Alena Alexandria, sang hacker jenius yang ditakuti dunia bawah tanah, tewas mengenaskan dalam pengejaran maut.
Bukannya menuju keabadian, jiwanya justru terlempar ke dalam tubuh mungil seorang bocah terlantar berusia lima tahun.
Sialnya, yang menemukan Alena adalah Luca, remaja 17 tahun berhati es, putra dari seorang mafia dari klan Frederick.
"Jangan bergerak atau aku akan menembakmu," desis Luca dingin sambil menodongkan senjata ke arah bocah itu.
"Ampun, Om. Maafkan Queen," ucapnya, mendongak dengan mata berkaca-kaca.
"Om?"
Dapatkah Alena bertahan hidup sebagai bocah kesayangan di sarang mafia, ataukah Luca akan menyadari bahwa bocah di pelukannya adalah ancaman terbesar yang pernah masuk ke kediaman Frederick?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14
"KEGAGALAN BUKANLAH KATA YANG ADA DALAM KAMUSKU, KALIAN CACAT MENTAL!" teriak Sean Harley menggelegar, lebih menyerupai raungan binatang buas daripada suara manusia.
Di dalam ruang kontrol pribadinya, Sean menendang sebuah kursi kayu ke dinding hingga hancur berkeping-keping. Napasnya memburu, wajahnya merah padam hingga urat-urat di lehernya menonjol seperti akar pohon yang hendak pecah.
Di depannya, seorang komandan lapangan bersimpuh dengan darah yang mengalir dari pelipisnya, akibat hantaman asbak kristal yang baru saja dilempar Sean.
"Tuan... sistem mereka... ada yang tidak beres," lapor komandan itu dengan suara gemetar. "Gas halon aktif secara otomatis, pintu-pintu terkunci dengan algoritma yang berubah-ubah. Kami terjebak seperti tikus dalam labirin!"
"Algoritma?" Sean menyentak kerah baju pria itu, mengangkatnya hingga kaki sang komandan berjinjit. "Luca Frederick tidak punya kemampuan seperti itu! Dia hanya otot dan senjata! Siapa yang membantunya?!"
"Kami tidak tahu, Tuan... seolah-olah mansion itu memiliki nyawanya sendiri."
Sean melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat pria itu jatuh tersungkur. Ia menatap layar monitor yang kini hanya menampilkan noise statis.
"Itu dia. Itu pasti dia. Kegeniusan kakakku... Queen sudah mulai terbangun. Bocah itu sudah mulai menggunakan otaknya untuk membantu Luca."
Sean mengepalkan tinjunya hingga buku jarinya memutih. Matanya berkilat penuh obsesi.
"Jika aku tidak bisa memilikinya, maka Frederick pun tidak boleh memilikinya. Kirimkan pesan ke semua jaringan kita di perbatasan. Tutup semua akses keluar kota! Aku ingin Luca Frederick merasa seperti di dalam penjara yang ia bangun sendiri!"
*
*
"Cepat, Bob. Kita tidak punya waktu untuk mengemasi barang mewah!"
Luca berdiri di depan pintu lift rahasia, matanya terus memantau jam tangan taktisnya. Mansion utama Frederick sekarang terasa seperti kuburan yang menunggu untuk digali.
"Semua unit sudah siap di jalur evakuasi bawah tanah, Luc," jawab Bobby, suaranya terdengar lewat headset. "Tapi jalan utama menuju pesisir sudah diblokade oleh orang-orang Harley. Mereka bergerak lebih cepat dari yang kita duga."
Luca melirik Queen yang masih terlelap dalam balutan jas hitamnya di kursi roda medis yang dimodifikasi. Wajah bocah itu sedikit lebih tenang setelah dikompres air hangat, meski sesekali ia masih mengigaukan barisan kode.
"Kita tidak lewat jalur utama," ucap Luca dingin. "Kita akan menggunakan jalur lama yang digunakan kakekku dulu. Jalur tikus di bawah dermaga tua."
"Tapi jalur itu sangat berbahaya, Luc. Sempit dan bisa runtuh kapan saja!"
"Lebih baik runtuh bersama tanah daripada tertangkap oleh anjing-anjing Harley," sahut Luca tanpa keraguan.
Luca mendekati Queen, lalu membungkuk untuk mengangkat tubuh mungil itu ke dalam dekapannya. Queen yang sedang setengah sadar merasa tubuhnya melayang. Ia mencium aroma sabun maskulin yang kini mulai terasa familier di hidungnya.
"Luca..." gumam Queen lirih, matanya terbuka sedikit, menatap rahang tegas Luca dari bawah. "Kita mau ke mana?"
"Ke tempat di mana kau tidak perlu meretas apa pun untuk sekadar makan ayam goreng," jawab Luca datar, meski tangannya memegang Queen dengan sangat hati-hati, seolah-olah ia sedang memegang jantungnya sendiri.
"Paman jahat... masih ada?"
"Dia masih ada, tapi dia tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi. Aku janji."
Queen terdiam, ia menyandarkan kepalanya di dada Luca. Detak jantung Luca yang kuat dan stabil entah bagaimana memberikan ketenangan pada jiwa Alena yang biasanya selalu penuh kecurigaan.
"Remaja ini... kenapa dia begitu keras kepala melindungiku? Padahal aku hanya pembawa masalah baginya," batin Alena.
Mereka mulai menuruni tangga darurat yang menuju ke terowongan gelap di bawah mansion. Suara derap langkah kaki para pengawal elit Luca bergema.
"Luc," bisik Bobby saat mereka sampai di pintu kendaraan lapis baja yang sudah menunggu di ujung terowongan. "Informan kita baru saja memberi kabar. Edgar, ayahmu... dia sedang dalam perjalanan pulang dari luar negeri. Dia tahu mansionnya diserang."
Luca menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mobil. Ia menatap kegelapan terowongan di belakangnya. "Biarkan dia pulang ke rumah yang kosong. Aku tidak akan membiarkan Papa mengambil Queen untuk dijadikan alat politiknya."
"Tapi kau tahu dia tidak suka dibangkang, Luc."
"Aku sudah lama berhenti menjadi anak penurut," sahut Luca tajam. Ia masuk ke dalam mobil, mendudukkan Queen di kursi sampingnya, dan memasangkan sabuk pengaman dengan telaten. "Jalan, Bob. Sebelum seluruh kota ini berubah menjadi medan perang."
Mobil lapis baja itu menderu pelan, melesat menembus terowongan gelap yang lembap.
Di dalam mobil, Queen menatap tangan Luca yang sedang memegang pistol dengan erat. Ia menyadari satu hal, hidupnya yang baru ini tidak akan lebih tenang dari hidupnya sebagai hacker elit dulu.
"Sepertinya aku baru saja keluar dari mulut buaya, dan masuk ke pelukan naga," pikir Alena sambil memejamkan matanya kembali, membiarkan tubuh kecilnya beristirahat sejenak sebelum badai besar berikutnya datang.
lelaki remaja dgn anak balita 😁😁😁
ternyata Sean juga manusia biasa😌