Alvaro Rayhan, seorang fotografer freelance yang biasa merekam kehidupan orang lain, tidak pernah mengira bahwa suatu sore yang biasa di sebuah kafe kecil akan membawa perubahan besar dalam hidupnya.
Di bawah sinar senja yang lembut dan wangi kopi, ia melihat Aurellia Kinanti—seorang karyawan kafe dengan senyum yang hangat, dan momen itu tertangkap oleh kameranya tanpa ada rencana sebelumnya.
Perjumpaan singkat tersebut menjadi permulaan dari perjalanan emosional yang berlangsung perlahan, tenang, dan penuh keraguan. Alvaro, yang selalu menutupi perasaannya dengan lensa kamera, harus belajar untuk menghadapi ketakutannya akan kehilangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lanaiq, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nara
Siang itu, Aurellia baru selesai melipat seragam kerjanya saat Nara masuk ke kamar tanpa meminta izin, seperti biasa. Namun kali ini, wajah adiknya tampak penuh rencana—matanya berkilau, serta senyumnya terlihat terlalu mencolok untuk diabaikan.
“Kak,” ucap Nara sambil duduk di kursi belajar. “Aku mau ngobrol. ”
Aurellia melirik sekilas. “Kalo mau ngobrol tapi wajahmu gitu, biasanya bukan ngobrol biasa. ”
“Tenang aja. Ini serius,” Nara bersandar lalu menggenggam tangan. “Tentang kak Alvaro. ”
Mendengar nama itu, Aurellia segera berhenti beraktivitas. Ia menoleh pelan. “Ada apa lagi? ”
“Ada apa lagi? Aku kan udah kenal sama dia,” jawab Nara cepat. “Dia udah datang ke rumah. Ngobrol sama ibu. Makan bareng. Bahkan bantu mengangkat galon. ”
Aurellia tertawa kecil. “Terus? ”
“Terus aku pengen kenal sama dia lebih baik,” Nara mengatakan sambil mengangkat bahu. “Bukan cuma versi ‘pacarnya kakakku yang sopan di depan orang tua’. Yang aku mau adalah dia yang santai. Yang ketawa. Yang usil. ”
Aurellia menghela napas. “Nar, kamu itu—”
“—penasaran, iya, aku tau,” potong Nara. “Itu kan hal yang wajar? ”
Aurellia duduk di tepi ranjang. “Kakak cuma khawatir kamu berlebihan. Alvaro itu sibuk. ”
“Justru karena dia sibuk, kita kan cari waktu yang santai,” kata Nara dengan semangat. “Ayo ajak dia jalan bertiga. Ke tempat yang biasa. Yang nggak formal. ”
“Jalan ke mana? ”
“Ke taman kota. Atau ke galeri kecil. Atau sekadar jajan sore,” Nara mulai menghitung dengan jari-jari tangannya. “Aku pengen ngeliat dia di luar rumah dan kafe. ”
Aurellia terdiam. Ia menyadari Nara tidak memiliki niat buruk. Sejak Alvaro berkunjung pertama kali, sambutan hangat dari Bu Dewi dan segudang pertanyaannya—Nara terlihat lebih melindungi sekaligus penasaran. Namun rasa takut mengganggu Alvaro itu nyata.
“Dia nggak suka dipaksa-paksa,” ucap Aurellia pelan.
Nara mendekat. “Kak. Dia datang ke rumah itu atas kehendaknya sendiri. Artinya dia mau. Aku cuma pengen kenal kak Alvaro lebih lanjut. Apa itu salah? ”
Aurellia menggigit bibirnya. “Aku bakal tanya sama dia dulu. ”
“Setuju,” Nara mengangkat jempol. “Kalo dia nolak, aku nggak akan maksa. ”
Sore itu, Aurellia duduk di bangku kecil di dapur sambil memegang ponselnya. Jarinya mengambang di atas layar. Ia mengetik lalu menghapusnya. Mengetik lagi, penuh keraguan.
Akhirnya:
Aurellia:
Var, Nara ingin ajak kamu jalan santai bareng. Dia bilang udah kenal sama kamu di rumah, tapi pengen lebih deket. Kalo kamu capek atau ngerasa nggak enak, bilang aja. Aku nggak mau maksa.
Belum sampai satu menit, balasan muncul.
Alvaro:
Rel… jujur? Aku seneng banget bacanya.
Aurellia terkejut.
Aurellia:
Beneran?
Alvaro:
Iya. Aku ngerasa diterima waktu ke rumah kamu. Nara itu ramah banget, Bu Dewi juga. Kalo bisa lebih akrab, kenapa enggak?
Aurellia tersenyum kecil.
Aurellia:
Aku takut kamu anggap ini sebuah kewajiban.
Alvaro:
Kalo itu ngerasa kayak kewajiban, pasti berat. Ini nggak. Ini kayak… kesempatan.
Pernyataan itu membuat hati Aurellia terasa hangat.
Aurellia:
Oke. Nanti aku atur jadwalnya.
Alvaro:
Aku bakal ikut kamu. Kapan saja.
“DIA MAU? ” Nara hampir berteriak saat Aurellia memberikan kabar itu.
“Pelan,” Aurellia menepuk lengannya. “Ya, dia mau. ”
Nara tersenyum lebar. “Aku udah tau. ”
“Kamu tau apanya? ”
“Tau lah kalo dia orangnya tulus,” jawab Nara santai. “Kalo tidak tulus, nggak mungkin dia ngerasa nyaman di rumah. ”
Aurellia menahan senyum. “Kamu ini sok bijak. ”
“Belajar dari ibu,” sahut Nara dengan cepat.
Hari yang ditentukan adalah Minggu sore. Mereka memilih taman di kota yang tidak jauh dari rumah—ada kedai kopi kecil, bangku kayu, dan jalur pejalan kaki yang teduh. Sederhana. Rileks.
Alvaro tiba tepat waktu, mengenakan kaus sederhana dan sepatu kets yang sudah sering digunakannya. Ia membawa kamera kecil—bukan perangkat kerja—lebih kepada kebiasaan ketimbang kebutuhan.
“Hai,” sapa Aurellia.
“Hai,” jawab Alvaro, senyum langsung muncul.
Nara muncul dari belakang Aurellia. “Halo lagi, Kak Alvaro. ”
“Halo, Nara,” Alvaro sedikit tertawa. “Siap buat jalan-jalan? ”
“Siap,” Nara mengangguk dengan penuh keyakinan. “Hari ini aku pengen ngeliat kakak dalam suasana santai. ”
“Waduh,” Alvaro berpura-pura cemas. “Versi santai aku banyak ngeluhnya. ”
“Cocok,” Nara membalas. “Aku suka yang apa adanya. ”
Mereka berjalan di sepanjang taman. Percakapan mengalir ringan—tentang pekerjaan Alvaro, tentang shift Aurellia, dan hal-hal kecil yang biasanya terabaikan. Nara sesekali melontarkan pertanyaan mendadak.
“Kak Alvaro, kalo kamu capek, apa yang kamu lakuin? ”
“Biasanya aku motret hal-hal sepele,” jawab Alvaro.
“Kayak gimana? ”
“Bayangan di lantai. Cangkir kopi yang kosong. Orang yang lewat. ”
Nara melirik kakaknya. “Makanya kakakku sering difoto diam-diam. ”
Aurellia menepuk lengan Nara. “Nar. ”
Alvaro tertawa. “Tenang, aku minta izin dulu kok. ”
Mereka duduk di bangku kayu. Aurellia pergi membeli minuman, meninggalkan Alvaro dan Nara berdua sementara. Nara menoleh, suaranya menurun.
“Kak Alvaro,” katanya. “Makasih ya. ”
Alvaro terkejut. “Makasih buat apa? ”
“Karena udah buat kakakku keliatan bahagia,” jawab Nara dengan jujur. “Aku jarang ngeliat dia seneng banget kayak gitu. ”
Alvaro terdiam sejenak, lalu mengangguk pelan. “Aku juga banyak belajar dari dia. ”
Ketika Aurellia kembali, ia melihat mereka berdua tertawa kecil. Ada perasaan lega yang sulit dijelaskan. Bukan rasa cemburu. Bukan rasa takut. Lebih kepada perasaan aman—bahwa orang yang dia pilih, dan orang yang dia cintai, dapat berada di ruang yang sama tanpa jarak.
Sore itu berlalu perlahan. Tanpa agenda besar. Tanpa kesan yang dipaksakan. Hanya langkah-langkah kecil menuju kedekatan yang lebih sejati—sebagai pasangan, sebagai keluarga kecil yang sedang berusaha saling mengenal.
Malam itu, Alvaro tiba di kos dengan langkah yang lebih ringan dari biasanya. Ia bahkan tidak langsung masuk ke dalam kamar. Ia duduk sebentar di teras kecil di depan kos, menurunkan tas kameranya, lalu menatap jalan yang mulai sepi. Tawa yang tersisa masih terasa hangat di dadanya, seolah enggan menghilang.
“Gila,” bisiknya pelan sembari tersenyum sendiri.
Ia membuka ponsel dan mengecek galeri foto—bukan untuk keperluan kerja, tetapi lebih sebagai kebiasaan. Tidak ada gambar penting yang tersimpan. Tidak ada hasil editan. Namun pikirannya dipenuhi kenangan. Tentang Aurellia yang tertawa lepas. Tentang Nara yang cerewet namun tulus. Tentang sore yang sederhana tetapi terasa. . . lengkap.
Seperti keluarga kecil, pikirnya dalam hati, lalu cepat-cepat menggelengkan kepala. Terlalu jauh pikirnya.
Pintu kos sebelah terbuka. Roni muncul dengan gelas kopi instan di tangannya.
“Lah,” katanya sambil mengamati Alvaro dari atas hingga bawah. “Lu habis menang lotre ya? ”
Alvaro menengok. “Ngapain lo anjir lah. ”
“Senyuman lo itu aneh,” Roni mendekat. “Lebar amat. ”
Alvaro tertawa pelan, lalu berdiri. “Baru pulang. ”
“Abis dari mana sampai muka lo kayak gitu? ” tanya Roni.
“Ke taman,” jawab Alvaro singkat.
Roni menyipitkan mata. “Bareng siapa? ”
Alvaro ragu sejenak. “Aurellia. Sama adiknya. ”
Roni terdiam sejenak, kemudian mengangguk perlahan. “Oh. ”
Alvaro melangkah masuk ke dalam kamar, diikuti Roni yang bersandar di pintu.
“Lo keliatan bahagia,” kata Roni tanpa nada ejekan. “Bukan bahagia yang dibuat-buat. Ini beneran. ”
Alvaro menunduk, senyumnya meredup tapi terasa lebih hangat. “Gue ngerasa… diterima. ”
Roni memberi senyum tipis. “Pantesan. Biasanya lo itu ribet kalo urusan orang. Sekarang kayak adem nggak kayak biasanya. ”
Alvaro duduk di ranjang, menatap dinding. “Gue senang banget hari ini, Ron. Aneh ya. ”
“Enggak,” jawab Roni santai. “Justru itu biasa. ”
Roni pun pergi, meninggalkan Alvaro sendiri. Di dalam kamar kecil itu, Alvaro berbaring dengan tangan di belakang kepala, senyumnya muncul lagi.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, kebahagiaan itu tidak membuatnya merasa takut. Ia membiarkannya ada, perlahan, tanpa tergesa-gesa.