Ia dulu berdoa agar suaminya kaya.
Ia tak pernah membayangkan doa itu justru menjadi awal kehancuran rumah tangganya.
Naura menikah dengan Zidan saat mereka hanya punya cinta, iman, dan sepiring nasi sederhana. Mereka menangis bersama di sajadah lusuh, bermimpi tentang hidup yang lebih layak. Ketika Allah mengabulkan, Zidan berubah. Kekayaan menjadikannya asing. Ibadah ditinggalkan, wanita lain berdatangan, tangan yang dulu melindungi kini menyakiti.
Naura dibuang. Dihina. Dilupakan.
Bertahun-tahun kemudian, Naura bangkit sebagai wanita kuat. Sementara Zidan kehilangan segalanya.
Saat Zidan kembali dengan penyesalan dan permohonan, satu pertanyaan menggantung:
Masih adakah pintu yang terbuka…
atau semua telah tertutup selamanya?
Dan ini adalah kisah nyata.
(±120 kata)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 10
Hari itu Naura lagi nggoreng pisang seperti biasa. Perutnya yang udah besar banget bikin dia susah gerak. Usia kandungannya sekarang tujuh bulan. Seharusnya masih dua bulan lagi baru lahir. Tapi pagi ini dia ngerasa ada yang aneh di perutnya.
Kenceng.
Sangat kenceng.
Kayak diremes remes dari dalam.
"Aduh..." Naura megang perutnya sambil berhenti nggoreng. Napasnya pendek. Keringat dingin mulai keluar.
Bu Mariam yang lagi bantuin nyusun gorengan langsung noleh. "Naura, kamu kenapa?"
"Perut aku... perut aku kenceng Bu. Sakit."
"Kenceng gimana? Kayak mau melahirkan?"
"Aku... aku nggak tau. Tapi sakit banget Bu. Rasanya kayak... kayak ditarik tarik."
Bu Mariam langsung panik. "Naura, ini mah kontraksi! Kamu mau melahirkan! Tapi kan baru tujuh bulan? Ini prematur! Kita harus ke rumah sakit sekarang!"
"Tapi... tapi Mas Zidan lagi kerja. Dia nggak bisa dihubungin. Handphonenya ketinggalan di rumah."
"Nggak usah pikirin itu dulu! Sekarang kita ke rumah sakit! Ayo!"
Bu Mariam langsung matiin kompor terus bantu Naura jalan ke ojek pangkalan. Naura jalannya susah banget. Setiap langkah, perutnya makin kenceng. Makin sakit.
"Aduh... aduh Bu... sakit..."
"Sabar Nak. Bentar lagi sampe."
Di ojek, Naura duduk di belakang sambil pegang perut erat erat. Wajahnya pucat pasi. Bibir gemetar. Napas ngos ngosan.
"Pak, tolong cepet ya! Ini ibu mau melahirkan!" teriak Bu Mariam ke tukang ojek.
"Siap Bu! Pegangan ya!"
Ojek itu ngebut ke rumah sakit. Jalanan lumayan macet tapi tukang ojek itu nyari celah terus. Lima belas menit kemudian mereka sampe di UGD rumah sakit.
Naura langsung dibawa ke ruang periksa. Bidan jaga langsung periksa dengan cepat.
"Ibu, ini kontraksi kuat. Pembukaan udah empat. Ibu harus melahirkan sekarang."
"Tapi... tapi kandungan saya baru tujuh bulan. Bayinya belum cukup bulan. Gimana?"
Bidan itu megang tangan Naura sambil tatap serius. "Makanya ini darurat Bu. Bayinya harus segera dikeluarkan. Kalau ditunda, berbahaya buat Ibu dan bayinya. Kami akan siapkan tim dokter sekarang."
Naura nangis. "Tapi suami saya belum dateng. Saya... saya takut..."
"Ibu harus kuat. Sekarang fokus sama persalinannya. Suami Ibu nanti menyusul."
Bu Mariam megang tangan Naura erat. "Naura, Ibu di sini nemenin. Kamu nggak sendirian. Kamu harus kuat buat dedek bayi."
Naura di pindah ke ruang bersalin. Kontraksinya makin kuat. Makin sering. Rasanya kayak perutnya mau pecah.
"AAAHHH!" Naura teriak kesakitan sambil meremas tangan Bu Mariam.
"Kuat Nak! Kuat! Tarik napas! Hembuskan!"
Sementara itu, Zidan yang lagi nyetir angkot tiba tiba ngerasa gelisah. Dadanya nggak enak. Dia ngelus dada berkali kali.
"Kenapa ya? Kenapa aku ngerasa ada yang nggak beres?"
Dia berhenti di terminal sebentar buat istirahat. Begitu dia buka handphone yang ketinggalan di dashboard, matanya langsung melotot.
Ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Bu Mariam. Lima SMS.
"Zidan, Naura mau melahirkan! Kami di rumah sakit sekarang! Cepet kesini!"
Jantung Zidan langsung berhenti sedetik.
Naura melahirkan?
Sekarang?
Tapi baru tujuh bulan!
Tangannya gemetar pegang handphone. Dia langsung turun dari angkot terus teriak ke bos angkot yang lagi di terminal.
"Pak! Istri saya mau melahirkan! Saya harus ke rumah sakit sekarang!"
"Ya udah cepet sono! Angkotnya tinggal aja dulu!"
Zidan langsung lari ke ojek terdekat. "Pak, ke rumah sakit umum! Cepet! Ini darurat!"
Sepanjang jalan Zidan nggak berhenti nangis sambil doa. "Ya Allah, selamatin istri aku. Selamatin anak aku. Please ya Allah. Aku mohon. Aku mohon banget."
Dua puluh menit kemudian dia sampe di rumah sakit. Langsung lari ke UGD. Napas ngos ngosan. Keringat ngucur.
"Permisi! Istri saya lagi melahirkan! Namanya Naura! Dimana?"
Perawat jaga nunjuk ke ruang bersalin. "Di dalam Pak. Tapi Bapak belum boleh masuk. Masih proses persalinan."
Zidan duduk di kursi tunggu sambil tangan mengepal doa terus. Bu Mariam keluar dari ruang bersalin dengan wajah khawatir.
"Zidan, syukurlah kamu udah dateng. Naura lagi berjuang di dalam. Doain ya."
"Bu gimana keadaannya? Dia baik baik aja kan? Bayinya gimana?"
"Belum tau. Masih proses. Tapi ini prematur. Bahaya Zidan. Kita harus doa banyak banyak."
Zidan langsung sujud di lantai rumah sakit. Nggak peduli orang pada ngeliatin. Dia nangis sambil doa keras.
"Ya Allah, selamatin istri aku. Selamatin anak aku. Aku mohon ya Allah. Ambil apapun dari aku tapi jangan ambil mereka. Please..."
Satu jam berlalu. Dua jam. Tiga jam.
Akhirnya pintu ruang bersalin kebuka. Dokter keluar dengan wajah serius.
Zidan langsung berdiri. "Dok! Gimana istri saya? Bayinya?"
"Ibu sudah melahirkan. Proses persalinannya berat karena prematur. Ibu kehilangan banyak darah. Tapi sekarang kondisinya stabil. Sedang istirahat."
Zidan napas lega sebentar. "Alhamdulillah. Terus bayinya Dok?"
Dokter diem sebentar. Wajahnya makin serius. "Bayinya laki laki. Berat cuma satu koma delapan kilo. Sangat kecil untuk bayi prematur. Paru parunya belum berkembang sempurna. Dia kesulitan bernapas sendiri. Kami harus masukkan dia ke inkubator sekarang. Dan kemungkinan dia harus di inkubator minimal sebulan."
Sebulan.
Inkubator.
Zidan tau itu artinya biaya besar. Sangat besar.
"Dok, berapa biayanya?"
Dokter tarik napas. "Untuk inkubator per hari sekitar satu juta lima ratus ribu. Belum termasuk obat obatan, pemeriksaan, dan perawatan lainnya. Total bisa sampai lima puluh juta lebih untuk sebulan penuh."
Lima puluh juta.
Dunia Zidan runtuh.
Lima puluh juta.
Dia nggak punya segitu. Bahkan sepersepuluhnya aja nggak ada.
"Dok, saya... saya nggak punya uang sebanyak itu. Tapi tolong selamatin anak saya. Tolong Dok. Saya mohon."
"Pak, saya paham kondisi Bapak. Tapi ini rumah sakit swasta. Kami ada aturan. Minimal harus ada DP sepuluh juta untuk mulai perawatan inkubator. Tanpa itu, kami tidak bisa melanjutkan."
"Dok, anak saya sekarat! Dia butuh pertolongan sekarang! Saya nggak bisa cari uang segitu dalam waktu singkat!"
"Pak, tenang. Bayi Bapak sekarang masih di ruang NICU sementara dengan alat bantu napas darurat. Tapi kalau dalam dua jam tidak ada pembayaran DP, kami terpaksa harus pindahkan ke rumah sakit pemerintah. Karena kami tidak bisa menanggung biayanya."
Dua jam.
Cari sepuluh juta dalam dua jam.
Mustahil.
"Dok please... anak saya... dia..."
"Maaf Pak. Ini aturan rumah sakit. Silakan Bapak pikirkan. Saya permisi dulu."
Dokter itu pergi meninggalkan Zidan yang berdiri kaku kayak patung.
Sepuluh juta.
Dua jam.
Dari mana?
Kakinya lemes. Dia jatuh duduk di lantai sambil megang kepala. Nangis. Nangis keras tanpa suara.
"Ya Allah... ya Allah... aku harus gimana? Anak aku butuh pertolongan. Anak aku sekarat. Tapi aku nggak punya uang. Aku nggak punya apa apa. Aku... aku..."
Bu Mariam duduk di sampingnya sambil ikut nangis. "Zidan, kita coba pinjam kesana kemari. Aku bantuin. Kita pasti bisa dapet uangnya."
"Dari mana Bu? Sepuluh juta! Dalam dua jam! Siapa yang mau pinjemin uang segitu dalam waktu secepet ini?"
"Kita coba Pak Burhan. Atau bos angkotmu. Atau..."
"Pak Burhan? Aku masih hutang sama dia! Bos angkot juga nggak mungkin punya uang sebanyak itu!"
Zidan berdiri terus jalan mondar mandir di lorong rumah sakit. Tangan meremas rambut frustasi. Matanya merah. Wajah basah air mata.
"Anak aku... anak aku lagi sekarat di dalam sana dan aku cuma bisa berdiri di sini nggak bisa ngapa ngapain. Aku bapak macam apa? Aku nggak berguna. Nggak berguna!"
Dia pukul tembok pake tangan sampai berdarah. Tapi dia nggak ngerasa sakit. Yang dia rasain cuma sakit di hati. Sakit yang luar biasa.
Bu Mariam nahan tangannya. "Zidan jangan! Kamu harus tetep sehat! Naura dan bayimu butuh kamu!"
"Tapi aku nggak bisa ngapa ngapain! Aku cuma bisa nangis kayak gini!"
Suster keluar dari ruang pemulihan. "Bapak Zidan? Istri Bapak udah sadar. Mau ketemu?"
Zidan hapus air matanya cepet cepet terus masuk ke ruang pemulihan.
Naura terbaring lemah di ranjang. Wajahnya pucat banget. Bibir kering. Matanya sembab. Begitu lihat Zidan, dia langsung nangis.
"Mas... anak kita... anak kita gimana?"
Zidan pegang tangan istrinya yang dingin sambil maksa senyum. "Anak kita lahir sayang. Laki laki. Tapi... tapi dia prematur. Dia harus masuk inkubator."
"Inkubator? Dia... dia baik baik aja kan Mas?"
Zidan nggak bisa jawab. Dia cuma nangis sambil peluk istrinya.
"Mas jawab aku! Anak kita baik baik aja kan?!"
"Dia... dia lagi berjuang Naura. Dia lagi berjuang keras di dalam sana."
Naura nangis keras. "Aku mau liat dia Mas! Aku mau liat anak kita! Tolong anterin aku!"
"Kamu belum boleh turun dari ranjang. Kamu masih lemah."
"Aku nggak peduli! Aku mau liat anak aku! Sekarang!"
Suster yang ada di sana bantuin Naura duduk di kursi roda. Zidan dorong kursi itu ke ruang NICU. Di balik kaca tebal, mereka lihat bayi kecil mungil terbaring di kotak plastik transparan. Tubuhnya penuh selang. Alat bantu napas nempel di hidung kecilnya. Dadanya naik turun cepet.
Sangat kecil.
Sangat rapuh.
Kayak bisa pecah kalau disentuh.
Naura nangis sambil tempelkan tangan di kaca. "Anak aku... anak aku... kenapa kamu kecil banget? Kenapa kamu harus lahir sekarang? Maafin Ibu ya Nak. Maafin Ibu nggak bisa jaga kamu dengan baik di perut Ibu."
Zidan berdiri di belakang kursi roda sambil peluk pundak istrinya. Ikut nangis.
"Dia kuat Naura. Dia anak kita. Dia pasti kuat."
"Tapi Mas... inkubator itu mahal kan? Dari mana kita dapat uangnya?"
Zidan terdiam. Nggak bisa jawab. Tenggorokannya kering.
"Mas jawab aku. Dari mana kita dapat uangnya?"
"Aku... aku akan cari. Entah gimana caranya. Aku akan cari."
Suster dateng dengan membawa kertas. "Pak, ini surat pernyataan. Bapak harus tanda tangan. Kalau dalam dua jam tidak ada DP sepuluh juta, bayi akan dipindahkan ke rumah sakit pemerintah."
Naura baca surat itu dengan tangan gemetar. Matanya makin berkaca kaca.
"Mas... kita nggak punya uang segitu. Kita... kita..."
"Aku akan cari Naura. Aku janji. Aku akan cari dengan cara apapun."
Zidan tanda tangan surat itu dengan tangan gemetar.
Setelah itu dia keluar dari ruang NICU terus jalan ke lorong yang sepi. Dia bersandar di tembok sambil ngelus dada.
"Ya Allah... aku harus bagaimana? Anak aku butuh pertolongan. Anak aku sekarat. Tapi aku nggak punya uang. Aku nggak punya apa apa. Ya Allah... aku mohon. Tunjukkan aku jalan. Tunjukkan aku cara. Apapun. Aku akan lakukan apapun asal anak aku selamat."
Dia sujud di lantai lorong rumah sakit sambil nangis tersedu sedu.
"Ya Allah... aku nggak kuat. Aku nggak sanggup liat anak aku kayak gini. Dia bayi. Dia nggak salah apa apa. Kenapa dia harus menderita? Kenapa bukan aku aja yang menderita?"
Orang orang yang lewat pada ngeliatin tapi dia nggak peduli.
Dia cuma terus sujud sambil nangis.
Sambil doa.
Sambil berharap ada mukjizat.
Mukjizat yang akan datang.
Tapi dari arah yang nggak pernah dia duga.
Mukjizat yang akan mengubah hidupnya.
Tapi dengan harga yang sangat mahal.
Harga yang harus dibayar dengan kehancuran keluarganya di masa depan.
kasihan ibunya stroke ga ada yg jaga
harusnya mandi hadast besar dulu thor,ini mah mandinya pagi sebelum kerja