Berisi kumpulan cerita KookV dari berbagai semesta. Romantis, komedi, gelap, hangat, sampai kisah yang tak pernah berjalan sesuai rencana.
Karena di antara Kook dan V,
selalu ada cerita yang layak diceritakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Axeira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 CALM MEET CHAOS
Hujan turun tepat waktu.
Seolah kampus ini ikut ngatur skenario.
Taehyung berdiri di selasar belakang fakultas seni.
Tempat yang sama.
Hujan yang mirip.
Tapi rasanya… beda.
Langkah kaki kedengeran.
Pelan.
“Lo nunggu lama?” Jungkook tanya.
“Enggak,” Taehyung jawab.
“Gue baru sampe”
Padahal dari wajahnya—
dia udah di situ cukup lama.
Mereka berdiri berhadapan.
Jarak satu langkah.
Hujan jatuh di luar atap.
Sunyi yang berat.
Jungkook menarik napas panjang.
“Gue udah mikir banyak hari ini,” katanya.
“Dan semuanya balik ke satu hal.”
Taehyung nunggu.
“Gue suka sama lo,” Jungkook lanjut.
“Bukan karena lo Calm,
bukan karena lo beda dari gue.”
Taehyung menatapnya.
“Tapi karena sama lo,
gue pengen jadi versi gue yang lebih baik.”
Kalimat itu jatuh pelan.
Tanpa drama.
Tanpa geng.
“Gue tau gue Chaos,” Jungkook sambung.
“Gue berisik, ribet, dan sering kebablasan.”
Taehyung nyengir kecil.
“Sedikit.”
Jungkook ketawa kecil.
“Tapi sama lo,” Jungkook bilang,
“gue belajar nge rem.”
Dia melangkah setengah langkah lebih dekat.
“Gue gak mau maksa lo pacaran,” katanya jujur.
“Gue cuma mau lo tau—
perasaan gue nyata.”
Sunyi.
Taehyung menunduk sebentar.
Hujan makin deras.
“Lo tau gak yang paling bikin gue takut?”
Jungkook nambah pelan.
Taehyung nengok.
“Kalau suatu hari nanti,
lo bosen sama gue yang ribut.”
Taehyung menghela napas kecil.
“Jungkook,” katanya lembut.
“Gue gak jatuh karena lo tenang.”
Jungkook menahan napas.
“Gue jatuh karena lo berusaha.”
Taehyung melangkah maju.
Sekarang jarak mereka tinggal sejengkal.
“Dan itu… cukup buat gue.”
Jungkook menatapnya lama.
“Jadi…”
suaranya serak.
“…gue boleh berharap?”
Taehyung tersenyum kecil.
“Lo boleh nunggu,” jawabnya.
“Dan gue gak pergi.”
Jungkook mengangguk.
“Itu udah lebih dari cukup.”
Hujan mulai reda.
Taehyung mengulurkan tangan.
Bukan digenggam.
Cuma… terbuka.
Jungkook ragu sepersekian detik.
Lalu menyambut.
Genggamannya hangat.
Tenang.
“Besok,” Taehyung bilang,
“kita jelasin ke mereka.”
Jungkook senyum.
“Oke”
Mereka berdiri berdampingan.
Natap hujan yang tersisa.
Di kejauhan…
Chaos lagi ngintip dari balik gedung.
“ITU BELUM PACARAN?” Mingyu frustrasi.
Jimin ngelirik.
“Tapi mereka bahagia.”
Namjoon senyum kecil.
“Itu yang penting.”
Taehyung melepaskan tangan lebih dulu.
“Gue pulang.”
Jungkook ngangguk.
“Hati-hati.”
Taehyung melangkah…
lalu berhenti.
“Jungkook.”
“Ya?"
“…makasih udah jujur.”
Jungkook senyum.
“Terima kasih juga udah nerima.”
Taehyung pergi.
Jungkook masih berdiri disana.
Hujan udah berhenti.
Tapi dadanya hangat.
Si Chaos akhirnya ngomong.
Dan si Calm…
tetap di situ.
___
Taehyung bangun pagi dengan perasaan aneh.
Bukan deg-degan.
Bukan gugup.
Tapi… ringan.
HP-nya nyala.
Pesan dari Jungkook masuk jam enam pagi.
JUNGKOOK:
Pagi.
Jangan lupa sarapan.
Taehyung senyum kecil.
Balas singkat.
TAEHYUNG:
Pagi.
Cerewet.
Detik kemudian—
JUNGKOOK:
Gue si Chaos yang lagi berusaha.
Taehyung ketawa pelan.
__
Di kampus.
Taehyung jalan ke kelas.
Orang-orang masih melirik.
Tapi kali ini…
dia gak peduli.
Karena Jungkook nunggu di depan gedung.
Bersandar santai.
Pas liat Taehyung, dia senyum.
“Pagi,” Jungkook bilang.
“Pagi.”
Mereka jalan bareng.
Tanpa pegang tangan.
Tapi jaraknya dekat.
Jam makan siang.
Dua geng kumpul.
Atmosfer tegang.
“Jadi?” Mingyu gak sabar.
“Ada update?”
Taehyung duduk tenang.
Jungkook nengok ke dia.
“Belum,” Jungkook jawab.
Mingyu teriak,
“LAH?”
Taehyung menatap Jungkook.
Lama.
Lalu dia berdiri.
“Gue mau ngomong.”
Semua langsung diem.
Taehyung menatap sekeliling.
“Gue orangnya pelan,” katanya.
“Dan gue gak suka keputusan karena tekanan.”
Jungkook nunduk sedikit.
“Tapi gue juga gak mau terus menggantung,”
Taehyung lanjut.
Dia nengok ke Jungkook lagi.
“Lo nunggu dengan baik,” katanya lembut.
“Dan gue menghargai itu.”
Chaos nahan napas.
Calm nunggu.
Taehyung melangkah satu langkah mendekat ke Jungkook.
“Jadi… iya.”
Satu kata.
Gak keras.
Gak heboh.
Tapi cukup bikin Jungkook bengong.
“…iya apa?” Mingyu bisik.
Taehyung nyengir tipis.
“Iya gue mau.”
Jungkook tersadar.
“TAEHYUNG—”
dia berhenti, nahan diri.
Tarik napas.
“…makasih.”
Taehyung ketawa kecil.
Jungkook senyum lebar.
Lebih lebar dari biasanya.
“SELAMAT DATANG DI DUNIA ORANG PACARAN,” Hoseok teriak.
Seokjin nutup muka.
“Gue capek.”
Yoongi senyum tipis.
“Akhirnya.”
Namjoon nepuk bahu Jungkook.
“Jaga.”
“Iya,” Jungkook jawab serius.
Sore itu.
Taehyung dan Jungkook duduk berdua di taman.
“Jadi,” Jungkook mulai,
“kita resmi?”
Taehyung mengangguk.
“Iya.”
“Pegangan tangan sekarang sah?”
Taehyung melirik.
“…iya.”
Jungkook menggenggam tangannya.
Kali ini tanpa ragu.
Tanpa mikir.
“Lo tau gak,” Jungkook bilang,
“ini pacaran paling tenang yang pernah gue rasain.”
Taehyung senyum.
“Dan ini paling berisik yang pernah gue pilih.”
Mereka ketawa bareng.
Matahari sore turun pelan.
Chaos ketemu Calm.
Dan kali ini—
bukan buat berantem.
Tapi buat pulang bareng.