Seorang gadis kecil yang dipaksa menjadi 'ibu' bagi kakaknya di tengah reruntuhan rumah tangga orang tuanya, harus berjuang melawan kemiskinan dan rahasia kelam pelecehan demi menemukan arti kesucian yang sesungguhnya."
Maya tidak pernah memilih untuk dewasa lebih cepat. Namun, aroma toge di dapur ibunya dan tamparan keras ayahnya adalah guru pertama yang mengajarinya tentang pahitnya dunia. Ditelantarkan di rumah nenek yang dingin dan paman yang ringan tangan, Maya bertahan hidup dengan memungut besi tua dan menjual biji jambu monyet. Di balik ketangguhannya, ia menyimpan rahasia keji yang tak pernah ia ceritakan pada siapa pun: sebuah pengkhianatan dari tetangga yang menghancurkan persepsinya tentang harga diri.
Tahun-tahun berlalu, Maya tumbuh menjadi wanita sukses yang mandiri secara finansial. Namun, ketika bayang-bayang masa lalu kembali menghantui, ia harus menjawab pertanyaan paling menyakitkan dalam hidupnya: Setelah semua yang terjadi, apakah aku masih suci?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sertifikat Dan Nafas Terakhir
Waktu terasa melambat di bulan Desember ini. Angka di kalender seolah mengejekku, mengingatkanku bahwa ini adalah bulan terakhir dari tenor lima belas tahun yang dulu terasa seperti hukuman seumur hidup. Setiap bulan, tanpa absen, aku telah menyisihkan sebagian dari jiwaku untuk dikirimkan ke rekening bank. Dari zaman aku masih gadis lajang yang ketakutan, hingga kini menjadi ibu dari seorang anak perempuan yang mulai masuk sekolah dasar.
Hari itu, aku datang ke kantor pusat bank dengan mengenakan pakaian terbaikku. Langkahku mantap, meski jantungku berdegup kencang. Saat petugas bank menyerahkan sebuah map biru tebal berisi sertifikat asli rumah kami, tanganku gemetar. Aku menyentuh kertas yang agak kaku itu, meraba stempel resmi negara dan namaku yang tertera di sana Maya .
Hanya empat huruf, tapi butuh ribuan liter air mata, jutaan siung bawang yang dikupas, dan ribuan jam lembur untuk memastikan nama itu tetap ada di sana. Aku tidak langsung pulang. Aku duduk di parkiran mobil, memeluk map itu erat-erat di dadaku, dan menangis sejadi-jadinya. Bukan tangis sedih, tapi tangis seorang pejuang yang akhirnya bisa meletakkan senjatanya. Rumah itu kini benar-benar milikku. Tidak ada lagi yang bisa mengusir kami. Tidak ada lagi ancaman sita.
Namun, dunia selalu punya cara untuk menyeimbangkan kebahagiaan dengan rasa perih.
Sesampainya di rumah, suasana tidak seperti yang kubayangkan. Tidak ada perayaan besar. Aku menemukan Ibu sedang menangis di depan kamar Ayah. Mas Aris dan Bayu sudah ada di sana, wajah mereka tegang. Ayah sedang berbaring, napasnya terdengar berat dan satu-satu, seperti suara kayu yang berderit ditiup angin kencang. Penyakit lamanya kembali menyerang dengan sisa kekuatan yang menghancurkan.
Aku mendekati ranjang Ayah, berlutut di sampingnya, dan membisikkan sesuatu di telinganya. "Yah... lihat ini. Maya sudah bawa pulang sertifikatnya. Rumah ini sudah lunas. Kita sudah punya tempat tinggal tetap selamanya."
Ayah membuka matanya sedikit. Ada binar tipis, sebuah senyum yang sangat lemah tersungging di bibirnya yang pucat. Tangannya yang dingin dan kasar mencari tanganku. Ia menggenggam jemariku dengan sisa tenaga yang ada. Ia tidak bisa bicara, tapi matanya seolah berkata: "Terima kasih, Nak. Maafkan Ayah yang sudah merepotkanmu sejauh ini."
Malam itu, kami semua berkumpul di kamar Ayah. Bayu, Sari, Mas Aris, dan bahkan Nayla yang diam seribu bahasa seolah mengerti suasana. Ayah menatap kami satu per satu, seolah sedang merekam wajah-wajah kami untuk terakhir kalinya. Di rumah yang baru saja "merdeka" ini, sesosok pria yang menjadi alasan awal perjuanganku kini sedang bersiap untuk pergi.
Tepat saat azan subuh berkumandang
Genggaman tangan Ayah di jemariku perlahan mengendur. Napasnya yang tadinya berat, kini menjadi tenang, lalu berhenti sama sekali. Ayah pergi di bawah atap yang kokoh, di atas kasur yang empuk, dan dikelilingi oleh anak-anak yang mencintainya. Ia pergi sebagai pria yang terhormat, bukan sebagai gelandangan yang terusir.
Kematian Ayah adalah titik balik yang aneh. Di hari aku memegang bukti kepemilikan duniaku, aku juga harus melepas jangkar hidupku. Saat jenazah Ayah dibawa keluar dari gerbang rumah, aku menatap bangunan itu. Aku menyadari bahwa rumah ini bukan sekadar beton dan genteng. Rumah ini adalah saksi bisu penebusan dosa, pengampunan, dan cinta yang tak masuk akal.
Paman-paman yang dulu mengusir kami datang untuk melayat. Kali ini, mereka tidak berani banyak bicara. Mereka melihat sertifikat itu di atas meja, mereka melihat kekompakan kami, dan mereka melihat betapa tegarnya aku berdiri di samping Mas Aris. Mereka tahu, kekuasaan mereka atas kami sudah mati bersama keberhasilan yang kucapai.
Setelah pemakaman, aku duduk di teras depan. Ibu mendekatiku dan memberikan sebuah kotak kayu kecil milik Ayah. Di dalamnya, ada tumpukan slip gaji pertamaku dulu yang ternyata disimpan rapi oleh Ayah. Ayah tidak pernah bicara, tapi ia selalu merayakan keberhasilanku dalam diamnya.
"Maya," ujar Ibu lembut. "Ayah pergi dengan tenang karena dia tahu kamu sudah aman. Dia tahu kamu sudah punya 'benteng' sendiri."
Aku memandang Nayla yang sedang bermain di halaman. Aku memandang Bayu yang kini mulai bangkit kembali dari keterpurukannya. Dan aku memandang Mas Aris yang selalu menjadi tiang penyanggaku.
Cicilan rumah sudah lunas. Perjuangan fisiku berakhir di sini. Namun, aku tahu bahwa hidup adalah cicilan yang lain. Kita mencicil kenangan, mencicil kebaikan, dan mencicil keikhlasan setiap hari. Ayah sudah melunasi tugasnya di dunia, dan aku telah melunasi janjiku pada diriku sendiri.
Aku adalah Maya. Wanita yang membangun istananya dari luka, dan hari ini, istana itu telah menjadi rumah yang sesungguhnya tempat di mana cinta menang atas rasa takut, dan di mana perpisahan tidak lagi terasa seperti pengusiran, melainkan sebuah kepulangan yang damai.
mirisss tpi in sring terjadi... bhkn kita yang membantu tak ditengok sma skli..