Andini (23) menganggap pernikahannya dengan Hilman (43) adalah sebuah penghinaan. Baginya, Hilman hanyalah "pelayan gratis" yang membiayainya bergaya hidup mewah. Selama tujuh tahun, Andini buta akan pengorbanan Hilman yang bekerja serabutan demi masa depan ia dan anak nya. Namun, saat kecelakaan merenggut nyawa Hilman, Andini baru menyadari bahwa kemewahan yang ia pamerkan berasal dari keringat pria yang selalu ia hina. Sebuah peninggalan suaminya dan surat cinta terakhir menjadi pukulan telak yang membuat Andini harus hidup dalam bayang-bayang penyesalan seumur hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gibrant Store, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sisa Bayangan Palsu
Andini memejamkan matanya rapat-rapat. Di dalam kegelapan di balik kelopaknya, ia mencoba memanggil kembali memori tentang tangan Hilman. Tangan yang kasar, penuh kapalan, dan sering berbau oli, namun selalu mendarat dengan begitu lembut di puncak kepalanya setiap kali ia merajuk. Ia merindukan suara serak Hilman yang selalu berkata, "Sabar ya, Dek. Mas usahakan semuanya buat kamu." Dulu, kalimat itu terdengar seperti penghinaan di telinga Andini. Ia menganggapnya sebagai janji kosong seorang pecundang. Namun kini, sambil mendekap kotak. Harga dari nyawa suaminya—kalimat itu terasa seperti sembilu yang mengiris jiwanya hingga lumat.
"Aku nggak butuh uang ini, Mas... aku cuma mau tanganmu," bisik Andini ke arah bantal yang masih menyisakan aroma minyak kayu putih suaminya. Air matanya meresap ke dalam kain bantal yang sudah menipis itu.
Tiba-tiba, keheningan di dalam kamar itu dipecah oleh suara getaran ponsel yang keras di atas meja rias. Andini tersentak. Itu adalah ponsel lamanya yang layarnya sudah retak, ponsel yang jarang ia gunakan lagi sejak Reno memberinya harapan akan kemewahan. Ada sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, namun isinya adalah sebuah tautan berita daring yang dikirimkan oleh salah satu teman sosialitanya yang dulu sering mengejek kemiskinan Hilman.
Dengan jari gemetar, Andini membuka tautan itu. Judul berita utama di layar ponsel itu seketika membuat dunianya yang sudah hancur, kini rata dengan tanah.
"Buron Kasus Penipuan Investasi Properti Bodong, Reno Adiansyah, Ditangkap di Bandara Saat Hendak Kabur ke Luar Negeri."
Di bawah judul itu, terpampang foto Reno yang sedang diborgol, wajahnya yang biasanya tampak berwibawa dan tampan kini tertunduk lesu di balik rompi oranye. Di dalam berita tersebut disebutkan bahwa Reno adalah seorang penipu ulung yang memang mengincar wanita-wanita yang dianggap memiliki simpanan atau akses pada aset tertentu untuk menutupi hutang judinya yang mencapai miliaran rupiah.
Andini melepaskan ponselnya hingga terjatuh ke lantai. Tubuhnya meluncur lemas dari tepi kasur.
"Jadi... semuanya bohong?" raung Andini di tengah kesunyian kamar yang gelap.
Rasa sakit yang menghujam jantungnya kali ini berkali-kali lipat lebih hebat daripada rasa lapar. Ia teringat betapa ia telah menghina Hilman di depan Reno. Ia teringat bagaimana ia menyebut Reno sebagai "pria sejati" sementara ia meludahi pengabdian Hilman yang sedang meregang nyawa. Reno hanya menginginkannya karena ia mengira Andini tahu letak aset rahasia Hilman, sementara Hilman menyerahkan seluruh organ tubuhnya hanya agar Andini tidak perlu menanggung hutang.
Cermin yang Pecah
Andini merangkak menuju cermin meja riasnya. Di bawah keremangan cahaya lampu jalan yang masuk lewat celah jendela, ia menatap bayangannya sendiri. Ia melihat seorang wanita yang tampak begitu asing. Wajah yang cantik itu kini tampak busuk di matanya sendiri. Ia melihat gincu merah yang ia beli dengan uang "darurat" Hilman—uang yang seharusnya bisa digunakan Hilman untuk membeli obat batuknya.
"Kamu pembunuh, Andini," bisiknya pada bayangan di cermin. "Kamu membunuh pria yang paling mencintaimu demi seorang iblis."
Ia mulai histeris. Ia menyambar botol parfum mahal pemberian Reno—yang kini ia sadari mungkin dibeli dari uang hasil menipu wanita lain—dan membantingnya ke cermin.
Prang!
Cermin itu pecah menjadi seribu keping, persis seperti hidupnya. Namun tak sampai di situ, di dalam kotak juga terdapat secarik kertas tagihan dari sebuah klinik cuci darah dan sebuah catatan medis rahasia atas nama Hilman.
Andini membaca tanggalnya. Ternyata, selama setahun terakhir, Hilman hidup dengan ginjal yang tidak berfungsi karena beban kerja yang terlalu berat dan kurangnya nutrisi. Hilman seharusnya menjalani cuci darah setiap minggu.
Namun, di bawah tagihan itu, ada catatan tangan Hilman yang sangat rapi:
"Biaya cuci darah: 1,5 juta per kedatangan. Kalau Mas cuci darah, uang tabungan buat rumah Andini bakal berkurang. Mas kuat kok. Mas masih bisa tahan sakitnya asal Andini bisa beli baju baru bulan ini."
Andini menjerit, sebuah jeritan yang seolah tidak berasal dari tenggorokan manusia, melainkan dari lubang terdalam penderitaan. Ia memukuli dadanya sendiri. Ia teringat bulan lalu ia merengek meminta baju baru senilai tiga juta rupiah untuk datang ke acara reuni, dan Hilman memberikannya sambil tersenyum meski wajahnya saat itu sudah menguning karena racun di tubuhnya yang tak terbuang.
"Kenapa kamu nggak bilang, Mas?! Kenapa kamu biarkan aku jadi monster?!" raung Andini sambil memeluk dokumen-dokumen medis itu.
Setiap lembar uang yang ia habiskan untuk bergaya di depan Reno adalah tetes darah yang seharusnya bisa menyambung nyawa Hilman. Setiap tawa yang ia bagikan dengan Reno adalah sisa napas Hilman yang ia curi secara paksa.
Langkah di Atas Duri
Andini berdiri, ia tidak peduli lagi pada kakinya yang terluka karena pecahan kaca cermin. Ia berjalan menuju dapur dan terduduk di depan lemari makan. Ia meraba-raba bagian bawah lemari itu, berharap ada keajaiban, berharap Hilman muncul dan mengatakan bahwa ini semua hanyalah mimpi buruk. Namun, yang ia temukan hanyalah sebuah kotak korek api kayu yang tertinggal.
Ia menyalakan satu batang korek api. Dalam cahaya kecil yang bergoyang itu, ia melihat ke arah sudut dapur. Di sana, terdapat sebuah gantungan kecil tempat Hilman selalu menaruh topi pabriknya. Topi itu masih ada di sana, penuh debu dan bau keringat.
Andini mengambil topi itu, memeluknya, dan menghirup aromanya sedalam mungkin. Ia menangis hingga air matanya habis, hingga yang keluar hanyalah suara isak yang kering dan menyakitkan. Kemudian ia teringat wajah Syifa. Syifa yang sekarang membencinya. Syifa yang kehilangan pahlawannya?