Axlyn mengira ia akan selamanya menjadi sosok yang terlupakan oleh seorang Kayvaran Cano Xavier sejak kejadian 5 tahun yang lalu di Kota Xennor. Namun, siapa sangka takdir malah mempertemukan mereka kembali hingga tanpa sengaja bibit kembar Kay kini tumbuh di dalam perutnya.
Dimana Axlyn malah terjebak menjadi pengawal pribadi dari gadis kecil yang ia kira sebagai putri kandung Kay. Axlyn dituntut untuk melindungi anak dari pria yang menjadi ayah dari dua janin yang tengah dikandungnya.
“Kay, apa yang harus aku lakukan dengan dua janin yang tidak berdosa ini? Haruskah aku kembali memasuki hidupmu demi anak kita atau tetap menjadi yang terlupakan?”
Akankah Axlyn memberitahukan tentang kehamilannya? Ataukah Kau yang lebih dulu mengingat kembali tentang Axlyn? Atau mungkin takdir kembali mempermainkan kisah mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 08
“Luca, bicara sambil duduk!” Namun, belum sempat melangkah suara Mamah Zhia sudah menahannya. “Kay, kau juga duduklah dulu.”
Mana berani Luca membantah ucapan Mamahnya, meski dirinya sudah dewasa sudah memiliki anak dan bahkan sekarang akan segera memiliki cucu. Namun, tetap saja di mata Mamah Zhia, ia tetap menjadi putra kecilnya yang selalu menurut dan patuh.
Tatapan Kay kembali beralih ke Noah. Seketika ia mengerti. Rahasia yang ia jaga hampir dua bulan dengan sangat rapat, hati-hati, penuh perhitungan kini telah runtuh. Kay pun duduk di salah satu kursi yang masih tersedia di sana, berhadapan langsung dengan Mamah dan Papahnya.
“Dasar Ember Bocor?” suaranya rendah.
“Sorry, aku hanya ingin membantumu,” jawab Noah lirih. “Siapa sangka Papah Rayden dan Mamah Zhia punya hobi menguping.”
“Ishh… Noah Mannix Martin, jaga sikapmu,” peringatan itu berasal dari Mamah Alea.
“Sorry, Mom!” ucapnya lirih.
“Kay, apakah benar yang Noah katakan?” suara Papah Rayden menggelegar lebih keras dari biasanya. “Kamu tidur dengan seorang wanita saat di Praha, dan sekarang dia mungkin mengandung anakmu?”
Kay terdiam. Wajahnya menegang, rahangnya mengeras. Jelas tidak ada pilihan lain selain mengatakannya yang sebenarnya. Lagipula ini bukan sepenuhnya kesalahannya, ia sudah berusaha mencarinya sejak malam itu. Meski sampai detik ini masih belum menemukan petunjuk apapun.
“Jawab!” bentak Papah Rayden.
“Ray, jangan membentaknya. Bukankah kau dulu juga sama saja dengan cucumu itu.” Kali ini Mamah Zhia kembali memberikan peringatan untuk suaminya agar tidak terbawa emosi.
“Tapi sayang—”
“Ssst, dengarkan dulu penjelasannya. Jangan langsung menghakimi, belum tentu semua kesalahan berada di cucu kita,” potong Mamah Zhia memerintahkan Papah Rayden untuk tidak bertindak terlalu jauh. “Kay, apa benar itu?”
Kay akhirnya mengangguk pelan. “Ya, itu benar Grandma.”
Mamah Zhia tertunduk lemas. “Ya Tuhan…”
Luca menatap putranya tajam. “Dua bulan kau menyembunyikan masalah sebesar ini?”
“Aku tidak berniat menyembunyikannya. Hanya saja aku ingin menemukannya lebih dulu,” jawab Kay. “Aku tidak ingin membuat kekacauan sebelum semuanya jelas.”
“Kekacauan?” ulang Ashlyn dingin. “Kau pikir ini bukan kekacauan, Kay?”
Suasana berubah menjadi seperti ruang sidang. Kay hanya bisa tertunduk di tengah, dikelilingi tatapan penuh tuntutan. Apalagi Mamahnya yang sejak awal diam, kini sudah mulai bicara dan seakan menaruh semua kesalahan kepada dirinya. Harus Kay akui, dirinya memang salah karena terkesan tidak peduli. Namun, ia juga sudah berusaha menemukan wanita itu sampai detik ini.
“Kami ingin penjelasan lengkap darimu,” kata Ashlyn tegas. “Bagaimana semua ini bisa terjadi. Siapa wanita itu. Dan apa tanggung jawab yang akan kamu ambil jika dia benar-benar hamil.”
Kay memejamkan mata sejenak, lalu membukanya kembali. Tidak ada lagi jalan untuk menghindar.
“Baik,” katanya akhirnya, suaranya rendah namun jelas. “Aku akan menjelaskan semuanya dari awal.”
Kay pun mulai menceritakan kejadiannya tanpa terlewat sedikitpun. Dimulai dari ia yang akhirnya harus menghadiri pesta itu sendirian karena Noah yang jatuh sakit. Kemudian, seorang pelayan yang menawarkan ia minuman dan setelah itu tubuhnya terasa panas, pandangan buram. Lalu ada seorang wanita yang tiba-tiba menghampirinya, membawanya pergi dari pesta dan setelah itu terjadi ‘lah malam panas yang tidak Kay ingat sepenuhnya.
“Saat wanita itu membawaku pergi, pandanganku sudah tidak jelas. Efek obat itu terlalu kuat hingga membuat tubuhku terasa panas dan lemas, bahkan kepalaku sangat pusing hingga tidak bisa melihat ataupun merasakan semuanya dengan jelas. Aku terbangun sendirian dalam motel dan tidak ada petunjuk apapun tentang wanita itu. Karena tidak ada cctv di sana. Jadi, sampai sekarang aku tidak tahu siapa wanita itu?” Kay mengakhiri penjelasannya.
“Apa maksudnya? Jadi, kau bahkan tidak tahu siapa namanya?” tanya Ashlyn tajam.
“Kau pewaris keluarga Xavier, Kay! Klan BlackSky, perusahaan BLOUSHZE Group juga sudah Grandpa serahkan sepenuhnya kepadamu. Tapi mengingat satu wanita saja kau tidak bisa?” sahut Papah Rayden dramatis.
Mamah Zhia terlihat paling tenang, tapi justru itu yang membuat Kay lebih tertekan. “Nak… kalau memang ada kemungkinan wanita itu mengandung anakmu, kamu harus bertanggung jawab.”
Kay memijat pelipisnya. “Aku bahkan tidak yakin dia hamil anakku, Grandma! Hueeekk ….”
Dan sialnya, tepat setelah itu ia merasa mual lagi.
Melihat itu Noah berbisik pelan, tapi cukup keras untuk terdengar, “Lihat? Bahkan badannya sudah bereaksi seakan menolak asumsinya tadi.”
Kay ingin menenggelamkan Noah hidup-hidup ditengah padang pasir saat itu juga. Biar matang sekalian menjadi Noah panggang. Sudah tahu situasi sudah cukup menegang, masih saja ocehannya bagaikan bahan bakar yang terus ditambahkan di atas bara api yang sudah menyala.
Namun jauh di dalam dirinya, ada rasa lain yang perlahan tumbuh. Bukan hanya panik. Bukan hanya malu. Ada rasa takut… dan harapan. Bagaimana jika kemungkinan itu benar? Bagaimana jika di suatu tempat, wanita dengan kehangatan seperti senja Praha itu sedang menatap hasil tes dengan tangan gemetar? Dan bagaimana jika anak itu… benar-benar darah dagingnya?
“Kalau begitu Papah akan menambahkan orang untuk membantu pencarian di sana,” ucap Luca yang tidak tega melihat putra sulungnya tertekan seperti itu.
“Benar, Grandpa juga akan meminta yang lainnya untuk membantu. Setidaknya sejak awal kau tidak lepas tangan begitu saja pada wanita,” ujar Papah Rayden seakan sedang membandingkan.
“Benar, jangan seperti Grandpa-mu yang hanya dibayar seratus dolar saja langsung menerimanya begitu saja. Bahkan tidak ada niatan untuk mencari tahu,” celetuk Mamah Zhia mengingatkan masa lalu pada pertemuan pertama mereka.
“Sayang, jangan buka kartu lama ‘dong! Itu ‘kan contoh kita yang tidak baik,” rayu Papa Rayden yang berhasil membuat istrinya tersipu malu.
Hayo ‘loh yang udah baca ‘Anak Kembar Sang Mafia’ pasti sedang senyum-senyum sendiri mengingat kisah seru Kakek dan Nenek ini?
Kini Kay tidak melakukan pencarian sendirian, keluarganya ikut membantu dengan berbekal rekaman hotel disaat pesta, rute taxi, dan sedikit ingatan samar Kay. Seolah Praha sudah menjadi TKP kejadian besar yang mengguncang keluarga besar Xavier.
...****************...
Malam itu, sendirian di kamarnya, Kay berdiri di depan jendela. Perutnya kembali terasa aneh. Tangannya tanpa sadar menyentuhnya.
“Kalau ini nyata…” bisiknya lirih, “tunggu aku. Aku pasti akan segera menemukan kalian.”
Bersambung....
Aku masih nungguin loh 🤭☺
Dan tanpa Kay sadari, kedua perempuan itu adalah orang yang sama 😝
Wah, seru ini 🤭
Eh, maksudnya mantan bocah psikopat.. Kan Levi udah bukan bocah lagi... ☺✌