"Menikah muda adalah jalan ninjaku!"
Bagi Keyla, gadis cantik kelas 3 SMA yang keras kepala dan hobi tebar pesona, cita-citanya bukan menjadi dokter atau pengusaha, melainkan menjadi istri di usia muda. Namun, belum ada satu pun pria seumurannya yang mampu meluluhkan hatinya yang pemilih.
Sampai sore itu, hujan turun di sebuah halte bus. Di sana, ia bertemu dengan Arlan. Pria berusia 28 tahun dengan setelan jas mahal, tatapan mata setajam silet, dan aura dingin yang sanggup membekukan sekitarnya. Arlan adalah definisi nyata dari kematangan dan kemewahan yang selama ini Keyla cari. Hanya dengan sekali lirik, Keyla resmi menjatuhkan pilihannya. Om Duda ini harus jadi miliknya.
Keyla memulai aksi pengejaran yang agresif sekaligus menggemaskan, yang membuat Arlan pusing tujuh keliling.
Lantas, mampukah Keyla meluluhkan hati pria yang sudah menutup rapat pintu cintanya? Atau justru Keyla yang akan terjebak dalam gelapnya rahasia sang duda kaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kimmy Yummy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 22
Ballroom Hotel Grand Mahakam disulap menjadi ruang fantasi bergaya Victorian. Lampu kristal yang meredup memberikan nuansa remang yang intim, sementara alunan musik jazz kontemporer memenuhi udara. Hampir seluruh mahasiswa Fakultas Ekonomi hadir dengan topeng masing-masing.
Keyla melangkah masuk dengan tangan yang terpaksa bertengger di lengan jas Vino. Ia mengenakan topeng renda hitam yang hanya menutupi area matanya, memberikan kesan misterius pada gaun merah satinnya.
"Lihat itu, Key. Semua mata tertuju pada kita," bisik Vino dengan nada bangga yang tidak disembunyikan.
"Mereka melihat gaun gue, Kak. Bukan kita," balas Keyla ketus.
Vino menuntun Keyla ke tengah lantai dansa saat musik berganti menjadi tempo yang lebih lambat dan romantis. "Satu dansa, Key. Sesuai janji lo, malam ini lo adalah pasangan gue."
Keyla menarik napas panjang. Ia meletakkan tangannya di bahu Vino, sementara tangan Vino melingkar di pinggangnya. Vino menarik tubuh Keyla sedikit terlalu dekat, membuat Keyla merasa risih.
"Kak, jaraknya dijaga," tegur Keyla pelan.
"Ayo lah, Key. Arlan nggak ada di sini. Dia mungkin lagi sibuk sama berkas-berkas membosankannya. Kenapa lo nggak nikmatin malam ini sama cowok yang bener-bener seumur sama lo?" bisik Vino ditelinga Keyla.
Keyla mencoba melepaskan diri, namun cengkeraman Vino di pinggangnya mengeras. "Lepasin, Kak. Gue udah penuhin janji gue buat dateng."
"Belum, acaranya baru dimulai," ucap Vino, dengan senyum yang mendadak berubah.
Sementara itu di sudut ruangan yang paling gelap, seorang pria berdiri diam. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, dengan topeng kulit hitam legam yang menutupi wajah bagian atasnya. Sosoknya begitu menonjol sehingga beberapa mahasiswa menjauh secara naluriah.
Pria itu adalah Arlan. Ia menatap pemandangan di lantai dansa dengan rahang yang mengeras. Matanya mengikuti setiap gerakan tangan Vino yang menyentuh Keyla.
"Tuan, apakah kita harus bergerak sekarang?" bisik seorang pria yang berdiri di belakangnya.
"Belum. Biarkan anak muda itu merasa menang sejenak. Aku ingin melihat seberapa jauh dia berani melangkah," kata Arlan.
Di lantai dansa, Vino semakin berani. Ia menundukkan wajahnya, mencoba mencium leher Keyla.
"Kak! Cukup!" Keyla mendorong dada Vino dengan kuat hingga genggaman pria itu terlepas. "Gue bukan barang yang bisa lo beli pake flashdisk sialan itu!"
"Kenapa sih? Lo pura-pura suci? Lo mau sama om-om itu karena uangnya, kan? Gue juga punya uang, Key! Gue punya masa depan!" Vino mulai kehilangan kendali, suaranya menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka.
"Gue mau sama dia karena dia pria sejati, bukan pengecut yang pake cara licik buat dapetin cewek!" balas Keyla, matanya berkilat penuh kemarahan.
Vino tertawa sinis, ia meraih pergelangan tangan Keyla dengan kasar. "Lo nggak bakal bisa pergi sebelum—"
Tiba-tiba, sebuah tangan besar dengan sarung tangan kulit hitam mencekal pergelangan tangan Vino..
"Aku rasa, kata lepaskan sudah cukup jelas diucapkan olehnya."
Keyla membeku. "Om... Arlan?" ucapnya lirih.
Pria bertopeng hitam itu tidak menoleh pada Keyla. Matanya yang tajam menatap Vino dari balik lubang topeng. Arlan tidak perlu membuka identitasnya agar orang tau bahwa dia adalah predator puncak di ruangan itu.
"Siapa lo?! Jangan ikut campur!" gertak Vino.
Arlan melepaskan tangan Vino dengan sentakan yang membuat pemuda itu terhuyung ke belakang. "Namaku tidak penting untuk orang sepertimu. Tapi aku punya satu saran. Carilah wanita yang level-nya sesuai dengan kepicikanmu. Karena wanita ini..." Arlan melangkah maju, menarik Keyla ke dalam pelukannya secara posesif, "Berada di luar jangkauan impianmu yang paling liar sekalipun."
"Ayo pulang," ucap Arlan pada Keyla, lalu melangkah pergi dari hadapan Vino.
"Hey! Keyla punya janji sama gue!" teriak Vino, mengejar Keyla.
Langkah Arlan terhenti, ia menoleh sedikit, memberikan tatapan yang membuat Vino langsung mematung di tempat.
"Janji itu sudah lunas saat dia melangkah masuk ke sini. Dan jika kamu berani mendekatinya lagi di kampus, aku pastikan beasiswamu dan reputasi keluargamu akan hilang sebelum matahari terbit besok pagi. Aku tidak sedang menggertak." ucap Arlan, lalu menuntun Keyla keluar dari ballroom.
Sesampainya di lobi hotel yang sepi, Arlan melepaskan tangan Keyla. Ia melepas topeng hitamnya, memperlihatkan wajahnya yang penuh dengan amarah yang tertahan.
"Puas, Keyla? Puas dipermalukan di depan teman-teman kampusmu?" tanya Arlan, matanya menatap Keyla dengan tajam.
Keyla menunduk,"Maaf, Om... aku cuma mau bantu Om..."
"Aku tidak butuh bantuan yang menghancurkan harga diriku, Keyla! Kamu pergi dengan pria lain di belakangku, memakai gaun ini untuk pria lain!" Arlan menunjuk gaun merah Keyla dengan jarinya. "Kamu pikir aku akan bangga melihat pengorbanan konyolmu ini?"
"Aku nggak tau harus gimana lagi, Om! Om jauhin aku kemarin!" tangis Keyla pecah.
Arlan menghela napas panjang, ia memejamkan matanya sejenak mencoba meredam emosinya yang meledak. Ia mendekat, lalu tanpa diduga, ia menarik Keyla ke dalam pelukan yang sangat erat.
"Jangan pernah lakukan ini lagi," bisik Arlan. "Jangan pernah merendahkan dirimu demi siapa pun, termasuk demi Aku. Kamu jauh lebih berharga dari sekadar rekaman CCTV."
Keyla menangis di dada Arlan, menyadari bahwa meskipun Arlan sangat marah, pria itu tetaplah pelindung sejatinya. Namun, di kejauhan, di balik pilar lobi, seseorang sedang memperhatikan mereka. Siska kembali muncul, kali ini dengan senyum yang lebih lebar.
"Drama yang indah," gumam Siska. "Mari kita lihat bagaimana reaksi Pak Baskoro saat tau Arlan membuat keributan di acara kampus anaknya."