Seorang penguntit telah dua kali menyusup ke rumah Stella. Ia merasa membutuhkan bantuan profesional. Karena itu, Kayson Sheridan, musuh bebuyutannya semasa kecil sekaligus pendiri Sheridan Securities, pun hadir untuk membantunya.
Kayson berjanji akan melindunginya serta menugaskan penyelidik terbaik untuk menangani kasus tersebut.
Mungkin Kayson tidak seburuk yang selama ini ia kira. Semakin lama bersama pria itu, Stella menyadari bahwa perasaannya jauh menjadi lebih rumit daripada yang pernah ia rasakan sebelumnya.
Namun, di sisi lain, seseorang telah mengincar Stella dan bertekad bahwa jika tidak dapat memilikinya, maka ia akan menghancurkannya.
୨ৎ SHERIDAN SECURITIES SEASON I ୨ৎ
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesona Stella
Stella harus melakukan sesuatu. Tidak hanya berdiri di jalan, menatap sisi rumahnya yang menghitam.
“Gue … gue harus nelepon agen asuransi gue—”
“Kita yang bakal urus.” Kayson meyakinkannya. Tatapannya menyapu sepanjang jalan. Beberapa tetangganya berdiri di luar, memperhatikan. “Ayo!”
Riggs menghalangi langkah mereka. “Jam sembilan gue ada sidang sama klien.” Ia melirik jam lalu menatap Stella. “Tapi setelah itu gue bebas. Gue bakal nyusul lo begitu selesai. Kita cari solusi malam ini. Dengan kondisi rumah lo kayak gini, lo pasti butuh tempat tinggal jangka panjang.”
Benar.
Perbaikan tidak akan selesai dalam satu dua hari.
“Dia bakal tinggal di rumah gue. Sudah beres!” Tatapan Kayson masih menyapu sekitar. “Gue bakal suruh orang nganter pakaian dan kebutuhan dia hari ini. Setelah kita selesai sama tim gue, semua kebutuhannya udah ada di rumah.”
Alis Stella terangkat. “Lo mau beliin gue baju? Nggak usah, makasih. Gue bisa urus kebutuhan gue sendiri.”
Sombong sekali.
“Stella .…” Kayson menghela napas menyebut namanya. “Semalam gue bilang gue bakal urus semuanya buat lo. Sebagian besar baju lo udah dipotong, dirobek. Yang enggak dipotong, maaf, kemungkinan besar ketutup abu kalau pun belum kebakar.”
Kayson memang mengatakan akan mengurus semuanya semalam, tapi saat itu pikiran Stella kacau dan ia tidak menyadari pria itu benar-benar berniat membelikannya pakaian.
“Gue bakal ngomong sama tim lo, terus gue ambil sendiri barang-barang yang gue butuhin.”
Untung mobilnya tidak ikut terbakar. Ada sedikit abu di sisi mobil, tapi selebihnya baik-baik saja.
Stella menjauh dari Riggs, memasukkan tangan ke tas dan menggenggam kunci. “Ketemu di kantor lo.” Ia memberi anggukan cepat pada Riggs dan Kayson sebelum berbalik menuju mobilnya.
Tim Kayson sempat membawa mobil itu dengan derek semalam setelah api dipadamkan. Mereka memeriksanya dan membersihkannya sebelum mengembalikannya ke garasi.
Convertible merah kecil itu menunggunya, dengan satu noda hitam di sampingnya.
Setidaknya mobilnya masih ada. Itu bagus. Stella masih punya mobilnya. Ia masih punya hidupnya. Ia masih punya bisnisnya.
Bajingan di luar sana tidak akan menghancurkannya. Stella tidak akan membiarkan itu terjadi.
“Mau jelasin enggak, apa sih yang sebenarnya terjadi?” tuntut Riggs saat Stella masuk ke dalam mobilnya.
Kayson melirik cepat ke arah saudaranya. “Gue bakal buru orang yang ngelakuin ini.” Ia tidak akan memoles kata-katanya untuk Riggs. “Ini bahaya, Riggs. Jauh lebih buruk dari yang bisa gue jelasin. Gue pernah nanganin kasus … nekat dan arogan kayak gini biasanya enggak muncul secepat ini.”
Ekspresi garang Riggs goyah.
“Dia ngebakar rumahnya. Dia datang ke sini bawa bensin atau apa lah. Kalau aja Stella ada di dalam …” Kayson tidak ingin melanjutkan pikirannya. “Gue bakal kasih bodyguard buat dia. Gue enggak mau dia ke mana-mana tanpa ada yang ngawasin.”
Riggs mundur selangkah. “Makanya lo mau dia di rumah lo? Biar gampang ngawasin?” Tapi sebelum Kayson menjawab, Riggs sudah mengangguk sendiri. “Masuk akal. Ya Tuhan, gue nggak …” Ia mengusap dagunya. “Hemm ... Gimana gue bisa bantu? Apa yang bisa gue lakuin?”
“Telepon gue setelah lo selesai di pengadilan. Lo kenal Stella lebih dari siapa pun.”
Riggs hanya mengangguk. “Iya.”
“Lo bisa ceritain soal teman-temannya. Mantan-mantannya. Siapa pun yang mungkin punya dendam pribadi sama dia.”
Riggs terlihat bingung. “Kan, dia sendiri bisa cerita semua itu ke lo.”
“Sudut pandang lain bakal membantu. Di kasus kayak gini, kadang korban enggak sadar sama yang ada tepat di depan mereka. Mereka enggak lihat bahayanya karena tersembunyi di balik wajah yang ramah.”
Wajah ramah bisa jadi yang paling berbahaya di dunia.
Bibir Riggs mengeras. Lalu, setelah mempertimbangkan sesuatu, ia berkata, “Semua orang selalu suka sama Stella. Setidaknya kelihatannya begitu.”
Mobil Stella mundur keluar dari garasi. “Gue bakal nyusul dia. Telepon gue setelah lo selesai.”
Kayson berbalik menuju kendaraannya.
“Itu … Tumben Lo baik banget mau bantu dia kayak gini. Gue hargai itu. Gue utang sama lo.”
Utang?
Bahu Kayson menegang. “Lo enggak utang apa-apa sama gue.” Ia melirik cepat pada saudaranya. “Gue enggak lakuin ini buat lo. Ini buat Stella!”
Senyum setengah muncul di bibir Riggs. “Akhirnya lo enggak tahan sama pesonanya, ya? Kayak yang gue bilang … semua orang selalu suka sama Stella.”