Seorang wanita dari abad ke-21, dikenal sebagai President's Shadow-pemimpin tertinggi dunia gelap dan mafia internasional-terbangun setelah kecelakaan kecil. Bukan di rumah sakit modern, melainkan di dunia yang sangat asing: dunia sebuah buku yang sering dibaca oleh sahabatnya.
Ia kini hidup sebagai Anthenia Blackwood, putri tunggal Duke Blackwood-gadis bangsawan yang dulu dikenal lembut, ceria, penakut, dan mudah gemetar di hadapan siapa pun. Namun jiwa di dalam tubuh itu telah berubah.
Di balik wajah tenangnya, Anthenia kini menyimpan:
• kecerdasan strategi,
• naluri pembunuh,
• dan mental baja seorang pemimpin dunia gelap.
Sang ayah, Duke Kaelen Blackwood, terkenal kejam dan tak kenal ampun pada musuh, namun berubah sepenuhnya saat bersama putrinya. Tak seorang pun berani menyentuh Anthenia-hingga Permaisuri Lunara Aurelius melihat gadis itu sekilas dan langsung menginginkannya sebagai menantu kekaisaran.
Calon suaminya adalah William Whiston, Putra Mahkota Kekaisaran Aurelius-p
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AinaAsila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Golden Gate of the Palace
Kereta kuda Blackwood melaju perlahan menembus kabut pagi. Roda besi beradu dengan batu jalan, teratur—seperti denyut jantung yang sengaja ditenangkan. Putri Duke Blackwood, Anthenia duduk tegak di dalamnya, punggung lurus, tangan terlipat rapi di pangkuan. Gaun biru tua dengan sulaman perak membingkai sosoknya; anggun di mata orang lain, strategis di matanya sendiri.
Di seberangnya, Duke Kaelen Blackwood menatap lurus ke depan. Diam. Namun keheningan itu penuh makna.
“Kau tak gemetar,” ucap Duke tiba-tiba, suaranya rendah.
Anthenia mengalihkan pandang. “Haruskah?”
Duke menoleh, meneliti wajah putrinya. Ada kilat singkat—bukan kecurigaan, melainkan pengakuan. “Istana tidak memaafkan kesalahan,” katanya. “Permaisuri cerdas. Dan Putra Mahkota—”
“Aku tahu,” potong Anthenia tenang. “Aku akan berhati-hati.”
Kereta berhenti.
Gerbang emas Istana Araluen terbuka, megah dan dingin. Para penjaga berbaris, tombak terangkat serempak.
Tatapan-tatapan menimbang jatuh pada Anthenia—rasa ingin tahu bercampur prasangka.
Ia melangkah turun. Satu napas. Dua.
Naluri lamanya bekerja: membaca jarak, membaca wajah, membaca niat.
Aula utama menyambut dengan pilar-pilar tinggi dan lantai marmer mengilap. Di ujungnya, singgasana permaisuri berdiri anggun—tidak terlalu tinggi, namun ditempatkan tepat agar semua yang masuk harus menengadah.
Permaisuri Lunara Aurelius duduk di sana. Senyum lembutnya tidak mencapai mata.
“Anthenia Blackwood,” ucapnya hangat. “Akhirnya kita bertemu.”
Anthenia menunduk dengan sudut yang tepat—cukup hormat, tidak merendahkan diri. “Merupakan kehormatan, Yang Mulia.”
Permaisuri mengamati—diam terlalu lama untuk sekadar sopan santun. Ia melihat ketenangan yang tak seharusnya dimiliki gadis seusia itu. “Kau tampak… berbeda dari cerita yang kudengar.”
“Orang berubah,” jawab Anthenia ringan. “Terutama setelah hampir kehilangan hidupnya.”
Senyum permaisuri menajam tipis. “Jawaban yang jujur.”
Langkah kaki berat terdengar dari sisi aula. Aura dingin menyapu ruangan seperti angin musim dingin.
William Whiston.
Putra Mahkota berhenti beberapa langkah dari singgasana. Seragam perang hitam dengan aksen emas melekat rapi di tubuhnya. Tatapannya—tenang, tajam—jatuh pada Anthenia.
Untuk sepersekian detik, waktu melambat.
Ia berbahaya, pikir Anthenia. Bukan karena pedangnya—melainkan karena kendalinya.
William mengangguk singkat. “Ibu.”
“Liam,” balas Permaisuri lembut. “Ini Anthenia Blackwood.”
Tatapan William kembali ke Anthenia. Tidak merendahkan. Tidak memuji. Menilai.
“Putri Duke Blackwood,” katanya datar.
“Putra Mahkota,” jawab Anthenia, sama tenangnya.
Ada keheningan yang aneh—seperti dua bilah pedang yang saling mengukur jarak sebelum bertabrakan. Beberapa bangsawan berbisik. Nelia muncul dari balik pilar, matanya berbinar saat melihat Anthenia.
Permaisuri berdeham halus. “Anthenia, aku mengundangmu bukan hanya untuk menanyakan kesehatanmu. Aku ingin kau tinggal sementara di istana.”
Kata-kata itu jatuh seperti batu ke air tenang.
Anthenia menoleh sekilas pada ayahnya. Duke Kaelen tidak bereaksi—namun rahangnya mengeras. Ia kembali menatap Permaisuri. “Atas dasar apa, Yang Mulia?”
“Pendidikan,” jawab Permaisuri ringan. “Dan… kecocokan.”
William tidak bereaksi. Namun mata kelabunya berkilat singkat—ia menangkap permainan di balik kata itu.
Anthenia mengangguk perlahan. “Jika itu kehendak Yang Mulia.”
Keputusan dibuat. Papan catur bergerak.
Saat mereka beranjak, William berjalan sejajar dengannya. Suaranya rendah, hampir tak terdengar. “Istana tidak ramah pada yang lemah.”
Anthenia menoleh, menatap mata itu tanpa gentar. “Untungnya, aku tidak lemah.”
William berhenti sejenak. Sudut bibirnya bergerak nyaris tak terlihat—bukan senyum. Pengakuan.
Di belakang mereka, Permaisuri menatap punggung keduanya dengan mata penuh perhitungan.
Permainan telah dimulai.
Dan untuk pertama kalinya, Pedang Emas Kaisar menemukan lawan yang tidak menunduk.
Koridor istana terbentang panjang, diterangi cahaya pagi yang menembus kaca patri. Anthenia melangkah di sisi Permaisuri Lunara, diikuti beberapa dayang. Duke Kaelen telah berpamitan di aula—keputusan yang tak ia sukai, namun ia hormati.
“Kamarmu telah disiapkan,” ucap Permaisuri lembut. “Sayap timur. Dekat taman dalam.”
Dekat jalur keluar, catat Anthenia. Dan jauh dari selir.
“Terima kasih, Yang Mulia.”
Mereka berhenti di depan pintu ukir dengan lambang Aurelius. Dayang membuka, memperlihatkan ruang luas bernuansa putih-emas. Terlalu indah untuk menjadi tempat aman—terlalu banyak sudut pandang.
Permaisuri mempersilakan semua keluar. Pintu tertutup. Keheningan jatuh.
“Kau tidak takut,” kata Permaisuri tanpa basa-basi.
Anthenia menatapnya lurus. “Aku belajar menyembunyikannya.”
Permaisuri tersenyum samar. “Jawaban yang cerdas.” Ia berjalan mendekat, menatap mata Anthenia dengan intensitas yang membuat banyak bangsawan biasanya menunduk. “Kau tahu mengapa aku memanggilmu?”
“Karena Yang Mulia melihat sesuatu yang bisa dipakai,” jawab Anthenia tenang.
Tawa pelan terdengar. “Jujur. Aku menyukainya.” Permaisuri berbalik, memandang jendela. “Aku butuh seseorang yang tak mudah dipatahkan. Istana ini memakan yang rapuh.”
Anthenia mengangguk. “Aku akan belajar cepat.”
Permaisuri menoleh. “Dan kau akan bertemu anak-anakku.”
Seolah dipanggil oleh kata-kata itu, pintu diketuk. Nelia masuk dengan senyum cerah, diikuti dua gadis lain. Seorang berambut cokelat lembut—Genevieve Kesan—dan seorang lagi berwajah dingin, angkuh—Beatrice Miller.
“Anthenia!” Nelia menghampiri, meraih tangannya. “Aku senang kau tinggal di sini!”
Genevieve tersenyum ramah. “Selamat datang di istana.”
Beatrice hanya melirik sekilas, dagunya terangkat. “Putri Duke,” ucapnya datar.
Anthenia membalas dengan anggukan singkat, tepat—tidak ramah, tidak memancing. Beatrice mengerling, jelas tak puas.
Permaisuri mengamati pertukaran itu, lalu berkata, “Hari ini, makan siang bersama keluarga.”
Beatrice menegang. Genevieve menatap Nelia, khawatir. Nelia justru semakin bersemangat.
Di ruang makan, meja panjang berkilau. Kaisar Whiston duduk di ujung, wajahnya tegas. Para pangeran dan putri telah berkumpul. Bisik-bisik berhenti saat Anthenia masuk.
Tatapan-tatapan menilai. Mengukur.
William sudah duduk di sisi kanan Kaisar. Ia berdiri saat Permaisuri datang—gerakan halus namun penuh wibawa. Matanya kembali bertemu Anthenia, singkat, bermakna.
“Silakan,” ucap Kaisar.
Anthenia duduk sesuai arahan—tidak terlalu dekat dengan singgasana, tidak terlalu jauh. Di hadapannya, Alistair Valerius tersenyum sopan. Senyum yang salah arah.
“Putri Blackwood,” katanya manis. “Aku harap kesehatanmu membaik.”
“Terima kasih,” jawab Anthenia. Ia ingin tahu seberapa rapuh aku, batinnya.
Percakapan berjalan kaku hingga Nelia memecah keheningan dengan cerita ringan. Namun di bawah meja, perang kecil berlangsung—tatapan, senyum, dan niat.
Kaisar akhirnya berbicara, suaranya berat. “Permaisuri menyebutkan kau akan tinggal sementara di istana.”
“Benar, Paduka,” jawab Anthenia.
Kaisar menatap lama. “Ayahmu setia. Jangan mengecewakannya.”
Ancaman yang dibungkus nasihat.
“Aku tidak berniat,” balas Anthenia.
William meletakkan sendoknya, suara logam beradu pelan. “Istana membutuhkan ketertiban.”
“Dan ketertiban membutuhkan keadilan,” sahut Anthenia spontan.
Beberapa orang terkejut. Beatrice menahan napas. Alistair menyipitkan mata.
William menoleh. “Keadilan tanpa kekuatan hanya kata.”
Anthenia menatapnya lurus. “Kekuatan tanpa arah hanya kekacauan.”
Keheningan membeku.
Permaisuri menyesap minumannya, puas. Nelia menatap bergantian, kagum.
William memecah keheningan, nada netral. “Menarik.”
Itu saja. Namun satu kata itu menggetarkan meja.
Saat makan siang usai, bisik-bisik meletup. Saat mereka beranjak, William mendekat setengah langkah. “Hati-hati dengan senyum,” katanya lirih. “Yang paling tajam sering tampak ramah.”
Anthenia mengangguk. “Aku tahu.”
Ia menatap punggung Putra Mahkota saat ia pergi. Tidak ada ketertarikan bodoh—hanya pengakuan profesional.
Dia akan sulit ditaklukkan.
Di balik pilar, Alistair mengepalkan tangan.
Sore menjelang ketika Anthenia kembali ke sayap timur. Langkahnya tenang, wajahnya netral—namun pikirannya bekerja cepat, menyusun peta istana yang baru saja ia masuki.
Alistair tersenyum terlalu sering. Beatrice menyimpan duri. Kaisar menguji. Permaisuri… memilih.
Pintu kamarnya tertutup. Dayang-dayang memberi hormat lalu mundur. Keheningan kembali memeluk.
Anthenia melepas sarung tangan, mengusap pergelangan tangan perlahan—kebiasaan lama untuk menenangkan diri. Ia berjalan ke meja kecil dekat jendela. Di sana, sebuah kotak kayu telah diletakkan. Segel istana terukir rapi.
Ia membukanya.
Di dalamnya: undangan makan malam resmi—dengan cap permaisuri—dan secarik catatan pendek.
“Datanglah dengan pikiran terbuka. Istana menghargai kecerdasan.”
— L.
Anthenia tersenyum tipis. Lunara. Langsung. Tanpa hiasan.
Ketukan pelan terdengar.
“Masuk.”
Pintu terbuka dan Nelia menyelinap masuk, menutupnya cepat seolah menyimpan rahasia besar. “Aku dengar kamu dapat undangan!” bisiknya, matanya berbinar.
“Sepertinya begitu.”
Nelia duduk di tepi ranjang, meraih tangan Anthenia. “Kakak Liam jarang… tertarik pada orang baru.”
Anthenia menatapnya lembut. “Apa maksudmu?”
Nelia ragu, lalu tersenyum kecil. “Dia memperhatikanmu.”
Catatan baru, pikir Anthenia. Ia mengamati, bukan tertarik.
“Terima kasih sudah memberitahuku,” jawabnya jujur.
Nelia hendak bicara lagi, namun suara langkah berat terdengar di luar. Pintu diketuk—satu ketukan, tegas.
William.
Nelia langsung berdiri. “Aku—aku harus pergi.” Ia berbisik cepat, lalu menyelinap keluar.
William masuk setelah diberi izin. Ia berdiri di dekat pintu, menjaga jarak. Mata kelabunya menilai ruangan—jalur pandang, sudut, jendela—seperti kebiasaan seorang panglima.
“Kau beradaptasi cepat,” katanya.
“Aku belajar,” balas Anthenia.
“Banyak yang belajar. Sedikit yang bertahan.” Ia menatap lurus. “Istana ini berbahaya. Jangan berdiri sendirian.”
Anthenia mengangkat alis. “Itu peringatan atau perintah?”
William diam sesaat. “Saran.”
Ia berbalik hendak pergi, lalu berhenti. “Makan malam nanti—duduklah dekat Permaisuri.”
Anthenia mengangguk. “Terima kasih.”
William membuka pintu. “Dan satu lagi.” Ia menoleh. “Jangan percaya senyum Alistair.”
“Sudah kuperhitungkan.”
Untuk pertama kalinya, William tampak… puas.
Pintu tertutup.
Anthenia berdiri di depan jendela, memandang matahari yang turun perlahan di balik menara istana. Undangan di tangannya terasa ringan—namun maknanya berat.
Ia melipat undangan itu rapi.
“Baik,” gumamnya pelan. “Mari kita lihat siapa yang bermain paling bersih—dan siapa yang paling cepat jatuh.”