NovelToon NovelToon
Residu Kulit Kacang

Residu Kulit Kacang

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) / Selingkuh
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: saytama

Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."

Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.

Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sertifikat Dan Nafas Terakhir

Waktu terasa melambat di bulan Desember ini. Angka di kalender seolah mengejekku, mengingatkanku bahwa ini adalah bulan terakhir dari tenor lima belas tahun yang dulu terasa seperti hukuman seumur hidup. Setiap bulan, tanpa absen, aku telah menyisihkan sebagian dari jiwaku untuk dikirimkan ke rekening bank. Dari zaman aku masih gadis lajang yang ketakutan, hingga kini menjadi ibu dari seorang anak perempuan yang mulai masuk sekolah dasar.

Hari itu, aku datang ke kantor pusat bank dengan mengenakan pakaian terbaikku. Langkahku mantap, meski jantungku berdegup kencang. Saat petugas bank menyerahkan sebuah map biru tebal berisi sertifikat asli rumah kami, tanganku gemetar. Aku menyentuh kertas yang agak kaku itu, meraba stempel resmi negara dan namaku yang tertera di sana Maya .

Hanya empat huruf, tapi butuh ribuan liter air mata, jutaan siung bawang yang dikupas, dan ribuan jam lembur untuk memastikan nama itu tetap ada di sana. Aku tidak langsung pulang. Aku duduk di parkiran mobil, memeluk map itu erat-erat di dadaku, dan menangis sejadi-jadinya. Bukan tangis sedih, tapi tangis seorang pejuang yang akhirnya bisa meletakkan senjatanya. Rumah itu kini benar-benar milikku. Tidak ada lagi yang bisa mengusir kami. Tidak ada lagi ancaman sita.

Namun, dunia selalu punya cara untuk menyeimbangkan kebahagiaan dengan rasa perih.

Sesampainya di rumah, suasana tidak seperti yang kubayangkan. Tidak ada perayaan besar. Aku menemukan Ibu sedang menangis di depan kamar Ayah. Mas Aris dan Bayu sudah ada di sana, wajah mereka tegang. Ayah sedang berbaring, napasnya terdengar berat dan satu-satu, seperti suara kayu yang berderit ditiup angin kencang. Penyakit lamanya kembali menyerang dengan sisa kekuatan yang menghancurkan.

Aku mendekati ranjang Ayah, berlutut di sampingnya, dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Yah... lihat ini. Maya sudah bawa pulang sertifikatnya. Rumah ini sudah lunas. Kita sudah punya tempat tinggal tetap selamanya."

Ayah membuka matanya sedikit. Ada binar tipis, sebuah senyum yang sangat lemah tersungging di bibirnya yang pucat. Tangannya yang dingin dan kasar mencari tanganku. Ia menggenggam jemariku dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak bisa bicara, tapi matanya seolah berkata: "Terima kasih, Nak. Maafkan Ayah yang sudah merepotkanmu sejauh ini."

Malam itu, kami semua berkumpul di kamar Ayah. Bayu, Sari, Mas Aris, dan bahkan Nayla yang diam seribu bahasa seolah mengerti suasana. Ayah menatap kami satu per satu, seolah sedang merekam wajah-wajah kami untuk terakhir kalinya. Di rumah yang baru saja "merdeka" ini, sesosok pria yang menjadi alasan awal perjuanganku kini sedang bersiap untuk pergi.

Tepat saat azan subuh berkumandang

Genggaman tangan Ayah di jemariku perlahan mengendur. Napasnya yang tadinya berat, kini menjadi tenang, lalu berhenti sama sekali. Ayah pergi di bawah atap yang kokoh, di atas kasur yang empuk, dan dikelilingi oleh anak-anak yang mencintainya. Ia pergi sebagai pria yang terhormat, bukan sebagai gelandangan yang terusir.

Kematian Ayah adalah titik balik yang aneh. Di hari aku memegang bukti kepemilikan duniaku, aku juga harus melepas jangkar hidupku. Saat jenazah Ayah dibawa keluar dari gerbang rumah, aku menatap bangunan itu. Aku menyadari bahwa rumah ini bukan sekadar beton dan genteng. Rumah ini adalah saksi bisu penebusan dosa, pengampunan, dan cinta yang tak masuk akal.

Paman-paman yang dulu mengusir kami datang untuk melayat. Kali ini, mereka tidak berani banyak bicara. Mereka melihat sertifikat itu di atas meja, mereka melihat kekompakan kami, dan mereka melihat betapa tegarnya aku berdiri di samping Mas Aris. Mereka tahu, kekuasaan mereka atas kami sudah mati bersama keberhasilan yang kucapai.

Setelah pemakaman, aku duduk di teras depan. Ibu mendekatiku dan memberikan sebuah kotak kayu kecil milik Ayah. Di dalamnya, ada tumpukan slip gaji pertamaku dulu yang ternyata disimpan rapi oleh Ayah. Ayah tidak pernah bicara, tapi ia selalu merayakan keberhasilanku dalam diamnya.

"Maya," ujar Ibu lembut. "Ayah pergi dengan tenang karena dia tahu kamu sudah aman. Dia tahu kamu sudah punya 'benteng' sendiri."

Aku memandang Nayla yang sedang bermain di halaman. Aku memandang Bayu yang kini mulai bangkit kembali dari keterpurukannya. Dan aku memandang Mas Aris yang selalu menjadi tiang penyanggaku.

Cicilan rumah sudah lunas. Perjuangan fisiku berakhir di sini. Namun, aku tahu bahwa hidup adalah cicilan yang lain. Kita mencicil kenangan, mencicil kebaikan, dan mencicil keikhlasan setiap hari. Ayah sudah melunasi tugasnya di dunia, dan aku telah melunasi janjiku pada diriku sendiri.

Aku adalah Maya. Wanita yang membangun istananya dari luka, dan hari ini, istana itu telah menjadi rumah yang sesungguhnya tempat di mana cinta menang atas rasa takut, dan di mana perpisahan tidak lagi terasa seperti pengusiran, melainkan sebuah kepulangan yang damai.

1
orang cobacoba
😭😭😭😭😭😭😭
orang cobacoba
akhirnyaa may😭😭😭
orang cobacoba
may.. pliss sekali aj lho ikutin egois sndiri kek... 😓 🫂
orang cobacoba
when cicilan lunas bisa foya foya untuk diri sndiri😀 tnpa trpikir beban lain bisa g si
orang cobacoba
maya in tipe gen sandwich bgt 🫂🫂 niat mncrii kedamaian jiwa dn ketentraman lainny mlh ada lagi hal yg hrus dikorbanin (tmbh beban😓)
orang cobacoba
🫂🫂 🫂
orang cobacoba
😓😞😞
orang cobacoba
keluarga ada karena liat uang😀
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..
orang cobacoba
Ceritaa nya mendalam banget... Kuharap bisa dijadikan film
Emily
beli rumah neneknya yg ada mengingatkan kenangan pahit masa kecil
Esti 523
ya alloh ceritanya super duper bagus bgt thor,tdk ada typonya reel bgt di kehidupan nyata
Sri Jumiati
maya wanita yg kuat
Esti 523
nyesek bgt dari bab kebab nya,bawangnya bertsburan
Ummu Shafira
/Cry//Cry//Cry/
Sri Jumiati
bagus may .enyahkan parasit
Ummu Shafira
recommended 👍🏻👍🏻👍🏻👍🏻
Ummu Shafira
kasihan Maya🥺🥺dan hal seperti ini mirisnya banyak terjadi didunia nyata🥺🥺
Sri Jumiati
wanita tangguh maya
Sri Jumiati
semangat thor .suka
Emily
kisah Maya merasa melihat diri sendiri ketika kita tidak punya apa apa kerabat memandang remeh diri kita beda saat kita punya finansial yg kuat kerabat merasa segan ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!