Akselia Kinanti terbangun dalam genangan darahnya sendiri. Tangannya meremas perut yang kram hebat.
"Kamu... harus bertahan," bisiknya pada perut yang mulai terasa dingin.
Ponselnya berdering. Notifikasi siaran langsung : Kevin Pratama & Karina Adelia - Live Engagement Party.
Jemarinya gemetar membuka video itu. Di layar, Kevin tersenyum lebar, merangkul pinggang Karina Adelia model terkenal dengan gaun putih yang berkilau. "Aku sudah lama menunggu momen ini," kata Kevin di depan ratusan tamu.
Akselia tertawa pahit. Darah masih mengalir dari tubuhnya.
"Ini pasti salah paham," gumamnya lemah. Tapi matanya yang mulai sayu menatap cincin murah di jarinya, cincin yang Kevin bilang 'sementara'.
Gelap.
Ketika matanya terbuka lagi, Akselia bukan lagi pelayan restoran lemah yang mencintai pria salah. Dia adalah mantan pelatih bela diri yang pernah bikin lawan-lawannya menangis minta ampun.
"Kevin Pratama... Karina Adelia..."
Senyumnya tajam. Berbahaya.
"Permainan baru saja dimulai."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21 - PILIHAN SULIT
PAGI HARI - DOJO PAK DHARMA
Akselia memukul samsak dengan keras berkali-kali, tanpa henti. Keringat membasahi seluruh tubuhnya tapi dia tidak peduli. Dia butuh melampiaskan kebingungan ini dengan cara yang dia kenal yakni kekerasan fisik.
Pak Dharma masuk, mengamati muridnya dari jauh. Setelah beberapa menit, dia menghampiri dan menahan samsak dengan satu tangan.
"Berhenti."
Akselia masih mau memukul tapi tangan Pak Dharma menangkap kepalan tangannya.
"Kamu akan lukai dirimu sendiri," katanya sambil melepas sarung tinju Akselia. Buku-buku jari Akselia sudah berdarah, kulit terluka karena pukulan terlalu keras.
"Aku tidak peduli," gumam Akselia.
"Tapi aku peduli." Pak Dharma memaksanya duduk, mengambil kotak P3K. "Sekarang cerita apa yang terjadi?"
Akselia menceritakan pertemuan dengan Karina, tawaran kerja sama yang gila, dan pesan dari Kevin.
"Dan kamu masih belum putuskan?" tanya Pak Dharma sambil membersihkan luka di tangannya.
"Aku tidak tahu lagi, Pak. Setiap pilihan terasa salah."
"Karena kamu pikir dengan logika, coba rasakan dengan hati. Keduanya bertentangan." Pak Dharma membalut tangannya dengan perban. "Logikamu bilang hancurkan Kevin, selesaikan balas dendam, lanjutkan hidup. Tapi hatimu..."
"Hatimu bilang apa?" Akselia menatap mentornya.
"Kamu yang tahu, bukan aku."
Akselia menunduk, menatap tangannya yang diperban. "Aku takut, Pak."
"Takut apa?"
"Takut kalau aku maafkan Kevin, mungkin aku dianggap lemah. Berarti semua yang dia lakukan padaku tidak ada artinya, berarti bayiku yang hilang... " suaranya bergetar, "...mati dengan sia-sia."
Pak Dharma meletakkan tangannya di bahu Akselia. "Memaafkan bukan berarti kamu lemah, justru butuh kekuatan lebih besar untuk memaafkan daripada membalas dendam."
"Tapi aku tidak tahu apakah aku punya kekuatan itu."
"Kamu punya, aku yakin itu." Pak Dharma tersenyum tipis. "Tapi, memaafkan juga bukan berarti kamu harus kembali bersama dia. Kamu bisa memaafkan dan tetap pergi. Memaafkan untuk dirimu sendiri, bukan untuk dia."
Kata-kata itu seperti menyalakan lampu di kegelapan pikiran Akselia.
"Memaafkan untuk diriku sendiri," ulangnya pelan.
"Ya. Lepaskan amarah bukan karena Kevin layak dimaafkan, tapi karena kamu layak untuk bebas dari amarah itu."
***
SIANG HARI - KANTOR MAHENDRA GROUP
Akselia kembali kerja setelah absen dua hari. Arjuna langsung memanggilnya ke ruangan.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyanya khawatir saat melihat tangan Akselia yang diperban.
"Baik, Pak. Cuma latihan terlalu keras."
Arjuna tidak terlihat percaya tapi tidak mendesak. "Ada perkembangan dengan Kevin atau Karina?"
"Karina minta aku kerja sama. Kevin..." Akselia ragu, "...Kevin kirim pesan, minta aku hati-hati dengan Karina."
"Dan kamu akan lakukan apa?"
Akselia menatap keluar jendela, melihat kota Jakarta yang sibuk. "Aku masih pikir, Pak. Tapi aku rasa, aku sudah tidak mau main permainan ini lagi."
Arjuna mengerutkan kening. "Maksudmu?"
"Maksudku... aku lelah, Pak. Lelah pura-pura jadi orang lain, lelah main manipulasi, lelah benci." Akselia menghadap Arjuna. "Aku mau jadi diriku sendiri lagi, siapa pun itu."
Arjuna tersenyum... senyum hangat yang jarang dia tunjukkan. "Aku bangga dengarnya. Tapi bagaimana dengan bukti yang kita punya? Bukti kejahatan Kevin?"
"Kirim ke polisi secara resmi, bukan ke media." Akselia menarik napas. "Biar hukum yang urus, aku tidak mau jadi algojo lagi."
"Kamu yakin? Kevin punya koneksi di mana-mana, dia bisa lolos."
"Mungkin. Tapi setidaknya aku tidak akan punya beban di hati bahwa aku menghancurkan dia dengan cara kotor." Akselia menatap tangannya yang terluka. "Aku sudah terlalu banyak melukai orang, termasuk diriku sendiri. Sekarang sudah waktunya untuk aku berhenti bersandiwara."
Arjuna mengangguk perlahan. "Baiklah, aku akan kirim buktinya ke polisi. Lewat jalur resmi."
"Terima kasih, Pak."
"Tidak. Aku yang harus terima kasih padamu." Arjuna berdiri, berjalan ke jendela. "Kamu ajari aku sesuatu bahwa balas dendam tidak selalu jawaban. Kadang keadilan yang lebih penting."
***
SORE HARI - TAMAN KOTA
Akselia duduk di bangku taman sendirian, menatap anak-anak yang bermain. Pikirannya melayang ke bayinya yang tidak sempat lahir, bayi yang tidak pernah dia lihat wajahnya.
"Maaf," bisiknya pada angin. "Maaf mama tidak bisa lindungi kamu."
Air matanya jatuh, tapi kali ini bukan air mata amarah. Air mata penerimaan.
Ponselnya berdering, Diana. "Selia! Akhirnya kamu angkat! Kenapa kamu tidak balas pesanku? Kita harus bertindak sekarang! Karina mulai bergerak, Kevin mulai curiga..."
"Diana," potong Akselia pelan. "Aku mau berhenti."
Hening.
"Apa? Berhenti? Maksudmu..."
"Aku tidak akan sebarkan bukti itu ke media, aku akan kirim ke polisi secara resmi. Dan aku..." Akselia menarik napas, "...aku mau lanjut hidup, tanpa dendam."
"Kamu gila?!" Diana berteriak. "Setelah semua yang kita rencanakan? Setelah semua usaha kita? Kamu mau nyerah begitu saja?"
"Bukan nyerah, tapi melepaskan." Akselia menutup mata. "Diana, aku mengerti kamu juga punya dendam ke Kevin. Tapi aku tidak bisa lanjutkan ini, aku sudah kehilangan diriku sendiri di tengah permainan ini."
"Kalau kamu berhenti, aku akan lakukan sendiri!" Diana terdengar putus asa. "Aku akan bocorkan semua ke media! Kevin akan hancur!"
"Lakukan kalau kamu mau, itu pilihanmu." Akselia membuka mata. "Tapi aku tidak akan terlibat lagi."
"Akselia..."
"Terima kasih untuk semua bantuanmu, Diana. Tapi ini berakhir di sini, untukku." Akselia menutup telepon sebelum Diana sempat membalas.
Dia duduk diam, merasakan beban besar terangkat dari pundaknya.
***
MALAM HARI - APARTEMEN KEVIN
Kevin duduk di sofa, menatap ponselnya. Tidak ada pesan dari Akselia sejak kemarin, dia khawatir... Khawatir Karina melakukan sesuatu, khawatir Akselia dalam bahaya.
Pintu apartemennya diketuk. Kevin membuka pintu dan tersentak.
Akselia berdiri di sana. Rambut berantakan tertiup angin, mata merah seperti habis menangis, tapi wajahnya... wajahnya tenang.
"Akselia..."
"Boleh aku masuk?" tanyanya pelan.
Kevin melangkah mundur, memberi jalan. Akselia masuk, berdiri di tengah ruangan yang dua minggu lalu dia datangi untuk makan malam romantis.
"Aku.... aku tidak menyangka kamu akan datang," kata Kevin, menutup pintu. "Aku pikir kamu..."
"Aku datang untuk bilang sesuatu." Akselia menghadapnya, menatap langsung ke matanya. "Dan aku mau kamu dengar tanpa menyela."
Kevin mengangguk, tidak berani bicara.
"Setahun lalu, kamu hancurkan aku. Kamu pakai aku, buang aku dan karena kamu, aku kehilangan bayiku. Bayi yang bahkan kamu tidak tahu ada." Akselia menarik napas, suaranya gemetar tapi tegas. "Rasa sakit itu, aku tidak akan pernah lupa. Tidak akan pernah hilang."
Kevin menunduk, tangan terkepal.
"Tapi..." Akselia melanjutkan, "...aku juga tidak akan biarkan rasa sakit itu kendalikan hidupku lagi. Aku tidak akan biarkan kamu bahkan bayangan kamu punya kekuatan atas diriku."
Kevin mengangkat kepala, menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Jadi aku datang untuk bilang..." Akselia menarik napas dalam, "...aku memaafkanmu."
Kevin tersentak, seperti tidak percaya apa yang dia dengar. "Apa..."
"Aku memaafkanmu," ulang Akselia lebih tegas. "Bukan karena kamu layak dimaafkan. Tapi karena aku layak untuk bebas dari amarah ini."
Air mata jatuh dari mata Kevin. "Akselia... aku.. terima kasih."
"Tapi," Akselia mengangkat tangan, menghentikannya, "memaafkan bukan berarti aku melupakan. Bukan berarti aku mau kembali bersamamu. Dan bukan berarti aku percaya kamu bisa berubah."
"Aku akan buktikan aku bisa berubah..."
"Kamu tidak perlu buktikan ke aku. Buktikan ke dirimu sendiri." Akselia berbalik ke pintu. "Aku sudah kirim semua bukti kejahatanmu ke polisi. Lewat jalur resmi. Apa yang terjadi setelah ini, bukan urusanku lagi."
Kevin tidak mencoba menghentikannya. "Kamu... kamu akan kemana sekarang?"
Akselia berhenti di ambang pintu, tidak menoleh. "Maju. Tanpa bayang-bayang masa lalu. Tanpa dendam. Tanpa kamu."
"Aku..." suara Kevin pecah, "...aku akan selalu menyesal. Seumur hidupku."
"Aku tahu." Akselia akhirnya menoleh, tersenyum tipis... senyum yang tidak pahit, tidak penuh benci, tapi damai. "Selamat tinggal, Kevin Pratama. Semoga kamu temukan kebahagiaan yang kamu cari."
Dia keluar, menutup pintu pelan.
Di koridor, Akselia bersandar di dinding, menarik napas panjang.
Selesai.
Benar-benar selesai.
Dan untuk pertama kalinya dalam setahun, dia merasa bebas.
author terbaik.. 😍
ayo karina hancurkan sekalian saja akselia kn bodoh dia biar tamat.
Apalagi sudah bab 19 ya, akan ada perhitungan retensi di bab 20. Tolong dengan sangat ya... sahabat pembaca untuk segera dilanjut bacanya.
Terima kasih.
kok Kevin gak mengenali selia sekarang?