Tentang Tenggara yang mencintai dalam diam
Tentang Khatulistiwa yang mencari sebuah perhatian
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erna Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
PERSAHABATAN YANG BERALIH MENJADI CINTA
Hari Sabtu malam, setelah menyelesaikan proyek pameran makanan tradisional yang sukses digelar di kampus, Khatulistiwa dan Tenggara berdiri sendirian di balkon fakultas Sejarah yang menghadap ke pemandangan kota Makassar yang menerangi malam. Lampu-lampu kota berkelap-kelip seperti bintang jatuh di bumi, menciptakan suasana yang romantis tanpa mereka sadari.
"Kita berhasil besar ya," ucap Khatulistiwa dengan suara yang penuh kebahagiaan. "Semua pengunjung sangat antusias dan banyak yang ingin tahu lebih banyak tentang makanan tradisional kita."
Tenggara mengangguk dengan senyum lembut. "Ini semua berkat kerja keras kamu dan teman-teman kita. Terutama kamu, yang selalu memiliki ide-ide brilian dan tidak pernah menyerah meskipun menghadapi banyak tantangan."
Mereka terdiam sejenak, menikmati keheningan malam dan hembusan angin yang sepoi-sepoi. Tenggara merasa hatiinya berdebar kencang – ini adalah saat yang telah dia tunggu-tunggu selama bertahun-tahun. Dia mengambil napas dalam-dalam sebelum membuka mulutnya.
"Khatulistiwa, ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," ucapnya dengan suara yang sedikit gemetar namun penuh keyakinan. "Sejak pertama kali kita bertemu di toko buku Gramedia beberapa tahun yang lalu, aku merasa ada yang spesial darimu. Kamu adalah orang yang paling baik hati, paling kuat, dan paling cantik yang pernah aku kenal."
Khatulistiwa menoleh padanya dengan mata yang penuh dengan perhatian dan harapan.
"Aku mencintaimu, Khatulistiwa," lanjut Tenggara dengan lebih tegas. "Tidak hanya sebagai teman, namun sebagai orang yang ingin aku lalui seluruh hidupku bersama. Aku ingin selalu ada di sisimu, mendukungmu, melindungimu, dan membuatmu bahagia setiap hari."
Khatulistiwa merasa matanya berkaca-kaca mendengar kata-kata yang telah dia tunggu selama ini. Dia mengambil tangan Tenggara dengan lembut dan menyentuh wajahnya dengan penuh cinta.
"Aku juga mencintaimu, Tenggara," jawabnya dengan suara yang lembut namun jelas. "Sejak kamu menyelamatkanku dari Jesika di gang itu, aku tahu bahwa kamu adalah orang yang tepat bagiku. Kamu telah mengajarkanku banyak hal tentang kehidupan, budaya kita, dan tentang cinta yang sesungguhnya."
Mereka saling memandang mata dengan penuh cinta dan kebahagiaan. Tenggara perlahan-lahan membawa wajahnya lebih dekat dan memberikan ciuman lembut pada bibir Khatulistiwa – sebuah ciuman yang penuh dengan janji cinta dan komitmen untuk selalu bersama.
Setelah beberapa saat, mereka berpisah dengan senyum lebar. Tenggara mengambil sebuah kotak kecil dari kantong jasnya dan membukanya – di dalamnya adalah cincin pertunangan kecil dengan batu akik lokal yang dipoles dengan cantik.
"Ini bukan cincin pertunangan resmi," jelasnya dengan senyum. "Ini adalah simbol dari komitmen ku padamu. Aku akan menunggu sampai kamu siap untuk melangkah ke tahap selanjutnya dalam hidup kita. Tidak ada tekanan sama sekali."
Khatulistiwa menerima cincinnya dengan hati yang penuh rasa syukur. "Aku akan selalu menyimpan cincin ini dengan baik, Tenggara. Aku juga ingin bersama kamu untuk selamanya, namun aku ingin menyelesaikan pendidikan kita terlebih dahulu dan memastikan bahwa kita siap untuk menghadapi segala tantangan yang akan datang."
"Tentu saja," jawab Tenggara dengan penuh pemahaman. "Kita punya waktu yang cukup banyak. Yang penting kita sudah resmi bersama sekarang."
Mereka kemudian menghabiskan malam itu dengan berjalan-jalan keliling kampus yang sunyi, berbagi cerita tentang masa lalu dan impian mereka untuk masa depan. Mereka berbicara tentang rencana untuk mengembangkan usaha kukis keluarga Khatulistiwa dengan menyertakan unsur budaya Sulawesi Selatan, membuka kelas tenun songket untuk anak-anak muda, dan melakukan penelitian bersama tentang sejarah makanan tradisional.
"Saat kita sudah resmi menjadi pasangan, aku ingin memperkenalkanmu secara resmi kepada teman-teman kita besok," ucap Tenggara dengan senyum bahagia. "Mereka pasti akan sangat senang mendengarnya."
Keesokan harinya, mereka datang ke kampus bersama-sama dan mengumumkan hubungan mereka kepada teman-teman mereka – Dina, Rizky, Andi, Siti, bahkan Danes yang dengan tulus memberikan ucapan selamat.
"Semoga kalian berdua selalu bahagia," ucap Danes dengan senyum ramah. "Aku sangat menghargai kesempatan yang kamu berikan padaku untuk berubah dan menjadi bagian dari kelompok kita."
Mereka semua kemudian merencanakan sebuah makan malam kecil untuk merayakan hubungan baru Khatulistiwa dan Tenggara. Di meja makan yang penuh dengan makanan lezat dan tawa yang riang, Khatulistiwa merasa sangat bersyukur telah menemukan cinta sejati dalam hidupnya.
"Aku tidak bisa membayangkan hidupku tanpa kamu, Tenggara," ucapnya dengan penuh cinta saat mereka sedang menikmati hidangan penutup.
"Begitu juga dengan aku, Khatulistiwaku" jawab Tenggara sambil menyentuh tangan Khatulistiwa yang sedang mengenakan cincin kecil itu. "Kita akan bersama-sama melalui segala sesuatu – suka dan duka, senang dan sedih. Aku mencintaimu lebih dari kata-kata bisa ungkapkan."
Mereka saling menatap mata dengan penuh cinta, mengetahui bahwa mereka telah menemukan bagian hilang dari diri masing-masing dan siap untuk membangun masa depan yang bahagia bersama-sama. Hubungan mereka yang mulai dari persahabatan yang kuat akhirnya beralih menjadi cinta yang tulus dan abadi – cinta yang akan selalu mereka jaga dengan sepenuh hati.