Rengganis, seorang dokter spesialis kandungan yang sukses namun skeptis terhadap cinta, merasa hidupnya sudah "terlambat" untuk urusan asmara. Di usianya yang matang, ia dikejutkan oleh wasiat perjodohan sang ayah dengan Permadi, putra sahabat ayahnya yang merupakan seorang CEO muda yang sedang naik daun.
Bagi Rengganis, perbedaan usia mereka bukan sekadar angka, melainkan jurang rasa tidak percaya diri. Ia merasa tidak pantas bersanding dengan "berondong" yang memiliki masa depan panjang, sementara dunianya hanya berputar di ruang persalinan. Di sisi lain, Permadi yang visioner justru melihat Rengganis sebagai sosok wanita yang selama ini ia cari.
Pernikahan mereka pun menjadi medan tempur. Bukan hanya soal ego dan rasa minder Rengganis, tapi juga hantaman dari luar: keluarga yang menuntut keturunan dengan cepat, cemoohan sosial tentang "wanita matang dan lelaki muda", hingga munculnya sosok dari masa lalu Permadi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
"Menyebalkan!" desis Rengganis sambil menghentakkan kakinya.
Ia benar-benar merasa harga dirinya sebagai dokter senior sedang diuji oleh pemuda yang bahkan belum genap berusia tiga puluh tahun ini.
Tangannya dengan cepat membuka ponsel, berniat membuka aplikasi untuk memesan taksi online.
Ia tidak sudi lagi berlama-lama di rumah ini, apalagi jika harus semobil lagi dengan Permadi.
Namun, sebelum jemarinya sempat menekan tombol pesan, sebuah tangan besar dengan lembut namun tegas merebut ponsel itu dari genggamannya.
"Aku antar, Sayang. Tanteku sayang," ucap Permadi sambil mengedipkan sebelah matanya dan mengambil ponsel milik istrinya.
"Permadi, kembalikan ponselku! Aku bisa berangkat sendiri!"
"Nggak ada taksi online untuk istri CEO di pagi pertama pernikahan kita," sahut Permadi santai sembari merangkul bahu Rengganis dan menuntunnya paksa menuju garasi.
"Ayo, Dokter. Nanti pasienmu komplain kalau dokternya telat gara-gara sibuk berantem sama suaminya yang ganteng ini."
Rengganis hanya bisa pasrah saat tubuhnya digiring masuk ke dalam mobil
'Aku akan membalasnya saat sampai di rumah sakit,' batin Linggar.
Permadi menghidupkan radio dan segera ia melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit.
Terdengar suara petikan gitar yang ikonik dan vokal Duta Modjo segera memenuhi kabin mobil.
Permadi menyetel lagu Pemuja Rahasia—yang jelas, lagu-lagu Sheila on 7 yang sangat pas dengan suasana hatinya yang sedang berbunga-bunga.
Permadi mulai mengetuk-ngetuk kemudi mengikuti irama, bahkan ia tidak malu-malu ikut bernyanyi dengan suara baritonnya yang lumayan enak didengar.
"Kupetik bintang, untuk kau simpan. Cahayanya tenang, berikan kau perlindungan..."
Ia melirik ke arah Rengganis yang duduk bersedekap, menatap lurus ke kaca depan dengan ekspresi sedatar papan tulis.
"Dasar berondong," gumam Rengganis pelan, namun cukup tajam untuk menembus melodi lagu.
Permadi tertawa kecil, sedikit mengecilkan volume musik.
"Lho, Tante jangan salah. Ini lagu legendaris. Pas banget buat aku yang lagi memuja dokter spesialis di sebelahku ini. Lagipula, daripada dengerin musik klasik di ruang operasi, mending dengerin ini kan? Biar awet muda, Sayang."
"Usia itu biologis, Permadi. Bukan ditentukan oleh daftar putar lagumu. Cepat jalankan mobilnya, aku punya tiga pasien yang sudah menunggu untuk diinduksi." ujar Rengganis sambil mendengus kesal
"Siap, Dokter Istriku!"
Permadi justru menginjak gas dengan semangat, membuat mobil sport-nya melesat mulus membelah kemacetan pagi.
Di sela-sela lagu, Permadi sesekali melirik Rengganis yang tampak sedang memeriksa jadwal di ponselnya yang sudah ia kembalkan.
Ia menyadari satu hal, di balik ketajaman lidah dan sikap dingin itu, Rengganis terlihat sangat cantik dengan cahaya matahari pagi yang menerpa wajahnya.
"Nanti kalau sudah selesai operasi, hubungi aku ya. Jangan pesan taksi online lagi. Aku jemput," ucap Permadi, kali ini tanpa nada bercanda.
"Aku bisa pulang sendiri, Permadi. Aku punya mobil di rumah sakit."
"Mobilmu masih di rumah Papa, ingat? Tadi malam kan kita naik mobil masing-masing ke restoran," Permadi mengingatkan dengan senyum kemenangan.
"Jadi, pilihannya cuma dua: aku jemput, atau aku datang ke ruang praktikmu dengan membawa buket bunga besar bertuliskan 'I Love You, Tante Dokter'."
Rengganis memijat pelipisnya. Menikah dengan Permadi ternyata jauh lebih melelahkan daripada melakukan operasi sectio caesarea selama dua jam nonstop.
Tak berselang lama roda mobil berhenti tepat di depan lobi utama rumah sakit, Rengganis langsung menyambar tasnya seolah sedang berada dalam misi penyelamatan nyawa.
Tanpa menoleh, tanpa sepatah kata pamit, ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan kecepatan yang mengagumkan bagi wanita yang baru saja tidur di lantai semalam.
Ia hanya ingin segera menghilang di balik pintu kaca otomatis itu sebelum ada rekan sejawat atau perawat yang melihatnya turun dari mobil sport mewah milik seorang "berondong".
Permadi tidak akan membiarkan istrinya pergi semudah itu.
Ia menurunkan kaca jendela mobilnya hingga habis, mencondongkan tubuhnya ke arah pintu kiri, lalu berteriak dengan suara yang cukup lantang hingga menggema di koridor lobi yang sedang ramai oleh pasien dan staf medis.
"SEMANGAT OPERASINYA, SAYANG! I LOVE YOU, TANTE DOKTER!"
Langkah kaki Rengganis mendadak membeku. Ia merasa seolah-olah waktu berhenti berputar.
Beberapa perawat yang sedang mendorong kursi roda menoleh serentak.
Satpam penjaga pintu lobi bahkan sampai menahan napas, dan dr. Andi rekan spesialis bedah yang terkenal hobi bergosip langsung tersedak hebat.
Rengganis menarik napasnya sam jl merutuki nasibnya yang malang.
Wajahnya yang biasanya pucat karena suhu ruang operasi, kini berubah menjadi merah padam layaknya buah bit.
"Aku akan benar-benar menghapus nama dia dari kartu keluarga kalau bisa," desis Rengganis di balik giginya yang terkatup rapat.
Ia tidak berani menoleh ke belakang. Dengan langkah yang dipercepat dua kali lipat, ia setengah berlari masuk ke dalam lift, mengabaikan tatapan penuh tanya dan senyum-senyum tertahan dari orang-orang di sekitarnya.
Sementara itu, di dalam mobil, Permadi tertawa puas melihat punggung istrinya yang menghilang dengan kaku.
Ia kembali menaikkan kaca jendela, menyetel volume Sheila on 7 lebih keras, dan melaju pergi dengan perasaan menang telak.
Rengganis melangkah dengan kaku menuju ruang ganti dokter.
Ia mencoba memasang wajah 'mode operasi' andalannya, dingin, fokus, dan tidak bisa diganggu gugat. Namun, aroma parfum Permadi yang masih menempel di syalnya seolah menjadi pengkhianat yang membocorkan rahasia.
Begitu pintu ruang ganti tertutup, ia tidak menemukan ketenangan.
Di sana sudah berdiri Perawat Dina, Dokter Shinta, dan beberapa residen yang matanya berbinar seperti baru saja melihat selebriti di karpet merah.
"Dokter Rengganis! Tunggu dulu!" Dina menghadang langkahnya dengan mata membelalak.
"Siapa tadi itu, Dok? Yang teriak 'I love you' di depan lobi? Itu beneran buat Dokter kan?"
"Aku mau ke ruang operasi dulu. Pasien sudah menunggu," jawab Rengganis datar, mencoba membuka lokernya dengan tangan yang sedikit gemetar.
"Ganis, ayolah!" Dokter Shinta, sahabatnya sejak koas, menyikut lengannya.
"Mobil sport terbaru, wajah kayak model katalog, dan dia manggil kamu 'Sayang'? Jangan bilang itu pasien yang gangguan delusi."
Rengganis menghela napas, berusaha tetap tenang sambil mengganti sepatunya.
"Rahasia," ucapnya singkat.
"Ayolah, Ganis! Seisi rumah sakit lagi heboh! Kalau kamu nggak jawab, gosipnya bakal makin liar. Ada yang bilang itu brondong simpanan kamu!" seru Dina gemas.
Rengganis berhenti bergerak saat mendengar kata 'simpanan' dan membuat dirinya benar-benar memicu rasa jengkelnya.
Ia berdiri tegak, merapikan baju hijaunya, lalu menoleh ke arah mereka dengan helaan napas panjang yang sangat berat.
"Dia suamiku," ucap Rengganis pelan namun tegas.
Mereka langsung saling pandang dan detik itu juga mereka juga langsung berteriak.
"APA?! TIDAK MUNGKIN!!!"
Teriakan histeris itu meledak di ruang ganti yang sempit itu.
Dina sampai menutup mulutnya dengan kedua tangan, sementara Dokter Shinta hampir menjatuhkan stetoskopnya.
"Suami?! Sejak kapan?!"
"Dokter nikah diam-diam sama brondong?!"
"Pantas saja Dokter makin cantik, ternyata punya 'obat kuat' di rumah!"
Rengganis segera memakai masker medisnya untuk menutupi wajahnya yang kembali merona merah.
"Sudah, cukup! Aku punya nyawa yang harus diselamatkan. Jangan berani-berani membahas ini lagi atau aku akan menambah jadwal jaga kalian!"
Ia keluar dari ruang ganti dengan langkah seribu, mengabaikan sorakan dan godaan yang masih terdengar di belakangnya. Namun, di balik maskernya, Rengganis tidak bisa menahan diri untuk tidak menggerutu.
'Awas kamu, Permadi. Gara-gara kamu, reputasi dinginku hancur dalam satu pagi!' batin Rengganis.