kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.
"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Setelah kepergian Alendra yang terburu-buru menembus sisa gerimis pagi, keheningan di gudang tua itu terasa begitu mencekam. Tono mendekati putrinya dengan tangan gemetar. Ia menyelimuti tubuh Patricia dengan sisa kain kering yang ia temukan, namun jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat bercak darah yang cukup banyak di bawah kaki putrinya serta di atas jaket Alendra yang dijadikan alas.
Tono tahu, putrinya telah kehilangan mahkota paling berharganya dalam situasi yang paling tragis, meski itu demi nyawanya.
Tanpa pikir panjang, Tono menggendong Patricia yang masih tak sadarkan diri. Tubuh gadis itu lemas, wajahnya sepucat kertas, dan napasnya sangat tipis. Tono berlari ke arah jalan raya, beruntung sebuah mobil pickup kosong lewat dan bersedia mengantar mereka ke rumah sakit terdekat.
"Nak.. bangun Nak... Maafin Papa," tangis Tono pecah di dalam mobil pickup itu sambil mendekap kepala Patricia.
Sesampainya di IGD, para perawat langsung sigap menangani Patricia. Tono terduduk lemas di bangku tunggu, pakaiannya kotor dan basah kuyup. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan kondisi putrinya tanpa merusak nama baik pria yang baru saja menjadi menantunya itu.
Beberapa jam kemudian, seorang dokter wanita keluar dengan wajah serius menemui Tono.
"Keluarga dari Nona Patricia?" tanya dokter itu .
Tono langsung berdiri mendekat
"Saya ayahnya, Dokter. Bagaimana keadaan anak saya?"
"Kondisinya sangat lemah. Racun dari obat itu sudah berhasil dinetralisir oleh sistem tubuhnya, namun terjadi robekan yang cukup hebat di area kewanitaannya karena dilakukan secara paksa atau dalam kondisi medis yang darurat. Dia kehilangan banyak darah. Selain itu, kami menemukan beberapa luka memar di tangan dan kepalanya akibat dia menyakiti diri sendiri semalam."
Tono hanya bisa menutup wajahnya dengan kedua tangan. Hancur hati seorang ayah mendengar kenyataan bahwa putri yang sudah bertaubat dan menjaga diri dengan sangat baik, harus mengalami nasib setragis ini.
Tono terduduk lesu,tak memberinya kabar apapun pada istrinya karena ponselnya tertinggal di mobil di dekat tempat semalam...
Di ruang bangsal kelas tiga, Patricia perlahan membuka matanya. Langit-langit putih rumah sakit menyambut penglihatannya yang masih kabur. Rasa nyeri yang luar biasa menyerang bagian bawah tubuhnya, membuatnya merintih kesakitan.
" papa...!" ucap Patricia lemah.
Tono langsung berdiri dan menggenggam tangan putrinya. "Cia ....Kamu sudah aman, Nak"
Ingatan semalam mulai berputar seperti film rusak di kepala Patricia. Hujan, gudang, rasa panas yang membakar, dan... seorang pria. Ia ingat suara berat yang menenangkan, ia ingat aroma parfum maskulin yang bercampur bau hujan, dan ia ingat rasa sakit yang luar biasa saat pria itu menyelamatkannya".
"Pa... pria itu... siapa dia? Kenapa... kenapa papa... membiarkannya..hiks, harusnya biarkan saja Cia mati...hiks....?" isak Patricia menyayat hati.
Tono menunduk dalam, air matanya jatuh ke tangan Patricia, melihat putrinya hancur, satu-satunya kecuian yang di jaga hancur dalam waktu semalam walaupun itu dengan suami dadakan nya, yang membuat Tono semakin hancur kalau Patricia tahu, bahwa laki-laki itu sudah menikah dengan orang lain..."Nak, Papa terpaksa. Kamu hampir mati karena obat itu. Bapak tidak punya pilihan, Papa tidak ingin kau pergi nak, kita baru berkumpul selama 2 tahun...papa tidak mau ambil resiko, dan Papa sudah menikahkanmu dengannya semalam. Dia suamimu, Nak... Dia pria baik, dia menyelamatkan nyawamu."
Patricia terdiam. Ia menatap langit-langit dengan tatapan kosong. Air mata mengalir deras dari sudut matanya. Ia sudah bertaubat, ia sudah berusaha menjadi wanita salihah, namun takdir seolah mempermainkannya dengan merenggut kesuciannya di sebuah gudang tua oleh pria yang bahkan tidak ia kenali wajahnya.
Ia merasa kotor. Ia merasa tidak pantas lagi mendapatkan masa depan yang baik.
"Kenapa dia tidak membiarkanku mati saja, Pa? Kenapa dia harus menjadikanku istrinya dengan cara seperti ini?" Isak Patricia dengan suara lemah.
Patricia meringkuk, membelakangi ayahnya, dan menangis sesenggukan. Ia belum tahu bahwa pria yang semalam merusaknya adalah Alendra, pria yang selama dua tahun ini ia rindukan sampai ia menolak Bima dan ia sesali perbuatannya pada Alendra dulu.
___
Langkah kaki Alendra menggema di koridor rumah sakit dengan irama yang kacau. Jantungnya berdegup kencang, seolah ingin melompat keluar dari dadanya. Bayangan darah yang berceceran di gudang tua, laporan Ardiansyah tentang hilangnya jejak mereka, hingga rasa panas tubuh wanita semalam masih membekas di indranya.
Ia berhenti di depan pintu kamar bangsal kelas tiga yang ditunjukkan oleh resepsionis. Napasnya tersengal. Perlahan, ia mendorong pintu kayu itu.
Di dalam ruangan yang diterangi cahaya lampu neon yang terang, Alendra terpaku. Di atas ranjang rumah sakit yang sederhana, seorang wanita sedang bersandar pada bantal. Wajahnya pucat, ada perban kecil di keningnya, dan matanya sembab.
Namun, saat wanita itu menoleh ke arah pintu,
Deg....
Dunia Alendra seolah berhenti berputar.
Tidak ada lagi kegelapan gudang. Tidak ada lagi remang-remang korek api. Di depannya, dalam cahaya yang begitu jelas, adalah wajah yang menghantuinya selama dua tahun terakhir. Wajah primadona yang dulu menghinanya, wajah yang diam-diam ia cari di setiap sudut kota, wajah yang fotonya masih tersimpan rapi di dompetnya.
"Cia... Patricia?" ucap Alendra dengan suara bergetar.
Patricia tersentak. Ia mengenali suara itu. Suara berat yang semalam membisikkan janji di tengah badai, suara yang dulu sering menggoda dengan kopi plastik di kampus. Ia menatap pria yang berdiri di pintu,pria gagah dengan jas mahal yang kini tampak sangat berantakan.
Bibir Patricia bergetar hebat "Alendra? Kamu... kamu pria itu? Pria di gudang itu..."
Alendra melangkah mendekat dengan lutut yang terasa lemas. Ia ingin memeluknya, ia ingin menangis karena akhirnya menemukan mentari yang hilang, namun ia teringat apa yang telah ia lakukan semalam. Ia teringat rasa sakit yang ia berikan pada tubuh suci itu di tengah kegelapan.
"Maafkan aku, Cia... Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau itu kamu. Aku bersumpah, aku hanya ingin menyelamatkan nyawamu." ucap Alendra merasa bersalah...
Patricia menangis terisak, menutupi wajahnya dengan tangan yang kasar karena kerja keras. "Kenapa harus kamu, Alen? Kenapa kamu melihatku dalam kondisi sehina ini? Hiks... Setelah dua tahun aku menghilang untuk menebus dosaku... kenapa tuhan mempertemukan kita dengan cara yang merusakku?"...
Greppp.....
Alendra memeluk tubuh ringkih Patricia dengan erat...tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulut ke-dua nya, hanya kesakitan yang ada di hati keduanya...
Patricia menangis tersedu-sedu, begitu pun Alendra juga menangis, kenyataan pahit yang ada saat ini begitu menghantam ulu hati nya yang terdalam..., disaat ia menemukan mentari nya yang hilang,ia juga sudah terikat dengan seseorang...
Meski ia sudah menghapus nama Patricia dan menggantinya dengan Kirana, namun setelah melihat Patricia ada di depannya,rasa itu langsung subur dengan sendirinya.