Berdasarkan kisah nyata.
Novel ini adalah seri kedua dari novel TIRAKAT. Menceritakan tentang kehidupan Nisa (Aku) setelah kejadian mengerikan yang hampir saja merenggut nyawa Bapaknya, yang telah dikisahkan pada seri sebelumnya.
Apakah Nisa melanjutkan tirakatnya?
Bagaimana kehidupan berjalan berikutnya?
Bagaimana pandangan orang-orang di sekitarnya sekarang?
Dan... Apakah Bapak bisa kembali normal?
SELAMAT MEMBACA... ☺️☺️☺️
.
.
.
!!! DISCLAIMER!!!
Seluruh nama tokoh, nama tempat, nama daerah, telah disamarkan. Apabila ada kesamaan, harap dimaklumi. Dan novel ini ditulis bukan untuk menyudutkan seseorang, tokoh, tempat, daerah, agama, atau kepercayaan tertentu. Murni hanya berbagi kisah dengan para pembaca sekalian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
FARHAN HILANG
Aku yang mendengar semua kabar dari orang tua Farhan itu, menjadi sangat khawatir. Dan juga aku merasa sangat menyesal, kenapa aku tak memaksa saja tadi untuk mengantar Farhan sampai di rumahnya. Kenapa aku malah membiarkan dia pulang sendirian, hanya karena alasan rumahnya sudah dekat. Hanya tinggal satu tikungan lagi masuk gang rumahnya.
"Pak, Bu, saya minta maaf... Saya tadi udah berusaha buat paksa Farhan supaya mau saya anter sampe di rumah." ucapku sambil memegang tangan si ibu.
"Maafin saya ya Bu, Pak... Saya malah biarkan Farhan pulang sendiri." tambahku.
"Kenapa sih Bu Nisa malah tinggalin anak saya sendirian buat pulang?" si ibu bertanya, tapi terasa seperti menyalahkanku. Meski aku tahu, memang aku bersalah.
"Bu, bukan maksud saya ninggalin Farhan buat pulang sendiri... Tapi ---" belum selesai aku berkata,
"Ya terus kenapa? Di mana anak saya sekarang Bu?!" si ibu segera menyela perkataanku.
"Bu, maafin saya..." ucapku sambil masih memegangi tangan si ibu, namun segera ia lepaskan. Si ibu merasa marah, dan aku tahu itu.
Tiba-tiba, terdengar suara bapakku dari dalam kamarnya. "Nisa? Kamu ngobrol sama siapa? Siapa yang dateng malem-malem begini?"
Dan tampak bapakku membuka pintu. Berjalan sempoyongan dengan tongkatnya, karena masih merasakan kantuk yang berat.
"Loh, Pak Hasan? Bu Wati?" ucap bapakku sedikit kaget sambil menatap ke dua orang tua Farhan dari depan pintu kamarnya.
"Ada apa Pak, Bu, malem-malem gini dateng ke sini?" tanya bapakku.
"Anak saya hilang Pak Rusdi!" ucap si ibu sambil menatap agak tajam ke bapak, sambil menangis tersedu.
"Astaghfirulloh, hilang? Hilang gimana maksudnya Bu?" tanya bapak dengan kaget.
"Ini, gara-gara anak Pak Rusdi, anak saya jadi hilang! Sampe tengah malam begini dia belum pulang!" jawab Bu Wati semakin menyalahkan aku.
"Bu, saya sama sekali gak bermaksud bikin Farhan hilang Bu. Saya gak ada maksud kayak gitu... Ibu jangan ngomong gitu ke Bapak saya." bantahku.
"Hus! Sudah Bu, sudah..." Pam Hasan mencoba menenangkan istrinya itu.
"Lagian barusan Bu Nisa juga udah jelasin kan. Dia udah berusaha anter Farhan buat pulang, tapi Farhan sendiri yang gak mau dianter sampe rumah Bu..." tambah Pak Hasan sambil memeluk istrinya.
"Terus, Farhan di mana Pak? Farhan di mana?" ucap istrinya itu semakin tersedu-sedu tangisannya.
Tiba-tiba... Mas Padi datang...
"Ada apa ini Pak Hasan? Bu Wati? Saya denger dari rumah, kok ribut-ribut gini di sini?" tanya Mas Padi sambil mengerutkan dahi penuh tanda tanya.
"Farhan... Hilang Mas..." jawab Pak Hasan.
"Astaghfirulloh... Kok bisa?" Mas Padi terkejut.
"Gara-gara Bu Nisa! Farhan hilang!" ucap Bu wati.
"Astaghfirulloh, Bu Wati, saya gak bermaksud begitu Bu!" akhirnya nada suaraku agak meninggi.
"Apa kamu?! Jadi guru ngaji tapi gak becus!" ucap Bu Wati.
"Hus!!! Bu! Sudah! Jangan begitu, gak enak kalo sampe di denger tetangga Bu Nisa yang lain..." sekali lagi, Pak Hasan mencoba menenangkan istrinya itu.
"Pak Hasan, Bu Wati, sebaiknya sekarang pulang dulu. Sudah lewat tengah malam begini. Insyaa Alloh besok kita cari bareng-bareng Farhan ya. Siapa tau dia main ke rumah temannya yang lain, tapi gak bisa pulang karena hujan." Mas Padi mencoba membantu menenangkan suasana.
Aku yang semakin tak karuan hatinya, menoleh ke arah bapak yang masih berdiri agak lemas di depan pintu kamarnya. Aku segera berjalan ke arah bapak.
"Pak... Nisa gak bikin Farhan hilang Pak. Nisa udah anter dia pulang tadi." ucapku sambil memegang tangan bapak.
"Sudah Nis, sudah. Tenang dulu. Jangan panik." jawab bapakku sambil menganggukkan kepalanya pelan. Mencoba menenangkan diriku juga.
"Ayok Pak Hasan, Bu Wati, saya anter pulang ya... Banyak berdoa saja dulu. Jangan langsung terbawa prasangka jelek sama Nisa. Semoga besok pagi Farhan pulang ke rumah, bahkan sebelum kita cari." kata Mas Padi.
"Ya sudah, iya Mas Padi, terima kasih ya. Maaf kami udah bikin Mas Padi juga jadi kebangun dari rumah." ucap Pak Hasan.
"Ayok Bu, kita pulang dulu yuk." ajaknya kepada sang istri yang masih menangis.
Akhirnya... Mereka berdua diantar pulang oleh Mas Padi. Dan aku mulai menangis di samping bapakku. Masih posisi berdiri.
Ketika kondisi sudah lebih tenang, dan pintu depan sudah dikunci lagi olehku. Bapak tampak mengajakku mengobrol sebentar di ruang tamu.
"Sini Nis, duduk sini. Cerita sama Bapak, ada apa sebenarnya sama Farhan itu?"
"Begini Pak, tadi sore kan pas udah selesai ngaji, langit udah mendung banget. Nisa anterin Farhan pulang Pak..."
"Iya... Terus?"
"Cuma... Aku gak anter dia sampe rumahnya persis..."
"Sampe mana kamu anterin anak itu?"
"Cuma sampe di tikungan ke dua sebelum rumahnya itu loh Pak... Karena Farhan juga maksa buat pulang sendiri. Dia juga bilang, gak mau kalo aku sampe kehujanan di jalan gara-gara anterin dia."
"Jadi, kamu tinggal dia pulang sendiri? Di tikungan itu?" tanya bapakku sambil sedikit maju wajahnya.
"Iya Pak... Karena hujan juga udah turun. Jadi Nisa tinggal Farhan pulang sendirian."
"Yaa Alloh Nisa... Aduh..." respon bapakku sambil nampak menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik kamu kehujanan basah kuyup tadi sore itu, tapi kamu pastikan Farhan sampe di rumahnya. Toh memang kan turun hujan juga walau kamu buru-buru pulang kan?!" kata bapak.
Aku hanya bisa menunduk. Memandangi kakiku sendiri. Sambil merasakan penyesalan.
"Lagian kamu itu gimana sih pikirannya? Seandainya tadi kamu anter Farhan pulang ke rumahnya, kalau pun hujan, kan kamu bisa berteduh dulu di rumah Farhan! Kamu gak basah kuyup tadi pas pulang, Farhan dijamin sampe rumah juga." ucapan bapak terus menghujam hatiku.
"Kalo udah kayak gini gimana?" kalimat pertanyaan yang membuatku semakin tercekat tenggorokkanku.
Aku mengangkat wajahku, sambil mengalir air mataku. Aku menatap wajah bapak. Aku ingin berkata, namun terasa tertahan di tenggorokanku.
"Apa? Mau ngomong apa? Gimana kalo udah kayak gini? Bukan cuma kamu yang panik, Bapak juga! Tau kamu?!" semakin nampak raut wajah marah bapakku itu.
"Hiks... Hiks... Maafin aku Pak..." ucapku sambil menundukkan kepalaku lagi.
Singkat cerita, setelah bapak mengungkapkan kekecewaan dan kemarahannya padaku, dia langsung beranjak menuju kamarnya untuk tidur lagi.
Aku masih di ruang tamu. Tertunduk lemas. Menangis pelan. Dan terlebih lagi di pikiranku adalah Farhan. Sambil teringat lagi kejadian yang aku alami ketika berteduh di pos pemakaman itu.
"Apa maksudnya sosok yang mirip Farhan itu bilang kalo dirinya takut?" ucapku dalam hati.
Aku mengusap air mataku. Dan berpikir sejenak...
Apakah telah terjadi sesuatu yang buruk pda Farhan?
Kemana dia sekarang?
Ada di mana dia?
Semua pertanyaan itu yang berputar dalam kepalaku. Bercampur penyesalan. Bercampur kekhawatiran.
"Farhan... Maafin Ibu..." ucapku dalam hati lagi.
Aku segera beristighfar, dan memanjatkan do'a kepada Alloh agar Farhan baik-baik saja. Dan semoga juga dia sedang ada di rumah temannya. Atau tetangganya. Karena harus berteduh dan belum pulang...