Ziva Putri Willson, putri bungsu keluarga Willson, adalah perpaduan sempurna antara kecantikan, kecerdasan, dan kepercayaan diri setinggi langit. Di usianya yang masih muda, dia telah menjadi desainer ternama yg namanya menggema hingga ke mancanegara.
Damian Alexander, CEO muda yang dikenal kejam dan dingin. Baginya, hidup hanyalah deretan angka dan nilai saham. Dia sangat anti pada wanita karena menganggap mereka makhluk paling merepotkan di dunia.
"Dengar, Tuan CEO, kamu mungkin bisa membeli saham dunia, tapi kamu tidak bisa membeli hak untuk mengatur kapan aku harus bernapas. Jadi, simpan wajah sok kuasamu itu untuk rapat, bukan untukku." -Ziva.
"Aku sudah menghadapi ribuan musuh bisnis yang licin, tapi menghadapi satu wanita bermulut tajam seperti dia jauh lebih menguras energi daripada akuisisi perusahaan. Tapi justru itu yang membuatnya berbeda." — Damian.
Siapa yang akan menyerah lebih dulu? Si Tuan Dingin yang mulai kehilangan akal sehatnya, atau Nona cerewet berwajah manis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMU KANGEN
"Makasih Mom, tapi gak usah, Ziva udah kenyang," jawab Ziva menghabiskan sarapan nya.
"Yasudah, kalau begitu Mommy keluar dulu," ucap Nyonya Mauren, keluar dari kamar Ziva.
"Iya."
Setelah Mommy nya keluar, Ziva melanjutkan pekerjaan nya, dengan begitu serius dan fokus.
Saking fokusnya, Ziva tidak sadar, dia hampir menghabiskan waktu setengah hari di dalam kamar nya.
"Uh... akhir selesai juga," ucap Ziva, merenggang kan otot-otot tangan nya yang kaku.
Ziva melihat jam yang ada di handphone nya, ternyata jam sudah menunjukkan pukul 11:23.
"Aku harus segera bersiap-siap, jangan sampai Vio mengeluarkan omelan nya yang mirip, suara petasan gantung itu," ucap Ziva, menutup laptop nya.
Ziva bergegas menuju kamar mandi nya, untuk mencuci muka, karena tadi pagi dia sudah mandi.
Dua puluh lima menit kemudian, Ziva sudah rapi dan cantik, siap untuk bertemu dengan kedua sahabat.
Ziva memilih mengenakan pakaian yang sedikit mencolok, sebuah oversized shirt berwarna fuchsia yang dipadukan dengan hot pants dan sepatu boots tinggi, dia ingin menunjukkan pada Damian bahwa dia bukanlah wanita penurut yang bisa diatur dengan pria kaku itu.
Ziva keluar dari kamar nya, dan turun ke lantai bawah.
Saat Ziva menuruni tangga dengan langkah mantap, Nyonya Mauren yang sedang asyik meminum teh di ruang tengah langsung menoleh. Matanya membelalak melihat penampilan putrinya yang sangat mencolok itu.
"Ya ampun, Sayang! Kamu mau ketemuan sama sahabat atau mau ikut peragaan busana di Paris?" goda Nyonya Mauren sambil terkikik geli.
"Ini namanya berekspresi lewat pakaian, Mom. Biar si Tuan Es itu tahu kalau calon istrinya ini punya jiwa seni yang tinggi, bukan kaku kayak dia," jawab Ziva memutar bola matanya.
"Hati-hati, Zi. Biasanya yang gayanya paling berlawanan itu yang paling cepat nempel, kayak magnet," ucap Nyonya Mauren lagi, masih tidak berhenti menggoda, Putri nya.
"Mom udah dong, jangan bikin mood aku rusak," ucap Ziva, menggerutu.
"Iya iya, udah sana pergi, jangan lupa, jam dua siang nanti kirim lokasinya ke Damian. Jangan sampai calon menantu Mommy itu nyasar cari kamu," ucap Nyonya Mauren, mengingat kan.
"Dia punya GPS kan? Kalau dia pintar bisnis, harusnya dia pintar pakai peta," jawab Ziva ketus sambil mencium pipi Mommy-nya, pamit pergi.
Cup
Ziva melajukan mobilnya menuju sebuah kafe aesthetic yang menjadi tempat langganan mereka bertiga sejak dulu.
Begitu sampai, dia sudah melihat Viola dan Tiara melambai-lambai heboh dari sudut ruangan.
"ZIVA! OMG, gila ya kamu, makin slay aja!" teriak Viola sampai beberapa pengunjung kafe menoleh.
"Gue juga kangen sama Lo, tapi gak usah teriak-teriak jua Vio," jawab Ziva, membalas pelukan Viola.
"Udah gantian, aku juga kangen sama Ziva," ucap Tiara, menarik Viola.
Viola mendengus sebal saat pelukan nya di tarik paksa oleh Tiara.
"Dasar dokter, psikop*t," ucap Viola, menggerutu.
Tiara adalah Dokter bedah, makanya Viola sering memanggil sahabat nya itu dengan panggilan Dokter psikopat, karena suka belah-belah organ manusia.
"Zi gimana kabar kamu?" tanya Tiara, memeluk Ziva.
"Buruk," jawab Ziva, dramatis.
Tiara yang mendengar jawaban dari Ziva, langsung melepaskan pelukan nya, dan menatap sahabat nya itu dengan tatapan khawatir.
"Kamu kenapa Zi? Lagi ada masalah?" tanya Tiara, hati-hati.
"Hem"
Gumam Ziva, mengangguk lesu.
"Ayo duduk, kamu mau pesen apa Zi?" tanya Viola, menarik Ziva untuk duduk.
Setelah memesan minuman, Ziva tidak bisa lagi menahan sesak di dadanya, dia langsung menumpahkan semuanya.
"Cerita sekarang! Kenapa muka lo ditekuk kayak baju belum disetrika?" ucap Viola tidak sabar.
Walaupun Viola yang paling cerewet di antara ketiga nya, tapi Viola sangat menyayangi kedua sahabat nya itu.
Ziva menghela napas panjang dan meletakkan ponselnya di meja.
"Gue dijodohin, minggu depan nikah," ucap Ziva, tanpa basa-basi.
BRAK
"APA?!"
Teriak Viola dan Tiara bersamaan, membuat mereka kembali menjadi pusat perhatian, apa lagi suara gebrakan meja yang di lakukan oleh Tiara.
"Bercanda kamu nggak lucu, Zi, kita kan baru mau ngerayain kepulangan kamu!" ucap Tiara tidak percaya.
"Gue serius, gue dijodohin sama anak sahabat bokap gue. Namanya Damian Alexander, pria paling kaku, paling dingin, dan paling nggak punya perasaan yang pernah gue temuin!" jawab Ziva sambil mengaduk-aduk minumannya dengan kasar.
"Tunggu... Damian Alexander? CEO Alexander Group yang sering masuk majalah itu?" tanya Viola dengan mata berbinar.
"Zi, itu bukan musibah, itu rejeki nomplok! Dia itu most wanted sejagat raya, meskipun mukanya emang kayak kulkas dua pintu," lanjut Viola, sahabat Ziva yang paling update tentang gosip.
"Terserah! Gue nggak peduli dia kaya atau ganteng, yang jelas, dia nyebelin banget. Masa dia bilang pernikahan ini cuma kontrak sosial? Dia pikir gue barang dagangan apa?" ucap Ziva mengerucutkan bibirnya kesal.
"Benar-benar menyebalkan si Dami Dami itu," Ziva terus mengomel, menceritakan kejadian di bandara hingga makan malam tadi malam.
Sementara di gedung Alexander Group, suasana terasa begitu tegang, namun bukan karena masalah bisnis.
Damian Alexander duduk di kursi kebesarannya, menatap tumpukan berkas di meja, namun pikirannya sesekali melayang ke arah wanita yang baru saja dia temui kemarin.
Riko, asisten pribadi Damian yang sudah bekerja bersamanya selama tujuh tahun, masuk ke ruangan dengan langkah hati-hati, membawa tablet yang berisi jadwal harian sang CEO.
"Tuan, jadwal pertemuan dengan dewan direksi sudah selesai. Agenda selanjutnya adalah peninjauan proyek di pelabuhan pada jam satu siang," lapor Riko dengan nada profesional.
Damian terdiam sejenak, lalu melirik jam tangan mahalnya.
"Batalkan peninjauan itu, Riko, geser ke besok pagi," perintah Damian, datar.
Riko sedikit terkejut, mendengar pertanyaan Tuan nya, karena selama dia ikut Damian, tidak pernah sama sekali seorang Damian Alexander membatalkan jadwal kerja demi alasan pribadi.
"Baik, Tuan, apakah ada agenda mendadak lainnya?" tanya Riko, sopan.
"Jam dua siang nanti, aku harus menjemput Ziva," jawab Damian bersandar di kursinya, mengusap rahangnya yang tegas.
"Siapkan mobil Ferrari, pastikan interiornya bersih! Dan cari tahu di mana lokasi restoran atau tempat nongkrong yang biasa dikunjungi para sosialita di pusat kota!" perintah Damian, tegas.
Untuk kedua kalinya Riko di buat terkejut dengan pernyataan Tuan nya, hampir saja dia menjatuhkan tabletnya.
"Nona Ziva Putri Willson, Tuan? Calon istri Anda?" tanya Riko, tidak bisa menyembunyikan keterkejutan nya.
"Siapa lagi?" jawab Damian dingin, menatap Riko dengan tatapan tajam yang membuat asistennya itu langsung menegakkan punggung.
"Ah, maaf Tuan, akan segera Saya atur," ucap Riko, langsung melacak keberadaan calon Nyonya bos nya.
Tidak sampai lima menit, Riko sudah mendapatkan lokasi Ziva.
abang posesif vs clon suami kutub....🤣🤣🤣
crazy up dpng thorrrrr
koreksi ya semangat
bru brbgi air mnum aja udh baper...
kbyang nnti kl udh nkah,trs tnggal srumah....atw sekamar pula.....🤭🤭🤭