Seraphina, gadis panti asuhan polos, mendapati hidupnya hancur saat ia menjadi bidak dalam permainan kejam Orion Valentinus, pewaris gelap yang haus kekuasaan. Diperkosa dan dipaksa tinggal di mansion mewah, Seraphina terjerat dalam jebakan hasrat brutal Orion dan keanehan Giselle, ibu Orion yang obsesif. Antara penyiksaan fisik dan kemewahan yang membutakan, Seraphina harus berjuang mempertahankan jiwanya. Namun, saat ide pernikahan muncul, dan sang ayah, Oskar, ikut campur, apakah ini akan menjadi penyelamat atau justru mengunci Seraphina dalam neraka kejam yang abadi? Kisah gelap tentang obsesi, kepemilikan, dan perjuangan seorang gadis di tengah keluarga penuh rahasia. Beranikah kau menyelami kisahnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceye Paradise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB DUA PULUH SEMBILAN: DI ATAS ALTAR
...*********...
Seraphina terbangun di pagi yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan bagi setiap wanita dengan perasaan yang hancur berkeping-keping. Sinar matahari yang menyelinap masuk melalui tirai sutra kamarnya terasa sangat menyengat, seolah mengejek kegelapan yang baru saja ia lalui semalam. Tubuhnya terasa seperti mesin yang dipaksa bekerja melampaui batas; rasa nyeri yang hebat menjalar di setiap ototnya, terutama di area pribadinya yang terasa membengkak dan perih akibat penaklukan brutal Orion di malam sebelumnya.
Di sampingnya, tempat tidur itu sudah kosong. Orion telah pergi, meninggalkan aroma maskulin yang bercampur dengan sisa-sisa aroma gairah yang menyesakkan. Seraphina menyentuh bantal di sebelahnya, merasakan sisa kehangatan yang perlahan memudar, sama seperti harapannya untuk bebas. "Kecanduan" yang dipaksakan oleh Orion kini terasa seperti racun yang mengalir di pembuluh darahnya; ia membenci pria itu dengan segenap jiwanya, namun tubuhnya yang dikhianati insting justru memberikan reaksi gemetar setiap kali mengingat sentuhan kasar sang pemangsa.
Keheningan kamarnya pecah ketika pintu terbuka dengan dentuman semangat yang meluap-luap. Giselle masuk dengan gaun pesta yang sangat mewah, wajahnya bersinar oleh kebahagiaan yang tulus namun terasa sangat ironis bagi Seraphina.
"Nana! Bangun, pengantin cantikku! Hari yang kita nantikan sudah tiba!" Giselle berseru, suaranya yang melengking memenuhi ruangan. Ia segera duduk di tepi ranjang, mengusap pipi Seraphina yang pucat. "Lihatlah dirimu, kau pasti sangat lelah karena terlalu bersemangat memikirkan Orion, bukan? Mama sangat mengerti debaran jantungmu, sayang."
Seraphina hanya bisa menarik napas panjang dan memaksakan sebuah senyuman kaku—sebuah topeng sempurna yang telah ia asah selama berminggu-minggu di bawah tekanan. Ia tidak punya kekuatan lagi untuk membantah atau menjelaskan bahwa kelelahan yang ia rasakan bukanlah karena debaran cinta, melainkan karena perusakan jiwa dan raga yang dilakukan oleh putra wanita itu.
Tim penata rias profesional, dipimpin oleh Bibi Yani yang tampak menunduk sedih, mulai memasuki kamar. Seraphina dibantu untuk mandi dan dibersihkan dari segala jejak malam terkutuk itu. Saat ia duduk di depan cermin besar, para penata rias mulai bekerja dengan cekatan. Lapisan demi lapisan kosmetik mahal diaplikasikan untuk menutupi lingkaran hitam di bawah matanya dan rona pucat di wajahnya. Rambut panjangnya disanggul dengan sangat indah, dihiasi dengan mahkota kecil bertabur berlian yang berkilau tajam.
Ketika ia mengenakan gaun pengantinnya—sebuah mahakarya sutra putih dengan kain yang dijahit dengan tangan—Seraphina merasa seolah-olah sedang mengenakan pakaian terakhirnya. Gaun itu sangat indah, membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona, namun bagi Seraphina, berat kain itu terasa seperti beban dosa yang harus ia tanggung selamanya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin; seorang wanita yang tampak sempurna secara fisik, namun memiliki tatapan mata yang sudah lama mati.
Sementara itu, di sayap lain mansion, Orion sedang berdiri di depan cermin besar kamarnya sambil merapikan tuksedo putih nya yang sangat mahal. Potongan jas itu menonjolkan bahunya yang lebar dan tubuhnya yang kekar, memberikan kesan seorang penguasa yang sangat berwibawa. Di matanya, kilatan kepemilikan semakin memuncak.
Narasi internal Orion mendesis penuh kepuasan yang dingin. "Hari ini, dunia akan menyaksikan bagaimana aku mengunci keberadaannya. Dia bukan lagi sekadar gadis yang aku ambil, melainkan Nyonya Valentinus yang secara hukum dan agama adalah properti pribadiku. Aku akan memastikan setiap inci dari dirinya tahu bahwa dia tidak akan pernah bisa bernapas tanpa izinku. Setelah cincin ini melingkar, permainanku akan menjadi jauh lebih menarik."
Pukul sebelas pagi, lonceng gereja katedral yang megah berdentang dengan keras, mengumumkan dimulainya upacara pemberkatan. Seraphina berjalan menyusuri lorong gereja yang panjang, beralaskan karpet beludru merah yang empuk. Di sisi kirinya, Oskar Valentinus berjalan dengan kaku dan angkuh, sementara di sisi kanannya, Giselle menyeka air mata haru dengan saputangan sutra. Ribuan kilatan kamera dari wartawan yang diundang secara khusus menyilaukan pandangannya, namun Seraphina hanya menatap lurus ke depan, ke arah altar di mana Orion berdiri.
Orion tampak sangat tenang. Saat Seraphina sampai di hadapannya, pria itu meraih tangan Seraphina yang gemetar dingin. Genggaman Orion sangat kuat, seolah-olah ia sedang memberitahu Seraphina bahwa pelarian apa pun adalah kemustahilan. Seraphina bisa merasakan panas dari telapak tangan Orion, yang secara aneh memicu getaran di saraf-sarafnya yang paling sensitif, sebuah pengingat akan sentuhan liar pria itu semalam.
Pendeta mulai membacakan ayat-ayat suci dan doa-doa pengikat. Suara pendeta yang bergema di langit-langit katedral yang tinggi terasa seperti vonis mati bagi Seraphina. Di bangku terdepan, Giselle terisak bahagia, sementara Oskar menatap dengan kepuasan seorang pengusaha yang baru saja menyelesaikan transaksi paling menguntungkan dalam hidupnya.
"Bersediakah engkau, Orion Maximus Valentinus, menerima Seraphina sebagai istrimu yang sah? Untuk mencintai, menghormati, dan melindunginya dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan?" tanya pendeta dengan suara yang berwibawa.
"Saya bersedia," jawab Orion tanpa keraguan sedikit pun. Suaranya yang dalam memenuhi ruangan, terdengar sangat tulus bagi orang awam, namun bagi Seraphina, itu adalah deklarasi perang. Mata hitam Orion menatapnya tajam, menyampaikan pesan rahasia bahwa 'melindungi' baginya berarti 'mengunci'.
"Dan bersediakah engkau, Seraphina, menerima Orion Maximus Valentinus sebagai suamimu yang sah? Untuk mencintai, menghormati, dan setia kepadanya dalam suka maupun duka, hingga maut memisahkan?"
Hening sesaat menyelimuti altar. Seraphina merasakan tenggorokannya tercekat, seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencekiknya. Ia melirik ke arah bangku jemaat, melihat tatapan penuh harap dari Giselle dan tatapan dingin penuh ancaman dari Oskar. Terakhir, ia menatap mata Orion. Pria itu sedikit mempererat genggamannya, memberikan tekanan kecil pada pergelangan tangannya yang masih memar. Seraphina tahu, jika ia mengatakan tidak, dunia ini akan menjadi tempat yang jauh lebih mengerikan baginya.
"Saya... bersedia," bisik Seraphina. Suaranya sangat pelan, hampir tertelan oleh deru napasnya sendiri, namun cukup jelas untuk didengar oleh saksi dan pendeta. Bibirnya terasa sangat pahit saat mengucapkan kata-kata itu. Air mata yang mulai menggenang di matanya dianggap oleh para tamu sebagai air mata kebahagiaan, padahal itu adalah tangisan duka bagi jiwanya yang baru saja ia serahkan pada sang iblis.
"Dengan ini, atas nama Tuhan dan hukum yang berlaku, saya nyatakan kalian sebagai suami istri yang sah. Silakan cium pengantinmu."
Orion tidak menunggu lama. Ia menarik Seraphina mendekat hingga tubuh mereka bersentuhan rapat. Ia menundukkan wajahnya, dan bibirnya yang tebal mendarat di atas bibir Seraphina. Ciuman itu tidak memiliki unsur kelembutan; itu adalah sebuah klaim yang penuh dominasi di depan umum. Orion menekan bibir Seraphina dengan kuat, seolah-olah ingin menanamkan rasanya sedalam mungkin agar Seraphina tidak pernah lupa siapa pemiliknya sekarang. Ciuman itu adalah janji bisu bahwa malam-malam setelah ini akan menjadi jauh lebih intens dan tak terkendali.
Suara tepuk tangan yang meriah membahana di dalam katedral. Giselle berdiri dan bersorak kecil, sementara Oskar memberikan anggukan pengakuan yang langka. Mereka merayakan penyatuan yang dianggap sempurna, sementara di dalam dirinya, Seraphina merasa seolah-olah ia baru saja melangkah masuk ke dalam peti mati yang dilapisi emas.
Sekarang, ia bukan lagi Seraphina si gadis panti asuhan yang malang. Ia adalah Nyonya Orion Maximus Valentinus. Dan saat ia berjalan keluar dari gereja di samping suaminya yang perkasa, ia menyadari dengan kepastian yang mengerikan bahwa ini bukanlah akhir dari penderitaannya, melainkan pembukaan dari babak baru yang jauh lebih gelap di bawah kekuasaan mutlak sang suami.