NovelToon NovelToon
Gue Jadi Figuran?

Gue Jadi Figuran?

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Angst / Transmigrasi ke Dalam Novel / Selingkuh / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Fantasi Wanita
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: eka zeya257

Seyra Avalen, gadis bar-bar yang hobi balapan liar tak pernah menyangka jika kejadian konyol di hidupnya justru membuat dia meninggal dan terjebak di tubuh orang lain.

Seyra menjadi salah satu karakter tidak penting di dalam novel yang di beli sahabatnya, sialnya dia yang ingin hidup tenang justru terseret ke dalam konflik para pemeran utamanya.

Bagaimana Seyra menghadapi kehidupan barunya yang begitu menguras emosi, mampukah Seyra menemukan happy ending dalam situasinya kali ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eka zeya257, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Sontak Seyra menoleh ke samping, dia tertawa hingga memegangi perutnya begitu melihat wajah garang Arthur berubah murung.

"Haha, ngomong apa sih? ngapain gue suka sama dia, sama lo aja gue nggak suka." Jawab Seyra setengah mengejek.

"Kok... gitu?" wajah Arthur semakin di tekuk, bibirnya maju beberapa senti menandakan dia sedang merajuk.

Sayangnya, Seyra sama sekali tak peduli. Gadis itu dengan santainya melangkah meninggalkan Arthur di belakang.

"Seyra, kenapa lo nggak suka sama gue? apa gue kurang ganteng?"

Pertanyaan konyol itu membuat Seyra berhenti dan menoleh ke belakang. Dia menatap Arthur dari ujung kaki hingga ujung rambut.

"Lo ganteng, kok. Nggak ada yang kurang dari tubuh lo, cuma gue belum bisa menaruh perasaan sama lo. Gue takut kecewa," jawab Seyra seadanya dan kembali melanjutkan langkah tanpa tahu ekspresi apa yang kini sedang di tunjukan oleh Arthur.

"Cewek gue emang beda," gumamnya menyeringai.

***

Bel pulang sekolah berbunyi lima menit yang lalu, Seyra keluar dari kelas dengan menyampirkan ranselnya di bahu kiri. Dia berniat menuju parkiran, akan tetapi di tengah perjalanan dia melihat Valeri dan seorang gadis sedang bersitegang.

"Loh, bukannya itu Elsa?" gumam Seyra.

Dia bisa tahu itu, sebab deskripsi di dalam novel begitu jelas. Elsa Sandrina, seorang gadis yatim piatu yang di adopsi oleh keluarga kaya hingga bisa sekolah di Akademi Edevane ini. Dia merupakan protagonis wanita dalam novel yang Seyra rasuki. Gadis lemah lembut sekaligus korban bully dari kakaknya, Valeri.

"Ah, kayaknya ini baru mulai adegan dimana Valeri mulai menindas Elsa deh." Tebaknya tak yakin.

Bukannya melerai, Seyra justru bersandar pada tembok sambil mengeluarkan lolipop dari saku bajunya seraya mengamati kedua gadis itu dari kejauhan.

"Jalan pake mata bisa, kan?!" sentak Valeri menoyor kening Elsa.

"M-maaf, Val. Gue nggak sengaja." Cicit Elsa.

"Alah, bohong tuh. Lo sengaja, kan. Mana mungkin lo main nyelonong aja, di saat kita berdua jelas-jelas udah menyingkir!" timpal Flora, gadis blasteran prancis itu sudah menjadi sahabat Valeri sejak SMP.

Seyra menghisap lolipopnya, merasa jantungnya berdebar. Dia tahu situasi ini bisa berbahaya, terutama bagi Elsa yang sudah cukup menderita. Namun, dia juga merasakan ketertarikan untuk melihat bagaimana semua ini akan berlanjut.

"Gue cuma penasaran, apa adegannya sama persis kayak di novel." Gumamnya.

Valeri terus melontarkan kata-kata tajamnya, dan Flora berdiri di sampingnya dengan senyum sinis, seolah menikmati drama yang sedang berlangsung.

"Lo pikir lo siapa, huh? cuma karena lo di adopsi sama keluarga kaya, lo jadi merasa bisa seenaknya di sini?" Valeri menekankan setiap kata dengan nada mengejek.

Elsa terlihat semakin cemas, matanya berkilau dengan air mata yang berusaha di tahannya.

"Gue... benar-benar nggak sengaja. Gue nggak mau mengganggu kalian," suaranya bergetar, namun dia berusaha keras untuk tetap tegar.

Seyra merasa semakin tertarik, tetapi dia juga merasa bingung. Apa yang seharusnya dia lakukan? melangkah maju dan mencoba menghentikan pertikaian mereka? atau tetap diam dan menyaksikan drama ini tanpa terlibat?

Pada akhirnya Seyra tetap diam di tempat, dia malas bergerak dan membuang banyak energi hanya untuk pertikaian tidak penting seperti itu.

Sementara itu, Valeri semakin mendekat, wajahnya semakin mendominasi. "Lo harus belajar dimana tempat lo seharusnya, Elsa. Di sini, semua orang punya posisi. Dan lo, nggak lebih dari sekadar sam...pah."

Mendengar itu, pupil mata Seyra melotot lalu mengangguk-anggukan kepalanya pelan. "Pantas aja Valeri jadi antagonis, dia bisa mendominasi suasana."

Di tengah adegan seru itu, netra Seyra melihat seorang pemuda good boy. Pemuda itu memakai almamater Osis, jelas sekali jika pemuda itu ketua Osis.

Jiwa playgirlnya muncul hanya dengan melihat wajah tampan, Seyra merapikan pakaian dan rambutnya. Dia bersiap melancarkan jurus gombalan mautnya, dan menyingkirkan adegan perdebatan Valeri serta Elsa.

"Kiw... kiw, cowok. Godain gue dong," ujar Seyra malu-malu.

Semua mata berpaling ke arah suara gadis itu. Termasuk Valeri yang jelas terkejut melihat adiknya, sementara Flora mengerutkan keningnya, tidak menyangka ada yang berani terang-terangan menggoda ketua Osis yang di kenal ramah namun juga misterius.

"Loh, itu bukannya adik lo, Val?" cetus Flora terkejut.

Valeri menatap Seyra dengan ekspresi campur aduk. Dia merasa terjebak antara tercengang dan cemas. Sejak insiden hari itu, dia baru kali bertemu lagi dengan Seyra. Namun entah sejak kapan sikap adiknya yang introvert, jadi periang seperti itu terlebih sekarang gadis itu lebih mirip tukang ghosting.

"Sey, lo ngapain di sana?" tanyanya, berusaha menahan senyum meski matanya sedikit melotot.

Seyra menoleh ke arah Valeri, dia mengangkat kedua bahunya acuh. "Apa lagi, gue lagi godain cowok masa lo nggak lihat? Perasaan mata lo belum buta."

Valeri melongo, bagaimana bisa adiknya yang super pendiam jadi banyak bicara seperti ini? Terlebih dia berani berkata begitu padanya.

Pemuda good boy itu, yang bernama Aron, tersenyum tipis dan mengernyitkan dahi.

"Lo adiknya Valeri?" tanya Arin. Dia kembali melanjutkan ucapannya. "Gombalan kayak gitu sudah ketinggalan zaman kali," jawabnya, berusaha tetap sopan meski ada nada geli dalam suaranya.

Seyra yang sudah terlanjur bersemangat, tidak mau mundur. "Oh, come on! meski gombalan itu sudah jadul, tapi cintaku padamu takan pernah kabur," ujarnya dengan nada genit, sambil melangkah sedikit lebih dekat.

Flora masih tampak terkejut, sedetik kemudian dia tak bisa menahan tawa. "Berani banget lo, Sey! awas loh pawang lo ngamuk," ujarnya dengan nada menakut-nakuti.

Valeri, yang mendengar candaan Flora, tidak bisa menahan senyum sebab orang yang mereka bicarakan langsung muncul di lorong sekolah tersebut.

"Nah, itu dia! baru juga di bilangin udah muncul aja orangnya." Imbuh Valeri, menunjuk ke arah belakang adiknya menggunakan dagu.

Seyra mengernyit, dia mengikuti arah pandang Valeri. Begitu dia menoleh ke belakang, kedua pupil matanya melebar. Di sana terdapat sosok Arthur yang terlihat menahan amarah, entah mengapa alarm berbahaya di kepalanya segera berbunyi.

"Sial, gue harus kabur." Gumamnya.

Sebelum pergi, Seyra menatap Aron sekali lagi. Dia mengedip genit, "Bye ganteng, jangan lupa mimpiin gue nanti malam, ya."

"SEYRA!" teriak Arthur geram.

Seyra terlonjak, dia mengambil ancang-ancang dan segera berlari. "Kabur!"

Tak tinggal diam, Arthur bergegas mengejar pacarnya itu. Sepanjang lorong, tak henti-hentinya Seyra meracau setiap kali matanya melihat pemuda yang bening hingga membuat Arthur semakin kesal.

Saat Seyra tiba di area parkiran, dia terhenti ketika tas di belakangnya di tarik oleh Arthur. "Mau kemana huh?"

Seyra menoleh seraya cengengesan, "Mau pulang."

Arthur mengangkat tubuh Seyra dan mendudukkannya di jok motor, dia meletakan kedua tangannya di sisi kanan dan kiri agar mengunci pergerakan gadis itu.

"Lincah banget gombalnya, ternyata pacar gue punya sisi kayak gini, ya." Terdengar nada sindiran dari ucapan Arthur.

Seyra tertawa lepas, meski dalam posisi terjepit seperti itu. "Oh, come on, Arthur! itu cuma bercanda! siapa yang nggak mau jadi pusat perhatian?"

Dia melirik ke arah Aron yang masih berdiri di lorong sekolah, seolah tak peduli dengan drama yang terjadi di belakangnya.

"Perhatian atau bukan, lo tahu kata batasan, kan?" Arthur menyudutkan bibirnya, berusaha terlihat serius meski hatinya kini berdebar begitu menatap wajah Seyra dari dekat.

"Gue cuma becanda kali."

"Gue tetap nggak suka lihat lo bersikap genit dengan orang lain. Itu membuat gue merasa... cemburu, Sey."

Seyra tersenyum manis, mengangkat dagunya sedikit. Netra hazelnya membuat Arthur terpaku di tempat. Dia terpesona.

"Cemburu itu tandanya sayang, kan? Lagi pula, gue kan milik lo. Gak ada yang bisa merebut gue dari lo... Mungkin." Dia mengedipkan mata, mencoba meredakan suasana.

Arthur menghela napas, memandangi Seyra dengan ekspresi campur aduk. "Lo tahu, kadang gue berpikir, seberapa jauh lo bisa pergi untuk menguji kesabaran gue?"

"Jangan khawatir, Ar. Lo adalah satu-satunya orang yang menjalin hubungan dengan gue... sekarang," jawab Seyra santai.

"Apa maksud lo sekarang? kita bakal terus bersama selamanya, Seyra." Dia meraih tangan Seyra, menggenggamnya erat seakan ingin mengeratkan tali di antara mereka. "Gue nggak bakal biarin lo di miliki orang lain!"

1
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut Thor, seru and Semangat 💪
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut Thor, seru and semangat 💪
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
Lanjut thor
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
ᴊᴜʏ -ᴋɪᴍ
lanjut thor, and semangat
Wahyuningsih
q mampir thor, mga2 critanya bagus bla perlu dot bonus ruang dimensi atau sistem buar mkin sru
Zee✨: bsk deh kalo udah bisa wkwk harus belajar cara nulisnya dulu klo sistem kak wkwk
total 1 replies
Aria Sabila
hadir
Mey Abimanyu
sering typo penyebutan nama ya kak .. Nino jadi nini😂
Zee✨: wkwk iya kak, padahal udh bolak balik revisi masih aja typo
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!