NovelToon NovelToon
Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Nona Kota Jodoh Anak Pak Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Romansa pedesaan / Perjodohan / Pernikahan Kilat / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:59.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Aisyah Alfatih

Kiara Valeska Pratama, desainer muda berbakat lulusan terbaik Jakarta tak pernah menyangka hidup glamornya akan runtuh hanya karena satu kata, perjodohan. Dijodohkan dengan anak Pak Kades dari desa pelosok, Kiara memilih kabur ke Bali dan mengabaikan hari pernikahannya sendiri.

Baginya, menikah dengan pria kampungan yang hidup di desa kumuh adalah mimpi buruk terbesar. Namun, Kiara tak tahu satu hal. Pria desa yang ia remehkan itu adalah Alvar Pramesa, dokter obgyn lulusan terbaik luar negeri yang meninggalkan karier gemilang demi kembali ke desa, merawat orang tuanya dan mengabdi pada tanah kelahirannya. Pernikahan tanpa kehadiran pengantin wanita menjadi awal dari konflik, gengsi, dan benturan dua dunia yang bertolak belakang. Gadis kota yang keras kepala dan pria desa yang tenang namun tegas, dipaksa hidup dalam satu atap.


Akankah cinta tumbuh dari perjodohan yang penuh luka dan salah paham?
Atau justru ego Kiara akan menghancurkan ikatan yang terlanjur terjalin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Alfatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 10

Pagi di desa datang bersama kabut tipis dan aroma tanah basah. Matahari belum sepenuhnya tinggi ketika Alvar sudah bersiap, mengenakan kaus lengan panjang dan topi kebun.

Di teras, Pak Yono menghentikannya sejenak.

“Var, nanti hasil panen cabai sama bawang langsung kamu antar ke juragan Bahrul,” ucapnya sambil bertumpu pada tongkat. “Dia sudah nunggu.”

Alvar terdiam sesaat, lalu mengangguk.

“Iya, Pak."

Bahrul nama itu bukan asing, mantan ayah mertua Hesti.

Alvar tidak berkomentar apa pun. Ia hanya menyalami ayah dan ibunya, lalu melangkah pergi menyusuri jalan kebun.

Tak lama setelah suara motor Alvar menghilang, Kiara keluar dari kamar, langkahnya pelan dan sedikit tertatih. Wajahnya masih pucat, rambutnya terurai tanpa riasan.

Sulastri yang sedang menyiapkan bahan masakan langsung menoleh.

“Loh, Kiara. Jangan banyak gerak dulu, Nak.”

“Di kamar bosan, Bu,” jawab Kiara jujur. “Aku bisa bantu apa?”

Sulastri tersenyum kecil, menggeleng.

“Duduk saja, lagi pula kamu pasti nggak terbiasa masak.”

Ucapan itu membuat Kiara tersenyum kecut. Ia menunduk sejenak, lalu mengangkat wajahnya lagi.

“Kalau aku mau belajar,” katanya pelan, “ibu mau ngajarin aku?”

Sulastri tertegun, tangannya yang memegang pisau berhenti bergerak. Ia menatap menantunya beberapa detik, seakan memastikan ia tidak salah dengar.

“Belajar … masak?” ulangnya.

Kiara mengangguk kecil. Senyum Sulastri perlahan merekah, hangat dan tulus.

“Ya Allah … tentu mau, Nak.”

Ia menggeser bangku.

“Duduk sini, pelan-pelan saja. Kita mulai dari yang gampang.”

Kiara duduk di bangku kayu dapur, memperhatikan gerak tangan Sulastri yang lincah menyiapkan bumbu.

“Bu,” panggil Kiara ragu, “makanan favorit Mas Alvar apa?”

Sulastri tersenyum tanpa menoleh.

“Alvar mah apa saja dimakan, nggak pilih-pilih.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,

“Tapi kalau yang paling dia suka … nila sungai.”

Senyum Kiara membeku, lalu berubah menjadi senyum kecut. Dia menunduk, jari-jarinya saling mengait. Alvar menyukai sesuatu yang bahkan tak bisa ia sentuh tanpa sakit. Perasaan itu menyusup pelan bukan cemburu, melainkan kesadaran pahit.

'Mungkin kami memang nggak akan pernah cocok,' batinnya.

Sulastri kembali sibuk.

“Hari ini ibu mau masak tumis kangkung. Tadi pagi baru ibu petik dari kebun. Masih segar,”

Ia mengeluarkan seikat kangkung hijau, daunnya masih basah oleh embun.

“Oh ya,” lanjutnya, “ibu juga bawa mangga. Alvar tadi pagi metik sendiri dari belakang rumah.”

Kiara mendongak, matanya langsung berbinar.

“Mangga?”

“Iya.”

“Aku bisa bikin jus mangga, Bu?” tanyanya antusias.

Sulastri tertawa kecil.

“Bisa dong. Blender ada di pojok, tapi pelan-pelan, jangan banyak gerak.”

Kiara bangkit, langkahnya masih hati-hati, tapi senyum itu nyata. Di tengah dapur desa yang sederhana, ia menemukan satu hal kecil yang membuatnya merasa berguna.

Meski di kepalanya masih berputar satu kenyataan pahit bahwa di antara dirinya dan Alvar, selalu ada perbedaan yang tak mudah disatukan.

Siang itu, Alvar mengantar hasil panen cabai ke rumah Juragan Bahrul. Terik matahari menyengat, debu jalan menempel di celana dan sepatu botnya. Untuk bawang, ia sudah meminta para pekerja mengantarkannya langsung ke rumah dan menyimpannya di gudang.

Begitu motornya berhenti di halaman rumah besar bercat kusam itu, Alvar langsung melihat sosok yang tak asing.

Supradi, mantan suami Dokter Hesti.

Pria itu berdiri di dekat teras, rokok terselip di bibirnya. Saat mata mereka bertemu, Supradi langsung menyapa dengan nada dibuat ramah.

“Var.”

Alvar hanya mengangguk singkat, tanpa senyum.

Dia melangkah masuk, menyerahkan karung-karung cabai kepada Juragan Bahrul. Transaksi berlangsung cepat. Timbangan berdecit pelan, uang berpindah tangan.

Namun, sebelum Alvar sempat berbalik, Juragan Bahrul bersuara, nadanya tajam dan penuh selidik.

“Var,” katanya, “kenapa kamu balik ke desa setelah Hesti menjanda?”

Alvar terdiam sejenak.

“Apa kamu berniat balik lagi sama dia?” lanjut juragan itu tanpa basa-basi.

Alvar menoleh, lalu tersenyum tipis, senyum yang lebih seperti tameng.

“Juragan,” ucapnya tenang, “saya sudah menikah. Nggak baik membicarakan masa lalu.”

Supradi mendengus sinis.

“Kamu kan sering hubungi Hesti selama ini,” cibirnya.

“Kamu nggak pernah biarin hidup kami tenang. Sekarang kami sudah cerai … kamu pasti senang, kan?”

Alvar tidak menjawab, dia hanya mengambil uang hasil panen, memasukkannya ke saku jaket, lalu berbalik pergi tanpa menoleh lagi.

Mesin motor dinyalakan, suaranya memecah keheningan halaman itu.

Dalam perjalanan pulang, angin panas menerpa wajahnya. Alvar menatap lurus ke depan, masa lalu itu belum selesai dan kini, tanpa ia minta, ikut terbawa masuk ke rumah tangganya yang baru.

Tiba di rumah, Kiara tampak membantu Sulastri menyiapkan makan siang. Aroma tumis kangkung mulai memenuhi dapur. Alvar masuk sambil mengucap salam, langkahnya lesu. Tanpa banyak bicara, ia langsung menuju kulkas. Begitu melihat segelas jus mangga di rak depan, tangannya refleks mengambil dan meneguknya sampai setengah gelas.

“Lho?” Sulastri menoleh cepat. “Biasanya kamu nggak pernah mau minum jus mangga. Katanya terlalu manis dan bikin enek. Kok sekarang diminum?”

Alvar berhenti sejenak, tapi tetap melanjutkan minumnya.

“Kenapa? Apa karena Kiara yang bikin?” goda Sulastri dengan senyum penuh arti.

Kiara yang sedang mengaduk masakan langsung memalingkan wajah. Pipinya terasa panas. Ia buru-buru meletakkan spatula, lalu beranjak ke ruang tengah dengan alasan menonton televisi, meninggalkan ibu dan anak itu di dapur.

“Haus, Bu. Baru dari kebun,” jawab Alvar singkat.

Sulastri mendekat sambil melipat lap dapur. “Oh ya, tadi pagi Kiara sopan sekali. Dia manggil kamu Mas.”

Alvar tersedak, jus mangga yang belum sempat ditelan membuatnya terbatuk keras.

Sulastri langsung tertawa kecil, puas melihat reaksi anaknya.

“Kenapa kaget begitu?”

Alvar tak menjawab, dia hanya meletakkan gelas kosong di meja, lalu beranjak pergi ke kamar untuk membersihkan diri, meninggalkan dapur dengan wajah yang sulit ditebak, antara gugup, kesal, dan entah kenapa terasa begitu hangat.

Mereka makan siang bersama di meja kayu sederhana. Tumis kangkung masih mengepul, sambal terasi dan ikan goreng tersaji di tengah. Suasananya tenang, hanya suara sendok yang beradu pelan dengan piring.

Selesai makan, Alvar merogoh saku celananya. Ia mengeluarkan sejumlah uang hasil panen cabai dan meletakkannya di depan Sulastri.

“Ini, Bu.”

Sulastri melirik sekilas, lalu mendorong kembali uang itu ke arah Alvar.

“Kasih ke istrimu, itu haknya.”

Alvar terdiam.

“Ibu nanti bisa minta sama bapak,” lanjut Sulastri santai. “Uang itu milik Kiara.”

Perlahan, Alvar melirik Kiara yang duduk di seberangnya. Ia tahu jumlah uang itu tak seberapa, jauh dari kata cukup untuk kehidupan kota. Namun, tetap saja, ia mendorong uang itu ke arah Kiara.

“Pegang saja,” katanya pelan. “Buat keperluan kamu selama di sini. Kalau kamu mau ke pusat perbelanjaan, aku bisa nganter.”

Kiara menatap uang itu sejenak, lalu menggeleng. “Aku belum butuh apa-apa.”

Alvar mengerutkan kening tipis. “Simpan saja dulu. Itu uang kamu.”

Kiara akhirnya menerima, menyelipkan uang itu dengan ragu. Ada perasaan aneh di dadanya, bukan karena nominalnya, menunjukkan bahwa untuk pertama kalinya, ia benar-benar diperlakukan sebagai istri.

Sulastri tersenyum kecil melihat pemandangan itu, lalu berdiri sambil membawa piring kotor ke dapur, meninggalkan dua orang yang sama-sama canggung tapi mulai belajar berbagi ruang yang sama.

1
hasatsk
setelah di simak,, seru juga ceritanya
Ni'mah azzahrah Zahrah
Kiara yg enak, aku yg tegang thor
Lilis Yuanita
aduh keringetan😄😄
Gadis misterius
Ini nanti darius yg jd duri liht dech krn klu setiap hr bertmu bklan ada rs nyaman
Eva Karmita
orang yang kalem ternyata bisa agresif juga ya 😅😅
biby
POV alvar : siapa sih.. ganggu aja, g tau apa org lg berusaha baikan
outhor nih selalu aja g suka liat alvar seneng
Aisyah Alfatih: sabar ya kak 🤭 kasih bonus deh nanti bab selanjutnya 🤭
total 1 replies
Nar Sih
ungkapan cinta juga cemburu ahir nya keluar dri hti alvar yg berahir dgn ciuman yg mungkin awal dri kebahagiaan kalian ,
Ika Wahyuni
wah itu pasti mamanya Kiara yg datang disaat tidak tepat 🤭
iza
up lgi thor
Naufal Affiq
dengar kan omongan orang tua mu kiara,jangan dengar cakap orang belum tentu benar
Nar Sih
hamil di luar nikah kok bangga ,🤣
Naufal Affiq
kau tau lala,pembantu lebuh tinggi lagi di banding kan kau,yang gak ada harga diri,yang hamil di luar nikah,bangga banget kamu,gaya manusia gak berpendidikan kalau ngomong
Teh Euis Tea
yeyyy nganggu aj deh yg ketuk pintu🤭
Ariany Sudjana
betul kata ibumu Kyara, kalau kamu bercerai dengan dokter Alvar, dimana lagi kamu akan menemukan suami seperti dokter Alvar? sudahlah lupakan semua masa lalu kalian, mulai dengan lembaran baru, dan jangan kasih celah buat Darius masuk Kyara, juga Hesty jufa jangan pak dokter Alvar
Wiwi Sukaesih
ahh ganggu aj sgla ad iklan ngetok pintu🤭
Resa05
up kayak gini terus yah min
dyah EkaPratiwi
maaf ya pak dr diganggu sebentar
iqha_24
Ternyata Alvar agresif juga, kira orangnya pendiam malu2 🤭
Lilis Yuanita
mmh...🤭🤭
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!