NovelToon NovelToon
Hatiku Di Gondol Sang Duda

Hatiku Di Gondol Sang Duda

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat / Duda
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ais_26

Kisah tentang cinta yang tak memandang usia, tentang keberanian menerima masa lalu seseorang, dan tentang dua hati yang memilih bersama meski dunia sempat meragukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Pagi harinya cahaya matahari masuk perlahan melalui celah tirai.

Udara kamar terasa lebih ringan dibandingkan kemarin.

Dira terbangun lebih dulu.

Beberapa detik ia hanya berbaring diam, mendengarkan suara napas Andreas di sampingnya. Tidak ada ketegangan seperti pagi sebelumnya. Tidak ada pikiran yang lAngsung melompat pada Nadia atau berkas.

Hanya sunyi yang tenang.

Ia menoleh.

Wajah Andreas terlihat lebih lelah dari biasanya, tapi tidak tegang. Tangan mereka tanpa sadar masih berdekatan, punggung jari hampir bersentuhan.

Dira tersenyum tipis.

Dira bangun pelan, berhati-hati agar tidak membangunkannya..

Langkahnya menuju kamar mandi terasa lebih ringan.

Kemudian setalh selesai mandi ia ke dapur dan berhenti sejenak di depan kompor.

Gas.

Ia menghembuskan napas kecil, lalu tersenyum sendiri.

Hari ini tidak perlu memaksa memasak.

Di dapur, ia kembali berdiri di depan kompor.

Knop diputar.

Ctek.

Tetap tidak menyala.

Ia tersenyum kecil lupa gasnya gak diganti karena lupa.

“Oh ya lupa gasnya habis” gumamnya pelan.

Ia mengambil dompet dan ponselnya, lalu menulis pesan singkat untuk Andreas yang masih tidur:

“Aku keluar sebentar cari sarapan.”

Ia meletakkan ponsel itu di meja samping tempat tidur agar mudah terlihat.

Udara pagi di luar perumahan terasa sejuk.

Beberapa ibu-ibu sudah berjalan kaki. Ada yang menyapu halaman. Ada yang mengantar anak sekolah.

Dira berjalan pelan menyusuri jalan kompleks.

Ia melihat warung kecil di ujung gang yang tadi malam tidak sempat ia perhatikan.

Aroma nasi uduk dan gorengan tercium samar.

Ia berhenti.

“Pagi, Mbak,” sapa ibu penjual dengan ramah.

“Pagi. Nasi uduknya masih hangat?”

“Masih. Baru matang.”

Dira mengangguk dan memesan dua bungkus.

Sambil menunggu, ia memperhatikan sekitar.

Rumah-rumah yang tampak biasa.

Orang-orang yang menjalani rutinitas sederhana.

Tidak ada yang tahu bahwa di salah satu rumah di belakangnya, dua orang sedang belajar membangun pernikahan dari sisa luka.

Ia menerima bungkusan sarapan dan membayar.

Saat berjalan kembali ke rumah, ia merasa sedikit lebih tenang.

Kadang yang dibutuhkan memang bukan percakapan panjang.

Hanya berjalan sendirian sebentar.

Saat ia membuka pintu rumah, Andreas sudah bangun dan berdiri di ruang tamu dengan wajah sedikit panik.

“Kamu ke mana?” tanyanya cepat.

Dira mengangkat bungkusan plastik di tangannya.

“Cari sarapan. Dekat sini ada warung.”

Andreas menghela napas lega.

“Kamu nggak bilang.”

“Aku tinggal pesan di meja,” jawabnya tenang.

Andreas mengusap tengkuknya.

“Maaf. Aku kira…”

“Kira apa?”

“Kira kamu pergi karena semalam.”

Dira terdiam sejenak.

Lalu ia berjalan melewatinya menuju dapur.

“Aku cuma beli nasi uduk, bukan kabur.”

Kalimat itu ringan, tapi bermakna.

Andreas tersenyum tipis.

Mereka duduk di meja makan dengan dua bungkus nasi sederhana.

Mereka membuka bungkus nasi uduk itu pelan-pelan.

Uap tipis masih naik dari nasi yang hangat.

Andreas duduk berhadapan dengan Dira, tapi kali ini tatapannya lebih lembut.

“Kamu hafal jalan di kompleks ini?” tanyanya.

“Belum,” jawab Dira jujur. “Tadi sempat muter sedikit.”

Andreas tersenyum tipis.

“Maaf. Harusnya aku yang ajak kamu keliling.”

“Pelan-pelan saja,” jawab Dira. “Aku juga baru mulai mengenal rumah ini.”

Kalimat itu sederhana.

Tapi Andreas tahu maksudnya lebih luas dari sekadar jalan kompleks.

Beberapa suapan pertama mereka makan dalam diam.

Tidak canggung seperti kemarin.

Hanya tenang.

“Aku tadi kepikiran… apa kita pindah aja, ya?” kata Andreas pelan.

Dira menatapnya, menunggu penjelasan lebih lanjut.

“Ke mana?” tanyanya hati-hati.

Andreas menghela napas. “Ke apartemen… atau ke rumah baru. Tergantung kamu mau yang mana. Kalau perumahan, aku bisa cari dulu yang cocok buat kita. Tapi kalau apartemen, kita pindah ke tempat yang dulu aku tinggal sebelum menikah.”

Dira menunduk sebentar, memikirkan pilihan itu.

“Aku ngikut kamu aja” tanyanya pelan

"Oke nanti kita bicarain lagi" ucap andreas

“Dan nanti apapun soal berkas itu… nanti aku minta semua salinannya. Kamu simpan juga” lanjut Andreas

Dira berhenti mengunyah.

“Kamu yakin?”

“Iya. Aku nggak mau ada yang terasa disembunyikan.”

Dira mengangguk pelan.

“Iya aku juga nggak mau jatuh di lubang yang sama”

Kalimat itu membuat Andreas terdiam.

Ia tahu maksudnya bukan hanya tentang Nadia.

Tapi tentang pengkhianatan.

Tentang kepercayaan.

Tentang rasa aman.

Setelah sarapan habis, Andreas berdiri.

“Nanti sore kita beli gas. Sekalian aku ajak kamu keliling kompleks.”

Dira mengangguk.

“Boleh.”

Andreas mengambil tas kerjanya.

Sebelum keluar, ia berhenti di depan pintu.

“Dir.”

“Iya?”

Andreas melihat jam di ponselnya.

“Aku harus berangkat.”

Dira meNgangguk.

Ia mengumpulkan kotak bekas sarapan, membuangnya ke tempat sampah, lalu kembali ke ruang tamu.

Andreas sudah memakai sepatu ketika ia berdiri di depan pintu.

“Dir.”

“Iya?”

“Kalau dia datang lagi, jangan buka pintu.”

Nada suaranya tidak keras.

Tapi tegas.

Dira menatapnya beberapa detik.

“Kalau memang ada urusan resmi, biar lewat pengacara,” lanjut Andreas. “Aku nggak mau kamu berada di posisi yang nggak nyaman.”

Dira mengangguk kecil.

“Aku bisa jaga diri.”

“Aku tahu.”

Ada jeda.

Andreas terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu lagi.

Akhirnya ia melangkah mendekat, lalu—untuk pertama kalinya pagi itu—menyentuh tangan Dira.

Bukan genggaman kuat.

Hanya sentuhan singkat.

“Aku akan selesaikan semuanya,” katanya pelan.

Dira mengangguk.

“Aku percaya.”

Pintu tertutup.

Rumah kembali sunyi.

Namun kali ini sunyinya tidak mencekam.

Dira berjalan ke kamar.

Merapikan tempat tidur.

Mengganti seprai yang sedikit kusut.

Tangannya bergerak otomatis, tapi pikirannya tidak lagi penuh kecemasan.

Ia berhenti sejenak di depan cermin.

Menatap dirinya sendiri.

“Ini bukan cuma soal mantan,” gumamnya pelan. “Ini soal membangun ulang.”

Ponselnya bergetar.

Pesan masuk dari nomor tak dikenal.

Jantungnya berdegup sedikit lebih cepat.

Ia membuka pesan itu.

“Halo, Dira. Ini Nadia. Aku cuma mau pastikan kamu tahu—dokumen itu memang perlu ditandatangani minggu ini. Aku tidak datang untuk apa-apa selain itu.”

Dira menatap layar cukup lama.

Ponsel bergetar. Dira membuka pesan:

Ibu: Dira, kamu sehat?

Dira: Sehat, Bu. 😊

Ibu: Alhamdulilah. Gimana Andreas, baik nggak sama kamu?

Dira: Baik, Bu.

Ibu: Syukurlah… jangan sampai lupa jaga kesehatan ya dan terlalu capek.

Dira: Iya Bu.

Ibu: Jangan lupa kamu kan sekarang udah jadi istri belajar menyesuaikan diri dan layanin suami yang benar

Dira: Insyaallah, Bu. Aku pelan-pelan lagi belajar

Ibu Andreas: Bagus… kalau ada apa-apa, jangan sungkan bilang ke Ibu juga, ya.

Dira: Terima kasih, Bu. Aku akan ingat.

Ibu Andreas: Semoga hari ini lancar buat kalian berdua. 🙂

Dira: Amin, Bu.

Setelah menutup ponsel, sunyi rumah terasa agak berat.

Ia menghela napas.

Obrolan dengan ibunya memang menenangkan, tapi… juga membuatnya merasa bosan.

Bosan karena pagi masih panjang.

Bosan karena tidak ada aktivitas jelas.

Beberapa menit berlalu, dan rasa bosan itu mulai mendorongnya untuk bergerak.

Dira bangkit, berjalan pelan ke dapur.

Ia membuka lemari, menatap piring dan gelas.

“Ya ampun… pagi ini sepi banget,” gumamnya pelan.

Ia mencoba membereskan meja sedikit.

Menata sendok, mengelap permukaan meja, memindahkan bungkus nasi yang tadi dibawa dari warung.

Setelah beberapa menit, tangan Dira mulai terasa lebih sibuk, pikirannya mulai sedikit teralihkan dari rasa bosan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!