannya bersinar terang, bereaksi dengan teratai hitam itu.

Guru Su berjalan mendekati kerangka itu. Matanya terpaku pada sebuah tanaman kecil berbentuk jamur yang tumbuh di tulang rusuk kerangka tersebut. Jamur itu berwarna putih susu dan memancarkan cahaya lembut.

"Jamur Tulang Hantu (Ghost Bone Mushroom)..." suara Guru Su bergetar karena gembira. "Akhirnya aku menemukannya! Bahan utama untuk Pil Pembentuk Jiwa!"

Jadi itu tujuannya.

"Ambil apa yang kau butuhkan," kata Ye Chen. "Bagianku adalah yang di tengah kolam."

Guru Su dengan hati-hati memetik jamur itu dan menyimpannya ke dalam kotak giok khusus. Dia berbalik menatap Ye Chen dengan tatapan menggoda.

"Kerja sama yang bagus, Partner. Sekarang, bagaimana cara kita mengambil teratai itu? Kolam itu dilindungi oleh Air Berat (Heavy Water). Satu tetesnya seberat seratus kilo. Jika kau masuk, kau akan remuk."

Ye Chen mendekati kolam itu. Dia bisa merasakan tekanan gravitasi yang mengerikan dari air yang tenang itu.

"Air Berat?" Ye Chen tersenyum. "Kebetulan sekali. Aku suka yang berat-berat."

Ye Chen melepas kalung pedangnya.

"Besar!"

WUUUNG!

Liontin kecil itu kembali ke ukuran aslinya—pedang raksasa sepanjang dua meter.

Ye Chen memegang gagangnya dengan dua tangan, lalu mencelupkan ujung pedang itu ke dalam kolam.

CSSSST!

Air berat itu bergolak.

Ye Chen menyalurkan Niat Pedang dan Qi Guntur-nya ke dalam pedang.

"Buka!"

Dia menghentakkan pedangnya ke atas.

BYAAR!

Air kolam itu terbelah dua oleh kekuatan pedang Ye Chen. Gravitasi air dilawan oleh berat pedang dan ledakan otot Ye Chen.

Di celah air yang terbelah itu, Ye Chen melihat akar dari teratai hitam tersebut. Bukan akar biasa, melainkan sebuah kunci batu giok yang tertanam di dasar kolam.

Ye Chen melompat masuk ke celah air itu, menyambar teratai hitam beserta kuncinya, lalu melompat keluar tepat sebelum air kolam itu menyatu kembali dengan dentuman keras yang bisa menghancurkan baja.

Ye Chen mendarat di pinggir kolam, basah kuyup tapi tersenyum puas.

Di tangannya, teratai hitam itu layu dan berubah menjadi debu, meninggalkan sebuah gulungan kuno dan potongan peta ketiga (yang terakhir).

"Dapat," bisik Ye Chen.

Dia membuka gulungan itu.

[Teknik Pedang Asura - Gaya Kedua: Pembelah Langit (Sky Splitter).]

Dan saat dia menyatukan potongan peta ketiga dengan dua potongan sebelumnya...

Peta itu terbakar, berubah menjadi bola cahaya yang melesat masuk ke dalam dahi Ye Chen.

Informasi lokasi Reruntuhan Utama muncul di benaknya. Bukan di Akademi Bintang. Bukan di Kota Awan Putih.

Melainkan di Laut Selatan, di sebuah pulau yang bergerak dan hanya muncul setiap sepuluh tahun sekali. Pulau Pedang Jatuh.

"Laut Selatan..." Ye Chen bergumam.

Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar hebat. Alarm sirene magis meraung dari arah langit-langit.

WUUUUU! WUUUUU!

"Gawat!" wajah Guru Su berubah pucat. "Kita memicu mekanisme pertahanan utama Pagoda! Kepala Sekolah dan Dewan Tetua pasti merasakan fluktuasi energi ini!"

"Kita harus pergi. Sekarang!"

Guru Su meraih lengan Ye Chen.

"Pegangan erat-erat! Aku akan menggunakan jimat teleportasi jarak pendek. Ini akan sedikit mual!"

Guru Su meremas sebuah jimat kuning di tangannya.

Cahaya menyilaukan membungkus mereka berdua.

SWUUUSH!

Sedetik kemudian, ruangan itu kosong.

Tepi Danau Roh, Paviliun Bambu Hitam.

BRUK!

Dua sosok jatuh bergulingan di atas rumput basah.

"Huek..." Ye Chen merasa perutnya diaduk-aduk. Teleportasi paksa ini jauh lebih kasar daripada formasi portal.

Guru Su juga terengah-engah, topengnya sedikit miring, memperlihatkan sebagian wajah cantiknya yang berkeringat.

Dia buru-buru membetulkan topengnya dan berdiri.

"Itu... hampir saja," kata Guru Su, menatap ke arah Pagoda Bintang di kejauhan yang kini menyala terang dengan lampu-lampu sihir. Para tetua terlihat terbang mengelilingi puncak pagoda, mencari sumber gangguan.

"Mereka tidak akan melacak sampai ke sini. Jimatku mengaburkan jejak spasial," jelas Guru Su.

Ye Chen bangkit berdiri, mengecilkan kembali pedangnya menjadi liontin kalung.

"Kita impas," kata Ye Chen. "Kau dapat jamurmu, aku dapat barangku."

Guru Su menatap Ye Chen dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Ye Chen... kau tahu, kau baru saja membuat keributan besar. Tapi aku suka gayamu."

Guru Su mendekat, menepuk dada Ye Chen pelan.

"Ingat janji kita. Kejadian malam ini tidak pernah terjadi. Jika ada yang bertanya, aku sedang mengajarimu... privat... tentang teori alkimia."

Ye Chen mengangkat alis. "Alasan yang buruk. Siapa yang akan percaya?"

"Semua laki-laki di akademi akan percaya," Guru Su mengedipkan sebelah matanya. "Dan mereka akan iri setengah mati padamu."

Guru Su berbalik dan melompat ke atas pohon bambu.

"Oh ya, satu hal lagi. Misi Ular Sanca Api-mu... hati-hati. Kudengar Wang Long menyewa pembunuh bayaran dari luar akademi untuk menyegatmu di Lembah Magma. Jangan mati, Partner. Aku masih ingin melihat seberapa jauh kau bisa melangkah."

Dengan itu, Guru Su menghilang dalam kegelapan malam.

Ye Chen berdiri sendirian di tepi danau. Angin malam menerpa wajahnya.

"Pembunuh bayaran?" Ye Chen menyentuh kalung pedangnya yang dingin.

"Bagus. Pedangku butuh darah segar sebelum mempelajari teknik Pembelah Langit."

Ye Chen berjalan masuk ke paviliunnya. Besok pagi, dia akan berangkat ke Lembah Magma.

Bukan untuk berburu ular.

Tapi untuk berburu manusia.

(Akhir Bab 33)

1
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos mantab Thor lanjut terus semangat semangat semangat
Aman Wijaya
mantab ye Chen semangat membara
Aman Wijaya
jooooz pooolll Ye Chen semangat bersama tim
Aman Wijaya
mantab ye Chen bantai tie Shan dan kroni kroninya.bikin kabut darah
Ip 14 PRO MAX
ok bntai,suka mcx kejam sadis
sembarang channel
ok siap
BoimZ ButoN
lanjutkan thhooor semangat 💪🙏
Aman Wijaya
jooooz pooolll Thor
sembarang channel
ok siap,mkasih masukannya🙏🙏🙏🙏
selenophile
bahasa tolong di perbaiki min..
Aman Wijaya
lanjut
Aman Wijaya
makin seru Thor 💪💪💪 terus
Aman Wijaya
bagus ye Chen semangat semangat
Aman Wijaya
jooooz jooooz pooolll lanjut
Aman Wijaya
joooooss joooooss pooolll lanjut
Aman Wijaya
makin seru ceritanya Thor lanjut terus semangat semangat semangat
sembarang channel: mksh untuk semuanya yang suka dengan ceritanya,jangan lupa kasih bintang 5 y🙏🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Aman Wijaya
mantab ye Chen lanjut terus
Aman Wijaya
top top markotop lanjut Thor
Aman Wijaya
mantab ye Chen babat semua anggota sekte pedang darah
Aman Wijaya
mantab ye Chen
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!