DI LARANG MENJIPLAK CERITA INI!!!
"Jangan pernah berpikir buat bisa keluar dari dunia gue! Kalau sampai lo nekat kabur, berantakan hidup lo.
Ngerti?"
"Who are you? Siapa lo berani ngancam gue?"
"Kalau lo nggak amnesia, gue suami lo sekarang. Gue cuma mau lo nurut. Gampang, kan?"
_____________________________________
Fattah Andara Fernandez-badboy utama SMA Taruna Jaya Prawira yang memegang bidak king. Di kenal kasar dengan karisma menindas.
Fattah memiliki segalanya. Membuat dia dengan mudah mengikat sesuatu dan menghancurkan apapun yang dia mau.
Kecuali satu...
Aqqela Calista.
Karena pembalasan dendam atas kematian Sandrina -kekasihnya, ayah Aqqela tewas. Tidak puas, Fattah justru menarik Aqqela dan menjeratnya dalam ikatan pernikahan yang sama sekali tidak dia inginkan.
Membawa Aqqela ke Jakarta Selatan dan meninggalkan segalanya di Jakarta Pusat termasuk Oliver Glenn Roberts-pacarnya sekaligus musuh Fattah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kapten cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Kado Misterius
Suara elektrokardiografi masih setia mengisi keheningan ruangan itu. Terlihat, seorang pemuda tampan sedang tertidur di atas brankardengan banyak alat medis yang menempel di tubuhnya.
Sudah tiga hari dan masih belum ada tanda-tanda jika Oliver akan sadar.
Setiap hari, Aqqela selalu datang di temani Fattah saat pulang sekolah hingga malam.
Menjaga Oliver karena Ravi harus mengurus
pekerjaannya di kantor, sehingga tidak bisa lama menunggunya.
Saat ini, Fattah keluar membelikan makan, sementara Aqqela sedang berada di dalam membersihkan tubuh Oliver dengan handuk basah.
"Heh, bangun nggak!?" ancam Aqqela menusuk-nusuk pelan pipi Oliver dengan jari telunjuknya.
"Aku hitung sampai tiga, harus bangun. Oke?" Aqqela menarik napas dalam-dalam, "Satu, dua, ti ... ga?" Tetap tidak ada jawaban.
Mata pemuda itu masih terpejam rapat, membuat Aqqela menghela napas panjang.
"Nggak lucu tau Oliv, kalau kamu tidur terus gini. Kamu nggak capek apa?" Aqqela meraih handuk basah, lanjut membersihkan tangan Oliver dengan telaten.
Aqqela menggigit bibirnya samar, "Kamu marah banget sama aku dan Fattah, sampai nggak mau bangun gini?"
Sorot mata Aqqela berubah menyendu, menatap Oliver yang entah kapan mau bangun.
Mungkin dia masih terjebak di alam bawah sadarnya.
Sedang berdebat, ingin kembali atau justru pergi.
"Aku minta maaf!" Serak, Aqqela bersuara, "Maaf udah ngecewain kamu terlalu banyak!" Hening, tidak ada suara.
Ceklek!
Sampai pintu kamar terbuka membuat Aqqela menoleh.
"Ayo makan!" Sosok Fattah muncul membawakan kresek makanan yang berisi junk food dan duduk di sofa.
"Iya, bentar!" kata Aqqela berdiri sambil menarik poni rambut Oliver ke atas dan mengacak-acaknya pelan, "Cepet sembuh, ya!
Kamu harus cepet bangun juga! Mungkin, hari ini aku belum berhasil bikin kamu bangun. Tapi aku bakalan coba lagi lain kali."
Aqqela segera beranjak mendekati Fattah dan bergabung bersamanya untuk makan.
"Kok junk food terus, sih? Padahal ramen di depan rumah sakit lebih enak," protes Aqqela melihat banyak makanan yang di bawa Fattah.
"Bawel. Gue nggak terlalu suka ramen," balasnya sambil menggigit paha ayam goreng.
"Junk food tuh nggak sehat."
"Makan aja apa yang di kasih suami. Jangan jadi istri durhaka kayak di sinetron Indosiar deh lo," omelnya membuat Aqqela mencibir sinis.
"Lama-lama gue gendut. Padahal gue lagi misi buat diet tau," kata Aqqela.
"Diet apa?" Fattah mengangkat alis bingung.
"Diet badan biar kurus, hadehhhhh. Capek emang kalau ngomong sama orang yang IQ-nya rendah," katanya melengos lelah, membuat Fattah mengumpat.
"Bilang apa lo?" katanya sambil maju, mengapit leher Aqqela dengan lengan kanannya, membuat gadis itu hampir tersedak dan batuk-batuk.
"Woi Ka, lepas!" Aqqela menggeplak tangannya dan menjauhkan diri.
Fattah menatapnya sinis, "Lo serius mau diet?"
"Hooh. Tapi gara-gara elo gue gagal diet," katanya sambil membuka mulutnya lebar-lebar, menggigit ujung burger-lalu mengunyahnya, membuat pipi bulatnya makin penuh seakan mau tumpah.
Fattah ternganga lebar, "Ya udah, bawa sini!" katanya merebut burger Aqqela dan memakannya.
"Enak aja, punya gua!"
Aqqela melotot galak, sementara Fattah menahan jidatnya dengan satu telapak tangannya yang terbuka.
"Fattah, nggak lucu ya lo! Gue belum makan seharian anjir," katanya sudah dendam tidak karuan.
"Makanya, nggak usah sok diet! Badan lo aja udah se-kecil itu," cibir Fattah memasukkan burger di tangannya ke mulut Aqqela yang mendelik.
"Badan gue iya. Tapi pipi gue nih."
Fattah menoleh sepenuhnya ke Aqqela, menatap pipi bulat chubby cewek itu dengan lekat.
"Kenapa lihat-lihat? Naksir?" tanya Aqqela percaya diri.
"Pede."
Aqqela mengangkat alis, tidak peduli banyak, "So?"
"Gue lagi bayangin aja kalau pipi lo tirus. Pasti jelek banget kayak nenek-nenek," ledeknya.
Aqqela gemas sekali ingin mencakar muka cowok satu ini.
"Heran gue, baru kali ini ada cowok ngatain istrinya sendiri jelek. Ya udah sana cari istri baru!" sindir Aqqela tajam sambil menggigit burger dengan kesal.
Fattah terkekeh geli, "Uhh tayang-tayang! Ngambek, eh?"
Cowok itu merangkum pipi Aqqela yang wajahnya masih merenggut dan menarik-narik gemas kedua pipinya.
"Nggak usah sentuh gue!" Elaknya dengan galak.
Tawa Fattah semakin pecah di sana. Entah kenapa menikmati wajah Aqqela yang lagi merajuk sampai bibirnya manyun.
"Kenapa manyun gitu? Minta gue cium lagi?" tanya Fattah santai.
"Lo mau botak depan apa samping?" tanya Aqqela dengan kerlingan tajam.
Fattah mengangkat alis sok berpikir, "Maunya di cium Aza."
Walau selanjutnya Fattah memekik kaget saat Aqqela menerjang maju dan mencekik lehernya membuat Fattah malah tertawa keras sambil membendung amukan cewek itu.
Tanpa keduanya sadari, ada sebuah pergerakan kecil di jari-jemari pemuda yang terbaring lemah di brankar.
***
Pagi itu, ninja hitam Fattah memasuki gerbang sekolah tepat saat pukul 7 kurang 5 menit.
Seperti ada lampu tersorot, kehadirannya di sambut histeris oleh para gadis-gadis yang berada di halaman sekolah.
Beberapa merengek dan meleleh envy melihat Aqqela duduk di boncengan cowok itu, lalu berhenti di parkiran.
"Gue masuk duluan, ya!" kata Aqqela turun dari atas motor.
Fattah melepaskan helm fullface-nya, membuat rambut hitamnya terlihat berantakan.
Eh?
Aqqela melebarkan mata dan terpana sesaat. Set dah ganteng amat.
Aqqela mengerjap pelan, berusaha menguasai diri, "Duluan!" pamitnya dan segera beranjak.
Fattah menaruh helm-nya di atas motor dan segera berlari mengejarnya.
"Za!" panggilnya membuat Aqqela menoleh kaget.
"Kenapa?"
"Bareng."
Aqqela melebarkan mata sebentar dan mengangguk, "Boleh."
Keduanya melangkah di koridor lantai satu, dengan banyak pasang mata menatap mereka.
Beberapa juga memberanikan diri menyapa ke-dua most wanted sekolah itu ramah.
"Eh, itu temen-temen lo!" kata Aqqela menunjuk lapangan.
Terlihat, Noel, Mattew dan lainnya sedang tertawa-tawa riang sambil bermain basket.
"FATTAH!" panggil Jefan melambaikan tangan, "Join, sini! Arsen udah capek katanya."
"Mager," katanya menolak membuat Aqqela mendelik.
"Udah, sana ikutan!" katanya mendorong lengan Fattah.
Fattah melengos pelan, "Nggak-"
"FATTAH ANDARA FERNANDEZZZ!"
Cowok itu terlonjak kaget setengah mati dan menoleh.
"Masih pagi-pagi tapi seragam kamu sudah berantakan gini," omel bu Ida menunjuk kemeja Fattah yang keluar dari celana abu-abunya, "RAPIKAN!"
Fattah merapatkan bibir sok kalem.
Noel yang barusan menembakkan bola ke ring jadi tertawa, "Marahin aja, bu! Emang tuh Fattah, murid nggak ada adab. Gundulin aja bu."
Bu Ida menoleh ke Noel dan melotot, "NOEL, SINI KAMU!"
Noel langsung membelalak, kenapa dirinya malah ikut-ikutan kena.
"Mampus lo," hardik Mattew.
"Sama Mattew dan Jefan sekalian. Cepat!" Bu Ida memberi isyarat agar mereka mendekat.
Jefan langsung meruntuk dan menyikut Noel kesal, "Elo, sih."
"Gue ngapain anying?" protesnya sok polos dan beranjak mendekati bu Ida.
"Selamat pagi dan salam sejahtera bu," kata Mattew sok manis.
"Ngeledek saya kamu?" omelnya dan melihat rambut Mattew, lalu menariknya geram membuat cowok itu merintih, "Ini siapa yang suruh rambut kamu di cat ungu begini? Kamu itu murid, penampilan kamu lebih mirip anggota boyband."
"Ya namanya pengen ganteng, bu. Biar kayak artis hollywod. Kali aja dengan begitu, bu Ida mau terima cinta saya," katanya membela diri.
Bu Ida melotot pada cowok ini, sementara Noel terkikik keras.
"NOEL!"
Noel hampir mengumpat saking kagetnya.
Dia menatap bu Ida dan tersenyum manis, "Iya, adinda?"
Tapi selanjutnya Noel berteriak kesakitan saat telinganya di jewer bu Ida, membuat Aqqela merunduk dan terkekeh pelan.
Bu Ida memang guru muda 25 tahun yang cantik. Semua murid cowok juga betah sepik guru satu ini.
"Orang udah bikin kesalahan malah godain guru. Rambut kamu potong ya, udah panjang banget ini kayak rambutnya Andika Kangen Band."
"Iya, bu."
Bu Ida melengos, menatap Jefan dan Aqqela bergantian. Sudah rapi.
"Rapikan seragam kamu!" kata bu Ida menunjuk seragam Fattah.
Cowok itu menurut, mengancingkan seragam atasnya dan memasukkan kemejanya ke dalam celana, di ikuti yang lain.
"Kamu contoh dong, Aqqela! Selalu rapi, nggak urakan kayak kamu," kata bu Ida mengomeli Fattah.
Fattah mendelik melihat kelakuan Aqqela yang langsung mengangkat dagunya percaya diri, bergaya sombong, membuat Fattah melotot kecil padanya memberi ancaman.
"Ya sudah bu, kami mau masuk kelas. Sudah mau bel," pamit Jefan.
"Pelajarannya pak Bondan nih bu. Asik, guru kesayangan saya," kata Noel membuat yang lain mengumpat. Padahal hampir setiap hari mereka di hukum guru satu itu.
"Ya sudah sana!" usir bu Ida kesal membuat Noel dan lainnya segera berpamitan hendak menaiki tangga menuju lantai dua.
"AQQELA AWAS!"
Teriakan dari lapangan membuat Aqqela yang berjalan paling depan-memimpin langkah empat cowok itu jadi terlonjak melihat sebuah bola melayang ke arahnya.
Fattah sendiri tersentak kaget. Baru akan maju menolong, Jefan lebih dulu menarik tubuh gadis itu, sementara Noel dengan gerakan cepat menangkis bola, sebelum bola itu menghantam kepala Aqqela.
"WOI SEN, HATI-HATI DONG!" omel Noel pada Arsen di lapangan, lalu menoleh ke Aqqela, "Lo nggak papa?"
Aqqela menggeleng cepat, "Nggak papa kok, makasih, ya!"
"Serius nggak papa?" tanya Jefan memastikan.
"Iya, kaget doang tadi pas lo tarik."
Fattah mengangkat alis. Diam-diam mendengus tak suka dan mendorong teman-temannya.
"Minggir lo semua! Nggak ada yang boleh pegang-pegang cewek gue!" usirnya kesal dan menarik tangan Aqqela membuat cewek itu kaget.
"Ngeri slur, langsung hak milik," kata Mattew.
"Cewek lo? Qell, emang lo mau?" tanya Jefan meledek.
"Possessive banget najis," umpat Noel.
Fattah mendengus, "Bodo," katanya sambil menaiki tangga.
"Nanti ke rumah sakit agak sore-an, ya? Gue ada basket soalnya."
Aqqela langsung mengangguk, "Iya."
"Nanti kalau duluan keluar kelas, langsung ke lapangan indoor aja!"
"Oke, gue ke kelas duluan. Byeee!" pamitnya melambaikan tangan dan melangkah di koridor lantai dua sambil tersenyum pada beberapa orang yang menyapa.
Dia membuka lokernya untuk menaruh jas OSIS-nya. Tapi tersentak saat melihat sebuah kotak kecil warna pink di sana.
"Apaan, nih?"
Dia membuka kotak dan melihat sebuah jam tangan cantik di sana.
-Happy birthday yang ke-17 tahun Aqqela! Sorry karena telat bilang! Waktu lo ulang tahun, lo lagi sakit di panti asuhan, jadi gue nggak sempat ngasih ini, hehe. Sehat selalu, ya!-
#L
Mata Aqqela membulat sepenuhnya dan merogoh saku mencari HP, lalu membuka aplikasi Instagram.
Sebuah foto yang memperlihatkan kotak kado dan surat kecil yang di kirim seseorang, tanpa dia tau pengirimnya siapa.
-Happy Birthday yang ke-16 tahun Aqqela Calista! Panjang umur dan sehat selalu, ya! Jangan suka sedih! Ini hadiah dari penggemar beratmu!
"Tulisannya persis," gumam Aqqela.
Wait!
Kenapa Aqqela merasa orang ini adalah orang yang sama dengan yang menyelamatkannya di halte?
Bagaimana dia tau Aqqela sedang sakit di panti asuhan?
"L?" Dia mengeryit, sampai matanya membulat lebar, "Lucanne?"
Cowok itu dari awal udah aneh dan lihat dirinya terus waktu di panti.
"Apa dia, ya?" gumam Aqqela.
Tapi Aqqela tidak mengenalnya. Jadi tidak mungkin.
Aqqela bergegas berlari menuju kelasnya ingin menaruh tas, lalu dia akan pergi ke koridor kelas 12 untuk mencari Lucanne.
"AQQELA, PAHLAWANKU!" teriak Aya merengek haru, membuat yang lain menoleh juga.
"Qell, PR Matematika udah, kan? Gue lupa anying, mana pak Bondan lagi," serobot Vania langsung mendekat.
"Arsen nyebelin banget, di tungguin dari tadi malah main basket di bawah," gerutu Catu menyebutkan nama teman sekelasnya yang paling pintar.
Aqqela menipiskan bibir dan membuka resleting tasnya, lalu mengeluarkan buku PR-nya.
Beberapa orang berlari datang, berkumpul di satu meja, menyalin PR Aqqela.
"Harusnya yang kayak gini nih, cocok banget gue jadiin istri," cerocos Cakra ikutan mendekat untuk menyalin.
"Udah hak milik mas Fattah, Cak. Nggak boleh di tikung," kata Dani.
"Oh iya," kata Cakra tertawa.
Aqqela memutar bola matanya malas dan melangkah ke bangkunya ingin menaruh tas.
Tapi dia mengeryit, melihat sebuah kotak besar di mejanya.
"Ca, ini punya siapa?" tanya Aqqela.
Catu menoleh, "Buat lo kayaknya. Dari tadi pagi gue datang udah di situ."
Aqqela membuka kotak itu dan membulatkan mata melihat sebuah sepatu ber-merek terkenal berwarna hitam dengan corak putih.
Alis Aqqela terangkat melihat stickynotes dan meraihnya.
-Hai Aqqela! Lo pasti selalu penasaran dan bertanya-tanya gue ini siapa. Gue selalu ada di dekat lo kok sejak dulu. Sejak satu tahun lalu, saat gue lihat lo di persidangan. Kehadiran loyang bikin gue tenang waktu itu. Saat semua orang mencaci gue, elo satu-satunya yang kasih senyuman tulus ke gue. Sejak saat itu, semua kecemasan dan ketakutan gue menghilang.
Makasih banyak, ya!-
#A
Kali ini Aqqela merasa terkejut. Tubuhnya membeku dan menegang di tempat.
Seorang pemuda tiba-tiba muncul di benaknya.
Sosok yang satu tahun lalu memakai kemeja putih dan duduk di bangku persidangan sambil merunduk takut saat sidang belum di mulai.
Pemuda tinggi itu memiliki kulit putih. Aqqela tidak bisa melihat wajahnya karena dia memakai masker selama persidangan.
"Ja-jadi...dia?"
Aqqela mengerutkan kening berpikir matang-matang, "L? A?"
Siapa dia sebenarnya? Kenapa Aqqela benar-benar tidak ingat siapa nama seseorang yang menjadi tersangka satu tahun lalu.
"Nggak mungkin Lucanne. Mata cowok itu nggak hazel," kata Aqqela menggigit bibir samar.
***
Fattah melangkah menuju ke halaman belakang sekolahnya yang berhadapan langsung dengan danau kecil yang di kelilingi oleh pagar dinding tinggi-yang sering Fattah lompati saat bolos.
"Gimana? Udah dapat?" Fattah yang membawa kantung kresek menoleh ke Jefan.
"Udah. Nih!" katanya mengangkat sebotol bensin.
"Lo mau ngapain sih, Fat?" tanya Noel berjongkok di dekat tong sampah besi.
"Aneh-aneh aja. Jangan bilang lo mau bakar sekolah, gara-gara elo remidi agama tadi?" tanya Mattew.
"Bukan," kata Fattah dan mengeluarkan isi dari kantong kresek hitam ke tong sampah besi membuat Noel dan lainnya terkejut.
Foto-foto Fattah dan Sandrina?
Juga...beberapa berkas yang di tutup amplop, yang tidak mereka tau.
"Fat, lo mau apa?" tanya Noel.
"Akhiri semuanya yang udah gue mulai," kata Fattah menaburkan bensin ke sana.
Mattew tertegun begitu saja, "Lo bener-bener mau lupain Sandrina?"
Fattah mengangguk pelan.
"Bukannya lo bawa Aqqela ke apartemen lo karena lo balas dendam sama bokapnya lewat dia yang bikin Sandrina meninggal?" tanya Noel karena Fattah bercerita tempo hari lalu soal semuanya.
Fattah diam. Dia langsung menyalakan korek, lantas melempar ke dalam tong tanpa berpikir dua kali.
Tidak hanya foto Sandrina. Tapi juga berbagai bukti bahwa Michael adalah dalang di balik kematian Sandrina. Fattah takut di masa depan keluarga Sandrina mengusik Aqqela dan menghancurkan segalanya.
"Fattah, tugas lo belum selesai. Kita bahkan belum nemuin anak pejabat yang jadi tersangka itu. Karena dia semua ini terjadi. Lo tau, dia masih hidup bebas di luaran sana. Tapi Odit udah nggak bernyawa lagi," ucap Mattew membuat mata Fattah memerah.
Pandangan cowok itu menatap seluruh bukti dan foto-foto dirinya bersama Sandrina yang perlahan lenyap oleh lumatan si jago merah.
"Gue tau. Tapi gue mau berhenti," kata Fattah serak membuat Jefan dan yang lainnya menatapnya heran.
"Kenapa?"
"Karena gue nggak mau Aqqela lihat gue masih ngulik kasus itu yang bikin dia tertekan lama-lama."
Noel, Jefan dan Mattew melebarkan mata sebentar.
Fattah menelan ludah getir dengan mata berkaca-kaca dan perasaan campur aduk melihat semuanya lenyap di depannya.
"Gue nggak mau lanjutin ini. Bagi gue semuanya udah cukup."
Api menyala semakin besar. Dadanya berdenyut nyeri teringat wajah gadis cantik yang bersimbah darah tepat di depannya.
Dunia Fattah hancur saat itu.
Sandrina, dia seseorang yang memperkenalkan Fattah pada cinta pertama. Gadis manis yang sempat dia cintai dengan begitu banyak.
Dan dia...adalah seseorang yang tinggal kenangan.
"Maaf, Dit! Aku bener-bener nggak bisa lanjutin semua rencana aku..." Fattah menggeleng pelan.
Teman-temannya hanya terdiam melihat betapa hancurnya Fattah sekarang.
***
Aqqela duduk di pinggiran lapangan indoor bersama Catu dan Aya yang sore ini menonton kekasih mereka latihan karena tidak ada ekskul.
"MATT, MASUKIN DONG BOLANYA! AH BIKIN MALU LO," teriak Catu sudah marah-marah kesetanan karena dari tadi Mattew tidak cetak poin.
"Jefan, keluarkan taringmu! Rawr!" kata Aya membentuk cakaran di udara.
"Apa sih Ya, apa?" tanya Aqqela sudah emosi.
Ke-tiganya masih serius menonton jalannya permainan basket, hingga kepala Fattah menoleh ke samping.
"Mau nyoba main nggak?" tanyanya pada Aqqela.
"Nggak-"
"Ih, ayo dong Qell! Gue juga mau nyoba hihi," kata Aya cengengesan.
"Ya udah boleh."
Aqqela dan teman-temannya melangkah ke lapangan. Kemudian Fattah mengoper bola di tangannya pada cewek itu.
Aqqela mulai men-dribble bola di tangannya, kemudian berlari cepat menghindari Fattah yang mengejar, lalu berhenti merentangkan satu tangan-menahan tubuh Fattah yang ingin maju merebut bola, sementara satu tangannya masih sibuk dribble.
"Langsung shoot!" Suruh Fattah.
Tanpa ancang-ancang, Aqqela langsung melemparkan bola itu ke ring.
BRAK!!
"Yhak!" Kesal Aqqela karena bola itu malah menubruk tiangnya.
"Tekanan dari pergelangan tangan lo kurang. Coba lagi!"
Fattah melemparkan bola ke arah Aqqela, membuat gadis itu berlari sambil menggiring bola.
Sayangnya Fattah lebih dulu cerdik merebut bola itu membuat Aqqela meraung dan mengejarnya cepat, membuat cowok itu tertawa.
"Lo tuh mau ngajarin gue atau ngajak perang, sih?" omel Aqqela berusaha memajukan tangan saat jidatnya di tahan oleh Fattah agar tak bisa maju, sementara cowok itu masih asik men-dribble bola.
"Rebut, dong! Masa nggak bisa?" Fattah tertawa sambil lanjut lari.
Aqqela dengan liciknya menarik kaos belakang Fattah, mengganggunya.
"Woi curang nih."
Aqqela merebut bola itu cepat, "Bodo amat, wleee!" katanya sambil kabur membuat Fattah segera mengejar.
Tak mau kalah licik dari Sancawati, saat Aqqela sibuk menggiring bola ke ring, cowok itu dengan cepat meraih pinggang Aqqela-menahan dan jadi mengangkat tubuhnya membuat cewek itu meronta-ronta.
"Fattah gila, turunin gue!" pekik Aqqela rusuh.
Fattah malah tertawa puas tanpa dosa.
"Za, sekarang kalau mau terbang nggak usah pakai pesawat, ya?" goda Fattah masih mengangkat tubuh Aqqela membuat cewek itu histeris bukan main.
Aqqela meremas rambut cowok itu sambil melompat turun, membuat Fattah dengan gencar malah menggelitiki pinggang cewek itu dari belakang.
"Makanya jangan rese!" katanya membuat Aqqela tertawa geli.
"Pengen masukin bolanya?"
Aqqela mengangguk.
"Noel, Mattew sini! Angkat Aqqela!"
Aqqela melotot lebar Noel dan Mattew beneran mendekat.
"Ayo bu bos!"
"Loh-loh-EHHH?" Aqqela memekik saat tubuhnya melayang dan duduk di antara bahu kanan Noel dan bahu kiri Mattew.
"Ini bolanya!" kata Fattah membuat Aqqela mengambilnya, "Shoot langsung!" serunya.
Aqqela langsung melempar bolanya ke lubang ring.
BRAK!!
"Masuk! Woi-woi itu masuk!" heboh Aqqela dengan Noel dan Mattew segera menurunkannya.
"YES MASUK!" sorak Noel.
"Satu kosong wleee!" pamer Aqqela.
Fattah mendelik, "Sombong banget orang di bantuin."
Fattah terkekeh pelan melihat Aqqela, Noel dan Mattew kini sudah melompat-lompat merayakan dan berkompak bersama.
Fattah merunduk melihat jam tangannya, "Udah mau setengah 6. Ayo balik!"
"Kuy! Duluan ya semuanya! Bye!" pamit Aqqela ceria lalu tersentak saat ponselnya berdering.
Menampilkan panggilan masuk dari om Ravi.
"Halo, om?"
Mata Aqqela melebar, "Jadi Oliver udah sadar? Iya om, habis ini aku ke sana. Ini masih di sekolah soalnya."
Aqqela diam sebentar, "Baik, om. Makasih ya infonya!"
Panggilan di matikan, membuat Fattah yang meraih tasnya di bangku kayu pinggir lapangan jadi menoleh.
"Kenapa?"
"Oliver udah sadar."
Mata Fattah melebar, "Ya udah, ayo!" katanya menarik tangan gadis itu dan mengajaknya berlari menuju ke parkiran sekolah.
"Ya ampun, kenapa harus lari, sih? Gue benci lari," kata Aqqela sambil terengah-engah di koridor, merasakan pergelangan tangannya di genggam kuat Fattah.
"Udah mau malam ini. Jalanan keburu macet," kata Fattah sambil menautkan jari-jemari mereka dan menggenggam tangan Aqqela sambil terus mengajaknya berlari.
"Eh, oh iya." Aqqela meringis kecil dan berlari mengikutinya.
Walau diam-diam, gadis itu menarik senyum melihat punggung cowok di depannya yang masih setia menarik tangannya.
Tiba di halaman rumah sakit, Aqqela berlari dulu memasuki gedung, sebab Fattah sibuk memarkir motornya.
Dia mempercepat laju larinya menuju koridor gedung G dan menaiki lift ke lantai empat.
Matanya melebar menemukan om Ravi sedang duduk di kursi panjang sambil menelpon seseorang.
"Om, Oliver dimana?" tanya Aqqela.
"Di dalam Qell, langsung masuk saja!"
Aqqela mengangguk dan perlahan meraih knop pintu.
Gadis itu menarik napasnya dalam-dalam dan membuka pintu.
Ceklek!
Aqqela tertegun saat matanya menangkap Oliver yang masih terbaring lemah, dengan pandangan mengarah ke jendela kaca, melihat gerimis yang mulai turun.
Melihat kehadiran seseorang, membuat Oliver menoleh. Kelopak mata pemuda itu tampak sayu, membuat Aqqela menipiskan bibir.
Gadis itu mendesah pelan, "Hai...!"
***