Chen Li, pemuda desa yang tampak biasa-biasa saja, sebenarnya bukan anak miskin pada umumnya. Terpelajar dan cerdas, ia mengelola pabrik teh besar untuk Tuan Sun, sambil memahami kehidupan keras orang miskin. Ayahnya, seorang pemimpin pemberontakan, menghilang tanpa jejak, meninggalkan Chen Li dengan pelajaran hidup tentang keadilan, kemiskinan, dan batas-batas yang harus ia terima. Di sisi lain, ada Yun Xiao, gadis pemberani yang menentang ketidakadilan. Ia membenci mereka yang memanfaatkan kekuasaan untuk menindas orang lemah, dan tindakannya yang berani membuat para pejabat kekaisaran terus memperhatikannya. Suatu hari, puisi yang ditulis Yun Xiao diterbangkan angin hingga menarik perhatian putri bungsu kekaisaran. Putri itu langsung datang untuk menahannya, tapi Chen Li menghadangnya dengan berdebat hingga akhirnya Membuatnya di bawah ke istana, memaksanya memahami kekuasaan dan permainan politik yang rumit, penuh tipu muslihat bak catur hidup dan mati untuk hidup, tentang ayahny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Made Budiarsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tuan putri telah tiba
Malam itu angin berdesir lembut dan gadis kecil dengan tubuhnya yang diselimuti gaun merah muda menatap tenang ke arah bukit. Orang-orang yang tidur malam itu merasa terganggu dengan getaran bukit dan munculnya cekungan seperti seorang raksasa memukul bukit itu. Beberapa karena kelelahan tidak mau bangun dan tidur, tapi bagi orang-orang yang belum nyenyak merasa terganggu dan kebingungan muncul bagi yang berjaga namun tidak menemukan apa pun yang terjadi di langit dan cekungan itu muncul begitu saja. Akan tetapi, beberapa orang merasakan hembusan angin kencang dalam sekejap lewat.
Seorang pria yang memancing di tengah hutan melihat eceng gondok yang menyebar, terbelah menjadi dua kemuadian daun-daun pohon berjatuhan seperti sedang musim gugur. Namun jika di perhatikan lebih detail, daun-daunnya tercabik-cabik.
Beruntung kejadian itu tengah malam jadi semuanya sedikit di kaburkan.
Para pendu desa sejak dulu tahu adanya peri abadi dan juga bencana alam. Namun seiring waktu berjalan, keduanya sulit dibedakan.
Sementara itu di tempat gadis itu suara langkah kaki terdengar. Gadis kecil itu menoleh dan mendapati seorang gadis berusia sekitar 17 tahun muncul dari gerbang seorang diri dengan tubuh tegap dan matanya seperti langit biru di pagi hari. Dia adalah pelayan tuan putri. Caranya berjalan sangat tenang dan elegan bahkan angin merasa sedikit malu melihatnya.
Dia berkata, “Sayang sekali mengganggu ketenangan malam ini.”
Berbicara enteng benar-benar sulit dilakukan, terutama jika berhadapan dengannya. Mengapa gadis ini sangat mendominasinya? Gadis itu penasaran dan tidak lama dia melihat samar-samar aura putih seperti embun di pagi hari muncul dari tubuh gadis itu, menyebabkan tekanan berat dan perlahan-lahan tumbuhan-tumbuhan layu..
Gadis kecil tahu siapa yang ada di depannya saat ini dan dia bukan orang sembarangan. Dia lalu menatap ke jauhan, tepat ke atas rumah penduduk yang di mana dua orang mulai bertarung. Mereka adalah tuan kusir dan pembunuh. Kemudian menatap pelayan tuan putri dan berkata tenang, “Meskipun maharani tidak mengirim seorang penjaga, kalian berdua ternyata sudah cukup menjaga tuan putri. Benar-benar diluar perkiraanku.”
“Aku hanya pelayannya. Jika kamu mau melakukan kekacauan, maka aku tidak bisa membiarkannya.”
Gadis itu sedikit tersenyum dan ingin berbicara tapi tiba-tiba suara tawa muncul di langit. Itu juga membuat ekspresinya terajut seperti kain murah yang kusut ketika digenggam.
“Hahaha! Kenapa kamu sangat lemah sekali! Ayo terima ini!”
Bommm!!
Itu suara tuan kusir. Dia mengayunkan pukulannya berkali-kali dan di tangkis dengan cepat. Namun setiap serangannya sangat mematikan hingga membuat pembunuh itu terdorong dan pada akhirnya pukulan terakhir membuatnya terpental dan melesat ke langit lalu akhirnya gadis kecil itu melambaikan tangannya dan muncul dinding transparan mencegah pembunuh itu melesat semakin jauh. Tubuhnya seperti remuk dan hancur dari dalam. Perlahan-lahan dia turun dan sudah tidak sadarkan diri. Beberapa luka memenuhi tubuhnya
Gadis kecil itu menatapnya sebentar. Ini baru permulaan, tapi mereka sudah dikalahkan.
“Kalian pasti bukan orang biasa,” kata gadis itu. Dia lalu sedikit membungkuk dan berjalan pergi.
Pelayan tuan putri berkata kepada Tuan kusir, “Seharusnya kamu tidak terlalu cepat.”
“Aku berharap dia sangat kuat, tapi ternyata aku salah.”
Menggeleng, pelayan itu kembali dan kusir itu segera melompat diatas atap dan mulai menikmati araknya.
Malam semakin larut dan tuan putri tertidur di mejanya. Pelayannya segera menyelimutinya.
*****
Pagi-pagi sekali tuan putri bangun dan bergegas berangkat. Dia mendengar tentang cekungan bukit di dekat desa dan memperhatikannya. Tanpa bertanya, dia pergi.
Di pemberhentian selanjutnya, tuan putri tiba di desa dengan sungainya. Dia membaca puisi di dekatnya dengan pelayan dan kusirnya. Lalu mereka melanjut perjalanannya.
Sekitar tiga hari tuan putri melakukan perjalanan dan semuanya berjalan lancar, kecuali malam pertama yang sedikit mengganggunya.
Sekarang ketika pagi-pagi sekali setelah setengah matahari terbuka, akhirnya dia tiba di tujuannya. Senyumanya muncul dan berkata, “Aku akan menangkap punjaga jahat itu. Dan aku akan melihat bagaimana reaksinya.”
Dengan itu dia melangkah memasuki desa, melihat orang-orang yang memandangnya dengan tertegun. Aroma wangi terpancar dan membuat semua orang terhipnotis.
Tuan putri melihat rumah kayu tua, pohon-pohon. Lalu berkata berhenti.
Kereta pun berhenti. Yang mulia perlahan-lahan turun dan memandang lingkungan sekitar. Tuan kusir tidak ikut dan merebahkan tubuhnya sembari bersandar. Topi capil menutupi wajahnya. Sementara pelayannya ikut turun dan berdiri di sampingnya. Semua orang memandangnya dan menghentik aktifitas warga sekitar; seorang pria yang menarik gerobak berhenti, anak-anak yang belarian di tarik ibunya, dan orang-orang yang berjalan langsung berhenti.
Tuan putri tidak mempedulikan mereka dan memandang sebentar. Dia menarik nafas dalam-dalam. Udara gunung sangat sehat dan mengandung energi Qi yang kental. Selain itu pemandangan desa ini yang bersih dan maju mmebuatnya betah memandang lama-lama.
Tidak lama tuan putri berkata, “Kediaman keluarga Yun.”
Dia lalu sedikit mendongak dan melihat kediaman yang mewah dari kejauhan.