Keyla Atmadja (18 tahun) baru saja memimpikan indahnya bangku perkuliahan sebelum dunianya runtuh dalam semalam. Ayahnya, Alan Atmadja, berada di ambang kehancuran total; kebangkrutan membayangi dan ancaman penjara sudah di depan mata. Namun, sebuah "tali penyelamat" datang dari sosok yang tak terduga: Dipta Mahendra 35 tahun), seorang konglomerat dingin dan predator bisnis yang disegani.
Pertemuan singkat yang dianggap Keyla sebagai kebetulan di sebuah kafe, ternyata adalah awal dari rencana matang Dipta. Terpesona oleh kemurnian dan kecantikan alami Keyla, Dipta menawarkan sebuah kesepakatan gelap kepada Alan: seluruh hutang keluarga Atmadja akan lunas, dan modal bisnis akan mengalir tanpa batas, asalkan Keyla diserahkan menjadi tunangannya.
Terjepit di antara rasa bakti kepada orang tua dan keinginannya untuk merdeka, Keyla terpaksa menerima cincin berlian yang terasa seperti borgol di jemarinya. Di pesta pertunangan yang megah namun penuh ketegangan, Keyla harus berhadapan dengan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENAHAN.
Mobil berhenti di lobi privat sebuah gedung pencakar langit yang hanya bisa diakses oleh pemilik penthouse. Lift meluncur naik dengan kecepatan tinggi, membuat telinga Keyla berdenging, seirama dengan detak jantungnya yang tak beraturan.
Pintu lift terbuka langsung ke dalam ruang tamu yang luas dengan dinding kaca setinggi langit-langit, menampilkan gemerlap Jakarta dari ketinggian.
Keyla melangkah ragu ke atas lantai marmer yang dingin. "Ini... ini tempat Anda tinggal?"
Dipta meletakkan kunci mobilnya di meja konsol dan melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengannya ia gulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kuat. "Mulai sekarang, ini tempat tinggalmu juga."
"Aku ingin kamar sendiri. Dengan kunci," ujar Keyla cepat, matanya liar mencari pintu kamar.
Dipta berjalan mendekatinya, langkah kakinya terdengar berat dan pasti. "Tentu. Aku bukan binatang, Keyla. Aku tahu kau butuh waktu untuk mencerna semua ini." Ia menunjuk sebuah pintu ganda besar di ujung koridor. "Itu kamarmu."
Keyla segera berjalan menuju pintu itu dan membukanya. Ia terpaku. Kamar itu sangat luas, dengan ranjang king size yang tertutup sprei sutra abu-abu, sebuah walk-in closet yang penuh dengan pakaian merek ternama—yang entah sejak kapan sudah ada di sana—dan aroma lilin aromaterapi yang menenangkan.
"Kapan Anda menyiapkan semua ini?" Keyla berbalik, menemukan Dipta sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Sejak aku melihatmu di kafe itu," jawab Dipta jujur. "Aku tidak pernah membiarkan sesuatu yang kuinginkan lolos begitu saja."
Keyla mundur satu langkah, namun kakinya membentur pinggiran tempat tidur. "Anda gila. Anda merencanakan ini semua bahkan sebelum Ayah setuju?"
"Aku hanya memastikan peluang, Keyla." Dipta maju selangkah, masuk ke dalam area privat kamar itu. Ia menatap gaun pertunangan Keyla yang sedikit berantakan. "Gaun itu terlihat sesak. Lepaskan. Pakai sesuatu yang lebih nyaman untuk tidur."
Keyla merapatkan tangannya di dada. "Aku bisa melakukannya sendiri. Tolong keluar."
Dipta tidak bergerak. Ia justru mengamati ritsleting panjang di punggung gaun Keyla. "Ritsleting itu sulit dijangkau. Biar kubantu."
"Tidak perlu!" seru Keyla panik.
Namun, tangan Dipta sudah berada di sana. Jarinya yang kasar bersentuhan dengan kulit punggung Keyla yang halus saat ia menurunkan ritsleting itu perlahan. Suara gesekan logamnya terasa seperti guntur di telinga Keyla. Gadis itu menahan napas, merasa merinding saat udara dingin menyentuh kulitnya yang terbuka.
"Kau gemetar," bisik Dipta tepat di tengkuknya. Napas pria itu hangat dan berbau wiski mahal. "Apa kau takut padaku, atau kau takut pada perasaan asing yang baru saja bangkit dalam dirimu?"
Keyla memejamkan mata erat. "Aku membencimu, Dipta Mahendra."
Dipta menarik ritsleting itu hingga ke pinggang, lalu melepaskannya. Ia berbisik pelan sebelum berbalik menuju pintu, "Benci dan cinta itu hanya beda tipis, Keyla. Malam ini, tidurlah yang nyenyak. Besok, hidupmu yang sebenarnya sebagai milikku dimulai."
Dipta keluar dan menutup pintu, namun Keyla mendengar suara klik pelan—pintu itu dikunci dari luar.
**
Setelah suara pintu terkunci itu bergema, Keyla terisak pelan. Ia melangkah lunglai menuju kamar mandi yang berlapis marmer hitam mewah. Di bawah pancuran air hangat, ia mencoba membasuh rasa sesak dan aroma Dipta yang seolah masih menempel di kulitnya. Namun, rasa lelah yang luar biasa—baik fisik maupun mental—akhirnya menang.
Tanpa sempat mengganti pakaian dengan benar, ia hanya mengenakan jubah mandi sutra putih yang tersedia di sana, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk itu. Dalam hitungan menit, Keyla tertidur pulas, terbuai oleh keheningan apartemen yang terisolasi dari bisingnya kota.
Sekitar pukul dua dini hari, pintu kamar itu terbuka tanpa suara. Dipta berdiri di sana, memegang kunci cadangan di tangan kirinya, sementara tangan kanannya memegang segelas wiski yang tinggal separuh.
Ia melangkah masuk dengan sangat pelan. Cahaya bulan yang menembus jendela besar memberikan pendar perak di atas ranjang, menyinari sosok Keyla yang meringkuk seperti janin.
Dipta duduk di tepi ranjang, membuat kasur sedikit melesat karena berat tubuhnya. Ia menatap wajah Keyla dalam diam. Tanpa ketegangan, tanpa kemarahan, dan tanpa air mata, wajah gadis itu terlihat sangat mempesona—murni dan rapuh.
"Begitu damai," bisik Dipta lirih pada kegelapan.
Jari Dipta bergerak ragu, lalu perlahan ia menyingkirkan sehelai rambut yang menutupi bibir Keyla. Kulit gadis itu terasa sangat lembut, jauh lebih lembut dari semua kemewahan yang pernah ia beli.
"Kau tidak tahu apa yang kau lakukan padaku, Kecil," gumamnya dengan suara parau.
Matanya menyusuri setiap detail wajah Keyla—bulu matanya yang lentik, hidungnya yang mungil, hingga napasnya yang teratur. Di mata Dipta, Keyla bukan sekadar objek bisnis lagi. Dia adalah obsesi yang akhirnya terwujud. Dipta menghabiskan bertahun-tahun di dunia bisnis yang kotor dan penuh tipu daya, dan melihat Keyla seperti melihat oase yang belum tersentuh.
Tiba-tiba, Keyla sedikit melenguh dalam tidurnya. Ia bergerak kecil, membuat jubah mandinya sedikit tersingkap di bagian bahu, memperlihatkan kulit porselen yang kontras dengan seprai abu-abu gelap.
Dipta membeku. Rahangnya mengeras saat ia berusaha menahan dorongan insting liarnya. Ia adalah pria yang terbiasa mendapatkan apa yang ia mau saat itu juga, namun ia tahu, menghancurkan Keyla sekarang akan merusak "permainan" panjang yang sudah ia siapkan.
Ia membungkuk, menempelkan bibirnya di kening Keyla untuk waktu yang lama. Sebuah kecupan yang lebih mirip seperti sebuah segel kepemilikan.
"Tidurlah yang nyenyak, Keyla Atmadja," bisik Dipta tepat di depan wajah gadis itu. "Nikmati mimpimu malam ini, karena saat kau bangun nanti, kenyataanmu adalah aku. Dan aku tidak akan membiarkanmu pergi, bahkan jika kau memohon sampai suaramu habis."
Dipta berdiri, menghabiskan sisa wiskinya dalam sekali teguk, lalu melangkah keluar kamar tanpa menimbulkan suara sedikit pun, meninggalkan Keyla yang masih terjebak dalam tidurnya yang lelap—sama sekali tidak menyadari bahwa pemangsanya baru saja datang untuk mengagumi miliknya.
***
Bersambung...