NovelToon NovelToon
Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Dewa Kematian Dan Hantu Pedang : Menantang Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Fantasi / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:292.1k
Nilai: 5
Nama Author: Boqin Changing

Takdir memang gemar memainkan jalannya sendiri, mempertemukan hal-hal yang tampak mustahil dalam satu waktu yang sama. Di masa ini, takdir mempertemukan dua arus waktu yang saling berlawanan. Seseorang dari masa depan yang kembali ke masa lalunya, dan seseorang yang bangkit dari masa lalunya untuk menapaki kembali jalan yang pernah ia lalui.

Apa yang akan terjadi pada takdir keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Boqin Changing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tangan yang Tidak Akan Terganti

Ruangan kembali hening.

“Jika bukan karena bantuanmu,” lanjut Boqin Changing, “aku tidak akan mampu menstabilkan Batu Pelangi Surga itu..”

Ia menunduk sedikit, sesuatu yang jarang sekali ia lakukan di hadapan orang lain.

“Tanpa apimu yang menopang dari luar… aku tidak akan menembus Ranah Pendekar Langit.”

Sha Nuo menatapnya tanpa berkedip. Boqin Changing mengangkat wajahnya kembali, sorot matanya jernih namun dalam.

“Utang ini tidak kecil.”

Beberapa detik Sha Nuo tidak berkata apa-apa. Wajahnya yang pucat justru perlahan membentuk ekspresi aneh, campuran tidak nyaman dan geli.

“Utang?” gumamnya pelan.

Ia menghela napas, lalu memalingkan pandangannya ke langit-langit kayu.

“Kau benar-benar tidak mengerti, ya…”

Boqin Changing mengernyit tipis.

Sha Nuo tertawa kecil, meski suaranya masih serak.

“Dengarkan baik-baik. Jangan pernah menyebutnya utang lagi.”

Ia memaksa menggerakkan lehernya sedikit agar bisa menatap Boqin lebih jelas.

“Aku tidak melakukannya untuk membuatmu berutang padaku.”

Hening.

“Aku melakukannya karena aku ingin melakukannya.”

Boqin Changing tidak menyela.

Sha Nuo melanjutkan, pelan namun tegas.

“Sejak pertama kali kau tidak membunuhku… sejak kau memberiku teknik kultivasi yang bahkan tidak pernah kudengar dalam hidupku… sejak kau menarikku keluar dari bayangan masa laluku…” Ia berhenti sejenak, napasnya sedikit tersendat. “Aku sudah tahu hidupku tidak lagi sama.”

Tatapannya menjadi lebih dalam.

“Aku pernah hidup hanya untuk bertahan. Untuk membunuh sebelum dibunuh. Untuk mencari kekuatan agar tidak diinjak-injak.” Sudut bibirnya terangkat tipis. “Sekarang? Aku punya tujuan yang lebih menyenangkan.”

Boqin Changing diam, memperhatikan.

“Aku ingin melihat sejauh mana kau bisa melangkah.”

Kata-kata itu keluar tanpa ragu.

“Kau berbeda..”

Ia tersenyum samar.

“Menopangmu saat itu bukan pengorbanan. Lagipula utang budiku sangat banyak padamu...”

Boqin Changing mengangkat alis tipis.

Sha Nuo terkekeh kecil.

“Jika kau benar-benar mencapai puncak dunia persilatan suatu hari nanti… bukankah aku bisa dengan bangga berkata bahwa aku adalah orang yang menemanimu untuk mencapai itu.”

Nada bercandanya ringan, namun sorot matanya tidak.

“Dan lagi,” lanjutnya pelan, “jika kau mati saat itu… siapa lagi yang akan membawaku melihat dunia yang lebih luas?”

Kata-kata itu membuat udara di ruangan terasa lebih berat. Boqin Changing tidak langsung menjawab. Untuk sesaat, ia hanya berdiri diam, memproses setiap kalimat.

Sha Nuo menutup matanya sebentar, lalu membukanya lagi.

“Jadi jangan ucapkan terima kasih dengan wajah seperti orang yang memikul beban. Itu membuatku terlihat menyedihkan.”

Boqin Changing akhirnya menghela napas pelan.

“Kau memang menyedihkan.”

“Kurang ajar…” gumam Sha Nuo, tapi ada senyum di sana.

Boqin Changing melanjutkan, kali ini suaranya lebih ringan.

“Baiklah. Jika kau tidak menginginkan ucapan terima kasih… maka aku akan mengubahnya.”

Boqin Changing kembali melanjutkan.

“Aku akan memastikan pengorbananmu tidak sia-sia.”

Nada itu bukan janji kosong. Itu pernyataan fakta.

“Aku akan melampaui Ranah Pendekar Langit. Aku akan berdiri di tempat yang bahkan tidak bisa dibayangkan oleh para pendekar saat ini.” Tatapannya mengeras. “Dan saat hari itu tiba, kau akan berdiri di sisiku. Bukan sebagai orang yang berutang… tapi sebagai seseorang yang memilih jalannya sendiri.”

Sha Nuo terdiam lama. Lalu ia tersenyum. Senyum yang jauh lebih tulus dibanding tawa-tawanya sebelumnya.

“Itu baru jawaban yang pantas.”

Ia menatap Boqin Changing dengan sorot mata yang lebih lembut.

“Dan dengarkan aku baik-baik juga, Tuan Muda Boqin Changing.”

Untuk pertama kalinya sejak sadar, ia menyebut nama lengkap Boqin Changing dengan jelas.

“Jangan pernah ragu meminta bantuanku lagi.”

Boqin Changing terdiam.

Sha Nuo melanjutkan pelan, namun setiap katanya jelas.

“Aku tidak ingin menjadi bayangan yang hanya berdiri di belakangmu karena rasa terima kasih. Aku ingin berdiri di belakangmu karena aku cukup kuat untuk memilih berada di sana.”

Hening kembali turun.

“Jika suatu hari kau jatuh,” tambahnya, “aku akan menopangmu lagi. Bukan karena utang. Bukan karena budi. Tapi karena aku sudah memutuskan bahwa jalanku… sekarang searah denganmu.”

Kata-kata itu menggantung lama di udara.

Boqin Changing memandangnya beberapa detik, lalu mengangguk pelan.

“Kalau begitu,” katanya tenang, “cepatlah  sembuh.”

Sha Nuo mendengus.                        

“Bawakan aku makanan yang layak dulu. Tubuhku rasanya seperti kayu lapuk.”

“Aku akan lihat apa yang ada.”

“Dan jangan cuma bubur hambar. Kalau kau benar-benar berterima kasih, tambahkan daging.”

Boqin Changing berbalik menuju pintu.

Sebelum melangkah keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.

“Paman.”

“Hmm?”

“Terima kasih lagi… bukan karena kau membantuku menembus ranah.”

Sha Nuo mengerutkan kening tipis.

“Tapi karena kau memilih untuk tetap hidup.”

Beberapa detik tidak ada jawaban. Lalu terdengar tawa pelan dari atas ranjang.

“Bodoh… tentu saja aku akan hidup. Aku belum melihatmu mempermalukan seluruh dunia persilatan.”

Sudut bibir Boqin Changing terangkat tipis. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah keluar dan menutup pintu dengan lembut.

Di dalam kamar, Sha Nuo menatap langit-langit kayu sekali lagi. Tubuhnya masih lemah. Rasa sakit masih tersisa di setiap serat ototnya. Namun untuk pertama kalinya sejak hari ledakan itu… ia merasa ringan.

“Ranah Pendekar Langit, ya…” gumamnya pelan.

Ia tersenyum tipis.

Di luar, langkah kaki Boqin Changing menjauh menyusuri koridor kayu, menuju dapur kecil di ujung bangunan.

Matahari pagi semakin tinggi. Untuk pertama kalinya sejak pertarungan melawan energi Batu Pelangi Surga… masa depan tidak lagi terasa seperti beban.

Ia terasa seperti jalan panjang yang menunggu untuk ditaklukkan, bersama.

...*********...

Tak lama kemudian, langkah kaki Boqin Changing terdengar kembali di koridor kayu.

Krek.

Pintu kamar terbuka perlahan. Aroma hangat segera memenuhi ruangan. Aroma bubur nasi yang dimasak dengan kaldu tulang, potongan daging cincang halus, serta sedikit irisan daun obat yang menenangkan meridian. Uap tipis mengepul dari mangkuk besar yang dibawanya di satu tangan, sementara tangan lainnya membawa mangkuk kecil dan sendok kayu.

Sha Nuo melirik ke arah pintu.

“Lama sekali,” gumamnya lemah, meski sudut bibirnya terangkat tipis.

Boqin Changing berjalan mendekat dan meletakkan mangkuk besar di meja kecil di samping ranjang. Ia mengaduknya perlahan agar uap panas tidak terlalu menyengat, lalu menuangkan sebagian ke mangkuk kecil.

“Aku harus memastikan bumbunya tidak terlalu kuat,” jawabnya tenang. “Tubuhmu masih rapuh.”

Sha Nuo mendengus pelan.

“Sejak kapan kau begitu cerewet?”

Boqin Changing tidak menanggapi. Ia duduk di sisi ranjang, satu tangan menopang punggung Sha Nuo seperti sebelumnya, lalu mengangkat mangkuk kecil itu.

“Ayo,” katanya singkat.

Sha Nuo mengerutkan kening.

“Apa maksudmu ayo?”

Boqin Changing mengangkat sendok kayu berisi bubur hangat ke depan bibirnya.

Ruangan mendadak hening. Beberapa detik berlalu. Sha Nuo menatap sendok itu… lalu menatap wajah Boqin Changing… lalu kembali ke sendok.

“Jangan bilang kau akan menyuapiku.”

“Aku akan menyuapimu,” jawab Boqin Changing datar.

“Tidak perlu.” Nada Sha Nuo langsung berubah tegas. “Aku sudah bukan anak kecil.”

“Aku tahu.”

“Lalu kenapa kau memperlakukanku seperti bocah  yang baru belajar makan?”

Boqin Changing tetap memegang sendok itu di udara, tanpa gemetar sedikit pun.

“Karena kau tidak bisa menggerakkan tanganmu.”

Kalimat itu jatuh begitu saja. Tenang. Tanpa nada mengejek.

Sha Nuo terdiam. Ia mencoba sekali lagi, mencoba menggerakkan jari tangannya. Mengirimkan sedikit qi ke pergelangan. Tidak ada respons. Tidak ada sensasi. Kosong. Seolah kedua tangannya hanyalah potongan kayu yang terpasang di bahunya.

Ekspresinya sedikit mengeras, meski ia berusaha menyembunyikannya.

“…Aku hanya belum mencoba dengan serius,” gumamnya.

Boqin Changing menatapnya lurus.

“Kedua tanganmu saat ini lumpuh sementara. Meridian di lenganmu mengalami retakan parah akibat aliran api biru yang kau paksa keluar.”

Sha Nuo menghela napas panjang. Ia tahu itu. Ia merasakannya sejak pertama kali sadar. Tapi mendengarnya diucapkan dengan jelas tetap terasa berbeda.

Beberapa detik kemudian, ia memalingkan wajahnya sedikit.

“Baiklah,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah. “Tapi tetap saja… rasanya aneh disuapi seperti ini.”

Boqin Changing tidak menjawab. Ia hanya mendekatkan sendok itu sedikit lagi.

Uap hangat menyentuh wajah Sha Nuo.

Hening. Lalu, dengan ekspresi setengah pasrah setengah kesal, Sha Nuo membuka mulutnya sedikit. Sendok itu masuk perlahan.

Bubur hangat menyentuh lidahnya. Rasanya lembut. Gurih ringan. Tidak terlalu kuat, tapi cukup untuk membuat perutnya yang kosong bereaksi.

Ia menelan dengan pelan. Beberapa detik kemudian, Boqin Changing menyuapkan lagi. Begitu terus. Pelan. Stabil. Tanpa tergesa-gesa.

Setelah beberapa suapan, Sha Nuo mendengus pelan.

“Kalau saja orang-orang di luar tahu aku disuapi seperti ini… reputasiku akan hancur.”

“Tidak ada yang akan tahu,” jawab Boqin Changing singkat.

“Kau bisa saja membocorkannya.”

“Aku tidak tertarik.”

Sha Nuo terkekeh kecil.

Beberapa suapan lagi berlalu. Wajahnya yang pucat perlahan mulai memiliki sedikit warna. Lalu tiba-tiba, dengan nada bercanda yang khas, ia berkata,

“Kalau tanganku benar-benar tidak bisa dipakai lagi… bagaimana menurutmu?”

Boqin Changing berhenti sesaat.

“Maksudmu?”

Sha Nuo menatap langit-langit kayu, lalu tersenyum miring.

“Bagaimana kalau kau mencari seseorang… dan mengambil tangannya untukku?”

Ia melirik ke arah Boqin Changing.

“Aku tahu kau bisa melakukan itu.”

Nada suaranya ringan. Bahkan ada tawa kecil menyertainya.

Ia jelas tahu kemampuan Boqin Changing. Teknik pemindahan anggota tubuh bukan sesuatu yang mustahil baginya.

“Pasti ada pendekar jahat di luar sana yang tidak terlalu membutuhkan dua tangan,” lanjut Sha Nuo santai. “Kita bisa meminjamnya.”

Ia tertawa kecil setelah mengucapkannya.

Namun, Boqin Changing justru menggelengkan kepala.

“Tidak bisa.”

Jawaban itu datang cepat. Tegas. Tanpa ragu.

Tawa Sha Nuo berhenti. Ia menoleh perlahan.

“Tidak… bisa?”

Nada bercandanya langsung menghilang. Untuk pertama kalinya sejak bangun, ada sedikit ketegangan di matanya.

“Kau bercanda, kan?” tanyanya.

Boqin Changing tetap tenang.

“Aku tidak bisa menggantinya.”

Ekspresi Sha Nuo berubah.

“Kenapa tidak bisa?” suaranya sedikit naik. “Kau pernah.....”

Ia berhenti sendiri. Ia memang tahu Boqin Changing pernah melakukan teknik serupa. Namun kini… orang itu berkata tidak bisa.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Jangan-jangan… Jangan-jangan kedua tangannya benar-benar hancur? Jangan-jangan bahkan Boqin Changing tidak yakin bisa menyambungnya dengan tangan orang lain.

“Tuan Muda…” suaranya kini lebih rendah, ada ketegangan yang tidak bisa disembunyikan.

Boqin Changing memandangnya beberapa detik. Lalu...

“…Karena aku tidak berniat menggantinya.”

Sha Nuo terdiam. Hening terjadi. Boqin Changing melanjutkan dengan tenang,

“Tanganmu memang terluka parah. Meridian utamanya retak. Sarafmu nyaris terbakar habis.”

Ia menatap kedua tangan yang terbalut kain itu.

“Tapi itu bukan tangan biasa.”

Sha Nuo terdiam.

“Tubuhmu telah beradaptasi dengan teknik kau latih bertahun-tahun. Struktur tulang dan meridian di lenganmu jauh lebih padat dibanding pendekar biasa. Jika kuganti dengan tangan orang lain… kualitasnya akan turun.”

Ia menatap Sha Nuo lurus.

“Kau mungkin bisa bergerak lagi. Tapi kekuatanmu tidak akan pernah kembali seperti sebelumnya.”

Kata-kata itu jelas. Tidak ada dramatisasi.

Boqin Changing melanjutkan,

“Lebih baik memperbaikinya.”

“Walaupun lebih lama?” tanya Sha Nuo pelan.

“Walaupun lebih lama.”

Nada itu tidak goyah.

“Prosesnya akan menyakitkan. Aku harus menyusun ulang meridian di lenganmu satu per satu. Mungkin butuh waktu lama. Tapi hasilnya… akan utuh.”

Ia mengangkat sendok lagi, menyuapkan bubur berikutnya.

“Kau tidak akan kehilangan apa pun.”

Sha Nuo menatapnya lama. Ketegangan di matanya perlahan mencair. Lalu… ia tertawa kecil. Kali ini bukan tawa bercanda. Bukan juga tawa menutupi kegelisahan.

“Dasar…” gumamnya pelan. “Kau sengaja membuatku panik tadi.”

“Aku hanya menjawab sesuai urutan pertanyaanmu.”

“Kurang ajar.”

Namun sudut bibirnya terangkat. Ia memejamkan mata sejenak, lalu membukanya lagi.

“Baiklah. Kalau begitu… aku serahkan padamu.”

Nada itu tidak main-main.

“Kalau memang butuh waktu lama, biarlah. Aku sudah menunggu cukup lama untuk banyak hal. Menunggu sedikit lagi bukan masalah.”

Boqin Changing mengangguk tipis.

“Selama proses itu,” lanjutnya, “kau tidak boleh memaksakan qi ke lenganmu. Fokus pada pernapasan dasar saja.”

Sha Nuo mendesah.

“Jadi aku benar-benar jadi pasien tak berguna untuk sementara waktu.”

“Benar.”

“Tsk.”

Namun ia membuka mulut lagi saat sendok berikutnya mendekat. Beberapa saat kemudian, mangkuk kecil itu hampir kosong.

Ruangan kembali sunyi, hanya terdengar suara napas mereka. Sha Nuo menatap kedua tangannya yang terbalut kain.

“Kalau kau gagal memperbaikinya…” katanya tiba-tiba.

“Aku tidak akan gagal,” potong Boqin Changing tenang.

Sha Nuo menatapnya. Tatapan mereka bertemu. Tidak ada kesombongan di wajah Boqin Changing. Tidak ada emosi berlebihan. Hanya keyakinan mutlak.

Beberapa detik kemudian, Sha Nuo tersenyum lebar.

“Kalau begitu… aku akan menunggu.”

Ia bersandar lebih nyaman pada sandaran ranjang.

“Lagipula, kalau tanganku kembali utuh… aku masih harus melihatmu melampaui Ranah Pendekar Langit.”

Boqin Changing meletakkan mangkuk kosong di meja kecil.

“Dan kau harus cukup kuat untuk berdiri di sampingku saat itu.”

Sha Nuo terkekeh.

“Kalau perlu, aku akan berdiri di belakangmu sambil menghajar semua orang yang meremehkanmu.”

“Kau terlalu banyak bicara untuk seseorang yang baru saja lumpuh.”

“Karena mulutku masih berfungsi.”

Untuk pertama kalinya sejak ia membawa makanan masuk, Boqin Changing benar-benar tersenyum kecil.

Di luar jendela, cahaya matahari semakin terang. Di dalam kamar itu, tidak ada lagi bayangan kematian. Yang ada hanya dua orang sama-sama yakin bahwa ini hanyalah awal dari perjalanan yang jauh lebih besar.

1
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
Frannco
amazing story
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
Minal aidin walfaizin thor
BOIEL-POINT .........
very niCe Thor ......,...
Arull My one
bagus Thor,...KLW TDK ad lanjutnya malah malas baca,ditambah cerita yg terhenti,...semangat dan cepat sembuh,...
Lekat Wahyudi
top
y@y@
💥👍🏼⭐👍🏼💥
Nunu Hana Rumaini
kereeenn...
angin kelana
wah paman nuo jdi pendongeng...
Dina Maulida
selamat hari raya Thor,btw dlu ibuku jg pernah stroke,rebus air kasih sejumput garam,dan serai, truss basuh ke area yg stroke sambil dibetulin dlm kondisi hangat agar peredaran darahnya lancar,dan saraff nya membaik
Ipung Umam
lanjutkan
☠️⃝🖌️M⃤eko
pasti paman Nuo menceritakan petualangan seru🤣🤣
Zainal Arifin
joooooooosssss 🤣🤣🤣
Keong Racun
halo thor, saya ingin menanya soal kekuatan, nah saya pertanyaan saya itu saya pernah baca kalo kaisar Xin Da itu adalah musuh terkuat atau rival terkuat boqin di masa puncak jayanya, saya lupa itu novel yg sblm nya atau chapter brpa, intinya saya pernah baca itu thor, nah di chapter ini saya bingung kuatan kaisar Xin da atau zhi sen, waktu di masa puncak nya thor? soalnya author sendiri blg waktu latih tanding zhi sen hanya bertahan saja, dan boqin sendiri tidak tau batas kemampuan zhi sen,mhn dijawab thor kuatan Xin da atau zhi sen dalam waktu jaya jayanya thor🙏
Perdi Nopriansyah: Mau meluruskan kan ya bg, dinovel pertama itu disebutkan bahwa kaisar xin da adalah teman sekaligus pengikut yang paling kuat di alam ini, untuk pengikut-pengikutnya yang lain tidak dihitung karena dipanggil oleh bola pemanggilan dari alam yang berbeda. Pengikut-pengikut lainnya banyak kok yang lebih kuat daripada boqin sendiri

Untuk chapter ini kan dialam berbeda jadi musuh-musuh nya juga bakalan berbeda, karna babang boqin belum pernah datang ke alam ini jadi bakalan banyak misteri, nantikan aja kelanjutan novelnya
total 2 replies
@ᴛᴇᴘᴀsᴀʟɪʀᴀ ✿◉●•◦
Ramalan bintang🔥🌽
Andi Heryadi
Sha Nuo....gak ada elo gak rame🤣🤣🤣
Mamat Stone
/Good/
Mamat Stone
/Ok/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!