"Jangan sentuh apa pun. Jangan duduk di sofa sebelum mandi. Dan singkirkan remah kerupuk itu dari jangkauan radar saya!" — Calvin Harvey Weinstein.
Nirbita Luminara Rein mengira hidupnya sudah berakhir saat orang tuanya pergi dan kakaknya, Varro, menyatakan mereka bangkrut. Tapi ternyata, penderitaan yang sesungguhnya baru dimulai saat ia "digadaikan" oleh kakaknya sendiri kepada Calvin—CEO jenius yang punya alergi akut pada segala sesuatu yang tidak rapi.
Bagi Calvin, Nirbi adalah sumber kuman berjalan. Bagi Nirbi, Calvin adalah kulkas dua pintu yang cerewetnya minta ampun. Namun, di balik semprotan disinfektan dan aturan ketatnya, Calvin menyimpan rahasia: Ia sudah jatuh cinta pada "si kuman kecil" ini sejak insiden pelukan salah sasaran di kampus dulu.
Bisakah rumah super steril Calvin bertahan dari badai keberantakan Nirbi? Atau justru hati Calvin yang akhirnya "terkontaminasi" cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Asisten Pribadi dari Planet Antah Berantah
Pukul 07.00 tepat. Calvin Harvey Weinstein sudah berdiri di depan pintu kamar Nirbi dengan setelan jas navy yang licin sempurna. Ia mengetuk pintu dengan ritme yang konsisten.
"Nirbita, tiga puluh detik lagi kamu tidak keluar, saya tinggal. Dan tidak ada jatah uang makan untuk hari ini," ancam Calvin dingin.
Cklek!
Pintu terbuka di detik ke-29. Nirbi muncul dengan kemeja putih yang... lumayan rapi, meskipun kancing paling atasnya salah lubang. Ia mengenakan rok span yang sedikit miring dan sepatu kets putih, bukan high heels.
"Hadir, Pak Bos! Nirbi siap mengabdi pada negara dan Weinstein Group!" seru Nirbi sambil hormat gerak.
Calvin menghela napas, matanya tertuju pada kancing kemeja Nirbi. Tangannya gatal ingin membetulkannya, tapi ia menahan diri. "Kancing kamu... ah, lupakan. Ayo jalan."
Di Kantor Weinstein Group
Begitu masuk ke lobi, semua mata karyawan tertuju pada mereka. Calvin yang biasanya berjalan sendirian layaknya malaikat maut yang haus kerja, kini diikuti oleh seorang gadis kecil yang berjalan sambil melompat-lompat kecil dan sesekali melambai pada resepsionis.
"Kak Calvin, kantornya gede banget! Ini kalau dipake main petak umpet, setahun juga nggak ketemu ya?" celoteh Nirbi.
"Diam, Nirbita. Jaga wibawamu. Di sini kamu adalah asisten pribadi saya, bukan pengunjung taman bermain," desis Calvin tanpa menoleh.
Mereka sampai di ruangan lantai 50. Ruangan itu sangat luas, dengan dinding kaca yang memperlihatkan pemandangan kota. Meja asisten berada tepat di depan pintu ruangan Calvin.
"Ini mejamu. Tugasmu hari ini mudah: Rapikan dokumen ini berdasarkan abjad, buatkan saya kopi hitam tanpa gula dengan suhu tepat 80 derajat celcius, dan jangan sentuh barang-barang di meja saya," perintah Calvin.
Nirbi melihat tumpukan dokumen yang tingginya hampir menyamai kepalanya. "Hah? Kak... eh, Pak Bos, ini semua harus diabjad? Nggak bisa pake perasaan aja?"
"Gunakan otakmu, Nirbita, bukan perasaanmu. Saya rapat dulu," Calvin masuk ke ruangannya dan menutup pintu rapat-rapat.
Dua jam kemudian, Calvin keluar dari ruangannya karena merasa haus. Ia tertegun melihat pemandangan di depannya.
Nirbi tidak sedang merapikan dokumen. Gadis itu sedang duduk di lantai yang dingin, dikelilingi oleh kertas-kertas yang berserakan, sambil asyik memakan gorengan yang entah didapat dari mana. Bau minyak dan bakwan memenuhi area steril itu.
"NIRBITA LUMINARA!"
Nirbi tersedak potongan wortel dari bakwannya. "Uhuk! Uhuk! Eh, Pak Bos sudah selesai rapatnya? Mau bakwan? Masih anget lho, tadi aku titip sama OB yang lewat."
Calvin merasa pandangannya menggelap. "Kamu... kamu makan gorengan berminyak di atas dokumen kontrak kerja sama bernilai miliaran rupiah?"
Nirbi segera melihat kertas di bawah bakwannya. "Oh, ini kertas ya? Kirain alas meja. Tenang Pak Bos, ini cuma kena dikit kok, tinggal dilap pake tisu juga ilang noda minyaknya."
Nirbi mengusap kertas itu dengan tisu bekas mulutnya, yang justru membuat noda minyaknya semakin melebar dan transparan.
"Nirbita... keluar. Sekarang," suara Calvin bergetar menahan amarah yang meledak.
"Lho, kopinya gimana? Aku udah buatin tadi!" Nirbi menunjuk sebuah cangkir di atas meja.
Calvin mendekati cangkir itu dengan curiga. Ia melihat ada butiran berwarna-warni di atas kopinya. "Apa ini? Saya minta kopi hitam polos."
Nirbi nyengir lebar. "Itu sprinkles warna-warni, Pak Bos! Biar Kak Calvin nggak kelihatan serem terus. Kalau kopinya lucu, kan mood Kakak jadi bagus. Terus tadi karena nggak ada gula, aku kasih sirup stroberi dikit biar ada rasanya."
Calvin menatap kopi hitam dicampur sirup stroberi dan meses warna-warni itu dengan tatapan ngeri. Baginya, itu bukan minuman, itu adalah racun yang bisa menghancurkan sistem pencernaannya yang higienis.
"Kamu... kamu mau meracuni saya?"
"Ih, kok gitu? Itu namanya kreativitas!" Nirbi mengerucutkan bibirnya. "Kak Calvin tuh kaku banget sih kayak kanebo kering. Sekali-kali hidupnya dikasih warna kek, jangan item putih mulu."
Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Muncul seorang wanita cantik dengan pakaian sangat elegan dan bermerk. Veyra Dista, wanita yang dulu disukai Varro tapi justru mengejar Calvin.
Veyra menatap pemandangan di depannya dengan jijik—terutama pada Nirbi yang masih memegang bakwan. "Calvin, sayang? Siapa gadis pelayan ini? Kenapa kantor kamu bau minyak jelantah?"
Nirbi menoleh, menatap Veyra dari bawah ke atas. Ia langsung mengenali wanita itu. "Oh... ini Kak Veyra yang dulu ditolak Kak Calvin mentah-mentah tapi masih hobi nempel ya?" celetuk Nirbi tanpa saringan.
Wajah Veyra seketika berubah ungu karena malu dan marah. "Apa kamu bilang?!"
Calvin tertegun. Ia ingin memarahi Nirbi karena keberantakannya, tapi mendengar jawaban tajam Nirbi pada Veyra, ada rasa puas yang aneh di hatinya.
"Nirbita, masuk ke dalam ruangan saya," perintah Calvin tiba-tiba.
"Tapi Pak Bos, bakwannya belum abis—"
"Bawa bakwannya masuk. Sekarang," potong Calvin. Ia lalu menatap Veyra dengan dingin. "Veyra, saya tidak ada janji denganmu. Dan asisten saya benar, saya sedang sibuk. Silakan pergi."
Nirbi menjulurkan lidahnya pada Veyra sebelum masuk ke ruangan Calvin dengan riang. Sementara Calvin, sebelum masuk, ia sempat melirik meja asistennya yang berantakan. Ia menghela napas.
"Sofa mahal saya sudah kena remah biskuit, sekarang dokumen saya kena minyak bakwan. Apa setelah ini hatiku juga mau kamu bikin berantakan, Bi?" gumam Calvin sangat pelan, hingga hanya angin yang mendengarnya.
udah ngasih beban nitipin NOBITA eehh.. maksudku Nirbita...
nglunjak lagi..🤣🤣🤣🤣🤣
dari sahabat jadi musuh ini kah... bukan musuh dari awal.
Nirbita lucu banget ... ini bukan kembaran nya Nobita kan ??? /Joyful//Joyful//Joyful//Joyful//Joyful/
udah ini mah lucu lucu romantis gemes dan lebbayyy tapi aku suka