Putri Liliane Thalassa Serene, terlahir sebagai keajaiban yang dijaga Hutan Moonveil. Di hutan suci itulah Putri Lily tumbuh, mencintai kebebasan, menyatu dengan alam, dan dipercaya Moonveil sebagai Putri Hutan.
Ketika Kerajaan Agartha berada di ambang kehancuran atas serangan nyata datang dari Kingdom Conqueror, dipimpin oleh King Cristopher, sang Raja Penakluk. Lexus dan keluarganya dipanggil kembali ke istana.
Api peperangan melahap segalanya, Agartha runtuh. Saat Putri Lily akhirnya menginjakkan kaki di Agartha, yang tersisa hanyalah kehancuran. Di tengah puing-puing kerajaan itu, takdir mempertemukannya dengan King Cristopher, lelaki yang menghancurkan negerinya.
Sang Raja mengikatnya dalam hubungan yang tak pernah ia pilih. Bagaimana Putri Liliane akan bejuang untuk menerima takdir sebagai milik Raja Penakluk?
Disclaimer: Karya ini adalah season 2 dari karya Author yang berjudul ‘The Forgotten Princess of The Tyrant Emperor’.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam Panjang
Lily meluruskan tubuhnya, menyandarkan kepala ke punggung kursi. Ia tidak ingin terlalu dekat pada dua anak itu. Terlalu banyak koneksi personal hanya akan menjadi beban baginya di istana ini. Ia sudah cukup diseret ke dalam permainan yang tidak ia pilih. Mengetahui Cristopher telah memiliki anak dari wanita yang mungkin ia cintai, membuatnya berpikir mahkota di atas kepalanya hanya sementara.
Malam berjalan lambat, cahaya bulan menyelinap melalui jendela tinggi Royal Chambers. Nafas kedua anak itu mulai teratur, tanda mereka akhirnya terlelap. Tepat saat bulan menggantung paling terang di langit, pintu penghubung ke ruang samping terdorong perlahan. Eri masuk dengan langkah pelan. Singa besar itu menundukkan kepala, bergerak hati-hati agar tidak mengganggu tidur tuannya.
“Aumm…”
Suara rendah itu bergema kecil, namun cukup untuk membuat Alaric terbangun. Matanya yang masih berat membuka perlahan, lalu membulat saat melihat siluet besar di dekat pintu.
“AAAAAA!”
Teriakan itu memecah malam. Pangeran Adric yang tidur di sebelahnya ikut tersentak bangun.
“Ada apa, Alaric?!”
“Singa! Ada singa!” Alaric meringkuk di atas tempat tidur, tubuhnya gemetar, jari-jarinya mencengkeram selimut erat-erat.
Adric mengikuti arah pandang adiknya. Seekor singa besar bersurai emas berdiri di dalam ruangan. Singa itu membuka mulut, memamerkan taring tajamnya.
“Aummmm…”
“AAAAA!” Adric ikut menjerit, refleks menyeret tubuhnya mundur. Ia meringis nyeri saat kakinya yang terluka bergesekan dengan alas tempat tidur. Namun rasa takutnya jauh lebih dominan.
Teriakan itu membuat Lily mengernyit. Ia membuka mata dengan berat, lalu bangkit berdiri setengah sadar.
“Ada apa lagi, hm?” gumamnya datar.
“Si-singa! Ada singa.” Adric menunjuk Eri dengan tangan gemetar.
Lily menghela napas panjang. “Astaga, Eri.” katanya jengah. Ia melangkah maju, berdiri tegak di depan sang singa.
“Duduk!” Satu kata tegas namun mampu membuat Eri berhenti, lalu berjalan mendekat dan duduk rapi di samping kaki Lily tanpa perlawanan.
Kedua pangeran melongo. Ketakutan mereka berubah menjadi keterkejutan murni.
“B-bagaimana… bagaimana singa itu bisa…,” Adric terbata, suaranya nyaris tak keluar.
“Dia temanku.” jawab Lily santai, seolah itu adalah hal biasa bagi semua orang. Ia menoleh sedikit pada Eri, menatapnya penuh peringatan. “Jangan menakut-nakuti mereka, Eri!”
Singa itu menunduk patuh.
Lily menguap kecil. “Aku masih sangat mengantuk,” gumamnya, lalu berbalik kembali ke kursi.
Ia berbaring lagi, memejamkan mata, membiarkan ruangan kembali tenggelam dalam keheningan. Namun suara isakan pelan membuat Lily kembali membuka mata. Ia menoleh sedikit dari balik sandaran kursi. Tubuh kecil Alaric bergetar, bahunya naik turun menahan tangis.
Lily menghela napas pelan. "Kenapa air mata anak itu membuat hatiku ikut sakit?" batinnya, lalu bangkit dari kursi dan melangkah ke tempat tidur.
“Kau takut?” tanyanya lembut, suaranya jauh berbeda dari nada datar yang biasa ia gunakan di istana.
Alaric mengangguk kecil, air matanya terus mengalir tanpa suara.
Lily melirik Adric. Anak itu diam, namun matanya yang terbuka setengah menunjukkan ketakutan yang sama meski dibalut gengsi besar.
“Singa itu tidak akan menyerang kalian,” kata Lily pelan, seolah menenangkan keduanya. “Jangan takut.”
Namun Alaric tetap terisak tanpa berkata apa pun.
Lily mengernyitkan kening, jelas kebingungan. Ia tidak terbiasa dengan situasi seperti ini. Ia bukan pengasuh yang terbiasa mengatasi anak-anak. Namun tangisan itu… mengingatkannya pada ingatan masa kecilnya. Akhirnya ia naik ke sisi tempat tidur yang sempit. Ia meraih tubuh kecil itu ke dalam pelukannya dengan gerakan canggung, lalu menepuk punggungnya perlahan. Ia tidak tahu apakah ini benar, tapi inilah yang dilakukan ibundanya dahulu.
“Tidak apa-apa,” bisik Lily lembut. “aku akan menjagamu.”
Tubuh Alaric menegang sesaat, lalu perlahan mengendur. Pelukan dari orang asing, namun terasa hangat. Sejak kecil, ia tidak mengenal pelukan yang benar-benar menenangkan. Sentuhan di istana selalu dingin, penuh aturan, atau datang bersama perintah. Bahkan ketika ia menangis, ia lebih sering diminta diam daripada dipeluk.
Namun kini, di dalam dekapan orang yang ia sebut sebagai ‘nenek sihir jahat’, ketakutannya perlahan luruh. Tangisnya mereda, nafasnya menjadi teratur, matanya terpejam tanpa ia sadari.
Di sisi lain tempat tidur, Adric memperhatikan pemandangan itu dalam diam. Melihat adiknya berhenti menangis membuat dadanya mengendur. Ia tidak mengatakan apa pun, namun tangannya menarik selimut lebih tinggi, lalu memejamkan mata. Tanpa sadar, tubuhnya berputar menghadap Lily dan Alaric. Ke arah yang membuatnya nyaman dan aman, meski tidak ia akui secara sadar.
Fajar datang tanpa permisi melingkupi istana Kingdom Conqueror. Lily terbangun seperti kebiasaannya, tanpa pelayan dan tanpa kegaduhan istana. Pandangan pertamanya jatuh pada Alaric. Anak itu masih tidur lelap dengan bibir sedikit terbuka. Entah bagaimana, ada kelegaan yang menyusup dalam hatinya.
Lalu matanya bergeser ke sisi lain tempat tidur. Kening Lily langsung mengernyit. Bertahun-tahun hidup di Moonveil membuatnya peka terhadap perubahan sekecil apa pun. Adric tampak gelisah, dadanya naik turun terlalu cepat. Wajahnya memerah, rambutnya basah oleh keringat. Lily meletakkan punggung tangannya di kening anak itu.
“Panas,” desahnya pelan.
Ia turun dari tempat tidur. Saat ingin memanggil namanya, suara Lily tertahan di tenggorokan. Ia bahkan belum tahu nama anak ini, yang ia tahu hanyalah: anak ini keras kepala, penuh amarah, dan semalam berusaha menyembunyikan rasa sakitnya seperti orang dewasa yang dipaksa tumbuh terlalu cepat.
Lily menepuk bahu Adric dengan hati-hati. “Hei, bangun.”
Adric membuka mata perlahan, lalu merintih pelan, suaranya serak dan lemah.
“Apa yang kau rasakan?” tanya Lily, suaranya lembut namun tegas. Tangannya berpindah mengelus rambut Adric, refleks yang bahkan tidak ia sadari.
“Pusing…” gumam Adric sambil memegang kepalanya.
Lily langsung mengerti apa yang terjadi. Tubuh kecil yang dipaksa berdiri di udara malam, dan rasa sakit yang dipendam. Kombinasi yang sempurna untuk membuat anak seusia itu tumbang.
Ia membuka selimut, memeriksa luka Adric. “Syukurlah…” bisiknya saat balutan itu tampak bersih, tidak ada tanda-tanda rembesan darah atau infeksi. Tapi ia tidak ingin menyimpulkannya aman terlalu cepat, luka ini harus diperhatikan dengan benar untuk beberapa hari ke depan.
Rahang Lily mengeras. Ia melirik balutan itu sekali lagi, dan kekesalannya semakin besar.
Dasar pria brengsek, makinya dalam hati. Dia memukul anaknya sendiri, lalu membiarkannya berdiri semalaman seolah itu pelajaran.
Lily sengaja tidak menarik selimut itu kembali. Ia membiarkan dada dan lengannya terbuka agar udara pagi yang sejuk dapat menyentuh kulitnya. Tubuh anak itu sudah panas, menutupinya dengan selimut tebal hanya akan memperparah demam. Udara harus mengalir, pori-pori harus bernapas. Kemudian tubuh akan menurunkan suhunya sendiri.
Semangattt terus mbak penulis sehat selalu 💪💪🙏🙏🌹🌹
Terimakasih up nya hari ini 🙏🙏
Aq kasih kopi biar tambah semangat mengerjai raja yang ingin mengerjaimu Lili💪
Dan zonk lah harapan Chris untuk berduaan dengan Liliane 😛🔥