Bagi Fatih, mencintai Zalina adalah sebuah ketidakmungkinan yang logis. Zalina adalah putri dosen terpandang, primadona kampus yang dikejar banyak lelaki bermobil mewah. Sementara Fatih? Ia hanyalah pemuda perintis usaha yang ke kampus pun masih menggunakan motor tua.
Ketika saingan terberatnya, Erlangga, maju membawa segala kemewahan dunia dan restu orang tua untuk melamar Zalina, Fatih tahu ia kalah telak dalam urusan harta. Logika menyuruhnya mundur, namun hati kecilnya menolak menyerah sebelum janur kuning melengkung.
Jika Erlangga sibuk mengetuk pintu rumah Zalina dengan hadiah-hadiah mahal, maka Fatih memilih jalan senyap. Ia mengetuk pintu langit di sepertiga malam. Ia merayu Sang Pemilik Hati dengan sujud-sujud panjang, menjadikan nama Zalina sebagai doa yang paling sering ia langitkan.
Ini adalah kisah tentang pertarungan dua cara mencintai: Jalur Bumi yang bising dengan pameran materi,
Siapakah yang pada akhirnya akan menjadi jodohnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moch Sufyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Proposal Paling Mahal
Satu minggu setelah Grand Opening.
Hari Minggu pagi biasanya adalah waktu santai bagi warga Bandung. Namun, tidak bagi penghuni sebuah rumah kontrakan sederhana di pinggiran kota. Sejak subuh, rumah itu sudah sibuk luar biasa.
Fatih berdiri di depan cermin lemari yang retak di sudut. Ia mengenakan kemeja koko putih lengan panjang yang baru dibelinya kemarin di pasar. Putih bersih, melambangkan niatnya yang suci. Ia juga mengenakan peci hitam polos dan sarung samarinda motif tenun halus.
"Masya Allah, anak Ibu ganteng banget," puji Bu Aminah, ibunya Fatih, yang sedang merapikan kerah baju anaknya dengan mata berkaca-kaca.
Fatih tersenyum gugup. Tangannya dingin sedingin es batu. "Bu, Fatih deg-degan. Rasanya lebih serem daripada pas mau sidang skripsi."
"Wajar tho, Le. Kamu mau minta anak orang. Anak kesayangan pula," Bu Aminah terkekeh pelan, lalu menangkup wajah putranya. "Ingat pesen Ibu. Nanti di sana, nggak usah minder. Kita memang orang nggak punya, tapi kita punya iman. Kamu datang bukan bawa harta, tapi bawa janji di hadapan Allah."
"Iya, Bu."
"Udah siap semua hantarannya?"
Fatih menoleh ke ruang tamu. Di sana, Hadi dan dua sepupu Fatih sedang sibuk menata kotak-kotak hantaran. Bukan hantaran mewah berisi tas branded atau perhiasan emas batangan. Isinya sederhana namun penuh makna:
Seperangkat alat shalat (Mukena premium yang Fatih beli dari hasil desain pertamanya).
Al-Quran terjemahan dengan cover beludru.
Makanan tradisional (Wajik, jenang, dan buah-buahan) buatan tangan Bu Aminah sendiri.
Dan tentu saja... Lukisan Masjid Impian yang dulu sempat dirusak bungkusnya oleh Erlangga, kini sudah dibingkai ulang dengan kayu jati yang kokoh.
"Mobilnya udah siap, Tih!" seru Hadi dari luar. Mereka menyewa sebuah mobil Avanza rental untuk hari ini. "Ayo berangkat! Jangan telat, nanti Pak Dosen berubah pikiran!"
Fatih menarik napas panjang. Bismillah. La haula wala quwwata illa billah.
"Ayo, Bu. Kita jemput takdir Fatih."
Perjalanan menuju rumah Zalina terasa sangat lama bagi Fatih. Setiap lampu merah rasanya menyala satu jam. Di dalam mobil, mulut Fatih tak henti-hentinya berkomat-kamit melafalkan shalawat nabi.
Hadi yang menyetir sesekali melirik lewat spion tengah. "Santai, Bro. Muka lu tegang amat kayak mau di-interogasi KPK. Inget, Erlangga udah di sel. Saingan lu tinggal rasa grogi lu sendiri."
"Diem lu, Di. Fokus nyetir aja," balas Fatih. "Gue takut salah ngomong nanti."
"Udah hafalin teks lamarannya belum?"
"Udah. Gue udah latihan seratus kali di depan kaca."
Akhirnya, mobil sewaan itu memasuki kawasan perumahan elite tempat Zalina tinggal. Pagar rumah mewah itu terbuka lebar. Di halaman, sudah terparkir beberapa mobil keluarga besar Zalina. Rupanya Pak Yusuf mengundang paman dan bibi Zalina juga.
Fatih menelan ludah. Ramai sekali.
Saat Fatih turun dari mobil, lututnya terasa lemas. Ia membantu ibunya turun, menggandeng lengan wanita tua itu erat-erat. Ibunya adalah sumber kekuatannya.
Pak Yusuf sudah menunggu di teras. Beliau mengenakan batik sutra cokelat dan peci hitam. Wajahnya... sulit ditebak. Datar, berwibawa, tanpa senyum.
"Assalamu'alaikum, Pak Yusuf," sapa Fatih sopan.
"Wa'alaikumussalam," jawab Pak Yusuf berat. Matanya memindai rombongan kecil Fatih. Hanya satu mobil. Hantarannya sederhana. Tidak ada iring-iringan mewah.
"Mari masuk. Keluarga sudah menunggu di dalam," kata Pak Yusuf, mempersilakan.
Mereka masuk ke ruang tamu yang luas. Di sana, puluhan pasang mata keluarga besar Zalina menatap Fatih. Ada tatapan ingin tahu, ada tatapan meremehkan (mungkin dari saudara yang belum tahu cerita aslinya), ada juga tatapan hangat.
Fatih duduk bersila di karpet permadani, berhadapan langsung dengan Pak Yusuf. Di samping Pak Yusuf, ada Ibu Ratih yang tersenyum ramah—sebuah perubahan drastis dibanding pertemuan pertama mereka.
Tapi, Zalina tidak ada di sana. Sesuai adat, gadis yang dilamar disembunyikan dulu di dalam kamar.
Suasana hening. Tegang. Hanya suara detik jam dinding yang terdengar.
Pak Yusuf berdehem, membuka pembicaraan. "Baik. Selamat datang Nak Fatih dan Ibu Aminah. Terima kasih sudah jauh-jauh datang ke gubuk kami ini." (Gubuk apanya? Rumah ini sebesar istana, batin Hadi).
"Langsung saja," lanjut Pak Yusuf tegas. "Apa maksud dan tujuan kedatangan Nak Fatih hari ini?"
Ini dia momennya.
Fatih menegakkan punggungnya. Ia menatap mata Pak Yusuf. Tidak ada lagi keraguan. Rasa takutnya hilang begitu ia mengingat wajah ibunya di sampingnya dan wajah Zalina dalam bayangannya.
"Bismillahirrahmannirrahim," suara Fatih terdengar jernih dan tenang, memecah keheningan ruangan.
"Bapak Yusuf yang saya hormati, Ibu Ratih, dan seluruh keluarga besar. Kedatangan saya kemari, yang pertama adalah untuk bersilaturahmi."
Fatih mengambil jeda sejenak.
"Yang kedua... Saya, Muhammad Fatih, seorang hamba Allah yang fakir ilmu dan harta, namun kaya akan niat baik... ingin menyampaikan niat suci saya."
Fatih meletakkan tangannya di dada.
"Selama ini, saya mengagumi putri Bapak, Zalina, dari kejauhan. Saya tidak berani menyentuhnya, bahkan menatapnya berlama-lama, karena saya takut menodai kehormatannya. Saya memilih mencintainya lewat jalur langit, lewat doa-doa yang saya titipkan pada Allah setiap sepertiga malam."
Terdengar suara isak tangis tertahan dari arah belakang. Rupanya beberapa bibi Zalina mulai terharu.
"Hari ini, Allah memberi saya keberanian untuk turun ke bumi. Saya datang bukan membawa emas permata, Pak. Saya datang membawa janji. Janji bahwa saya akan menjadi imam yang berusaha melindungi Zalina dunia dan akhirat. Janji bahwa saya akan bekerja keras memuliakan dia, sebagaimana Bapak memuliakan dia selama ini."
Fatih menatap Pak Yusuf lekat-lekat.
"Oleh karena itu... dengan segala kerendahan hati, saya memohon ridho Bapak. Izinkan saya mengkhitbah, melamar putri Bapak, Zalina Aishwara, untuk menjadi penyempurna agama saya, menjadi istri saya."
Hening.
Semua orang menahan napas menunggu jawaban Pak Yusuf.
Pak Yusuf diam. Wajahnya masih datar. Ia menatap Fatih lama sekali, seolah sedang menimbang-nimbang bobot nyali pemuda di hadapannya.
Lalu, perlahan, sudut bibir Pak Yusuf terangkat. Senyum itu akhirnya muncul. Senyum seorang ayah yang lega.
"Nak Fatih," suara Pak Yusuf melunak. "Kamu tahu? Dulu saya kira kebahagiaan anak saya ada pada laki-laki yang punya segalanya. Tapi saya salah. Kebahagiaan anak saya ada pada laki-laki yang takut pada Tuhannya."
Pak Yusuf menoleh ke arah tangga. "Zalina? Kamu dengar jawaban Fatih tadi?"
Semua orang menoleh.
Di atas tangga, Zalina berdiri. Cantik sekali. Ia mengenakan gamis putih brokat sederhana dengan kerudung warna nude. Wajahnya basah oleh air mata, tapi senyumnya merekah indah. Di sampingnya ada Nisa yang memegang tisu.
Zalina mengangguk malu-malu.
"Jadi, apa jawabanmu, Nak?" tanya Pak Yusuf. "Ayah tidak mau memaksa. Ini hidupmu."
Zalina menuruni tangga perlahan, didampingi Nisa. Ia duduk bersimpuh di samping ibunya, menundukkan pandangan di hadapan Fatih.
"Bismillah..." suara Zalina pelan, tapi terdengar jelas di ruangan yang senyap itu. "Atas restu Ayah dan Ibu... dan dengan memohon ridho Allah... Zalina menerima khitbah Mas Fatih."
"ALHAMDULILLAH!"
Serentak, seluruh ruangan bergema. Hadi langsung sujud syukur di tempat. Bu Aminah memeluk Ibu Ratih sambil menangis haru.
Fatih? Fatih menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya berguncang. Tangisnya pecah. Bukan tangis sedih, tapi tangis pelepasan. Beban rindu dan doa yang ia pendam bertahun-tahun, hari ini akhirnya bermuara.
Jalur Langit telah sampai pada tujuannya.
Setelah suasana haru mereda, pembicaraan berlanjut ke hal teknis: Penentuan tanggal pernikahan.
"Karena niat baik harus disegerakan," kata Pak Yusuf, yang sekarang terlihat sangat antusias. "Bagaimana kalau bulan depan?"
"Bulan depan?" Fatih kaget. "Anu, Pak... tabungan saya..."
Fatih mulai berhitung cepat di kepalanya. Uang proyek Kedai Kopi baru cair 30%. Sisanya baru cair setelah selesai. Kalau bulan depan, ia takut biayanya belum cukup untuk resepsi.
Pak Yusuf tertawa melihat kepanikan Fatih. "Kenapa? Masalah biaya?"
Fatih mengangguk jujur. "Saya ingin biaya nikah pakai uang saya sendiri, Pak. Nggak mau repotin Bapak."
"Bagus. Laki-laki harus punya gengsi," puji Pak Yusuf. "Tapi gini... Ayah punya usul. Akad nikahnya sederhana saja. Di Masjid Agung tempat kalian sering 'ketemu' dalam doa itu. Resepsinya kecil-kecilan di halaman rumah ini saja. Nggak usah sewa gedung hotel mewah. Yang penting sah, berkah, dan makanannya enak. Setuju?"
Fatih menatap Zalina. Zalina mengangguk mantap.
"Zalina setuju, Yah. Zalina nggak butuh pesta mewah. Zalina cuma butuh Mas Fatih sah jadi suami Zalina," ucap Zalina (yang langsung membuat Hadi bersorak "Ciyeee!" dan membuat seisi ruangan tertawa).
"Baik. Kalau begitu, kita tetapkan tanggalnya. Empat minggu dari sekarang," putus Pak Yusuf.
Tiga Hari Menjelang Pernikahan.
Cobaan menjelang pernikahan itu nyata. Bukan dari orang ketiga, tapi dari overthinking diri sendiri.
Fatih sedang di ruko Kedai Kopi "Tuang" (yang sekarang sudah buka dan ramai lancar), mengecek laporan keuangan. Tiba-tiba Nisa datang membawa kabar.
"Tih, lu harus liat ini," Nisa menyodorkan koran lokal.
Di halaman kriminal, ada berita kecil: "Erlangga Wijaya Divonis 5 Tahun Penjara Terkait Kasus Pembakaran dan Korupsi."
Fatih membaca berita itu dengan datar.
"Lega lu?" tanya Nisa.
"Biasa aja, Nis. Justru gue kasihan," kata Fatih. Ia menutup koran itu. "Dia punya segalanya, tapi berakhir di sel sempit. Gue nggak punya apa-apa, tapi lusa gue bakal nikahin wanita paling hebat sedunia. Hidup itu roda, Nis."
"Cakep. Eh, ngomong-ngomong, Zalina lagi 'pingitan' di rumah. Dia nitip pesen," Nisa menyerahkan secarik kertas kecil yang dilipat.
Fatih membukanya.
Mas Calon Imam,
Jangan lupa hafalin sighat ijab qabul-nya ya. Awas kalau keseleo lidah pas nyebut namaku. Nanti Ayah batalin lho :p
Sampai ketemu di meja akad.
- Z
Fatih tertawa. Rasa gugupnya hilang seketika.
HARI H: AKAD NIKAH
Masjid Agung Bandung dipenuhi cahaya pagi. Burung-burung merpati beterbangan di pelataran. Di dalam masjid, suasana sakral begitu terasa.
Fatih duduk bersila di depan meja akad. Ia mengenakan beskap putih adat Sunda. Di kepalanya terpasang blangkon (atau peci dengan melati). Di depannya, Pak Yusuf duduk sebagai wali nikah, didampingi penghulu.
Jantung Fatih berdegup kencang, seolah mau lompat keluar dari rongga dada. Tangannya berkeringat dingin. Di sampingnya, Hadi berbisik membacakan doa penenang hati.
Lalu, Zalina keluar dari ruang rias masjid.
Subhanallah.
Fatih terpana. Zalina mengenakan kebaya putih panjang yang sopan dan anggun, dengan riasan wajah yang natural namun memancarkan aura 'manten'. Dia berjalan menunduk, didampingi ibunya, menuju tempat duduk di belakang Fatih.
Fatih tidak berani menoleh ke belakang, tapi ia bisa mencium wangi bunga melati yang menguar saat Zalina lewat.
"Saudara Muhammad Fatih," panggil Penghulu.
"Saya, Pak."
"Sudah siap?"
Fatih menarik napas panjang. Mengingat semua perjuangannya. Mengingat malam-malam dingin saat ia bangun shalat tahajjud. Mengingat hinaan Erlangga. Mengingat senyum ibunya.
"Insya Allah, siap."
Pak Yusuf menjabat tangan Fatih. Genggamannya erat. Genggaman seorang ayah yang menyerahkan harta paling berharganya.
"Saudara Muhammad Fatih bin Almarhum Bapak Hasan..." suara Pak Yusuf bergetar haru. "...Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Zalina Aishwara, dengan mas kawin berupa seperangkat alat shalat, uang tunai dua juta dua puluh tiga ribu rupiah, dan satu buah desain masjid impian... dibayar tunai!"
Fatih menyentak tangan Pak Yusuf. Sekali tarikan napas.
"SAYA TERIMA NIKAH DAN KAWINNYA ZALINA AISHWARA BINTI YUSUF PERMANA DENGAN MAS KAWIN TERSEBUT DIBAYAR TUNAI!"
Lugas. Tegas. Tanpa putus.
Saksi-saksi terdiam sejenak. Lalu...
"Sah?" tanya Penghulu.
"SAH!" seru para saksi serempak.
"Alhamdulillah..."
Doa dilantunkan. Air mata menetes di pipi Fatih. Di belakangnya, Zalina menangis haru sambil memeluk ibunya.
Detik itu, langit seolah terbuka. Doa-doa yang selama ini menggantung di angkasa, kini turun menjadi hujan keberkahan. Fatih dan Zalina, dua nama yang dulu hanya berani bersapa dalam doa, kini telah bersatu dalam ikatan paling suci: Mitsaqan Ghaliza.
Setelah doa selesai, Fatih berbalik badan. Untuk pertama kalinya, ia bisa menatap Zalina dengan leluasa. Halal.
Zalina tersenyum malu-malu, lalu meraih tangan kanan Fatih. Ia mencium punggung tangan suaminya itu dengan takzim. Fatih meletakkan telapak tangannya di ubun-ubun Zalina, membacakan doa suami untuk istri.
“Allahumma inni as’aluka min khairiha wa khairi majabaltaha ‘alaihi...”
Kamera fotografer mengabadikan momen itu. Momen di mana Jalur Langit akhirnya mendarat dengan indah di bumi.
BONUS SCENE: MALAM PERTAMA (VERSI SOPAN & BAPER)
Malam harinya, di kamar pengantin (kamar Zalina yang sudah didekorasi).
Fatih baru selesai shalat sunnah berjamaah berdua dengan Zalina. Ini shalat pertama mereka sebagai suami istri. Rasanya... luar biasa. Menjadi imam bagi wanita yang dicintai adalah cita-cita Fatih sejak lama.
Fatih duduk di tepi kasur. Zalina masih duduk di sajadah, melipat mukenanya. Suasana canggung menyelimuti mereka.
"Mas..." panggil Zalina pelan.
"Iya, Dek?" (Fatih mencoba panggilan baru, dan langsung salah tingkah sendiri).
Zalina terkikik geli. Ia bangkit, duduk di sebelah Fatih. Jarak mereka dekat, tapi Fatih masih kaku kayak kanebo kering.
"Mas Fatih kenapa gemeteran gitu? Kan udah halal," goda Zalina.
"Masih belum percaya aja, Zal. Rasanya kayak mimpi," Fatih menatap cincin di jari manisnya. "Dulu Mas cuma berani liat kamu dari jauh pas di kantin. Sekarang kamu ada di sini. Samping Mas."
Zalina tersenyum lembut. Ia memberanikan diri menyandarkan kepalanya di bahu Fatih.
"Mas tau nggak?" bisik Zalina. "Pas Erlangga ngelamar aku pake pesta mewah, hati aku kosong. Tapi pas Mas Fatih ngelamar aku pake doa di sepertiga malam... hati aku penuh."
Fatih merangkul bahu istrinya. "Maafin Mas ya, belum bisa kasih rumah mewah. Kita mungkin harus ngontrak dulu atau tinggal di ruko."
"Asal sama Mas Fatih, ruko pun rasanya kayak istana," jawab Zalina tulus. "Lagian, kita kan punya proyek seumur hidup: Bangun 'Masjid Impian' itu beneran. Bukan cuma gambar."
Fatih mengecup puncak kepala Zalina.
"Iya. Kita bangun sama-sama ya. Bismillah, perjalanan kita baru mulai."
Di luar jendela, bulan purnama bersinar terang. Menyaksikan sepasang kekasih yang memulai babak baru kehidupan mereka. Tidak ada lagi Erlangga, tidak ada lagi ketakutan. Yang ada hanya cinta, ketaatan, dan rindu yang sudah menemukan rumahnya.