Niat hati merayakan ulangtahun pernikahan kedua dengan kejutan manis, Cakra justru dihantam kenyataan pahit. Di dalam apartemen mereka, ia menemukan Hana terlelap dalam pelukan sepupunya sendiri. Tanpa tahu bahwa ini adalah jebakan licik sang ibu mertua yang tak pernah merestui mereka, Cakra terbakar api cemburu.
Malam itu juga, tanpa ruang untuk penjelasan, talak dijatuhkan. Hana hancur. Di balik kehancuran itu, ia menyimpan rahasia besar: sebuah kabar kehamilan yang baru saja ingin ia sampaikan sebagai hadiah anniversary mereka.
Tahun-tahun berlalu, Hana bangkit dan berjuang membesarkan putra mereka sendirian. Namun, waktu adalah saksi yang paling jujur. Akankah kebenaran tentang rencana jahat sang ibu mertua akhirnya terungkap? Dan saat penyesalan mulai menghujam Cakra, mampukah Hana memaafkan pria yang lebih memilih percaya pada amarah daripada cintanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengikhlaskan Hana
Langkah-langkah strategis mulai diambil untuk membentengi kehidupan El dari jangkauan Cakra. Keputusan pertama yang diambil Hana adalah memindahkan El ke sebuah sekolah internasional dengan sistem keamanan berlapis dan akses masuk yang sangat ketat. Di sana, tidak sembarang orang bisa menjemput tanpa kartu akses khusus dan verifikasi sidik jari.
Di ruang kerja Pak Sutoyo, suasana masih terasa panas. Pak Sutoyo berdiri di depan jendela besar, tangannya mengepal erat di belakang punggung.
"Cakra benar-benar sudah melampaui batas. Dia pikir dia siapa bisa membawa cucuku seperti itu?" geram Pak Sutoyo. "Hana, berikan izin pada Papah. Papah akan tarik semua pengaruh Papah di pasar saham untuk meruntuhkan Ardiwinata Group sekarang juga!"
Hana, yang sedang duduk di sofa sambil menyesap teh hangat, segera bangkit dan memegang lengan ayahnya.
"Jangan, Pah. Tolong jangan lakukan itu," cegah Hana lembut. "Masih ada keluarga Ardiwinata yang baik padaku selama ini. Ayah Ardi adalah satu-satunya orang yang membelaku saat aku tidak punya siapa-siapa di rumah itu. Jika Papah menghancurkan perusahaannya, Papah juga akan menyakiti beliau."
Hana menatap ayahnya dengan sorot mata bijak. "Kalau bisa, aku meminta Papah membantu Pak Ardi, tapi tanpa melibatkan Global Energi, Pah. Biarkan bantuan itu datang secara personal atau melalui relasi lain."
Pak Sutoyo terdiam sejenak, menatap putrinya dengan rasa bangga yang membuncah. Ia tak menyangka penderitaan selama enam tahun tak membuat hati Hana menjadi berkarat oleh kebencian buta.
"Baiklah, Nak," ucap Pak Sutoyo akhirnya dengan nada melunak. "Papah bangga padamu. Kebetulan Papah punya rekan bisnis yang sedang mencari investor baru untuk proyek infrastruktur. Sepertinya Ardiwinata Group cocok bergabung di sana untuk memulihkan kondisi keuangan mereka."
"Alhamdulillah, terima kasih, Pah. Walau bagaimanapun, mereka adalah keluarga El. Aku tidak mungkin menghancurkan akar tempat putraku tumbuh," ucap Hana tulus.
Persiapan di Markas Kepolisian
Di sisi lain kota Jakarta, El mulai menjalani hari-harinya di sekolah baru. Ia tampak lebih pendiam dan pasrah. Meskipun rindu pada Cakra masih ada, ia tidak berani lagi mengungkitnya. Ia sadar, kebohongannya kemarin telah melukai perasaan ibunya, dan ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Sementara itu, Tama sedang sibuk mengurus berkas terakhir di kantornya. Perintah Hana untuk mempercepat pernikahan disambutnya dengan kesigapan luar biasa, meskipun ada rasa getir di hatinya karena tahu ini hanyalah kesepakatan sepihak.
"Wah, akhirnya Pak Komisaris melepaskan masa lajangnya juga! Banyak wanita yang patah hati nih di Mabes, termasuk Bu Ratna!" goda Briptu Marwan sambil meletakkan laporan di meja Tama.
"Lagian, suruh siapa cuma mendam perasaan? Akhirnya keduluan kan sama wanita lain!" timpal IPDA Bara sambil tertawa renyah.
Tama hanya tersenyum tipis, tidak membantah ataupun membenarkan. Ia meraih ponselnya, menatap wallpaper layar yang kini berganti menjadi foto Hana dan El saat mereka sedang makan siang beberapa waktu lalu.
'Hana, meskipun pernikahan kita hanya pura-pura di matamu, bagiku setiap janji yang akan ku ucapkan nanti adalah kebenaran yang mutlak,' batin Tama. Ia menghela napas panjang, menatap lencana kepolisiannya. 'Aku harap suatu saat kau bisa mencintaiku sepenuhnya, meskipun aku sadar aku harus tahu diri siapa aku di hatimu.'
.
.
Persiapan pernikahan dilakukan secara tertutup dan sangat cepat. Hana menginginkan pernikahan yang sah secara agama dan negara secepat mungkin agar status perlindungan Tama atas dirinya dan El menjadi legal di mata hukum.
Namun, di tengah kesibukan itu, Hana tetap memikirkan Pak Ardi. Ia mengirimkan sebuah surat melalui kurir pribadi untuk mantan ayah mertuanya itu, memberikan informasi tentang peluang bisnis yang telah diatur oleh ayahnya, tanpa sepengetahuan Cakra.
Hana memandang ke arah jendela, bergumam dalam hati, "Ini adalah balas budiku untukmu, Ayah Ardi. Tapi untuk Cakra.... kehadiranku sebagai istrinya telah mati. Besok, aku akan menjadi milik orang lain."
.
.
Malam menjelang hari pernikahan Hana dan Tama menjadi malam yang paling kelam bagi seorang Cakra Ardiwinata. Ruang kerja yang biasanya menjadi saksi keangkuhannya sebagai pemimpin perusahaan, kini hanya menjadi saksi kerapuhannya sebagai seorang pria.
Kabar dari Pak Ardi mengenai rencana pernikahan Hana yang akan digelar esok hari meruntuhkan pertahanan terakhirnya. Cakra jatuh terduduk di atas lantai marmer yang dingin, pundaknya berguncang hebat. Impian yang ia pupuk selama enam tahun penantian impian untuk membawa Hana kembali ke Mansion ini dan memperbaiki semuanya, kini telah hancur lebur tanpa sisa.
"Kenapa, Pah? Kenapa harus jadi seperti ini?" isak Cakra dengan suara serak yang memilukan. Air mata yang selama ini ia tahan kini tumpah tak terbendung. "Aku telah kehilangan seluruh kebahagiaanku.... Semuanya hilang. Ini semua karena ulah Mamah, dan aku yang sangat bodoh! Aku terlalu percaya dengan omongannya selama ini, sampai aku buta pada ketulusan istriku sendiri."
Pak Ardi mendekat, menatap putranya dengan rasa iba yang mendalam. Ia membungkuk, membantu Cakra yang lemas tak berdaya untuk bangkit, namun Cakra seolah kehilangan tulang penyangga tubuhnya.
"Putraku, Cakra.... Terimalah semua takdir ini," ucap Pak Ardi lembut, suaranya mengandung kebijaksanaan sekaligus kesedihan. "Mungkin kau dan Hana memang tidak berjodoh lagi. Terlalu banyak luka yang sudah terlanjur mengering, dan rintangan yang kalian alami sudah terlalu berat untuk dipaksakan kembali."
Pak Ardi menarik napas panjang, menatap lurus ke mata Cakra yang merah. "Sekarang, belajarlah untuk ikhlas. Hana dan Pak Sutoyo mengundang keluarga kita untuk hadir ke acara resepsi besok. Papah harap kau persiapkan mentalmu. Kau jangan pernah membuat kekacauan lagi, Cakra. Ingat pesan Papah!"
Cakra menunduk, membiarkan air matanya membasahi kemejanya.
"Meskipun saat ini Hana sudah bukan siapa-siapa kamu lagi di atas kertas, tapi ada El Barack," lanjut Pak Ardi dengan nada memperingatkan. "Dia memiliki darah Ardiwinata, ingat itu! Kau masih memiliki El. Kau masih punya kesempatan untuk menjadi ayah yang baik baginya, meski bukan suami bagi ibunya. Papah juga sangat merindukan cucu Papah."
Mendengar nama El, dada Cakra terasa semakin sesak. Rasa sakitnya berlipat ganda, ia tidak hanya kehilangan wanita yang ia cintai, tapi ia juga harus menyaksikan putra kandungnya memanggil pria lain dengan sebutan "Ayah".
"Ikhlas...." gumam Cakra dengan bibir bergetar. "Bagaimana bisa aku ikhlas melihat dia bersanding dengan Tama, Pah? Pria itu akan memiliki semua yang seharusnya menjadi milikku."
"Itu adalah konsekuensi dari kesalahan masa lalu mu, Cakra," sahut Pak Ardi tegas namun tetap tenang. "Hadir besok bukan untuk merebut, tapi untuk merelakan. Jika kau mencintai Hana, biarkan dia hidup tanpa ketakutan lagi."
Cakra terdiam seribu bahasa. Ruangan itu mendadak sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding yang seolah menghitung mundur waktu menuju hari di mana Hana benar-benar akan menjadi milik orang lain secara sah. Ia menyadari satu hal, bahwa kali ini, ia benar-benar kalah.
Bersambung...
salam laros mania