Selama empat tahun pernikahan, Laras menjadi mesin ATM bagi keluarga suaminya. Sebagai wanita karier dengan posisi mapan dan gaji besar, ia tidak hanya menafkahi rumah tangganya sendiri, tetapi juga menanggung gaya hidup mewah ibu mertua dan adik iparnya, sementara suaminya, Arga, lepas tangan dengan alasan gajinya yang kecil.
Puncak kesabaran Laras habis ketika ia menyadari bahwa kebaikannya tidak pernah dihargai dan justru dianggap sebagai kewajiban mutlak. Laras memutuskan untuk melakukan "pemogokan finansial". Ia memotong uang bulanan secara drastis, berhenti membayar cicilan mobil sang adik ipar, dan mulai menikmati hasil jerih payahnya untuk dirinya sendiri.
Keputusan Laras memicu "perang" dalam keluarga besar. Arga yang manipulatif, serta ibu mertua dan adik ipar yang parasit, mulai melakukan berbagai cara untuk menekan Laras, mulai dari intimidasi, adu domba dengan keluarga besar, hingga ancaman perceraian. Namun, Laras yang kini lebih berdaya tidak lagi bisa ditindas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembalasan dimulai, Mas.
"Terima kasih, Mas. Aku sudah tidak sabar ingin segera menjadi istri kamu." ucap Angel manja setelah mereka selesai berbelanja.
Semua persiapan hampir rampung. Perhiasan emas seberat 30 gram yang diminta Angel sebagai mahar sudah di tangan, begitu juga dengan sepasang cincin kawin dan kebaya untuk akad nikah nanti. Arga juga sudah menyiapkan uang tunai sebesar 50 juta rupiah untuk melengkapi maharnya.
Biaya pernikahan ini benar-benar menguras kantong Arga. Uang hasil menggadaikan mobilnya kini hanya tersisa belasan juta rupiah saja. Namun, bagi Arga, ini adalah pengorbanan yang setimpal untuk mendapatkan wanita seperti Angel.
"Sabar, Sayang. Kurang dari seminggu lagi, kan? Pokoknya, setelah kita menikah, aku akan meratukanmu." bual Arga dengan nada bangga.
"Tapi, bagaimana dengan istrimu?" tanya Angel, menyiratkan ketidaksediaan untuk berbagi hati.
Arga menghela napas pendek. "Soal itu, aku belum bisa memastikannya sekarang. Kalau Laras tidak mau dimadu, ya terserah dia, akan aku ceraikan. Lagipula, di rumah tidak ada pembantu. Biarkan saja dia di sana dulu, anggap saja dia ART gratisan. Lumayan kan, kita tidak perlu menggaji orang? Masa tangan halusmu harus mengerjakan pekerjaan rumah?" Arga berujar sambil mengelus jemari Angel.
"Ogah banget jadi ART. " sahut Angel ketus dengan wajah cemberut yang dibuat-buat. "Aku menikah denganmu itu untuk bahagia, Mas. Bukan untuk jadi babu. Level seorang Angel itu tinggi, tidak pantas jadi pelayan."
Arga tertawa terbahak-bahak. Di matanya, kekesalan Angel justru terlihat menggemaskan. Mana mungkin dia membiarkan wanita kaya raya seperti Angel menyentuh pekerjaan dapur?
"Tentu tidak, Sayang. Aku cuma bercanda. Kamu akan kujadikan ratu, apalagi sekarang kamu sedang mengandung," ucap Arga sembari mengusap perut Angel yang masih tampak rata.
"Benar, ya? Pokoknya setelah menikah, jangan tuntut aku mengerjakan urusan rumah. Kita bisa pakai ART atau kalau perlu, jadikan saja istrimu itu pelayan kita." tekan Angel lagi.
"Iya, Sayang. Ya sudah, ayo aku antar pulang. Sudah sore. Karena pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi, sebaiknya kita jangan terlalu sering bertemu di malam hari. Kamu harus banyak istirahat." pesan Arga.
"Iya, Suamiku." jawab Angel manja.
Mereka pun beranjak meninggalkan kafe. Mobil Arga penuh dengan kantong belanjaan Angel. Selain kebaya, Angel juga memborong banyak pakaian bermerek yang semuanya dibayar oleh Arga.
**
Di sisi lain, di rumah yang selama ini diakui Arga sebagai miliknya, suasana terasa tegang. Bu Ajeng hanya melengos, memamerkan senyum sinis yang memancing kekesalan Bu Sulis.
"Saya tidak terbiasa masak, Bu. Lagipula sebentar lagi Laras juga pulang. Biarkan dia saja yang masak. Ibu duduk manis saja di sini, nonton drakor sama saya." tolak Bu Ajeng saat diajak memasak bersama oleh besannya.
" Jadi begini sifat aslimu yang sebenarnya, Bu Ajeng? Di depanku saja berani bicara begitu? Ternyata benar kata tetangga, Laras dianggap seperti pembantu di sini." batin Bu Sulis geram.
"Laras itu baru pulang kerja kantor, pasti capek, Bu. Kasihan kalau harus lanjut masak lagi. Kalau dia kelelahan, kapan mereka bisa punya waktu untuk promil? Ya sudah, kalau Ibu tidak mau bantu, biar saya masak sendiri." ujar Bu Sulis mencoba bersabar.
"Ya sudah, sana." sahut Bu Ajeng tak acuh.
Bu Sulis kembali ke dapur dengan hati mengganjal. Dia mulai memasak sup daging sapi yang dibawanya dari rumah. Tak lama kemudian, Tiara datang dan langsung menjatuhkan diri di sofa di samping Bu Ajeng.
"Duh, capek banget aku, Bu." keluh Tiara.
"Eh, Tiara. Uang bulanan kamu sudah ditransfer belum sama Laras? Dia kan sudah gajian kemarin?" tanya Bu Ajeng setengah berbisik.
"Iya juga ya, Bu. Belum ada tuh masuk ke rekening. Nanti kita tagih saja. Enak saja dia menunda-nunda, itu kan sudah jadi hak kita." sahut Tiara penuh semangat jika membahas uang.
"Sssttt!!!!" Bu Ajeng memberi kode agar Tiara mengecilkan suara sambil melirik ke arah dapur. "Jangan keras-keras, nanti didengar ibunya Laras. Wanita tua itu pasti protes lagi."
"Iya, Bu, aku mengerti." bisik Tiara.
"Ibu lagi kesal sama ibunya Laras. Masa tadi dia berani-berani mengajak Ibu masak? Dia pikir dia siapa, tamu kok tidak tahu diri. Entah kapan mereka pulang, adanya mereka di sini bikin Ibu tidak bebas." gerutu Bu Ajeng.
"Sama, Bu. Aku juga tidak suka mereka di sini. Oh ya, jadi kan Ibu pergi ke Bali?"
Bu Ajeng mengangguk pelan dengan senyum penuh kemenangan. Dia tidak boleh batal ikut, bisa malu dia di depan teman-teman sosialitanya. Semua perlengkapan sudah masuk koper, lusa dia akan berangkat.
"Mbak Laras yang bayari?" tanya Tiara penasaran.
"Bukan. Kali ini Ibu tidak butuh uang Laras. Kalau nunggu dia, entah dikasih atau tidak. Ibu punya cara sendiri untuk dapat uang cepat. Tiket pulang-pergi sudah aman." pamer Bu Ajeng sombong.
"Uang dari mana, Bu? Mas Arga tidak mungkin, dia lagi butuh banyak uang untuk nikah lagi. Mas Dimas sama Mbak Maya juga mustahil, mereka kan pelit. Apalagi mereka masih punya utang 25 juta dan 15 juta ke Laras yang belum dibayar." cecar Tiara heran.
"Kamu tidak perlu tahu, yang penting uang ini Ibu dapatkan dengan usaha sendiri. Sudah, sana mandi, wajahmu kusam sekali." usir Bu Ajeng.
**
Suara deru mobil terdengar di halaman. Mobil Laras masuk terlebih dahulu, disusul mobil Arga tepat di sampingnya.
"Mas, wajahmu ceria sekali? Lagi jatuh cinta, ya?" sindir Laras saat mereka berpapasan di garasi. Arga hampir saja tersedak ludahnya sendiri.
"Ceria? Ya jelas, ini kan tanggal muda, gajian sudah masuk." dalih Arga berbohong. Padahal, gajinya dipotong 20 persen untuk mencicil utang kantor.
"Oh, iya. Aku sampai lupa ini tanggal muda." sahut Laras pura-pura polos, padahal gajinya sudah masuk sejak kemarin dari kantor.
Mereka masuk ke rumah bersamaan. Bu Ajeng yang melihat mereka masuk beriringan langsung memasang wajah masam. Dalam hatinya, dia sudah tidak sabar ingin segera menyingkirkan Laras dari rumah itu.
"Ibuku masak sendirian di dapur, sementara mertuaku malah asyik nonton drakor. Lihat saja, bulan ini WiFi dan TV kabel tidak akan aku bayar. Kita lihat kalian bisa apa tanpa koneksi internet di rumah ini." batin Laras tajam.
Laras masuk ke kamar untuk menaruh tas, lalu segera menghampiri ibunya di dapur.
"Ibu, kenapa masak sendiri? Harusnya tunggu Laras pulang. Oh ya, Bapak ke mana?" tanya Laras.
"Ke masjid, mau menemui pengurus. Ada sedikit rezeki dari kebun cengkeh yang mau Bapak sumbangkan. Kamu mandi saja dulu, ini hampir selesai. Tadi sebenarnya Ibu sudah ajak mertuamu, tapi katanya dia tidak terbiasa masak." lapor Bu Sulis.
"Tidak apa-apa, Bu. Biar Laras saja yang urus makan Mas Arga." jawab Laras, bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
**
Setelah magrib, Bu Sulis masuk ke kamar dan mendadak terpaku. Matanya menatap tasnya yang tergeletak di atas tempat tidur dengan posisi yang berbeda.
"Kok tas ini ada di sini? Perasaan tadi aku simpan di dalam lemari rias?" gumam Bu Sulis heran.
Jantungnya berdegup kencang saat memeriksa isi tasnya. Amplop berisi uang itu masih ada, tapi isinya berkurang drastis. Dari 30 juta yang ada, setelah 10 juta dibawa Bapak ke masjid, kini hanya tersisa 5 juta rupiah saja. Uang 15 juta rupiah telah raib.
"Ke mana uang 15 jutanya? Apa Bapak tadi pulang lagi? Tapi tidak mungkin, Bapak cuma mau ambil 10 juta. Kenapa tas ini bisa berpindah tempat?" Bu Sulis bingung sekaligus curiga, namun dia berusaha menahan diri agar tidak asal menuduh.
**
Di kamar lain, Laras menghampiri Arga yang baru saja selesai membersihkan diri.
"Mas, tolong tanda tangani ini." ucap Laras sambil menyodorkan selembar kertas dan pulpen.
"Apa ini?" tanya Arga keningnya berkerut.
"Minggu depan aku ada dinas luar kota selama empat hari. Karena kita sudah menikah selama empat tahun, perusahaan butuh surat izin resmi dari suami. Kamu ingat kan dulu juga sering begini?" jelas Laras tenang.
Arga mengangguk tanpa curiga sedikit pun. Dia langsung membubuhkan tanda tangan di atas kertas yang tertera namanya tanpa membaca isinya sama sekali. Dia tidak tahu bahwa itu bukan sekadar surat dinas.
" Pembalasan dimulai, Mas." batin Laras dengan senyum penuh arti.
itung itung kamu sambil PDKT sama damar.
dan aku sangat yakin damar mau membeli itu tanah
tolonglah arga.
jangan biarkan ibu mertuamu memanfaatkan harta ayahnya arga.