NovelToon NovelToon
Bayangan Di Yalimo

Bayangan Di Yalimo

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Anak Genius
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: Laila ANT

Yohan, seorang pemuda urban, mewarisi rumah bobrok di Yalimo dan bertekad menjualnya. Rencananya terhalang oleh roh ibunya, Sumiati, yang terikat pada tanah itu oleh 'Janji Darah'. Dalam upaya investigasi yang membawanya jauh ke pedalaman Papua, Yohan harus mengorbankan identitas modernnya (Pertukaran Jiwa) demi membebaskan Sumiati. Setelah berhasil, ia secara tidak sengaja melepaskan Kutukan Primordial yang lebih tua—energi jahat yang sebelumnya ditahan Sumiati—dan dipaksa menjadi 'Penjaga Pusaka' sejati. Yohan memimpin komunitas melawan serangan hukum dan militer korporat, yang berpuncak pada kemenangan spiritual atas kekayaan. Perjalanannya berakhir ketika ia menyadari bahwa pengorbanan terbesar bukanlah aset, melainkan kemampuan untuk memimpin dengan kerendahan hati dan tanpa kepastian diri, mengubahnya dari pewaris sinis menjadi pemimpin spiritual yang utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila ANT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Persiapan Ritual

Kekosongan yang ditinggalkan oleh roh Sumiati yang memudar terasa hangat dan menyesakkan pada saat yang sama. Keheningan pasca-konfrontasi terasa damai. Ikatan emosionalnya telah putus; ikatan spiritualnya kini beralih sepenuhnya ke Yohan.

Yohan, yang kakinya masih gemetar, memaksa dirinya berdiri. Rasa trauma karena ditelanjangi ingatan menyakitkan kini digantikan oleh tekad yang kebal terhadap rasa takut. Dia memunggungi pintu, menyeka debu kotor dari matanya, lalu mengambil lagi Jimat Tulang Kunci Ina.

Patung Pusaka di Balik Air Terjun Terlarang, bisiknya. Yohan berjalan perlahan menuju kamar Ibunya yang sudah terbuka.

Kamar itu dulunya dikunci mati dan menjadi simbol misteri yang memakan hati Ayahnya dan kebebasan Ibunya. Kini, gembok sudah tidak ada, entah dibuka oleh siapa, namun auranya seolah menyambut Yohan.

Ruangan itu dipenuhi kain lusuh, buku-buku Sumiati tentang adat, dan lemari kayu berukiran bunga kamboja yang menjorok dari dinding, memancarkan bau wewangian basi yang khas dari kamar mati.

Yohan berjalan melewati ambang pintu. Di dalam, suasana lebih tegang, energi kehendak Yosef lebih kental daripada di koridor. Yohan berpegangan pada Kunci Tulang Ina, berusaha mengingat setiap instruksi Dukun Ina.

Ia mencoba mencari indikasi spiritual, mengingat kata Ina, "Patung Pusaka adalah jangkar keseimbangan." Pusaka sejati adalah objek kuno yang mengikat roh leluhur dan menjaga Yalimo. Ayahnya pasti menyembunyikannya dengan sangat baik, bukan?

Yohan mulai menyentuh dinding kamar. Dingin. Debu. Tak ada reaksi.

Lalu, sebuah hal aneh terjadi. Sebatang tangkai ranting kamboja kecil yang baru ia lihat digunakan Sumiati untuk menulis di debu yang tadinya berada di lantai, kini melayang setinggi lutut, bergetar lembut seperti diarahkan benang tak terlihat, dan menunjuk ke sudut ruang dekat lantai. Ujung tangkai itu berulang kali menyentuh sebuah panel lantai kayu, berdentang lembut. Roh Ibunya, meski terbebas dari rantai utamanya, masih berada di dekatnya, memandu Yohan untuk Kunci sejati itu.

Yohan berlutut di lantai yang ditunjuk ranting kamboja. Benar saja, ia merasakan getaran halus dari kayu di sana. Ia memasukkan jarinya yang panjang ke celah lantai, mencari kunci pembuka. Lantai kayu tua itu mudah terbuka setelah berabad-abad dilumuri rembesan minyak alami dari pohon sekitarnya. Saat ia mengangkatnya, tampak rongga hitam di bawahnya.

Di sana, dibungkus kain beludru hitam, terletak Pusaka Yalimo. Yohan menarik Pusaka keluar dan meletakkannya di tangannya. Begitu telapak tangannya bersentuhan dengan kain pembungkus itu, gelombang dingin membekukan menyebar dari Pusaka ke seluruh lengan Yohan, merangkak cepat menuju jantungnya.

Patung itu bukanlah patung besar yang ia bayangkan dari gambaran di Batu Persembahan. Pusaka adalah patung batu basalt berukiran dewa air yang tingginya tidak lebih dari 20 sentimeter, halus, gelap, dan memancarkan suhu dingin yang membekukan.

"Maafkan Ayahku," bisik Yohan ke Patung itu, sambil merapatkan jimat tulang Ina di samping Pusaka. Dingin itu sedikit mereda.

***

Sehari berlalu cepat, tenggelam dalam keheningan persiapan yang tegang. Yohan tahu, ia harus melakukan ritual 'Pemusnahan Jati Diri' ini sebagai prasyarat bagi Pertukaran Jiwa Total di Batu Persembahan, jauh di dalam hutan yang Marta dan sesepuh tidak ketahui. Ia harus membawa semua yang diamanatkan Ina, tanpa kompromi.

Yohan membuka ransel lamanya, ransel yang telah ia bawa kembali dari pedalaman dan terasa seperti kulitnya yang kedua. Ia mengeluarkan sisa-sisa terakhir dari Jakarta. Dia menyiapkannya sebagai persembahan.

Yohan sudah merobek kartu kredit tapi kini ia menghancurkan setiap ID dan SIM card dengan batu keras dari sungai. Ada sensasi pelepasan aneh saat dia menghancurkan semua benda mati itu, simbol dari kehidupan individualistiknya.

Lalu, Yohan mengeluarkan paspornya. Masa berlakunya hanya beberapa bulan lagi, tapi tetap berfungsi. Dia berdiri di depan potret Ayahnya yang dingin. Ia ingat saat memimpikan paspornya dicap di bandara-bandara Eropa, menukar pengalaman hidup dengan uang dan pengetahuan modern. Itu adalah janji kebebasan yang paling berharga bagi Yohan muda.

“Aku harus membuangnya, Ibu. Aku tidak akan kembali,” katanya lirih.

Yohan merobek sampul paspor itu dengan paksa. Di atas abu sisa bakaran kertas, ia membakar halaman fotonya. Asap kertas yang terbakar naik, namun yang ia hirup bukanlah asapnya, melainkan perasaan damai.

Yohan memasukkan Kunci Tulang Ina, Jimat Perunggu Ayahnya, Patung Batu Pusaka, dan sisa abu dokumennya ke dalam tas khusus yang ia jahit sendiri dari kain adat tua Sumiati. Tugas fisiknya telah selesai. Yang tersisa adalah menghadapi konfrontasi manusia, dan memulai perjalanannya.

***

Ketika malam menjelang, bau sisa bakaran plastik dan ketegangan di udara memburuk. Yohan mendengar langkah kaki menginjak rumput basah di halaman rumah. Ia mengintip dari lubang jendela.

Ada dua sosok laki-laki muda, memegang parang tua. Mereka berdiri sekitar sepuluh meter dari teras, tampak gugup.

Tak lama kemudian, sebuah suara keras terdengar, lebih dingin dari suara alam mana pun. Itu adalah Marta. Dia tidak datang sendiri, tapi menyuruh orang.

“Kau sudah memeriksa, Iwan?” teriak Marta dari jalan desa, berpura-pura santai namun jelas mengarahkan orang.

Iwan, salah satu pemuda, gemetar.

“Rumah… rumah itu aneh, Bu Marta. Udara terasa terlalu sunyi.”

Marta mendengus keras.

“Tentu saja sunyi, roh itu sudah gila. Jangan mau diperalatnya! Kau tahu, Pewaris sialan itu kembali membawa keributan, mengusik Patung itu di Hutan Persembahan! Aku bilang, kalau dia coba membawa pergi Pusaka, hentikan dia!”

Yohan mencengkeram kusen jendela kayu. Dia tahu Marta sedang berusaha menakut-nakutinya, atau yang lebih parah, merencanakan penyergapan.

Yohan melangkah keluar, menghadapi Marta yang masih di jalan dan dua pemuda yang sekarang panik saat melihatnya keluar dari kegelapan.

“Mau apa kalian?” Yohan bertanya, suaranya pelan dan rendah, dipenuhi wibawa baru yang ia dapatkan dari Ina.

Iwan terperanjat, mundur beberapa langkah.

Marta, dengan kepura-puraan seorang kepala desa yang sinis, maju satu langkah, menatap Yohan dengan mata menusuk.

“Kami hanya menjaga. Malam ini tidak aman di Yalimo, Yohan. Kami dengar kamu akan pergi. Kamu pasti senang berhasil melarikan diri, bukan?”

Yohan tersenyum miris. “Melarikan diri? Marta, kalau aku mau melarikan diri, aku sudah menjual tanah ini. Aku tidak ke pedalaman mencari ‘Pelarian’, aku mencari Ikatan.”

Wajah Marta menegang, menunjukkan kerutan baru di bawah matanya. Ekspresi itu penuh bahaya. Kata 'Ikatan' terlalu spesifik untuk dia anggap enteng.

“Kamu tidak mengerti. Yalimo menuntutmu, Nak,” desis Marta, melipat tangannya.

“Masa lalumu mengejarmu. Jangan ganggu hutan! Kau akan bernasib sama seperti orang tuamu. Yalimo tak segan menghukum Pewaris yang bandel.”

Yohan memancarkan aura ketenangan spiritual, sikap yang membuat Iwan dan temannya semakin mundur.

“Ancamanmu hanyalah ketakutan manusia biasa, Marta. Sementara yang aku bawa adalah Pertukaran Jiwa. Jauh di sana, jauh sebelum Ayahku melakukannya, Patung itu mengikat dan menuntut kesetaraan,” Yohan menegaskan, menggunakan kosakata spiritual Yalimo yang ia pelajari dari Ina.

“Aku sudah tidak takut pada hukumanmu. Ayahku mati karena sebuah tujuan, dan sekarang aku menggenapinya. Dan kamu tidak akan bisa menghentikannya.”

Marta memucat. Ia tidak takut ancaman, ia takut kosakata yang diucapkan Yohan, yang menyiratkan Yohan sudah memiliki pengetahuan kuno, persis yang dimiliki oleh Dukun.

“Jangan sombong!” Marta mencoba menaikkan nadanya.

“Pulang, istirahat! Kalau kau berani ke Batu Persembahan hari ini, aku kirim orang dan polisi akan menemukan mayatmu di hutan besok! Kamu bisa dihukum karena merusak alam keramat!”

Yohan tidak bergeming.

“Patroli mu tidak akan berhasil, Marta,” Yohan memandang lurus ke arah pemuda itu, mengabaikan Marta.

“Pulang dan makan malam yang hangat. Biarkan tugas yang sudah lama tertunda diselesaikan. Itu urusanku dengan almarhum.”

Iwan menatap Marta, keengganannya terlihat jelas. Yohan, dalam sekejap mata, telah memenangkan hati pemuda yang sinis itu. Yohan sudah mengambil alih kendali atmosfer psikis Yalimo.

Marta mengepalkan tangan, amarahnya terbendung.

“Ini belum selesai, Yohan! Kamu takkan selamat malam ini!”

Marta berbalik cepat dan menghilang dalam kegelapan. Dua pemuda itu hanya terdiam, menghela napas, lalu buru-buru menyusulnya, mengakhiri perlawanan humanis mereka.

***

Tengah malam, Yalimo hening total, Ia kembali ke ruang tengah,

Yohan mengeluarkan jurnal itu dan mengelap debu dari halaman terakhir yang ia baca, halaman yang merincikan lokasi Balik Air Terjun Terlarang. Matanya mencari detail terakhir dari tulisan tangan Ayahnya yang gelisah.

Di sana, di halaman Ayahnya yang paling obsesif tentang ikatan darah, tiba-tiba Yohan melihat bahwa di sudut kanan atas halaman itu, terdapat lipatan kecil di kertas, nyaris tidak terlihat. Yosef pasti sengaja melipatnya. Kertas itu tampak lebih tipis, ditempel pada kertas jurnal tebal lainnya.

Yohan menusuknya perlahan dengan Jimat Tulang Ina. Kertas lipat itu robek sedikit. Yohan membuka lipatan tersembunyi itu. Itu adalah selembar kertas kalkir kecil, penuh sketsa ritual dan gambar. Yohan menggigil. Bukan lukisan ikatan itu yang membuatnya terkejut. Itu adalah enam sosok manusia yang dilukis di sekeliling Batu Persembahan, sedang berdiri mengelilingi Yosef, seolah mengepungnya. Dan yang paling mengejutkan adalah dua wajah di sketsa itu.

Satu wajah digambar Yosef dengan panik dan kejam, lengkap dengan gigi mencibir: Marta.

Di sampingnya, lima wajah sesepuh desa lainnya—sesepuh yang mencoba mengusirnya dan yang selalu berpihak pada Marta.

Janji Darah Yosef, lalu merencanakan serangan. Sketsa tersebut mengimplikasikan bahwa Marta dan sesepuh itulah yang membunuh Yosef setelah Yosef menuntaskan Janji Darah, untuk mempertahankan kontrol atas Janji Darah yang kini melindungi tanah tambang mereka.

Tiba-tiba, tugas Pertukaran Jiwa berubah lagi. Bukan hanya penebusan keluarga. Ini adalah keadilan untuk pembunuhan ganda.

Yohan meninggalkan rumah warisan yang penuh kenangan dan rahasia yang ia bawa dalam punggungnya.

Dia berjalan menjauhi Yalimo, menuju Batu Persembahan kuno. Yohan sudah siap untuk Pertukaran Jiwa Total, tapi kini dia punya agenda baru: membongkar konspirasi busuk Marta dan sesepuh desa, menggunakan Pertukaran Jiwa itu untuk mengadili pembunuh Ayahnya.

Ia menyentuh Pusaka yang terasa dingin di punggungnya, yang membalas sentuhannya dengan sebuah kekuatan yang menenangkan. Rasa percaya diri, bukan lagi dari kota atau logika, tapi dari tanah. Yohan siap berperang di dua dunia, spiritual dan moral, sekaligus.

“Aku tahu, Marta. Aku tahu kalian yang membunuh Ayah. Dan kalian takkan menghentikanku. Pertukaran ini akan membebaskan semua,” gumam Yohan. Dia mulai mendaki bukit dalam kegelapan total, Kunci Tulang Ina sebagai pemandu satu-satunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!