NovelToon NovelToon
Penerus Warisan Dewa

Penerus Warisan Dewa

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:39.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Di malam Festival Bulan Darah yang kelam, klan kecil Lin di pinggiran Benua Timur Dunia Fana Bawah dibantai habis-habisan oleh pasukan elit Sekte Bayangan Abadi.

Sebuah Tanah Suci 8 bintang yang ditakuti seluruh alam rendah. Penyebabnya? Hanya sebuah cincin perak tua yang tampak biasa, namun menyimpan rahasia mengerikan.

Lin Xuan, pemuda berusia 17 tahun dengan bakat kultivasi biasa-biasa saja di Qi Condensation Lapisan 3, menyaksikan segalanya dengan mata terbuka lebar.

Ayahnya Kepala Klan Lin dibunuh di depan matanya. Ibunya, dalam keputusasaan terakhir, merobek jantungnya sendiri dengan tangan gemetar, menyerahkan cincin itu ke telapak tangan anaknya sambil berbisik.

“Jangan pernah menyerah… balas dendam… bahkan jika kau harus menjadi iblis.”

Lin Xuan dilempar ke jurang maut Laut Darah Terlarang, tubuhnya hancur, darah mengalir deras. Di ambang kematian, cincin itu bergetar hebat. Cahaya hitam pekat menyelimuti tubuhnya. Suara tua yang dalam dan dingin bergema di benaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2: Kesepakatan dengan Iblis

Angin menderu di telinga Lin Xuan seperti jeritan hantu yang kelaparan.

Tubuhnya jatuh bebas menembus kabut tebal Jurang Maut. Gravitasi menariknya tanpa ampun, seolah-olah neraka sendiri sedang membuka mulut untuk menelannya.

Sreeeet!

Punggungnya menghantam cabang pohon yang tumbuh menjorok dari dinding tebing.

"Uhuk!"

Darah muncrat dari mulutnya. Cabang itu patah seketika, tapi cukup untuk memperlambat laju jatuhnya sedetik. Tubuhnya berputar, menabrak batu, memantul, lalu menghantam akar raksasa yang menjuntai di kegelapan.

Krak!

Suara tulang patah terdengar jelas. Tulang rusuk kiri, tulang selangka kanan, dan kaki kirinya hancur.

Rasa sakit yang tak terbayangkan meledak di seluruh sarafnya, membuatnya ingin pingsan. Tapi dia tidak bisa pingsan.

Tangan kanannya, yang sejak tadi mengepal erat, masih menggenggam benda terakhir pemberian ibunya. Cincin itu.

Tubuh Lin Xuan tersangkut di antara jalinan akar pohon tua yang tumbuh seratus meter dari dasar jurang. Di bawahnya, kegelapan pekat menanti. Di atasnya, hanya ada kabut hitam dan sisa-sisa asap kebakaran dari kediaman klan Lin.

Hening.

Hanya suara tetesan darahnya sendiri yang jatuh menimpa daun kering. Tes... tes... tes...

"Ibu... Ayah..."

Suaranya parau, hampir tak terdengar. Air mata bercampur darah mengaburkan pandangannya. Ingatan tentang kepala ayahnya yang menggelinding dan ibunya yang merobek dada sendiri berputar di kepalanya seperti mimpi buruk yang tak berujung.

Rasa sakit fisik ini tidak sebanding dengan lubang menganga di hatinya.

"Kenapa..."

"Kenapa kami?"

"Hanya karena sebuah cincin..."

Kemarahan mulai menggantikan rasa takut. Kebencian mulai membakar kesedihan.

Saat itulah, cincin di genggamannya bereaksi.

Cincin hitam kusam itu basah oleh darah ibunya, dan sekarang terendam oleh darah Lin Xuan. Benda itu bergetar. Bukan getaran mekanis, melainkan denyutan seperti jantung yang baru bangun dari tidur panjang.

Darah di tangan Lin Xuan tidak menetes lagi. Darah itu disedot.

"Argh!" Lin Xuan mengerang saat merasakan sensasi terbakar di telapak tangannya. Cincin itu memanas, menyerap esensi darahnya dengan rakus.

Wuuuung...

Kabut merah tipis merembes keluar dari cincin, memadat di udara lembap jurang, membentuk siluet samar seorang pria tua berjubah kuno.

Pria itu tidak menapak tanah, melainkan melayang setengah jengkal di atas akar pohon. Wajahnya samar, tapi matanya bersinar merah darah tajam, tua, dan penuh dengan aura kejahatan yang purba.

Ini bukan dewa penolong. Ini adalah iblis yang terkurung.

Sosok itu menatap Lin Xuan yang sekarat dengan tatapan merendahkan, seolah melihat serangga yang hampir mati terinjak.

"Menyedihkan," suara sosok itu bergema langsung di dalam kepala Lin Xuan, dingin dan menusuk. "Aku menunggu sepuluh ribu tahun untuk bangun, hanya untuk dibangunkan oleh bocah Qi Condensation Lapisan 3 yang sedang menangis?"

Lin Xuan mencoba mengangkat kepalanya, tapi lehernya terlalu sakit. "Si... siapa kau?"

"Siapa aku tidak penting bagimu sekarang, Bocah," sosok itu melayang mendekat. "Yang penting adalah kau akan mati dalam waktu sepuluh napas lagi. Paru-parumu bocor. Jantungmu melemah."

Sosok itu menunjuk ke arah atas, ke arah langit yang tak terlihat.

"Dan orang-orang yang membantai klanmu? Mereka sedang tertawa sekarang. Membagi harta keluargamu. Meminum arak di atas mayat ayahmu. Dan kau? Kau akan membusuk di sini, menjadi makanan cacing jurang, dilupakan sejarah."

Setiap kata itu seperti pisau yang mengiris hati Lin Xuan.

"Diam..." desis Lin Xuan.

"Kenapa aku harus diam?" Sosok itu terkekeh sinis. "Kenyataan memang pahit. Di dunia kultivasi, kelemahan adalah dosa asal. Orang tuamu mati bukan karena mereka jahat, tapi karena mereka lemah. Kau jatuh ke sini karena kau lemah."

"DIAM!" Lin Xuan berteriak, memuntahkan gumpalan darah lagi. Matanya yang tadinya redup kini menyala dengan kegilaan. "Aku akan membunuh mereka... Aku akan membunuh mereka semua! Sekte Bayangan... Tetua itu... semuanya!"

Sosok tua itu tersenyum lebar. Senyum yang mengerikan hingga memperlihatkan gigi-gigi tajam dari asap merah.

"Bagus. Kebencian. Itu bahan bakar yang jauh lebih murni daripada Qi alam semesta."

Sosok itu merendahkan tubuhnya, mendekatkan wajah asapnya ke wajah Lin Xuan.

"Namaku Gu Tianxie. Dunia dulu memanggilku Dao Leluhur Gu. Tapi itu masa lalu."

"Aku bisa menyelamatkanmu. Aku bisa memberimu kekuatan untuk memenggal kepala tetua yang membunuh ayahmu. Aku bisa membuatmu berdiri di puncak dunia, menginjak semua sekte sombong itu di bawah kakimu."

Lin Xuan menatap mata merah itu. Dia tahu ini bukan tawaran gratis. Dia pernah mendengar dongeng tentang kultivator iblis yang menipu manusia.

"Apa... bayarannya?" tanya Lin Xuan serak.

Gu Tianxie tertawa, suara tawanya membuat dinding jurang bergetar. "Anak pintar. Tidak ada yang gratis di bawah langit ini."

"Bayarannya sederhana. Tubuhmu, rasa sakitmu, dan jalan hidupmu. Cincin ini, Cincin Samsara Darah, membutuhkan darah untuk berfungsi. Setiap kali kau meminjam kekuatanku, kau harus membayar dengan rasa sakit seratus kali lipat. Dan suatu hari nanti, ketika kau mencapai puncak... kau harus melakukan satu hal untukku."

"Apa itu?"

"Membangkitkan tubuh asliku dan membunuh musuhku di Alam Dewa Tertinggi."

Lin Xuan tidak peduli tentang Alam Dewa. Dia tidak peduli tentang musuh orang tua ini. Yang dia pedulikan hanyalah pedang di leher Sekte Bayangan.

"Jika aku menolak?"

"Kau mati di sini. Sekarang."

Pilihan yang mudah.

Lin Xuan memejamkan mata. Bayangan ibunya yang merobek dada sendiri melintas lagi. Hiduplah... Balaskan kami.

Dia membuka matanya. Tidak ada lagi keraguan. Hanya ada dingin yang membeku.

"Aku terima," bisik Lin Xuan. "Ambil apapun yang kau mau. Selama aku bisa membunuh mereka."

"Sepakat," kata Gu Tianxie.

Sosok asap itu tiba-tiba meledak, berubah menjadi ribuan jarum merah kecil yang menusuk masuk ke dalam pori-pori Lin Xuan.

"AAARGHHHHH!"

Lin Xuan menjerit. Rasanya bukan seperti disembuhkan, tapi seperti direbus hidup-hidup.

Cincin di tangannya bersinar menyilaukan. Energi merah pekat mengalir deras ke dalam tubuhnya yang hancur.

Krak! Krak! Krak!

Tulang-tulangnya yang patah dipaksa menyatu kembali dengan kasar. Serpihan tulang yang hancur dibakar menjadi abu, digantikan oleh sumsum baru yang berwarna hitam kemerahan.

"Tahan rasa sakitnya!" suara Gu menggema di kepalanya. "Ini adalah hadiah pertamaku! Teknik Penempaan Tulang Asura! Hancurkan untuk membangun! Mati untuk hidup kembali!"

Dagingnya yang robek merajut diri dengan kecepatan yang terlihat mata telanjang. Tapi proses regenerasi itu lebih menyakitkan daripada saat terluka. Saraf-sarafnya menjerit, mengirim sinyal penderitaan ke otak tanpa henti.

Lin Xuan menggigit bibirnya hingga putus, darah mengalir ke dagu. Dia menolak untuk pingsan. Dia menanamkan rasa sakit ini dalam-dalam ke ingatannya.

Ingat rasa sakit ini, Lin Xuan, batinnya berteriak. Setiap detik rasa sakit ini adalah hutang yang harus dibayar oleh Sekte Bayangan!

Satu jam kemudian.

Cahaya merah meredup.

Di atas akar pohon tua itu, seorang pemuda duduk bersila. Pakaiannya compang-camping, berlumuran darah kering. Tapi tubuh di balik kain robek itu kini utuh. Kulitnya pucat seperti mayat, tapi di bawahnya tersembunyi kekuatan ledakan yang tak pernah dia miliki sebelumnya.

Lin Xuan membuka matanya.

Pupil matanya yang hitam kini memiliki setitik cahaya merah di tengahnya. Aura naif seorang bocah desa telah lenyap sepenuhnya, digantikan oleh aura dingin seorang pembunuh yang baru lahir.

Dia mengangkat tangannya, menatap cincin hitam di jari manisnya.

"Sekte Bayangan..." gumamnya pelan. Suaranya datar, tanpa emosi, tapi lebih menakutkan daripada teriakan kemarahan manapun.

"Tunggu aku."

1
saniscara patriawuha.
hancurrrkannnnn mangh suannnn
saniscara patriawuha.
gassssddd...
saniscara patriawuha.
sikattttt manggg suannnn
༄🥑⃟⍟Mᷤbᷡah²_Atta࿐
Jooossss 👍
REY ASMODEUS
selamat datang tingkatan baru... selamat datang sang azura dan selamat menikmati kehancuran wahai benua tengah. 🤣🤣🤣
Budi Wahyono
5 mawar untuk lin xuan
REY ASMODEUS
ini namanya konspirasi pertandingan tingkat dewa🤣🤣🤣
saniscara patriawuha.
gasdddd deuiiiii anuuuu kenceungggh..
Bisri Ilhamsyah
mantap ceritanya
REY ASMODEUS
Thor aku serakah. up lqgi 12 bab boleh ? 🙏🙏🙏🙏🤭🤭🤭
Sang_Imajinasi: kita gas besok
total 1 replies
REY ASMODEUS
aku suka gayamu azura🤣🤣🤣🤣,
saniscara patriawuha.
lanjuttttkannnnnnn.....
Sang_Imajinasi: siap💪
total 1 replies
REY ASMODEUS
merinding bosku. ini baru azura sang pembantai. biarkan pion maju kedepan sedangkan sang bayangan menari dengan rima berdarahnya di balik bayangan
saniscara patriawuha.
krakkkkkk bunyi yanggg gurih gurih renyahhhh....
saniscara patriawuha.
gassssss polllll deuiiii...
saniscara patriawuha.
sukatttttt mangggg suannnn...
REY ASMODEUS
sekte kabut ilusi. kalian slaah kasih nama harusnya sekte ilusi suka ngibul🤣🤣🤣
Arinto Ario Triharyanto
silent.... mematikan....itu benar mantap Thor... lanjutkan 💪
saniscara patriawuha.
sikatttt sampeee lumattt
saniscara patriawuha.
gasssssd pollllll
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!