NovelToon NovelToon
Om Benny, I Love You

Om Benny, I Love You

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Pernikahan rahasia / CEO / Romantis / Cinta Terlarang / Nikah Kontrak
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: chiisan kasih

Pernikahan rahasia. Ciuman terlarang. CEO dingin yang jatuh pada gadis tomboy.
Benny, seorang CEO yang anti wanita dan memilih hidup sendiri, terpaksa menikah dengan Cessa—putri sahabatnya yang berusia delapan belas tahun. Pernikahan mereka dimulai sebagai kontrak penuh aturan: tanpa cinta, tanpa sentuhan, tanpa perasaan.
Namun satu ciuman menghancurkan segalanya.
Tinggal serumah membuat batasan runtuh, kecemburuan tumbuh, dan hasrat berubah menjadi dosa. Saat Cessa mencintai tanpa ragu, Benny justru berperang dengan prinsip, moral, dan ketakutan terbesarnya: jatuh cinta pada wanita yang seharusnya tak boleh ia miliki.
Ini bukan kisah cinta yang aman.
Ini kisah tentang memilih perasaan… atau menghancurkan hidup sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chiisan kasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

“Aku Tak Pernah Normal Tanpanya”

Rumah itu gelap.

Benny berdiri di ambang pintu, masih mengenakan jas kerja yang belum sempat ia lepaskan. Lampu ruang tengah mati. Tidak ada suara televisi. Tidak ada aroma masakan. Tidak ada langkah kaki yang berisik memanggil namanya.

Kosong.

Ia menutup pintu perlahan, seolah takut suara itu akan menegaskan kenyataan yang tidak ingin ia terima. Sepatunya dilepas asal. Jas dilempar ke sofa. Benny berdiri di tengah ruang tamu, menatap sekeliling.

“Cessa?” panggilnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Ia berjalan menyusuri rumah. Dapur bersih. Terlalu bersih. Kamar tamu—rapi, tanpa tas, tanpa jaket, tanpa barang-barang kecil yang biasanya berserakan. Lemari sepatu—beberapa pasang milik Cessa hilang.

Benny menghembuskan napas panjang.

Dia pergi.

Bukan sekadar menjaga jarak kali ini.

Bukan sekadar diam.

Ia benar-benar pergi.

Benny terduduk di tepi sofa. Tangannya meremas rambut, menekan kepala seolah bisa menghentikan pikiran yang berisik. Ia mencoba mengingat sejak kapan semuanya berubah. Sejak kapan kehadiran Cessa menjadi kebiasaan. Sejak kapan rumah ini terasa hidup—dan kini terasa mati.

Ponselnya bergetar.

Nama Brain muncul lagi.

Benny menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat. “Ya.”

“Cessa nggak pulang,” kata Brain tanpa basa-basi. “Dia nginep di rumah neneknya.”

Benny menutup mata. “Dia baik-baik saja?”

“Secara fisik, iya,” jawab Brain. “Secara hati? Gua nggak yakin.”

Benny terdiam.

“Ben,” lanjut Brain, suaranya lebih rendah, “gua mau lo jujur sama gua.”

Benny menelan ludah. “Tentang apa?”

“Perasaan lo.”

Kejujuran.

Kata itu terdengar menakutkan.

“Gua dateng,” jawab Benny akhirnya.

Rumah nenek Cessa tenang. Terlalu tenang. Brain duduk di teras, menunggu. Begitu melihat Benny turun dari mobil, ia berdiri.

“Kita ngomong di dalam,” kata Brain.

Mereka duduk berhadapan. Tidak ada minuman. Tidak ada basa-basi. Brain menatap Benny lurus—tatapan seorang ayah, bukan sahabat.

“Lo sadar nggak,” tanya Brain pelan, “kalau anak gua sekarang pergi karena lo?”

Benny mengangguk. “Gua tahu.”

“Terus?” desak Brain.

Benny menarik napas dalam. Kata-kata itu lama tertahan. Terlalu lama.

“Gua takut,” ucapnya akhirnya.

Brain mengangkat alis. “Takut apa?”

“Takut ngerusak semuanya,” jawab Benny jujur. “Takut salah. Takut dihakimi. Takut sama diri gua sendiri.”

Brain mendengus pelan. “Dan karena ketakutan itu, lo biarin anak gua merasa nggak dipilih.”

Kalimat itu menghantam keras.

“Gua nggak pernah normal sama wanita mana pun,” lanjut Benny, suaranya bergetar tipis. “Gua nyaman sendirian. Gua aman sendirian. Tapi sama Cessa… semuanya beda.”

“Beda gimana?”

“Gua cemburu,” kata Benny cepat, seolah takut kata itu menguap. “Gua protektif. Gua panik waktu dia hilang. Dan itu bikin gua ngeri.”

Brain terdiam, mendengarkan.

“Karena itu berarti gua butuh dia,” lanjut Benny lirih. “Dan butuh itu… berbahaya.”

Brain menyandarkan punggung. “Ben, gua sahabat lo. Tapi di sini gua ayahnya.”

“Gua tahu.”

“Kalau lo cuma kasihan, mundur sekarang.”

Benny menggeleng keras. “Bukan kasihan.”

“Kalau cuma nafsu—”

“Bukan,” potong Benny. “Gua nggak pernah kayak gini.”

Brain menatapnya lama. Lalu bertanya satu hal yang menentukan.

“Kalau Cessa pergi beneran… lo sanggup?”

Benny membuka mulut. Menutupnya. Dadanya terasa sesak.

“Tidak,” jawabnya jujur.

Keheningan jatuh di antara mereka.

“Berarti lo tahu jawabannya,” kata Brain akhirnya. “Masalahnya sekarang—berani atau tidak.”

Di kamar nenek, Cessa duduk di tepi ranjang. Tasnya setengah terbuka. Ia tidak menangis. Air mata itu sudah habis sejak kemarin. Yang tersisa hanya lelah.

Ponselnya bergetar.

Nama Ben muncul.

Cessa memalingkan wajah. Ia tidak mengangkat.

Beberapa detik kemudian, pesan masuk.

Ben:

Aku di rumah nenekmu.

Boleh kita bicara?

Cessa membaca. Tidak membalas.

Ia berdiri, menatap cermin. Wajahnya pucat, tapi matanya tegas. Kalau aku turun sekarang, pikirnya, aku akan kembali mengalah.

Ia duduk lagi. Menarik napas. Lalu mengetik.

Cessa:

Aku capek ngomong.

Kalau kamu mau bilang sesuatu, bilang yang jujur.

Benny membaca pesan itu di ruang tamu. Tangannya gemetar. Ia mengetik. Menghapus. Mengetik lagi.

Ben:

Aku nggak pernah normal sama siapa pun.

Tapi aku normal sama kamu.

Beberapa detik berlalu.

Tidak ada balasan.

Benny menelan ludah.

Ben:

Dan itu bikin aku takut…

tapi juga bikin aku sadar.

Hening.

Langkah kaki terdengar dari tangga.

Cessa berdiri di ujung anak tangga. Menatap Benny dari atas. Wajahnya tenang—terlalu tenang untuk gadis yang hatinya retak.

“Bilang di sini,” kata Cessa. “Jangan di chat.”

Benny berdiri. “Aku salah.”

Cessa mengangguk. “Aku tahu.”

“Aku nggak pernah bilang kamu penting,” lanjut Benny. “Padahal kamu…”

Ia terdiam. Kata itu berat.

“Kamu apa?” tanya Cessa pelan.

“Kamu satu-satunya yang bikin gua pengen pulang,” jawab Benny akhirnya.

Cessa menutup mata sesaat.

“Terus?” desaknya.

“Terus gua minta kesempatan,” kata Benny. “Bukan buat pura-pura dingin lagi. Tapi buat jujur.”

“Jujur itu termasuk apa?” tanya Cessa.

“Termasuk kalau gua cemburu,” jawab Benny. “Termasuk kalau gua takut. Termasuk kalau gua—”

Ia berhenti. Menatap Cessa lurus.

“—jatuh cinta.”

Kata itu menggantung.

Waktu seolah berhenti.

Cessa menatapnya lama. Terlalu lama. Lalu tertawa kecil—pahit. “Kamu telat.”

Dada Benny mencelos. “Cessa—”

“Aku nggak bilang tidak,” lanjut Cessa cepat. “Aku cuma bilang… aku nggak mau kembali kalau kamu setengah-setengah.”

Benny mengangguk. “Gua ngerti.”

“Buktikan,” kata Cessa. “Bukan sekarang. Tapi besok. Dan seterusnya.”

Ia berbalik. “Aku nginep di sini malam ini.”

Benny mengangguk. “Oke.”

Sebelum Cessa masuk kamar, ia berhenti. “Ben.”

“Iya?”

“Kalau kamu mundur lagi,” ucap Cessa lirih, “aku nggak akan nunggu.”

Pintu tertutup.

Benny berdiri sendiri di ruang tamu. Namun kali ini, sunyinya berbeda.

Ada harap.

Dan ada risiko.

Benny mengakui perasaannya.

Namun mempertahankannya… akan jauh lebih sulit.

1
Dwi Winarni Wina
yakin tak pernah normal dekat sm cessa benny😀
Dwi Winarni Wina
pergi yg jauh cessa biar beni kehilanganmu..
Dwi Winarni Wina
aku aja benny suka sama cessa tp gengsinya tinggi mau mengakuimya😀
Dwi Winarni Wina
Si Benny sebenarnya ada perasaan tapi ge ngsinya terlalu tinggi😀
Dwi Winarni Wina
biarkan aja perasaanmu tumbuh Benny...
Dwi Winarni Wina
casse keras kepala banget kekeh pada pilihannya...
Dwi Winarni Wina
cessa nekat ingin tetep menikah sm Benny sahabat baik ayahnya...
Dwi Winarni Wina
berarti pria normal ben, terima aja lamaran cessa😀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!