"Cantiknya memikat, pelukannya menjerat, malam ketujuhnya... membunuhmu tanpa sempat bertaubat."
Dihina sebagai gadis penghibur tak laku, Syifa berubah menjadi primadona VIP yang dipuja setelah menerima minyak keramat dari Nenek Lamiang, dukun pedalaman Kalimantan. Syifa memiliki daya tarik mistis yang membuat setiap pria merasa dialah wanita paling suci yang pernah mereka sentuh. Namun, kecantikan itu menyimpan rahasia gelap tentang sebuah hitungan malam yang tak boleh dilanggar.
Pelariannya ke Kalimantan
Mempertemukannya dengan Agung, arsitek yang terobsesi pada wanginya, dan Penyang, pemuda lokal yang mencium aroma maut di balik pesonanya. Di tengah persaingan dua pria itu, Syifa menyadari satu hal: ada harga nyawa yang harus dibayar tepat di malam ketujuh. Kini, sebelum hitungan terakhir tiba, Syifa harus memilih antara mengikuti nafsu yang menghancurkan atau melakukan pengorbanan terakhir yang akan mengubah wujudnya selamanya.
BERANI MELEWATI MALAM KE-6?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eouny Jeje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mandau Tatu Hiang
..."Baja mundur karena titah, namun kutukan tetap bertahta di balik peluk buta."...
................
Agung terus bertahan, mencengkeram ujung bilah yang haus darah itu meski telapak tangannya kian terkoyak. Di saat itulah, rupa Syifa yang tadinya tegang mendadak luruh. Kilat kuning di matanya meredup, berganti menjadi tatapan sendu penuh ketakutan dengan air mata yang mengalir membasahi pipi porselennya.
Dengan gerakan yang tampak sangat rapuh, Syifa berlari kecil dan berlindung di balik punggung lebar Agung. Ia memeluk pria itu dari belakang, menyembunyikan wajahnya seolah ia hanyalah korban lemah yang nyaris terbunuh. Namun, Penyang melihat hal lain; kekuatan Kukang di dalam diri Syifa tidaklah menghilang, ia justru menyusup, mencari perlindungan di balik raga Agung yang kini menjadi perisai hidupnya.
Penyang tersentak bangun dari keterpakuannya. Ia melihat Mandau itu sama sekali tidak berniat melukai Agung. Pusaka tatu hiang itu seolah tahu betapa bodohnya Agung yang dibutakan oleh cinta semu. Mandau itu hanya menggesek-gesek kulit tangan Agung, sebuah upaya paksa untuk membuat pria itu melepaskan genggamannya agar ujung tajamnya bisa melesat lurus menusuk inti jantung Syifa—tempat di mana raga manusia dan roh Kukang telah menyatu menjadi satu kutukan yang matang.
Penyang segera melangkah maju dan menggenggam gagang mandau itu dengan mantap.
Agung mendongak, menatap Penyang dengan mata merah penuh amarah. Di mata Agung, Penyang adalah dalang yang mengendalikan senjata ini untuk menyerang wanita yang dicintainya. "Hentikan, Penyang! Kamu mau membunuhnya?!" bentak Agung dengan suara serak.
Penyang tidak membalas amarah itu. Ia merasakan denyut keras dari besi di tangannya yang terus meronta ingin menyelesaikan tugasnya menghabisi sang inang. Penyang berbisik pelan, memohon pada roh baja tersebut agar tidak menumpahkan darah pria yang tak tahu apa-apa ini.
"Ela... Iye dia badosa."
Mendengar perintah itu, Mandau yang tadinya liar mendadak melonggarkan getarannya. Perlahan, kekuatannya meluruh. Penyang menarik senjata itu dengan gerakan cepat, keluar dari sabetan yang menyiksa telapak tangan Agung.
Darah Agung mengucur deras, menetes ke lantai toko yang hancur berantakan. Agung jatuh berlutut sembari mendekap Syifa yang masih memeluknya erat—sebuah pelukan yang bagi Agung adalah perlindungan, namun bagi Penyang adalah tanda bahwa Kukang telah berhasil menemukan tameng manusia yang paling sempurna.
Syifa terkulai lemas dalam dekapan Agung, seolah Kukang di dalam dirinya pun telah terkuras energinya setelah bertarung habis-habisan melawan pusaka tatu hiang. Hawa Pahaga yang panas perlahan menyurut, menguap dari pori-porinya seiring dengan memudarnya kilat kuning di matanya. Entitas itu seakan menarik diri ke dalam ceruk terdalam darah Syifa untuk bersembunyi. Seketika, tubuh Syifa jatuh pingsan, tak berdaya di pelukan pria yang baru saja mempertaruhkan nyawa untuknya.
Agung menatap Penyang dengan tatapan yang lebih tajam dari mata mandau manapun. Luka di telapak tangannya yang masih mengucurkan darah tak dihiraukannya. Amarahnya telah mencapai ubun-ubun.
"Aku akan membuat perhitungan denganmu," desis Agung, suaranya rendah namun bergetar oleh dendam yang nyata.
Penyang hanya mengedipkan mata dengan tenang. Ia menyarungkan kembali mandaunya yang kini telah diam, meski sisa-sisa getaran mistis masih terasa di udara. Ekspresinya datar, seolah kekacauan hebat tadi hanyalah angin lalu baginya.
"Aku tak salah," jawab Penyang singkat, suaranya dingin tanpa beban. "Untuk apa berhitung denganku? Kau hanya belum tahu apa yang sebenarnya kau dekap."
Agung tak peduli. Baginya, Penyang adalah ancaman yang nyata, sementara Syifa adalah korban yang harus diselamatkan. Tanpa sepatah kata lagi, Agung membopong tubuh Syifa yang lunglai, berjalan pergi meninggalkan toko yang kini tinggal puing-puing kaca dan barang antik yang berserakan.
Penyang berdiri mematung di tengah kehancuran yang menyesakkan dada. Debu kayu ulin dan uap mistis masih menggantung di udara, menciptakan siluet suram di bawah lampu toko yang berkedip-kedip sekarat. Keheningan yang datang setelah badai itu terasa lebih menyakitkan daripada suara pecahan kaca tadi.
Ia mengedarkan pandangan, dan hatinya mencelos. Ini bukan sekadar kekacauan biasa. Guci-guci belanga kuno yang telah melewati ratusan tahun sejarah kini hancur menjadi serpihan tajam tak berbentuk. Patung-patung Karuhei yang seharusnya membawa keberuntungan kini terbelah, seolah-olah roh di dalamnya telah dipaksa keluar secara kasar. Nilai barang-barang yang hancur ini bukan lagi jutaan, melainkan puluhan juta rupiah.
"Aduh, amun kalotoh... siapa je mambayar uras amun jetoh?" bisik Penyang, suaranya parau karena rasa sesak.
Ia menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar, tempat Agung baru saja membopong Syifa pergi dengan penuh drama. Rasa kesal mulai merayap di dada Penyang.
"Yang mengamuk kan si Syifa. Si inang itu yang membanting semuanya. Aku nah benyem mendeng ih!" gerutunya pada kegelapan.
Namun, kenyataan pahit menghantamnya. Agung pergi dengan dendam, Syifa pergi dengan pingsannya, dan hanya Penyang yang tertinggal di tempat kejadian perkara. Ia memandang darah yang berceceran di lantai—darahnya dan darah Agung—yang kini mulai mengering dan menghitam. Jika ia melangkah keluar sekarang, ia akan dicap sebagai penghancur sekaligus pencuri.
Lebih dari itu, Penyang merasakan sisa-sisa hawa Pahaga yang amis masih bersembunyi di sudut-sudut plafon yang retak. Energi hitam dari amukan Kukang tadi telah mencemari toko ini. Jika dibiarkan, tempat ini akan menjadi magnet bagi makhluk halus lain dari seluruh pasar.
Penjaga toko mulai mengerang, tubuhnya bergerak gemetar di balik meja kasir yang terbalik. Penyang tahu, saat pria itu membuka mata sepenuhnya, sejarah baru akan ditulis—dan Penyang berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan.
Ia menghela napas panjang, menyarungkan kembali mandaunya dengan bunyi klik yang tegas. Ia tidak bisa lari. Baginya, melarikan diri dari tanggung jawab duniawi sama buruknya dengan melanggar sumpah Tatu Hiang.
Penyang mengusap wajahnya yang kasar, mencoba mengusir rasa penat yang menghimpit. Benar saja, begitu penjaga toko itu siuman, ketakutan pria itu langsung berubah menjadi amarah histeris. Tidak ada ruang untuk logika mistis; yang pria itu lihat hanyalah kehancuran total di depan matanya. Penyang dipojokkan, dituduh sebagai pembawa sial yang sengaja membawa "perempuan kesurupan" ke dalam toko sucinya.
Sambil gemetar, si penjaga toko menyodorkan secarik kertas kusam—sebuah catatan tagihan yang ditulis dengan tangan gemetar. Deretan angka di sana membuat mata Penyang berdenyut. Guci belanga, ukiran kayu ulin, hingga piring malawen; semuanya dijumlahkan dengan angka yang sanggup membeli beberapa buah motor baru.
"Ini semua salahmu! Kalau bukan karena kau bawa dia ke sini, tokoku tidak akan jadi kuburan begini!" maki si penjaga toko, suaranya melengking di antara puing-puing.
Penyang menerima kertas itu dengan ujung jari yang dingin. Ia menatap deretan angka nol yang berbaris rapi di sana, lalu beralih menatap lantai yang masih menyisakan hawa amis Pahaga.
"Duit bara kueh?" gumam Penyang pelan, suaranya sarat dengan keputusasaan yang getir.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kamus :
"Ela... Iye dia badosa." artinya "Jangan... dia tidak berdosa."
"Aduh, amun kalotoh... siapa je mambayar uras amun jetoh?" artinya "Aduh, kalau begini... siapa yang bayar semua ini?"
"Aku nah benyem mendeng ih!" artinya "Aku tadi cuma diam berdiri saja!"
"Duit bara kueh?" artinya "Duit dari mana?"
Tatu Hiang artinya leluhur.
karena apa coba