NovelToon NovelToon
Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Jodoh Pilihan Untuk Sang CEO

Status: tamat
Genre:CEO / Cinta setelah menikah / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Dijodohkan Orang Tua / Tamat
Popularitas:312.6k
Nilai: 5
Nama Author: Sylvia Rosyta

Di hari pernikahannya, Farhan Bashir Akhtar dipermalukan oleh calon istrinya yang kabur tanpa penjelasan. Sejak saat itu, Farhan menutup rapat pintu hatinya dan menganggap cinta sebagai luka yang menyakitkan. Ia tumbuh menjadi CEO arogan yang dingin pada setiap perempuan.

Hingga sang ayah menjodohkannya dengan Kinara Hasya Dzafina—gadis sederhana yang tumbuh dalam lingkungan pesantren. Pertemuan mereka bagai dua dunia yang bertolak belakang. Farhan menolak terikat pada cinta, sementara Kinara hanya ingin menjadi istri yang baik untuknya.

Dalam pernikahan tanpa rasa cinta itu, mampukah Kinara mencairkan hati sang CEO yang membeku? Atau justru keduanya akan tenggelam dalam luka masa lalu yang belum terobati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21

Kinara bangkit dari ranjang, menurunkan kakinya ke lantai, lalu melangkah pelan ke arah kamar mandi. Namun baru beberapa langkah, Farhan tiba-tiba memanggilnya.

“Kinara.”

Satu kata itu cukup membuat langkah Kinara terhenti. Ia berbalik perlahan dan menatap Farhan dengan ekspresi bertanya-tanya. Farhan berdiri di tempatnya, kedua tangannya mengepal kecil di sisi tubuhnya. Ada keraguan yang terlihat di wajahnya, tapi juga tekad yang jarang Kinara lihat sebelumnya.

“Ada apa, Mas?” tanya Kinara pelan.

Farhan terdiam beberapa saat, seolah sedang memilih kata yang tepat. Ia menghela napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan.

“Aku…” suaranya sedikit serak. “Aku ingin berubah.”

Kalimat itu keluar begitu saja, tanpa pernah Kinara duga akan keluar dari mulut suaminya. Tapi justru karena keberanian itulah, Kinara merasakan dadanya langsung menghangat.

Farhan melangkah mendekat satu langkah, tapi tetap menjaga jarak. Tatapannya tertuju pada Kinara, kali ini tanpa amarah, tanpa dinding tebal yang biasanya selalu ia pasang dihadapan orang lain.

“Aku nggak mau terus jadi Farhan yang seperti ini,” lanjutnya. “Yang tiap malam dihantui mimpi buruk. Yang hidupnya penuh ketakutan. Yang bisanya cuma marah pada dunia, tapi sebenarnya cuma ingin lari dari masa lalunya.”

Kinara diam. Ia tidak menyela dan tidak bertanya apapun kepada suaminya. Ia hanya mendengarkan perkataan suaminya dengan sepenuh hati. Farhan mengusap wajahnya sebentar, lalu menatap Kinara lagi. Ada kejujuran yang terlihat di sana, sesuatu yang jarang ia perlihatkan pada siapa pun.

“Aku capek hidup seperti ini, Kinara,” katanya lirih. “Aku capek berpura-pura kuat, padahal sebenarnya kosong. Aku capek jadi orang yang bahkan nggak mengenal dirinya sendiri.”

Kata-katanya membuat Kinara merasakan sesuatu bergetar di dadanya. Ia ingin berkata banyak hal. Ingin menenangkan perasaan laki laki yang ada dihadapannya yang mulai kehilangan kendali emosinya, ingin meyakinkan dirinya sendiri kalau apa yang ia dengar saat ini bukanlah mimpi belaka. Tapi ia memilih diam dan membiarkan Farhan menuntaskan perkataannya yang mungkin selama ini sudah dipendam terlalu lama.

“Aku tahu aku bukan suami yang baik,” katanya. “Aku tahu aku sering bersikap dingin, sering menyakiti orang lain, bahkan tanpa sadar. Tapi… aku nggak mau terus terusan seperti ini.” Ia terdiam sejenak, lalu bertanya dengan suara yang nyaris seperti permohonan. “Kamu… mau nggak bantu aku?”

Kinara mengangkat wajahnya sepenuhnya kini. Matanya bertemu dengan mata Farhan.

"Apa kau mau menemani aku supaya bisa berubah menjadi lebih baik?” lanjut Farhan. “Dari Farhan yang dikenal tanpa hati, jadi Farhan yang punya hati. Yang bisa peduli terhadap orang lain. Yang bisa merasakan apa itu cinta dan rasa syukur. Yang bisa jadi suami yang pantas buat kamu.”

Kinara tetap diam. Bukan karena ragu. Tapi karena hatinya terlalu penuh. Sejak awal pernikahannya dengan Farhan ditetapkan, ia tidak pernah menuntut apapun dari hubungan ini. Tidak pernah memaksa Farhan untuk berubah. Ia hanya berdoa, dalam diam, setiap saat. Dan kini, doa itu seperti dijawab dengan cara yang paling lembut.

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Kinara, tapi ia masih berusaha untuk menahannya. Ia mengangguk pelan, lalu berkata dengan suara bergetar.

"Subhanallah walhamdulillah walailahailallah Allahu Akbar, betapa besar rencana yang kau tetapkan ini ya tuhan. Akhirnya kau ijinkan suamiku untuk kembali ke jalan mu. Tentu saja mas, tentu saja aku mau untuk membantu mas berubah menjadi seseorang yang lebih baik dari sebelumnya."

Kalimat itu sederhana, tapi membuat Farhan terdiam. Dada Farhan terasa sesak. Bukan karena sakit, tapi karena sesuatu yang hangat dan asing memenuhi ruang di dalamnya.

Ia menelan ludah, lalu berkata lagi yang kali ini dengan suaranya yang lebih mantap.

“Kalau begitu aku mau sholat subuh bareng kamu.”

Kinara tertegun sementara Farhan melanjutkan perkataannya, sedikit ragu tapi tegas,

“Aku mau jadi imam buat kamu.”

Kalimat itu seperti kunci yang membuka bendungan emosi di dada Kinara. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh juga. Bukan tangis yang keras, melainkan tangis pelan yang penuh dengan rasa syukur. Kinara menutup mulutnya sebentar, mencoba menahan isak tangisnya, tapi gagal dan membuat Farhan panik sejenak.

“K-kau kenapa Kinara? Aku salah ngomong ya?” tanya Farhan dengan panik dan membuat Kinara menggeleng cepat sambil tersenyum di sela air matanya.

“Tidak,” katanya pelan. “Aku cuma merasa bahagia.”

Farhan terdiam dan menatap Kinara dengan bingung sekaligus haru.

“Terima kasih, Mas,” lanjut Kinara. “Terima kasih karena mas sudah mau mencoba untuk berubah.”

Farhan tidak tahu harus berkata apa. Ia hanya mengangguk kecil dan menyuruh Kinara untuk segera mengambil air wudhu.

"Kalau begitu, pergilah mengambil air wudhu, Kinara. Aku akan mengambil air wudhu setelah kau selesai."

Kinara mengangguk, lalu melangkah ke kamar mandi. Kali ini langkahnya terasa lebih ringan. Di balik pintu, Kinara menyentuh dadanya sendiri untuk merasakan jantungnya yang masih berdetak cepat. Di luar, Farhan berdiri mematung beberapa saat, lalu menghembuskan napas panjang. Ada rasa takut sekaligus lega. Tapi untuk pertama kalinya, rasa takut itu tidak membuatnya ingin lari karena ia ingin bertahan dari kehidupan yang sedang dijalaninya saat ini dan juga takdir yang tuhan tetapkan padanya.

Air mengalir dari keran. Kinara membasuh wajahnya perlahan, membiarkan air dingin menyentuh kulitnya yang masih hangat oleh emosi yang belum sepenuhnya reda. Saat air menyentuh telapak tangannya, hatinya justru terasa semakin penuh oleh rasa syukur yang nyaris membuat dadanya sesak. Ia mengusap wajahnya sekali lagi, lalu menatap bayangannya di cermin.

“Terima kasih, Ya Allah,” bisiknya lirih.

Selesai berwudhu, Kinara membuka pintu kamar mandi dan melangkah keluar. Suasana di kamarnya terasa berbeda. Lebih tenang. Lebih hangat. Seolah kamar itu ikut bernapas bersama perasaan mereka. Kinara tidak langsung duduk. Ia memberi isyarat kecil pada Farhan dengan anggukan pelan.

“Mas silakan,” ucapnya lembut.

Farhan mengangguk singkat, lalu masuk ke kamar mandi tanpa banyak kata. Pintu tertutup kembali, menyisakan Kinara seorang diri di kamar. Kinara menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Tangannya bergerak mengambil mukena dari lemari. Mukena putih itu ia keluarkan dengan hati-hati, seolah sedang memegang sesuatu yang sakral. Ia mengibaskan nya pelan sebelum mengenakannya.

Setelah itu, Kinara mengambil dua sajadah. Ia membentangkannya berdampingan, satu sedikit lebih depan dari yang lain. Sajadah milik Farhan ia bentangkan dengan telaten, dan memastikan posisinya lurus menghadap kiblat. Tangannya sempat berhenti sejenak di ujung sajadah itu. Entah kenapa, jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia membayangkan Farhan berdiri di sana dan menjadi imam shalat untuknya.

Air keran dari kamar mandi masih terdengar mengalir. Waktu terasa berjalan lambat, tapi Kinara tidak keberatan. Ia duduk bersimpuh di sajadahnya, tangannya terlipat di pangkuan. Kepalanya tertunduk sedikit, bibirnya bergerak pelan melafalkan dzikir tanpa suara.

Lalu, suara air berhenti yang disusul dengan pintu kamar mandi yang kemudian terbuka.

Kinara refleks menoleh. Dan di detik itu, napasnya dibuat tertahan.

1
Febby fadila
jangan dipaksakan Kinara buat Farhan nyaman sama kamu dulu baru pelan² menuntun dirinya kejlan yg sama kek kamu
Febby fadila
jangan mengedepankan ego yang akan menghancurkan semua hati dan jiwa kamu Farhan, berdamailah dengan masa lalu itu jauh lbih indan 🥰🥰
Febby fadila
hmmm dari sifat Farhan aku jadi ingat sama om aku juga bgt, hingga kini nggak nikah² bahkan umurnya udah 37 Thun 🥹
Umi Kulsum
se.angat farhan ayat alqur,an memang bisa menenangkan
Febby fadila
aku sampai nggak bisa komen apa, seakan lidahku ikut keluar
Febby fadila
Farhan karena kamu hidup terlalu lama dlm kehidupan gelap jadi kamu nggak tau maksud dari ayah kamu
Febby fadila
ya Thor air mataku menetes di bagian waktu Farhan meletakkan tangan dikepala Kinara dan berdoa 😭😭😭😭
Febby fadila
lagian ngapain kamu harus berpatokan untuk masa lalu yang hanya buat luka, lupankan Adilla, dan menata masa depan yg bahagia bersama istri dan anakmu kelak
Febby fadila
pernikahan itu ibadah jadi jalani aja dulu, dan bukalah hatimu untuk istrimu dan melihat kedepan meyakinkan bahwa kamu berhak bahagia
Febby fadila
semua yg kamu anggap nggak baik tp itu adalah jln yg akan kamu tuju ke masa depan Farhan yg lebih cerah dan penuh dengan cinta dan sayang
Febby fadila
semoga pernikahan mereka berjalan dengan baik, dan Farhan bisa membuka hatinya untuk Kinara
Febby fadila
Semoga setelah semuanya siap dengan cara sholat istikharah, kamu bisa meluluhkan es di hati Farhan
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: aamiin 🤲
total 1 replies
Febby fadila
sungguh peraturan yg ajaib di perusahaan Farhan 🤣
☘️🍀Author Sylvia🍀☘️: saking traumanya sama perempuan kak🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
Febby fadila
semua orang berhak bahagia, dan semua orang dewasa pun pernah merasakan yg namax sakit hati karena cinta, tapi bukan berarti harus di jadikan sebagai patokan untuk menutup diri,
Febby fadila
betul tu kata ayahmu Farhan nggak seharusx kamu hidup dalam luka masa lalu yg adlle lakukan, buktikan padanya kalau kamu bisa jauh lbih baik tanpanya
Febby fadila
kenapa musti jadikan patokan untuk menyakiti diri sendiri cobalah untuk kembali hidup dengan tenang dan lupakan masa lalu dan menata hidupmu agar bisa menjadi lebih baik lagi, klw trus seperti itu berarti kamu kalah farhan
Umi Kulsum
mantep jadi swami yang selalu siaga farhan...
Umi Kulsum
ya tambah pebasaran aja
Umi Kulsum
sedih eh mbacaya...lanjut tor
Umi Kulsum
bagus atuh klau kmu menyadarinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!